» » Ramadhan dan Idul Fitri: Meraih Kemenangan dalam Ketaatan

Ramadhan dan Idul Fitri: Meraih Kemenangan dalam Ketaatan

Penulis By on Monday, June 8, 2015 | No comments


Oleh : M. Edy Susilo & Galih Setiawan

Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepada seorang muslim adalah dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan dimudahkan dalam menunaikan puasa dan ibadah-ibadah lain di dalamnya. Ia adalah bulan yang di dalamnya kebaikan dilipatgandakan, derajat dinaikkan dan Allah menetapkan orang yang dibebaskan dari  neraka. Maka hendaklah seorang muslim memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya untuk menambah kebaikan pada dirinya. Segeralah memanfaatkan waktu dan umurnya dengan ketaatan. Berapa banyak orang yang terhalang mendapatkan bulan ini dikarenakan sakit, wafat atau tersesat. Sebagaimana seorang muslim harus bersegera dalam mengisi waktu dan umurnya dalam memanfaatkan di bulan ini, maka, pastinya dia memiliki  kewajiban pula  terhadap anak-anaknya, yaitu, dengan mengayomi dan mendidiknya, serta mengajak dan membiasakanya menuju jalan kebaikan.

Seorang anak akan tumbuh sesuai apa yang dibiasakan orangtuanya. Pertumbuhan para pemuda di antara suatu kaum adalah hasil dari pembiasaan orangtuanya. Termasuk dalam hal puasa. Karena itu, Ramadhan ini haruslah dipergunakan sebaik-baiknya sebagai momentum untuk meraih kemenangan dalam ketaatan. Orangtua harus memantau puasa anak-anak dan memberikan semangat bagi yang masih kurang menunaikan haknya. Selain itu juga mengingatkan mereka tentang hakekat puasa, bukan sekedar meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi untuk meraih ketakwaan, dan untuk mendapatkan ampunan dari dosa dan kesalahan.

Ramadhan juga bisa sebagai ajang untuk mengajarkan pada mereka tentang adab dan hukum tentang makanan, dengan memakan menggunakan tangan kanan, serta makan apa yang ada di dekatnya. Ingatkan pula haramnya berlebih-lebihan dan dampak negatifnya dalam diri. Ingatkan pula untuk tidak terlalu lama dalam berbuka sehingga tidak shalat Maghrib berjama’ah.  Ingatkan kondisi kaum fakir miskin, yang tidak mendapatkan segenggam makanan sekedar  meredam gejolak  lapar meraka. Ingatkan pula kondisi  para pengungsi dan para mujahidin fi sabilillah di mana saja.

Manfaatkan pula momentum Ramadhan sebagai sarana untuk berkumpul dengan para kerabat dan silaturahim. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan menyambung silaturahim yang (sempat) terputus. Ajaklah mereka untuk membantu ibu dalam membuat dan menyiapkan makanan, begitu juga mengangkat makanan dan menyimpan makanan yang layak untuk dimakan. Berkaitan dengan sahur, kedua orangtua hendaknya mengingatkan tentang barokah sahur, dan bahwa hal itu dapat menguatkan seseorang dalam berpuasa.

Dari Rabi’ binti Mi’waz radhiallah ‘anha, dia berkata: Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus (seorang utusan) waktu siang hari Asyura (tanggal 10 Muharram) ke desa-desa kaum Anshar dan berkata: “Barangsiapa yang pagi hari dalam kondisi berbuka, maka hendaklah dia menyempurnakan sisa harinya (dengan berpuasa). Dan barangsiapa yang pagi harinya dalam kondisi berpuasa, maka hendaklah menyempurnakan puasanya.”  Beliau berkata: “Maka kami berpuasa dan menyuruh anak-anak kami ikut berpuasa (dan mengajak mereka ke masjid). Kami berikan kepada mereka mainan dari kapas. Kalau salah satu dari mereka menangis, kami berikan dia (mainan tersebut) sampai datang waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1859. Muslim, no. 1136. Tambahan di antara dua kurung tadi  berasal dari riwayat Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa anak-anak hendaknya dilatih dalam menunaikan ketaatan, dan terbiasa dalam beribadah. Akan tetapi mereka belum mukallaf (terkena kewajiban ibadah). Qadhi berkata: Diriwayatkan dari Urwah bahwa jika mereka (anak-anak) telah kuat berpuasa, maka mereka wajib menunaikan puasa. Pendapat ini keliru dan tertolak  dengan hadits shahih ini, “Pena diangkat (kewajiban gugur) dari tiga (orang); anak kecil hingga bermimpi –dalam riwayat lain hingga baligh.“ Wallahu’alam  . (Syarh Muslim, 8/14)

Ajarkan pula anak untuk berinfak dan melihat (kondisi) tetangga dan orang-orang yang membutuhkan. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dia berkata,  

 “Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan saat yang paling dermawan adalah di bulan Ramadan ketika bertemu dengan Jibril. Dan beliau bertemu pada setiap malam di bulan Ramadan untuk tadarus (membacakan) Al-Qur’an. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam paling dermawan dalam kebaikan melebihi hembusan angin." (HR. Bukhari, no. 6, Muslim, no 2308).


M. Edy Susilo & Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya