Istri yang Luar Biasa


By Fairuz Ahmad
Seorang Ayah bercerita pada anak perempuannya. Suatu hari seorang wanita tua diwawancarai oleh seorang presenter dalam sebuah acara tentang rahasia kebahagiaannya yang tak pernah putus.
Apakah hal itu karena ia pintar memasak? Atau karena ia cantik? Atau karena ia bisa melahirkan banyak anak, ataukah karena apa?
Wanita itu menjawab:
“Sesungguhnya rahasia kabahagiaan suami istri ada di tangan sang istri, tentunya setelah mendapat taufik dari Allah. Seorang istri mampu menjadikan rumahnya laksana surga, juga mampu menjadikannya neraka.
Jangan Anda katakan karena harta!
Sebab betapa banyak istri kaya raya namun ia rusak karenanya, lalu sang suami meninggalkannya.
Jangan pula Anda katakan karena anak-anak!
Bukankah banyak istri yang mampu melahirkan banyak anak hingga sepuluh namun sang suami tak mencintainya, bahkan mungkin menceraikannya.
Dan betapa banyak istri yang pintar memasak!
Di antara mereka ada yang mampu memasak hingga seharian tapi meskipun begitu ia sering mengeluhkan tentang perilaku buruk sang suami”
Maka sang peresenter pun terheran, segera ia berucap:
“Lantas apakah rahasia‬ nya..?”
Wanita itu menjawab:
“Saat suamiku marah dan meledak-ledak, segera aku diam dengan rasa hormat padanya. Aku tundukkan kepalaku dengan penuh rasa maaf. Tapi janganlah Anda diam yang disertai pandangan mengejek, sebab seorang lelaki sangat cerdas untuk memahami itu”
“Kenapa Anda tidak keluar dari kamar saja..?” tukas presenter.
Wanita itu segera menjawab:
“Jangan Anda lalukan itu! Sebab suamimu akan menyangka bahwa Anda lari dan tak sudi mendengarkannya. Anda harus diam dan menerima segala yang diucapkannya hingga ia tenang. Setelah ia tenang, aku katakan padanya; ‘Apakah sudah selesai?’ Selanjutnya aku keluar….
Sebab ia pasti lelah dan butuh istirahat setelah melepas ledakan amarahnya. Aku keluar dan melanjutkan kembali pekerjaan rumahku”
“Apa yang Anda lakukan? Apakah Anda menghindar darinya dan tidak berbicara dengannya selama sepekan atau lebih?” tanya presenter penasaran.
Wanita itu menasehati :
“Anda jangan lakukan itu, sebab itu kebiasaan buruk. Itu senjata yang bisa menjadi bumerang buat Anda. Saat Anda menghindar darinya sepekan sedang ia ingin meminta maaf kepada Anda, maka menghindar darinya akan membuatnya kembali marah. Bahkan mungkin ia akan jauh lebih murka dari sebelumnya”
“Lalu apa yang Anda lakukan..?” tanya sang presenter terus mengejar.
Wanita itu menjawab:
“Selang dua jam atau lebih, aku bawakan untuknya segelas jus buah atau secangkir kopi, dan kukatakan padanya, Silakan diminum.Aku tahu ia pasti membutuhkan hal yang demikian, maka aku berkata-kata padanya seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya”
“Apakah Anda marah padanya..?” ucap presenter dengan muka takjub.
‪Wanita‬ itu berkata:
“Tidak… Dan saat itulah suamiku mulai meminta maaf padaku dan ia berkata dengan suara yang lembut”
“Dan Anda mempercayainya..?” ujar sang presenter.
Wanita itu menjawab:
“Ya. Pasti. Sebab aku percaya dengan diriku dan aku bukan orang bodoh.
Apakah Anda ingin aku mempercayainya saat ia marah lalu tidak mempercayainya saat ia tenang..?”
“Lalu bagaimana dengan harga diri Anda?” potong sang presenter.
“Harga diriku ada pada ridha suamiku dan pada tentramnya hubungan kami. Dan sejatinya antara ‪suami‬ istri‬ sudah tak ada lagi yang namanya harga diri. Harga diri apa lagi..?!! Padahal di hadapan suami Anda, Anda telah lepaskan semua pakaian.

Tips Cerdas : Melatih Anak Rajin Menabung


Oleh Muhammad Abdurrahman

Ingin agar anak terbiasa menabung? Jangan ditunda, ajarkan kebiasaan baik itu sejak dini. Bahkan, idealnya sejak anak masuk usia sekolah. Mengajar anak menabung di usia sekolah akan jauh terasa lebih mudah  sebab mereka biasanya lebih gampang diberikan pemahaman. Di usia sekolah, anak biasanya memiliki kegemaran jajan. Hal ini bisa karena faktor lingkungan maupun bawaan diri sang anak.  Dalam hal ini, orangtua perlu mengajarkan cara memilih jajanan yang perlu dibeli dan mana yang tidak. Dengan memberikan pemahaman memilah jajanan, anak secara tidak langsung diajarkan menyisakan uang.

Kunci mendidik anak agar gemar menabung adalah konsistensi. Para orangtua tidak boleh gampang putus asa atau gampang puas saat mendidik anak. Hal ini karena sifat anak-anak yang gampang berubah. Mereka bisa dengan mudah menyerap “masukan” baru dari lingkungannya dan melupakan ajaran dari orangtua.

Saat mengajar anak menabung, ada baiknya orangtua memberikan motivasi kepada mereka. Motivasi bisa berupa manfaat yang akan didapatkan anak bila rajin menabung. Orangtua bisa menggambarkan kepada anak bahwa dengan menabung mereka bisa membeli mainan yang diinginkan. Atau dengan menabung mereka bisa berliburan ke tempat yang mereka idamkan.
Hal penting lain dalam mendidik kebiasaan menabung pada anak adalah memberikan penghargaan atau sanksi. Penghargaan menjadi penting agar anak merasa yang mereka lakukan mendapat perhatian. Penghargaan misalnya bisa berupa liburan ke tempat yang diinginkan anak apabila tabungan mereka mencapai target yang ditetapkan.

Selain itu, memberi sanksi kepada anak yang boros juga perlu agar mereka sadar ada konsekuensi yang harus diterima bila berbuat tidak baik. Sangsi misalnya bisa berupa pengurangan uang jajan. Terlepas dari semua itu, yang tidak kalah penting saat melatih kebiasaan menabung pada anak adalah dengan memberikan teladan. Orangtua tidak boleh hanya bisa mengajarkan tetapi juga mesti melakukan. Perlu diingat, anak yang memiliki orang tua hobi belanja biasanya akan kesulitan melatih sifat hemat. Dengan kata lain, gaya hidup orangtua akans angat berpengaruh pada diri anak.

Tips mengajarkan anak rajin menabung:

ü  Beri contoh.
Beri contoh secara konsisten dalam tindakan Anda sehari-hari yang menghargai uang dan tidak boros. Anak lebih mudah menyerap pelajaran melalui contoh ketimbang nasihat.
ü  Ajarkan membuat prioritas.
Anak perlu diajar untuk membelanjakan uang saku menurut prioritasnya. Apa sih prioritas dalam penggunaan uang saku? Jelas, untuk membayar transportasi, dan makan selama di sekolah. Buku (di luar buku sekolah) dan mainan bisa menyusul.
ü  Beri tahu anak bedanya “butuh” dan “ingin”
ü  Coba juga mengajarkan anak agar dia bisa membedakan mana barang-barang yang benar-benar dia butuhkan untuk dibeli terlebih dahulu dan mana barang-barang yang sebetulnya hanya diinginkan sehingga bisa ditunda kalau memang belum terlalu penting.
ü  Uang saku tidak selalu harus dihabiskan
Kasih tahu kepada anak bahwa yang namanya uang saku tidak selalu harus dihabiskan. Ada saatnya uang saku harus ditabung. Pertama-tama, Anda bisa mengajarkan si anak untuk memakai celengan.
ü  Ajar anak mengatur penggunaan uang saku
Begitu usianya memadai, mulai berikan anak uang saku untuk jangka waktu tertentu dan ajarkan dia untuk mengaturnya sendiri. Katakan kepada anak, uang itu harus dia kelola dengan baik karena jika boros, maka tidak akan mendapat tambahan uang saku. Dengan begitu, pelan-pelan anak bisa mengatur pengeluarannya.
ü  Ambil keputusan
Biasakan anak mengambil keputusan atas masalah keuangan sedini mungkin. Uang saku yang Anda berikan, diharapkan dapat mengajarkan anak mengelola uangnya dengan baik. Besarnya uang saku bergantung pada banyak hal, misalnya usia anak.
ü  Dorong anak kreatif dan hemat
Anak juga bisa didorong untuk kreatif mendapatkan uang atau menghemat pengeluaran mereka dengan misalnya, membuat sendiri mainannya, mendapatkan upah dengan mencuci mobil, atau menyewakan koleksi bukunya kepada teman-temannya.

Muhammad Abdurrahman, Pemerhati dunia anak


Indahnya Makan Bersama Keluarga



Oleh : Adi Sulistama

Banyak manfaat yang bisa didapat ketika kita makan bersama keluarga. Makan bersama keluarga memberikan dampak yang sangat besar dalam menumbuhkan kebersamaan dan rasa cinta pada keluarga. Makan bersama keluarga dapat menciptakan dan merekatkan hubungan keharmonisan antar anggota keluarga. Dengan menikmati makanan rumah dan makan bersama, kualitas hubungan yang dirasakan anggota keluarga akan sehat. Apalagi ditambah dengan interaksi yang terjadi saat makan bersama. Tubuh akan sehat dengan makanan rumah yang dibuat sendiri dan sudah terjamin kualitasnya. Proses menikmati santapan juga sehat, karena dapat menciptakan kenangan tersendiri yang akan diingat seumur hidup.

Acara makan bersama dapat dilakukan minimal sekali dalam sehari. Entah itu makan pagi, siang atau malam. Karena dari proses menyiapkannya, momen ini sangat indah dan waktu kebersamaan saat menikmati masakan yang dibuat, akan jadi kenangan yang dibawa seumur hidup. Tidak hanya itu, bagi seorang ibu, kegiatan masak dan menyajikan masakan rumah bisa menciptakan kenangan indah sehingga dapat berdampak pada membangun karakter anak yang luar biasa dan akarnya berasal dari rumah.

Selain memperkuat hubungan keluarga, orangtua dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengubah kebiasaan buruk pada gaya makan anak. Kalau anak terbiasa makan di depan televisi dan berat badannya terus bertambah, sekaranglah saatnya mengubah kebiasaan buruk itu. Dengan makan bersama di meja makan, dia dapat menentukan berapa banyak yang ingin dimakannya.

Sebaliknya bila dia duduk di depan televisi, orangtua yang menentukan porsinya dengan mengambilkan makanannya. Sementara itu anak menikmati makanannya dengan perhatian yang tertuju ke televisi, tanpa terasa dia melahap habis makanannya tanpa peduli bahwa dia sudah merasa kenyang sekali. Juga jangan membiasakan dia menghabiskan makanan di piring bila dia tampak sudah kenyang. Makanan yang cukup akan membuat sehat, makanan yang terlalu banyak akan membuat kelebihan berat badan.

Selain itu, dengan duduk bersama di meja makan keluarga dapat berbincang-bincang tentang apa saja yang terjadi sehari itu. Orangtua terutama dapat mengajukan pertanyaan tentang apa yang terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Bila orangtua memberikan perhatian yang sungguh-sungguh, anak akan dengan senang hati menuturkan segala yang terjadi. Selain itu, orangtua juga bisa memperhatikan jika ada gejala anak Anda menutup-nutupi sesuatu.

Hindarilah keinginan mengecam, mengkritik atau mencela agar tidak merusak suasana nyaman dan selera makan. Bahaslah soal yang ringan-ringan, bila karena satu dan lain hal percakapan menjurus ke masalah yang serius, tundalah untuk membicarakannya sehabis makan. Mungkin keadaan yang santai dan nyaman memudahkan anak-anak remaja mengemukakan masalah mereka. Orangtua dapat menanggapinya dengan santai pula, tetapi jika orangtua menganggap masalah itu perlu dibicarakan lebih panjang lebar, luangkan waktu sehabis makan.

 Saat makan bersama, orangtua juga dapat mengajar anak-anak sopan santun di meja makan, misalnya jangan berbicara dengan mulut penuh, mulut jangan berbunyi ketika mengunyah, cara memakai alat-alat makan yang benar. Selain itu orangtua juga dapat mengajar mereka hal-hal lain sesuai dengan apa yang dibicarakan.

Salah satu hal yang paling penting yakni bagaimana mengharapkan seluruh keluarga duduk bersama menikmati hidangan bila makanan yang disajikan itu kurang disukai. Cobalah menghidangkan sesuatu yang sama-sama digemari, makanan dengan menu seimbang, lezat namun sehat. Ini membutuhkan pemikiran, mungkin Anda dapat membuat daftar makanan kegemaran setiap anggota keluarga dan menggilirnya dengan adil.


Adi Sulistama, Pemerhati dunia anak
foto by google

Cara Cepat Dapat Gelar


Oleh : Dr. Subhan Afifi, M.Si

Seorang kawan di sebuah pulau yang makmur pernah berkirim SMS kepada saya. “Ini bisnis,” katanya. Intinya, ada beberapa pejabat di pulau itu ingin melanjutkan S2 dengan model by research, hanya mengerjakan tesis. Tapi mereka super sibuk, sehingga mencari orang yang mau dan mampu mengerjakannya dengan imbalan rupiah tentu saja. “Kalau Abang mau, nanti saya hubungkan,” tulis sang kawan. Tentu saja kawan itu salah alamat. Kontan saja saya balas SMS-nya bertubi-tubi, mengingatkan bahwa itulah kejahatan intelektual sebenarnya. Orang kok ingin dapat gelar dengan cara pintas.

Beberapa waktu kemudian, saya menguji skripsi seorang calon sarjana. Tulisan dari hasil penelitian itu standar-standar saja, seperti kebanyakan skripsi mahasiswa yang pernah saya temui. Hati agak kurang nyaman ketika mahasiswa itu mempresentasikan karyanya di depan kami, saya sebagai penelaah, dan dua orang dosen pembimbing. Ketika giliran saya menyampaikan pertanyaan, saya bertanya singkat saja: ”Apakah skripsi ini anda buat sendiri?”. Aneh bin ajaib, si mahasiswa menjawab dengan sangat polos : ”Nggak, Pak ! He…he…” Maka, meluncurlah cerita yang sangat jujur, bahwa ia merasa sudah mentok, pernah patah hati kemudian cuti kuliah beberapa semester. Sementara orangtua tidak tahu, tapi terus mengultimatum, ”Kapan kamu wisuda? Ini semester terakhir lho ! Setelah ini nggak ada kiriman lagi !” Maka, jasa pembuat skripsi yang iklannya ada di koran-koran dengan label konsultasi dan pengolahan data, menjadi pilihan terakhirnya. ”Saya bingung, Pak. Tapi saya ingin lulus, jadi sarjana, menyenangkan orangtua,” katanya.

Dosen pembimbingnya pun kaget campur geram. Mahasiswa ini memang tergolong bermasalah sejak awal. Belasan semester sudah dia habiskan di kampus. Tapi, dosen pembimbingnya tidak menyangka kalau skripsinya dibuatkan orang, karena waktu konsultasi biasa-biasa saja. Singkat cerita, sang mahasiswa dinyatakan tidak lulus, harus mengulang penelitian dari awal, dengan catatan ”benar-benar bikin sendiri!”. ”Sejelek apapun, tapi karya sendiri, itu lebih berharga, daripada menipu diri sendiri dan orang lain,” begitu nasihat dosen pembimbing. Melihat kepala mahasiswa tertunduk lunglai, saya pun mencoba memberi semangat bahwa dia bisa, dia hebat, asal jangan mengerdilkan jiwa. Dalam hati, lagi-lagi saya heran, ada orang ingin dapat gelar dengan cara pintas.

Lantas, apa sebenarnya makna gelar? Bukan hanya gelar akademis, gelar apa saja! Sekedar hiasan, status sosial, alat pemasaran, punya konsekuensi ekonomis, atau semacam sistem tanda yang menjamin bahwa si pemilik bukan orang main-main. Repotnya bila orang mati-matian mengejar gelar, bagaimanapun caranya, atau malah menggelari diri sendiri, padahal ketika disandingkan dengan nama, gelar itu gak matching gitu lo. Ini yang berat. Pelajaran paling indah telah tertoreh pada sejarah nabi kita yang Agung, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di zaman itu, orang juga biasa memberi gelar. Tapi gelar itu diberi karena pembuktian di masyarakat, bukan mengarang sendiri, apalagi membeli. Rasulullah diberi gelar Al-Amin, karena beliau memang sangat bisa dipercaya. Abu Bakar digelari Ash Shiddiq karena selalu benar, membenarkan dan dibenarkan. Umar bin Khattab bergelar Al Faruq karena sosoknya yang tegar, tegas, keras, tak kenal takut. Demikian juga dengan ’Utsman bin Affan dihadiahi gelar Dzun Nurain, si pemalu yang berakhlaq mulia, Khalid bin Walid punya gelar Saifullah, Pedang Allah, dan seterusnya. Semua punya gelar, tapi mereka memperolehnya dengan pembuktian yang mendalam, bukan sekedar simbol tanpa makna.

Ngomong-ngomong tentang gelar, saya jadi malu sendiri. Ketika diundang untuk sharing dalam sebuah workshop komunikasi dan pendidikan di Ngawi, saya kaget dan geli ketika di backdrop acara, selain nama acara dan penyelenggara, terpampang besar-besar nama saya dengan embel-embel gelar yang bikin seram. Dr. H. Subhan Afifi, M.Si. Padahal waktu itu, saya belum lulus kuliah S3, maka belum memperoleh gelar Doktor. Saya merasa tidak nyaman dan langsung protes sama ketua panitia. ”Sampeyan kan tahu, saya masih sekolah, belum Doktor, gimana nih? Lagipula, kalau nggak pakai gelar-gelaran seperti itu gimana sih..Apa omongan kita nggak dipercaya orang, kalau nggak pake gelar yang berderet-deret. Jadi beban malah, gelar macam-macam, ilmu nggak ada.” Mendengar protes saya, salah satu panitia menjawab,”Tenang aja Pak, itu doa dari kami, jadi jangan diralat,” katanya santai. Waduh!


Dr. Subhan Afifi, M.Si | Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Yogyakarta | Redaktur Ahli Majalah Fahma
foto http://portal.iainbanten.ac.id/images/wisuda.jpg

Kajian Utama : Semangat Kembali Ke Sekolah


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Libur panjang menjelang berakhir, teringat kembali hari-hari sekolah. Wajah anak bersungut menandakan ada ketidaksukaan di hatinya. Rutinitas hari-hari sekolah, pengalaman belajar yang tidak nyaman hingga tugas-tugas sekolah kembali ada di hadapan anak.

Tidak akan kita cari apa penyebabnya, adakah ini salah? Tetapi kita coba cari solusinya. Jangan mencari kambing hitam, apalagi menyalahkan anak. Ini tidak mengatasi masalah, malah bisa menambah masalah. Bagaimana solusinya?

Bakr bin Abdullah Abu Yazid dalam bukunya “Hilyah Thalibil ‘Ilmi” yang diterjemahkan oleh Hawin Murtadlo (Al Qowam, Solo, 2014) antara lain menulis: Berhias dengan motivasi tinggi akan membuang semua angan-angan dan perbuatan rendah dari dirimu serta mencabut pohon kehinaan dan sikap mencari muka (menjilat) darimu. Orang yang bermotivasi tinggi itu teguh hati dan tidak gentar menghadapi berbagai situasi.

Setuju. Kita sepakat bahwa motivasi yang tinggi menjadi solusi. Motivasi belajar yang tinggi akan meneguhkan hati, membunuh kebosanan, mengubur ketidaknyamanan dan meredam tekanan. Permasalahannya,bagaimana menumbuhkan motivasi yang tinggi.

Hal ini dapat kita tempuh melalui dua jalur, yakni motivasi dari luar dan motivasi dari dalam. Motivasi dari luar (ekstrinsik) lebih mudah dan bisa cepat tetapi juga cepat hilang atau tidak awet. Contoh motivasi ekstrinsik, sebelum memasuki tahun ajaran baru kita ajak anak ke toko untuk membeli tas baru. Anak boleh memilih tas yang ia sukai. Motivasi ekstrinsik bagi anak-anak berupa hal-hal baru yang ia sukai yang dipakai ketika iasekolah nanti. Yang paling mudah adalah peralatan sekolah. Kalau tas terlalu mahal mungkin dapat berupa buku tulis atau tempat bekal makan/minum.

Motivasi dari dalam (intrinsik) adalah dorongan atau keinginan kuat yang muncul dari diri sendiri. Inilah motivasi yang sebenarnya. Yang oleh Bakr bin Abdullah digambarkan mampu membuang angan-angan dan perbuatan rendah, meneguhkan hati, menjadikan anak tak gentar menghadapi berbagai situasi.

Membangun motivasi intrinsik berarti kita memberikan atau melakukan sesuatu untuk anak sehingga sesuatu tadi mampu menjadi pendorong bagi anak untuk melakukan sesuatu dengan senang hati. Tentu ini lebih sulit. Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua, yaitu:

Pertama, orangtua selalu memberi impian tentang keberhasilan di masa depan. Yakni dengan memberi pandangan dan keyakinan akan keberhasilan di masa depan, membicarakan langkah-langkah spesifik yang bisa mereka lakukan, baik untuk masa sekarang, jangka pendek, maupun jangka panjang. Termasuk di dalamnya kegiatan belajar di sekolah yang harus ditekuni.

Kedua, orangtua selalu menanamkan nilai bahwa kerja keras adalah kunci keberhasilan. Memberi penegasan bahwa faktor penentu dari perubahan mereka bukanlah faktor keberuntungan atau keturunan. Keberuntungan itu telah digariskan oleh Yang Maha Penentu melalui kerja keras sebagai bentuk pengabdian. Tidak bergaya hidup ongkang-ongkang kaki, malas belajar. Budaya kerja keras ditanamkan sehingga mereka percaya bahwa keberhasilan akan datang dari motivasi dan komitmen diri sendiri.Bacakan kisah-kisah sukses para sahabat rasul atau para pejuang lainnya.

Ketiga, orangtua merasa bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawabnya, sehingga mereka selalu bekerjasama untuk mendukung kemajuan perkembangan anaknya. Selalu ingin mengambil peran di rumah yang bisa mendukung pembelajarannya di sekolah. Anak-anak akan merasakan bahwa orangtua dan guru adalah dua kekuatan yang menyatu untuk mendukung keberhasilannya.

Keempat, orangtua sering mengkomunikasikan harapan dan kepercayaan pada sekolah. Orangtua yang berperan aktif dalam pembelajaran atau kegiatan sekolah, memberi kepercayaan akan kemampuan anak, dan memberi harapan akan keberhasilannya di sekolah. Maka anak pun akan berusaha menunjukkan kepercayaan dan kemampuannya, ia tidak akan mengecewakan orangtua

Kelima, orangtua  menekankan perkembangan spiritual. Mereka menanamkan bahwa keberhasilan yang mereka raih tidak semata ditentukan oleh aktivitas dan kerja kerasnya. Allah Ta’ala penentu segalanya sehingga hasilnya nanti tidak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Ada syukur yang ia rasakan, kasih sayang yang sudah ia terima dan ada kasih sayang yang harus ia berikan.


Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al Kautsar, Sleman
foto http://www.wiranurmansyah.com/wp-content/uploads/2010/12/ee.jpg

Sudahkah Anak Anda Menunjukkan Kesiapan Bersekolah?


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Memasuki tahun ajaran baru, pertanyaan yang paling sering berada di benak orangtua adalah, sudahkah anak-anaknya menunjukkan kesiapan bersekolah? Pertanyaan ini tidak hanya terjadi pada orangtua yang anaknya baru akan memasuki jenjang pendidikan. Orangtua yang anak-anaknya akan kembali masuk sekolah setelah jeda libur akhir tahun ajaran yang cukup panjang pun memiliki pertanyaan serupa. Umumnya, anak yang melalui libur panjang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Seperti halnya mesin yang lama dimatikan, butuh waktu beberapa saat untuk memanaskan mesin sebelum digunakan.

Schattschneider dkk (2004) menemukan anak-anak yang memiliki kesadaran fonologis (misalnya anak mampu mengenali bagaimana bunyi setiap kata, mampu membedakan masing-masing suara dari unit huruf yang menyusun setiap kata, mampu mengenali suara awal, dan seterusnya), dan cepat dalam mengenali nama-nama huruf saat di tamak kanan-kanak memiliki prestasi membaca saat mereka kelas 1 dan 2 sekolah dasar. Stevenson & Newman, (1986) juga menemukan banyaknya jumlah huruf yang dikenali oleh anak-anak saat taman kanak-kanak berhubungan sangat kuat dengan prestasi membaca mereka saat berada di jenjang pendidikan sekolah menengah atas.

Dua temuan di atas menunjukkan pentingnya para orangtua untuk sejak dini  menyiapkan anak-anak mereka memiliki kesiapan bersekolah. Kesiapan bersekolah anak dapat dilihat apakah anak memiliki keterampilan-keterampilan emosi, perilaku, dan berpikir yang diperlukan untuk belajar, bekerja, dan berfungsi dengan sukses di sekolah.

Daftar pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah anak sudah memiliki kesiapan bersekolah atau belum: (1) Apakah anak mampu untuk mengikuti kegiatan rutin harian yang disiapkan oleh sekolah? (2) Apakah anak mampu berpakaian secara mandiri? Apakah anak mampu bekerja secara mandiri dengan pengawasan dari guru? (3) Apakah anak mampu mengikuti aturan-aturan yang sederhana? Apakah anak mampu mendengarkan dan memperhatikan apa yang sedang disampaikan pihak lain? (4) Apakah anak mampu berhubungan dan bekerja sama dengan anak yang lain? Apakah anak mampu bermain dengan anak yang lain? (5) Apakah anak mampu menggunakan gunting, puzzle, dan mewarnai? Apakah anak mampu menuliskan nama sendiri, berhitung, mengeja huruf? (6)Apakah anak mampu mengenali bentuk dan warna? Apakah anak mampu mengenali suara dari kata, suara dari huruf-huruf pembentuk sebuah kata?

Berikut ini penulis kutipkan dari National Association of School Psychologist (NASP) beberapa kegiatan yang dapat dilakukan orangtua untuk meningkatkan kesiapan bersekolah anak-anak: Pertama, membacakan buku untuk anak dan membaca buku bersama anak. Kedua, menghabiskan waktu bersama anak, termasuk untuk ngobrol, bermain, bercanda, dan memeluknya. Ketiga, menciptakan kegiatan rutin yang perlu diikuti anak, misal waktu makan, waktu mandi, waktu tidur, dan sejenisnya. Keempat, mendorong dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak, mendorong perilaku-perilaku yang memperlihatkan penghormatan dan penghargaan hak miliki orang lain. Kelima, terlibat dalam kegiatan-kegiatan membaca dan berhitung yang dilakukan secara informal di rumah. Keenam, memperlihatkan dan mendorong anak-anak untuk memikirkan, memperhatikan kehidupan di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Ketujuh, mempromosikan kegiatan-kegiatan bermain yang dapat mengembangkan keterampilan membaca, keterampilan pemecahan masalah, kreativitas, dan imajinasi. Kedelapan, mendorong anak-anak untuk menerima tanggung jawab dan membangun kompetensi melalui tugas-tugas harian yang sederhana seperti membereskan mainan dan meletakkan pakaian

Selama anak menjalani libur sekolah, ada baiknya orangtua tetap mempraktekkan cara-cara di atas agar semangat dan motivasi belajar anak tetap terjaga. Belajar tidak harus saat sekolah. Saat liburan pun, belajar tetap bisa dilakukan meski dengan cara yang sangat sederhana. Sebatas membaca buku atau bermain kreatif sudah cukup untuk menjaga semangat belajar anak selama liburan. Pun bagi anak yang pra-sekolah, sudah selayaknya diajak melakukan berbagai kegiatan seperti di atas secara bertahap agar lebih memiliki kesiapan sekolah.


Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma
foto http://img.antaranews.com/2009/10/tanpaalas.jpg

Kajian Utama : Semangat yang Tak Kendor


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi rahimahullah belajar kepada Syaikh Abu Ali Al-Qaaly. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, Abdullah bin Hamud az-Zubaidi tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid Abu Ali yang lainnya untuk menjumpai sang Guru –yakni Abu Ali- sebelum mereka datang agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan.

Allah menakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya di waktu pagi sebelum terbit fajar. Az-Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri dan mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakakan dirinya, Abu Ali berteriak dan berkata, “Celaka, siapa anda?” Az-Zubaidi menjawab : “Saya muridmu, Az-Zubaidi.” Abu Ali berkata, “Sejak kapan anda membuntuti saya?  Demi Allah tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih tahu tentang nahwu daripada anda, pergilah dan tinggalkan saya.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (2/119), Al-Qifthy]

Syaikh Abdullah berpagi-pagi untuk mencari kesempatan lebih besar dalam mencari ilmu. Begitu besar semangatnya dalam mengejar kebaikan yang banyak.

Muhammad bin Ahmad Al-Barqani rahimahullah berkata : “Saya masuk ke kota Al-Asfarayin –untuk mencari ilmu- dengan membawa tiga dinar dan satu dirham. Tetapi dinar saya hilang dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Saya memberikannya kepada sebuah toko dan setiap hari saya mengambil dua roti kering darinya. Saya belajar dari Bisyr bin Ahmad beberapa bagian dari kitab hadits. Saya masuk ke masjid Jami’ dan menulis hadits darinya. Beliau pulang untuk makan malam dan saya telah selesai menulis. Saya berhasil menulis 30 juz dari hadits dalam satu bulan. Setelah habis satu dirham yang ada di toko, saya pun kembali ke negeri saya.”

Muhammad sanggup menderita untuk mendapatkan ilmu. Baginya kesusahan bukanlah penghalang. Abdullah bin Abu Daud rahimahullah bercerita : “Saya masuk ke Kufah –untuk mencari ilmu- dan saya hanya memiliki satu dirham. Saya membelikan 30 mud ful –yakni sejenis kacang-. Saya memakannya sambil menulis kitab Al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi. Setelah habis memakannya, saya telah menulis 30.000 hadits yang terputus atau bergantung sanadnya.” [Tadzkiratul Huffazh (2/768), Adz-Dzahabi]

Kesederhanaan dalam makan menghantar Abdullah bin Abu Daud mendapatkan begitu banyak ilmu. Di kala begitu banyak manusia kehilangan ilmu karena menuruti mencari lezat makanan. Kesibukan dan keresahan soal kenikmatan makan menjadikan mereka terjauh dari kenikmatan ilmu.

Hajaj bin Asy-Sya’ir Rahimahullah berkata,“Ibuku pernah menyiapkan untukku 100 roti kering dan aku meletakkannya di dalam tas. Beliau mengutusku ke Syubbanih –yakni salah seorang ahli hadits- di Madain. Aku tinggal di sana selama 100 hari, dan setiap hari aku membawa satu roti dan mencelupkannya ke sungai Dajlah kemudian memakannya. Setelah roti habis, aku kembali ke ibuku.” [Tadzkiratul Huffazh (2/550), Adz-Dzahabi]

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah bercerita : “Ketahuilah wahai puteraku, sesungguhnya ayahku dahulunya kaya dan meninggalkan ribuan dirham. Ketika saya dewasa, ia memberi saya 20 dinar dan dua rumah seraya berkata kepada saya,“Inilah warisan semuanya”. Saya mengambil dinar tersebut untuk membeli kitab-kitab para ulama. Saya menjual kedua rumah tersebut dan saya gunakan untuk biaya belajar, sehingga tidak ada lagi harta yang tersisa buat saya.” [Lathaiful Kabid fi Nasihatil Walad, Ibnu Jauzi]

Beliau juga bercerita : “Saya telah menulis dengan dua jari saya ini 2.000 jilid kitab. Dan orang-orang bertaubat lewat tangan saya ini 100.000 orang.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1242), Adz-Dzahabi]. Ibnul Jauzi memanen hasil manis dari kesediaannya dalam berkorban demi menuntut ilmu di jalan Allah.

Tokoh tokoh besar yang sukses menuntut ilmu senantiasa berkawan dengan semangat tak kunjung kendor. Juga kesediaan berkorban diri untuk menjalani kesederhanaan dan sedikit kekurangan kenikmatan. Semuanya menghantar kepada berhasil.


R. Bagus Priyosembodo,  Pendidik, Redaktur Ahli Majalah Fahma
foto http://al-badar.net/wp-content/uploads/2015/03/menuntut-ilmu.jpg

Kolom Prof In : Pengawasan dan Kebersamaan dengan Anak


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Pada saat memberikan sambutan di forum pengajian dosen di kampus kami, Ketua Forum, yang juga salah satu pimpinan universitas, menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya, beliau bersama para pimpinan bidang kemahasiswaan berbagai perguruan tinggi, telah diundang oleh Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi di Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut diungkapkan bahwa saat ini, generasi muda kita sedang menghadapi berbagai ancaman yang luar biasa, salah satunya adalah narkoba. Mendengar berita ini, saya langsung teringat akan cerita tentang seorang ibu rumah tangga yang sangat terpukul, hampir putus asa. Ketika suatu hari ada petugas polisi datang ke rumah untuk mencari putranya, yang baru kelas dua SMP, karena terlibat dalam jaringan peredaran narkoba.

Kedua orangtuanya tidak habis pikir, anaknya yang termasuk masih kecil, sudah terlibat kegiatan itu. Padahal selama ini, mereka sudah berusaha menyekolahkan putranya di sebuah SD Islam berbiaya sangat mahal, dan SMP-nya pun juga sebuah sekolah milik yayasan keagamaan. Bahkan setiap berangkat ke sekolah, si ibu mengantarnya sendiri. Namun, mengapa masih bisa terpengaruh dan bahkan sudah terlibat ke jaringan penjualan barang haram. Ternyata, upaya untuk menjaga putranya itu masih ada kelemahannya, yaitu setelah selesai sekolah, si ibu membiarkan kalau anaknya tidak langsung pulang. Kesempatan itulah yang menyebabkan putranya terlibat dalam peredaran narkoba.

Mendengar cerita itu, saya dan istri sangat bersyukur. Alhamdulillah, Allah Ta’ala telah mengizinkan saya dan istri waktu itu untuk bersepakat agar berusaha mengawasi anak-anak dengan kebersamaan dan kehati-hatian. Anak sulung laki-laki, ketika di sekolah dasar kami ikutkan antar jemput pada jasa angkutan yang pengemudinya kami kenal dengan baik. Bahkan hubungan ini kami pelihara secara khusus. Kami selalu mengalokasikan waktu untuk bersilaturahim ke rumah beliau, karena dia merupakan wakil orangtua untuk mengawasi anak saat berangkat dan pulang sekolah. Ini sangat kami rasakan, karena di antara para langganan antar jemput, anak kami mendapatkan perhatian (bukan pelayanan) yang sangat baik.

 Setelah lulus SD, ternyata lokasi SMP Muhammadiyah-nya di luar jalur antar jemput, sehingga saya  lakukan sendiri untuk mengantar sekalian pergi ke kantor. Istri berangkatnya agak siang karena harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Sedangkan pulangnya bergantian dengan istri, siapa yang berkesempatan. Hal ini berlangsung sampai dia masuk di SMA Muhammadiyah.

Sebetulnya, menjelang naik ke kelas dua, dia pernah minta izin untuk berangkat dan pulang naik sepeda motor. Namun kami tidak memperbolehkan, karena usianya belum genap 17 tahun, berarti belum berhak mendapatkan SIM atau Surat Izin Mengemudi. Saya dan istri sepakat untuk memberikan contoh baik pada si anak untuk mematuhi peraturan lalu-lintas, dengan tidak mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa SIM.

Satu hal yang saat itu membuat kami bersyukur adalah tidak adanya protes dari si anak, meskipun hampir semua teman-temannya yang rumahnya jauh naik sepeda motor. Apakah ini dikarenakan dia pernah sekolah dan mengalami hidup di Perancis, negara yang masyarakatnya sangat patuh dalam menjalankan peraturan lalu lintas, atau mungkin karena dia tidak berani membantah keputusan orangtuanya. Namun yang kami ingat, dulu saat di sana, dia pernah memprotes keras ibunya pada saat menyeberang jalan tidak melewati zebra-cross dan juga saat berjalan di atas rumput di sebuah taman.

Konsekuensi dari la rangan untuk tidak naik sepeda motor sendiri tersebut, membuat kami harus tetap mengantar dan menjemput dia. Berangkat pagi sekali, sebelum sampai kantor kami menurunkan dia di sekolah, dan saat pulang menjemputnya. Kami harus mengatur waktu dan jalur, karena terhadap ketiga anak, kami perlakukan hal yang sama. Namun, baru saat ini kami menyadari, apa yang dulu kami anggap sebagai kewajiban semata, dan mungkin orang lain melihatnya sebagai sebuah “kerepotan”. Sekarang kami merasakannya sebagai sebuah anugerah. Karena waktu itu Allah Ta’Ala telah mengizinkan kami melewati waktu kebersamaan dan pengawasan yang lebih lama bersama anak-anak.


Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gajah Mada, Pimpinan Umum Majalah Fahma
foto http://fajar.co.id/wp-content/uploads/2015/02/sekolah.jpg

Salam Redaksi : Bersiap Kembali Ke Sekolah



Assalaaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Liburan sekolah memang merupakan saat yang menyenangkan bagi anak-anak, karena setelah kegiatan sekolah berbulan-bulan yang padat dengan belajar dan aktivitas terkait lainnya, anak-anak bisa memiliki waktu liburan yang bisa diisi dengan kegiatan yang mereka sukai.

Liburan biasanya diisi dengan bersantai di rumah maupun pergi berwisata ke suatu tempat. Tak jarang pula keluarga yang meluangkan waktu untuk mengunjungi snak saudara maupun kerabat saat liburan sekolah.

Namun, liburan sekolah yang menyenangkan ternyata tidak selalu menimbulkan efek positif saat anak harus memulai hari pertama sekolah kembali setelah liburan panjang.

Kini, libur panjang hari raya Idul Fitri dan akhir tahun ajaran sudah hampir usai. Anak-anak pun harus dikondisikan untuk kembali menjalani rutinitas belajar di sekolah. Hal ini tentu tidak mudah. Sebab selama beberapa pekan, anak menikmati liburan tanpa beban dengan pola aktivitas yang tidak seketat saat sekolah. Kini, mereka sudah harus bersiap menghadapi pelajaran dan berbagai tugas yang sudah menanti.

Biasanya anak akan malas bangun tidur hingga tidak mau sekolah. Ada juga yang malas-malasan di hari pertama sekolah karena masih terbiasa dengan kegiatan sehari-sehari yang santai saat liburan panjang. Rasa cemas pun pasti ada pada diri anak menghadapi kembali rutinitas sekolah. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua membantunya menyiapkan diri menyambut kembali saat-saat bersekolah.

Majalah Fahma edisi Juli ini berusaha mengupas berbagai kiat untuk mengkondisikan anak menjelang berakhirnya masa liburan. Kiat yang tersaji di dalam kajian utama tidak hanya bisa berlaku untuk anak yang akan kembali ke sekolah, melainkan juga untuk anak pra-sekolah yang akan memasuki jenjang pendidikan. Insya Allah akan diulas oleh Bagus Priyosembodo, Irwan Nuryana Kurniawan dan Slamet Waltoyo.

Pembaca yang dirahmati Allah,
Tak lupa kami segenap direksi dan karyawan Majalah Fahma mengucapkan taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf jika ada khilaf dari kami selama memberi pelayanan pada para pembaca sekalian.

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.

Redaksi Fahma