» » Kajian Utama : Semangat yang Tak Kendor

Kajian Utama : Semangat yang Tak Kendor

Penulis By on Friday, July 3, 2015 | No comments


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi rahimahullah belajar kepada Syaikh Abu Ali Al-Qaaly. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, Abdullah bin Hamud az-Zubaidi tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid Abu Ali yang lainnya untuk menjumpai sang Guru –yakni Abu Ali- sebelum mereka datang agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan.

Allah menakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya di waktu pagi sebelum terbit fajar. Az-Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri dan mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakakan dirinya, Abu Ali berteriak dan berkata, “Celaka, siapa anda?” Az-Zubaidi menjawab : “Saya muridmu, Az-Zubaidi.” Abu Ali berkata, “Sejak kapan anda membuntuti saya?  Demi Allah tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih tahu tentang nahwu daripada anda, pergilah dan tinggalkan saya.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (2/119), Al-Qifthy]

Syaikh Abdullah berpagi-pagi untuk mencari kesempatan lebih besar dalam mencari ilmu. Begitu besar semangatnya dalam mengejar kebaikan yang banyak.

Muhammad bin Ahmad Al-Barqani rahimahullah berkata : “Saya masuk ke kota Al-Asfarayin –untuk mencari ilmu- dengan membawa tiga dinar dan satu dirham. Tetapi dinar saya hilang dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Saya memberikannya kepada sebuah toko dan setiap hari saya mengambil dua roti kering darinya. Saya belajar dari Bisyr bin Ahmad beberapa bagian dari kitab hadits. Saya masuk ke masjid Jami’ dan menulis hadits darinya. Beliau pulang untuk makan malam dan saya telah selesai menulis. Saya berhasil menulis 30 juz dari hadits dalam satu bulan. Setelah habis satu dirham yang ada di toko, saya pun kembali ke negeri saya.”

Muhammad sanggup menderita untuk mendapatkan ilmu. Baginya kesusahan bukanlah penghalang. Abdullah bin Abu Daud rahimahullah bercerita : “Saya masuk ke Kufah –untuk mencari ilmu- dan saya hanya memiliki satu dirham. Saya membelikan 30 mud ful –yakni sejenis kacang-. Saya memakannya sambil menulis kitab Al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi. Setelah habis memakannya, saya telah menulis 30.000 hadits yang terputus atau bergantung sanadnya.” [Tadzkiratul Huffazh (2/768), Adz-Dzahabi]

Kesederhanaan dalam makan menghantar Abdullah bin Abu Daud mendapatkan begitu banyak ilmu. Di kala begitu banyak manusia kehilangan ilmu karena menuruti mencari lezat makanan. Kesibukan dan keresahan soal kenikmatan makan menjadikan mereka terjauh dari kenikmatan ilmu.

Hajaj bin Asy-Sya’ir Rahimahullah berkata,“Ibuku pernah menyiapkan untukku 100 roti kering dan aku meletakkannya di dalam tas. Beliau mengutusku ke Syubbanih –yakni salah seorang ahli hadits- di Madain. Aku tinggal di sana selama 100 hari, dan setiap hari aku membawa satu roti dan mencelupkannya ke sungai Dajlah kemudian memakannya. Setelah roti habis, aku kembali ke ibuku.” [Tadzkiratul Huffazh (2/550), Adz-Dzahabi]

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah bercerita : “Ketahuilah wahai puteraku, sesungguhnya ayahku dahulunya kaya dan meninggalkan ribuan dirham. Ketika saya dewasa, ia memberi saya 20 dinar dan dua rumah seraya berkata kepada saya,“Inilah warisan semuanya”. Saya mengambil dinar tersebut untuk membeli kitab-kitab para ulama. Saya menjual kedua rumah tersebut dan saya gunakan untuk biaya belajar, sehingga tidak ada lagi harta yang tersisa buat saya.” [Lathaiful Kabid fi Nasihatil Walad, Ibnu Jauzi]

Beliau juga bercerita : “Saya telah menulis dengan dua jari saya ini 2.000 jilid kitab. Dan orang-orang bertaubat lewat tangan saya ini 100.000 orang.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1242), Adz-Dzahabi]. Ibnul Jauzi memanen hasil manis dari kesediaannya dalam berkorban demi menuntut ilmu di jalan Allah.

Tokoh tokoh besar yang sukses menuntut ilmu senantiasa berkawan dengan semangat tak kunjung kendor. Juga kesediaan berkorban diri untuk menjalani kesederhanaan dan sedikit kekurangan kenikmatan. Semuanya menghantar kepada berhasil.


R. Bagus Priyosembodo,  Pendidik, Redaktur Ahli Majalah Fahma
foto http://al-badar.net/wp-content/uploads/2015/03/menuntut-ilmu.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya