» » Kajian Utama : Semangat Kembali Ke Sekolah

Kajian Utama : Semangat Kembali Ke Sekolah

Penulis By on Friday, July 3, 2015 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Libur panjang menjelang berakhir, teringat kembali hari-hari sekolah. Wajah anak bersungut menandakan ada ketidaksukaan di hatinya. Rutinitas hari-hari sekolah, pengalaman belajar yang tidak nyaman hingga tugas-tugas sekolah kembali ada di hadapan anak.

Tidak akan kita cari apa penyebabnya, adakah ini salah? Tetapi kita coba cari solusinya. Jangan mencari kambing hitam, apalagi menyalahkan anak. Ini tidak mengatasi masalah, malah bisa menambah masalah. Bagaimana solusinya?

Bakr bin Abdullah Abu Yazid dalam bukunya “Hilyah Thalibil ‘Ilmi” yang diterjemahkan oleh Hawin Murtadlo (Al Qowam, Solo, 2014) antara lain menulis: Berhias dengan motivasi tinggi akan membuang semua angan-angan dan perbuatan rendah dari dirimu serta mencabut pohon kehinaan dan sikap mencari muka (menjilat) darimu. Orang yang bermotivasi tinggi itu teguh hati dan tidak gentar menghadapi berbagai situasi.

Setuju. Kita sepakat bahwa motivasi yang tinggi menjadi solusi. Motivasi belajar yang tinggi akan meneguhkan hati, membunuh kebosanan, mengubur ketidaknyamanan dan meredam tekanan. Permasalahannya,bagaimana menumbuhkan motivasi yang tinggi.

Hal ini dapat kita tempuh melalui dua jalur, yakni motivasi dari luar dan motivasi dari dalam. Motivasi dari luar (ekstrinsik) lebih mudah dan bisa cepat tetapi juga cepat hilang atau tidak awet. Contoh motivasi ekstrinsik, sebelum memasuki tahun ajaran baru kita ajak anak ke toko untuk membeli tas baru. Anak boleh memilih tas yang ia sukai. Motivasi ekstrinsik bagi anak-anak berupa hal-hal baru yang ia sukai yang dipakai ketika iasekolah nanti. Yang paling mudah adalah peralatan sekolah. Kalau tas terlalu mahal mungkin dapat berupa buku tulis atau tempat bekal makan/minum.

Motivasi dari dalam (intrinsik) adalah dorongan atau keinginan kuat yang muncul dari diri sendiri. Inilah motivasi yang sebenarnya. Yang oleh Bakr bin Abdullah digambarkan mampu membuang angan-angan dan perbuatan rendah, meneguhkan hati, menjadikan anak tak gentar menghadapi berbagai situasi.

Membangun motivasi intrinsik berarti kita memberikan atau melakukan sesuatu untuk anak sehingga sesuatu tadi mampu menjadi pendorong bagi anak untuk melakukan sesuatu dengan senang hati. Tentu ini lebih sulit. Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua, yaitu:

Pertama, orangtua selalu memberi impian tentang keberhasilan di masa depan. Yakni dengan memberi pandangan dan keyakinan akan keberhasilan di masa depan, membicarakan langkah-langkah spesifik yang bisa mereka lakukan, baik untuk masa sekarang, jangka pendek, maupun jangka panjang. Termasuk di dalamnya kegiatan belajar di sekolah yang harus ditekuni.

Kedua, orangtua selalu menanamkan nilai bahwa kerja keras adalah kunci keberhasilan. Memberi penegasan bahwa faktor penentu dari perubahan mereka bukanlah faktor keberuntungan atau keturunan. Keberuntungan itu telah digariskan oleh Yang Maha Penentu melalui kerja keras sebagai bentuk pengabdian. Tidak bergaya hidup ongkang-ongkang kaki, malas belajar. Budaya kerja keras ditanamkan sehingga mereka percaya bahwa keberhasilan akan datang dari motivasi dan komitmen diri sendiri.Bacakan kisah-kisah sukses para sahabat rasul atau para pejuang lainnya.

Ketiga, orangtua merasa bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawabnya, sehingga mereka selalu bekerjasama untuk mendukung kemajuan perkembangan anaknya. Selalu ingin mengambil peran di rumah yang bisa mendukung pembelajarannya di sekolah. Anak-anak akan merasakan bahwa orangtua dan guru adalah dua kekuatan yang menyatu untuk mendukung keberhasilannya.

Keempat, orangtua sering mengkomunikasikan harapan dan kepercayaan pada sekolah. Orangtua yang berperan aktif dalam pembelajaran atau kegiatan sekolah, memberi kepercayaan akan kemampuan anak, dan memberi harapan akan keberhasilannya di sekolah. Maka anak pun akan berusaha menunjukkan kepercayaan dan kemampuannya, ia tidak akan mengecewakan orangtua

Kelima, orangtua  menekankan perkembangan spiritual. Mereka menanamkan bahwa keberhasilan yang mereka raih tidak semata ditentukan oleh aktivitas dan kerja kerasnya. Allah Ta’ala penentu segalanya sehingga hasilnya nanti tidak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Ada syukur yang ia rasakan, kasih sayang yang sudah ia terima dan ada kasih sayang yang harus ia berikan.


Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al Kautsar, Sleman
foto http://www.wiranurmansyah.com/wp-content/uploads/2010/12/ee.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya