Ketika Anggota Tubuh Kita Pensiun Dini


Oleh Herwin Nur

Sikap umat Islam terhadap berita akhirat yang tersurat maupun tersirat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul, wajar dan manusiawi serta bersifat individual. Substansi masa depan digambarkan standar dan kurang dalam. Surga seluas bumi dan seluas langit. Neraka dalam bentuk tingkatan lapisan. Kita mengganggap itu urusan nanti, diperhitungkan, disiapkan dan disiasaati jika sudah berusia lanjut. Jika sudah senja usia. Di depan mata, de facto dan de jure, manusia selalu sibuk dengan urusan dunia. Fokus ke persaingan cari sesuap nasi sampai meracik dan merakit  takhta.

Jika ada tayangan dakwah, kuliah tujuh menit, sareng ustadz di televisi, atau khotbah jumat, bahasan dan kupasan substansi masa depan sesudah kehidupan dunia bersifat searah. Sekedar mengingatkan. Sekedar untuk didengar. Sekedar untuk diketahui. Sekedar pelengkap. Ironisnya, komunitas kajian di masjid pun acap menganggap bedah masa depan sekedar mengisi waktu dan acara, disimak sambil duduk yang manis bergerombol mengobrol masalah terkini. Diskusi, dialog dan debat nyaris bergaya matematis, sudah bisa diduga jawabannya.

Sejak kita mendengar, memperoleh, menyantap informasi tentang gambaran seperti apa itu surga,  serta membayangkan bagaimana wujud, bentuk serta betapa dahsyat dan ganasnya api neraka, sampai detik ini seolah tidak ada perubahan redaksional, substansi statis, apalagi hikmah dibalik periwayatan.

Kalau kita cermati, atau kita mulai dari dasar pengimanan, salah satu  rukun iman yaitu beriman kepada hari akhirat. Kita bisa menghitung mundur kejadian di kehidupan masa depan ke dalam bentuk kehidupan sekarang di dunia. Betapa  ‘anggota tubuh manusia  akan menjadi saksi di hari kiamat’ akan dihadapi sebagai rangkaian proses peradilan Allah, dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Fushshilat (yang dijelaskan), ayat 19 hingga ayat 25. Kita simak ada ayat yang walau peruntukkannya bersifat khusus, yaitu tersurat di Al-Qur’an [Fushshilat (41) : (20)] : “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” Ayat ini menarik kita bedah lebih lanjut. Jangan diartikan, pendengaran, penglihatan dan kulit bersaksi ketika manusia sudah berada di neraka. Wallahu a ‘lam bish shawab.

Melacak ayat yang berlaku untuk semua umat Islam, kita buka Al-Qur’an [An Nuur (24) : (24)] : “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” Lidah dan kulit, tidak sekedar sebagai salah satu kelengkapan panca indra.. Lidah yang tak bertulang, sanggup memperlancar mulut kita untuk melahirkan bahasa ucap. Pengobatan mutakhir terkini sulit menghapus luka akibat ucapan, akibat omongan, akibat pergunjingan, akibat gosip sebagai hiburan. Sampai akhirat pun, lidah tetap setia mendampingi keberadaan dan hakikat kita.

Bagaimana merekayasakan anggota tubuh kita (pendengaran, penglihatan dan kulit), serta lidah, tangan dan kaki kita, agar menjadi saksi yang meringankan, bukan saksi yang memberatkan diri kita. Tentunya, bukan hal yang mustahil bisa dilakukan. Kita lanjut simak kandungan Al-Qur’an [Yaasiin (36) : (65)] : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”  Tangan berkata, bercerita tentang pengalamannnya. Tangan yang hanya taat, pasrah dan tudnuk kepada tuannya. Siap melaksanakan kehendak sang majikan. Fungsi tangan tergantung niat yang empunya. Kaki memberikan kesaksian. Bahkan kaki jika diberi peluang bersaksi, atau sempat mencacat kemana saja di ajak jalan, tempat apa saja yang didatangi, akan memberikan bukti tertulis kemana saja melangkah.

Singkat kata, pernahkah terbetik di pikiran kita, terlintas di angan-angan kita, andai anggota tubuh kita, yang seolah di bawah kendali kita, protes atas segala tindak tanduk, tingkah laku, olah polah, sepak terjang kita. Unjuk rasa diam-diam atau bahkan mogok kerja. Mengajukan mosi tidak percaya. Pensiun dini tanpa minta pesangon. Pensiun dini dengan ikhlas, suka rela, tanpa catatatan apa pun.

Tiba-tiba lidah kita kelu, tertatih-tatih berucap, tidak lincah memproduk kata.
Tiba-tiba pendengaran kita tidak bisa mendengar desah nafas diri sendiri.
Tiba-tiba penglihatan kita tidak mampu mendeteksi keberadaan jari tangan kita.
Tiba-tiba tangan kita lunglai tidak sanggup menepuk dada, tidak suka main tunjuk.
Tiba-tiba kaki kita lumpuh tanpa daya dan tidak mau mengajak kita blusukan lagi.
Tiba-tiba kulit kita mengeriput, kisut, susut, surut tidak sudi mematut diri kita.

Segala aksi anggota tubuh mereka lakukan agar kita tidak menjadi penduduk ahli neraka, minimal tidak merintis jalan ke neraka. Justru mereka di dunia menyayangi diri kita. Atau karena kita kurang peka, tidak tanggap, tak peduli, daya respon rendah terhadap sinyal yang mereka luncurkan. Jika ilmu agama kita masih bersifat perintisan, kita pakai akal. Andai ilmu bangku sekolah maupun bangku kuliah tidak mengajarkan, di kamus tidak ada acuannya, kita tanya dan berkaca pada pengalaman orang lain. Tiga cara ini masih nihil, tidak bisa membaca rambu-rambu menapaki jalan yang lurus kita wajib mawas diri.


Tanpa mengenal batasan usia, tanpa pandang waktu, sering anggota tubuh kita mogok mendadak. Tidak bisa berfungsi optimal. Tidak normal. Kaki kanan tidak akrab dengan kaki kiri. Tangan kanan berseteru dengan tangan kiri. Kulit menggigil, merinding, bergidik. Lidah terasa tak bertulang, lumpuh atau kaku. Berbagai kondisi fisik yang kita rasakan, kita anggap lumrah. Di balik itu, sebenarnya tersirat sinyal Allah, sebagai peringatan dini dari Allah.

Ketika Narkoba Berada dalam Rumah Tangga


Oleh : Subliyanto, S.Pd.I.

Baru-baru ini kita di suguhkan dengan berita tentang  penelantaran lima anak oleh kedua orang tuanya. Mirisnya, bedasarkan penyelidikan kepolisian, hal itu ternyata merupakan salah satu dampak dari pemakaian Narkoba oleh kedua orang tua anak tersebut.

Tentunya berita ini sangat mengejutkan, pasalnya sebuah keluarga  yang seharusnya menjadi pendidikan utama bagi anak-anaknya, beralih fungsi menjadi sebuah markaz konsumsi Narkoba. Sehingga efek dari semua itu adalah kelalaian terhadap tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh orang tua, baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua. Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita sebagai orang tua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Salah satu kewajiban kita sebagai orang tua adalah merawat dan mendidik anak dengan baik dan benar. Anak merupakan generasi penerus perjuangan kita, generasi penerus perjuangan islam, sehingga kita sebagai orang tua harus memberikan arahan dan bimbingan serta kasih sayang kepada mereka agar menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Selain itu anak juga merupakan investasi kita kelak. Jika kita merawatnya dan mendidiknya dengan baik hingga anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah, maka kitapun akan menjadi orang nomor satu yang akan mendapatkan nilai keshalehannya.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdo’a baginya” (HR.Muslim).

Namun sebaliknya, jika kita sebagai orang tua lalai terhadap amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita yang berupa anak, hingga anak kita menjadi anak yang tidak paham akan Islam, maka kita sebagai orang tua akan menjadi orang nomor satu pula yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

Kita sebagai orang tua terkadang terlalu sibuk dengan masalah duniawi, sehingga tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang karena kesibukan pekerjaannya ia berangkat saat anaknya masih tidur dan pulang saat anaknya juga sudah tidur, sehingga tanggung jawabnya dilimpahkan kepada pihak ketiga, yaitu pembantu rumah tangga.

Tentunya hal itu merupakan kebiasaan yang tidak baik dan sebisa mungkin untuk dihindari, karena anak-anak kita butuh kasih sayang dari kita sebagai orang tua, khususnya ibu, karena ibu adalah pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya, “al ummu madrasatul ula”. Karenanya jangan tinggalkan anak-anak kita hanya karena kepentingan dunia semata.

Orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya, jika kita sebagai orang tua kita tidak mampu memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, maka yang terjadi adalah sebuah kehancuran.

Sementara narkoba, sebuah zat yang memabukkan, yang dengannya manusia akan kehilangan akal sehatnya, sehingga semuanya akan terabaikan. Jika narkoba sudah masuk dalam lingkungan rumah tangga, maka yang terjadi adalah malapetaka. Apabila kejahatan narkoba sudah menguasai diri manusia, maka ia akan buta atas segalanya, ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, karena ia sudah kehilangan kesdarannya.

Sebagai orang tua, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan sebagai upaya untuk menghindari kejahatan narkoba yang semakin gencar peredarannya hingga saat ini.

Pertama, bertakwalah kepada Allah dimanapun kita berada, karena dengan ketakwaan akan mengantarkan kita kepada kebenaran, dan kebenaran akan mengantarkan kita kepada kebaikan, serta kebaikan akan mengantarkan kita kepada kasih sayang. Orang yang mencintai kebaikan akan dilindungi oleh Allah dari kejahatan.

Kedua, lindungi diri kita dan keluarga kita agar tidak terkontaminasi oleh lingkungan yang tidak sehat. Karena lingkungan merupakan sebuah pendidikan tidak langsung kepada kita ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat.

Jika lingkungan kita baik, maka kitapun insya Allah akan ikut baik. Tapi jika lingkungan kita buruk, maka kita harus mempunyai benteng yang kuat agar tidak tergoda oleh keburukan-keburukan yang ada di dalamnya, bahkan kita mempunyai kewajiban untuk memberantasnya.

Ketiga, hendaknya kita memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu cahaya kebaikan akan terbuka.  Dengan ilmu kita akan bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Belajar tidaklah cukup di bangku sekolah, baik jenjang dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, bahkan hingga gelar guru besar. Akan tetapi belajar adalah kewajiban manusia mulai dari buaian ibu hingga mati. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat”.

Semoga fenomina-fenomina yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran bagi kita, sehingga kita bisa mengambil ibrah darinya, dan menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.

Kebaikan yang kita raih hari ini adalah sebuah prestasi yang harus kita syukuri. Sementara keburukan yang kita kerjakan hari ini menjadi sebuah evaluasi yang harus kita istighfari. Wallahu a’alam.[]


*Penulis adalah Pendidik di Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Mengajak Anak Mau dan Berani Berkeringat

Murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta Kegiatan Entrepreneurship 

Oleh Herwin Nur

Lumpuh Sosial   
Wajar kalau orang tua bangga jika teman main anaknya di jalanan segudang. Tidak peduli siapa atau bahkan tidak sekedar yang sebaya. Orang tua merasa anaknya mampu berinteraksi sosial, bisa menjalin hubungan antar anak di lingkungan sosialnya. Semakin bangga kalau kawan yang bertandang ke rumahnya berlimpah. Jangan diartikan jika anak kita menjadi anak rumahan, tidak dikenal di lingkungan tempat tinggalnya, bukan masuk kategori anak gaul, menjadi lumpuh sosial.

Anak yang dibiarkan bergaul di pasar bebas dunia remaja, walau di lingkungan tempat tinggal yang mudah dikontrol, dikendalikan dan diawasi, tetapi jika tanpa dibekali ilmu dan pengetahuan, ibarat membiarkan anak terjun bebas. Anak bebas gaul bukannya tanpa dampak, bukannya tanpa efek sosial, terlebih yang punya geng anak. Waktu sibuk di luar rumah mendominasi tumbuh kembangnya anak, membentuk karakter anak sejak dini berdasarkan norma jalanan. Tak terasa anak dicekoki aturan main anak jalanan.

Jangan kaget dan heran, saat di rumah, adab anak terhadap orang tuanya, anak tanpa risi dan sungkan menggunakan bahasa gaul, bahasa jalanan. Anak menerapkan norma jalanan di rumahnya. Menganggap orang tua sebagai temannya. Ironis, orang tua, terlebih yang suami isteri kerja, menganggap kedemokratisan anak menjadi hal yang wajar. Pulang kerja orang tua maunya istirahat, tidak mau direpoti urusan anak. Di hari libur, orang tua inginnya istirahat. Total jenderal, seolah tak ada waktu luang untuk berinteraksi dengan anak.

Pekerjaan Rumah
Dibangunkan pagi berulang kali, anak malah marah-marah. Begitu bangun, tambah marah karena Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolahan belum dikerjakan. Semalam sibuk menikmati acara, adegan dan atraksi yang ditayangkan media penyiaran televisi. Atau pulang main malam hari, orang tua sudah tidur, tanpa pikir panjang anak langsung masuk kamar tidur.

Kejadian yang mendasar ini karena menyangkut pembentukan karakter anak, nyaris tipikal terjadi di setiap rumah tangga. Khususnya di perumahan yang dihuni oleh kaum pendatang yang mengadu nasib di ibu kota negara maupun ibu kota provinsi dan kota besar lainnya. Regenerasi sudah terjadi di perumahan, namun seolah terjadi perulangan yaitu orang tua saat melaksanakan kewajiban orang tua terhadap anaknya berdasarkan pengalaman. Apa yang dialami sampai menjadi orang tua, diterapkan kepada anaknya. Semacam copas dalam kehidupan rumah tangga atau berkeluarga.

Perubahan yang dilakukan, lebih ke arah agar anak tidak bikin masalah di rumah, anak dibiarkan tidak gagap teknologi. Anak yang belum paham atau mengenal calistung (baca, tulis, hitung) sudah diberi mainan berbasis teknologi. Anak sudah tidak buta alat teknologi informasi dan komunikasi sejak dini. Orang tua membiarkan anaknya yang masih di bawah umur mengendarai motor. Gaya anak mengendarai motor di jalan lingkungan perumahan, bukan hal yang layak diacungi jempol.

Masalah Bangsa
Di luar lingkungan perumahan yang kami huni, yang tidak mau disebut sebagai penduduk asli, ternyata ada kejadian perpaduan lemah sosial dan pekerjaan rumah. Anak SMP mengancam bapaknya jika tidak dibelikan motor tidak mau sekolah, mau mogok sekolah. Uang muka motor terjangkau, namun angsuran yang menjadi kendala.

Salah satu keluarga di pribumi, anaknya mampu meraih ijazah S1. Karena lokasi tempat kerja yang jauh dari rumah orang tuanya, akhirnya sang anak pilih duduk manis di rumah. Mengikuti anjuran teman mainnya sejak kecil, butuh dan minta modal ke orang tuanya. Mau buka usaha. Sudah ciri etnis ybs, terpaksa jual tanah. Pengorbanan orang tua belum terbalaskan oleh anaknya. Tetap menganggur.

Jika ditarik benang merahnya, ternyata jika anak tidak diajak bekerja sejak dini ada dampaknya. Biasakan anak di rumah bekerja untuk kepentingan diri sendiri, misal merapikan tempat tidur, menyapu kamar, mencuci baju, mencuci pring gelas bekas pakai. Inisiatif dan kreatifitas anak terpicu dan terpacu sejak dini dengan berkontribusi mengerjakan urusan rumah tangga. 

Mungkin ada sebagian orang tua yang kasihan dan lebih membiarkan anak tumbuh alami. Anak terbiasa disuapi, sudah bermodal ijazah S1 saja masih menunggu perintah, bahkan tidak mau berkeringat. Tidak mau bersusah payah. Jika kondisi ini melanda dan menjadi penyakit generasi muda, jangan salahkan bunda mengandung.

Carilah Barakah, Bukan Sekedar Mesra


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Apakah yang paling penting untuk kita cari dalam pernikahan? Dialah barakah. Hadirnya barakah menjadikan pernikahan berlimpah kebaikan. Barakah itu pula yang perlu senantiasa kita jaga dalam pernikahan. Hilang barakah, hilanglah kebaikan atas apa yang ada dalam pernikahan.

Bagaimanakah kita menjaganya? Menjaga, menata dan memperbaiki niat yang darinya mempengaruhi tujuan pernikahan serta menjaga diri. Pada saat yang sama kita menjaga dari memimpikan hal yang tidak penting. Pergi ke luar negeri tak perlu jadi obsesi sehingga segala daya dikerahkan hanya untuk berkunjung ke negeri orang. Hanya tiga tempat yang layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk mendatanginya, yakni Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di luar itu, jika memang ada rezeki atau memang ada keperluan, negeri seberang yang berbatasan ataupun yang berbeda benua, bukanlah tempat yang terlalu jauh.

Terlarang mengunjungi negeri-negeri yang berbeda? Tidak. Terlarang mengingini bepergian ke negeri lain? Juga tidak. Terlebih jika ada manfaatnya atau dalam rangka amal shalih. Tetapi janganlah ia menjadi obsesi dan hal paling membanggakan.

Sesungguhnya perusak agama itu cuma dua, yakni fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Maka, dua hal itu pula yang perlu kita jauhi. Apa hubungan fitnah syubhat dan syahwat dengan menjaga barakah dalam pernikahan? Fitnah syahwat melalaikan tujuan sehingga niat keruh.

Belasan atau puluhan tahun menikah pun, kita perlu senantiasa menjaga niat memperbaiki tujuan (O Allah, jaga pernikahan kami dan selamatkanlah dari fitnah).

Jika fitnah syahwat sudah menerpa, awalnya mungkin hanya soal harta atau kuasa, tapi ia dikejar karena tergila padanya, maka tak aneh jika ia berubah menjadi mudah tergoda oleh rupa. Awalnya nikah karena dakwah, lalu runtuh begitu saja (semoga kita terhindar darinya).

Sangat berbeda seseorang yang melangkah karena alasan agama (cerai, pisah sesaat atau pun menikah lagi) dengan yang disebabkan fitnah syahwat. Jika karena sebab syahwat dunia seseorang berpaling dari istri yang ia nikahi sungguh-sungguh karena alasan agama, maka bukan aneh keburukan mendekat kepadanya sementara kebaikan semakin sulit ia raih. Inilah yang perlu kita khawatiri dalam pernikahan.

Bagaimana dengan fitnah syubhat? Ia menghancurkan pemikiran, keyakinan, iman dan bahkan aqidah. Ini pun turut mempengaruhi pernikahan.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku | twitter @kupinang facabook Mohammad Fauzil Adhim

Berubahlah : Ya atau Tidak?


Oleh  

Cara untuk membunuh kodok bukan dengan memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih, karena kodok pasti melompat. Letakkanlah kodok di dalam panci yang sudah diisi air, lalu rebuslah airnya. Sang kodok dijamin tidak akan lari atau melompat, ia akan tetap di dalam panci, tanpa ia sadari air terus memanas dan akhirnya kodok itu mati di dalam panci.
Orang yang tidak sadar adanya perubahan, boleh jadi nasibnya seperti kodok, mati perlahan tanpa ia sadari. Apabila Anda tidak ingin tertinggal dan dilindas zaman, segeralah berubah. Agar perubahan Anda melebihi zamannya, setidaknya ada tiga hal yang perlu Anda jadikan pegangan.
Pertama, clarity, kejelasan ke arah mana Anda hendak berubah. Temukan alasan yang kuat mengapa Anda menuju ke arah tersebut. Dan, jangan lupa, tetapkan indikator keberhasilannya.
Kedua, komitmen dan konsisten mewujudkannya. Untuk terus berubah tidak cukup hanya semangat di awal tapi kemudian “mlempem” alis hangat-hangat tahi ayam atau moody. Berubah juga tidak cukup hanya dengan teriakan tetapi juga perlu tindakan. Perlu konsistensi dan komitmen yang kuat untuk mencapai arah tujuan yang hendak Anda wujudkan.
Ketiga, Anda perlu kolaboratif. Mengapa banyak orang merasa berat untuk berubah? Mengapa banyak orang akhirnya kehabisan energi di tengah jalan saat hendak berubah? Salah satunya karena ia tidak melibatkan orang lain. Ia tidak meminta bantuan orang lain. Padahal, hidup itu give and take. Berilah dan dukunglah orang lain dan disaat yang sama Anda pun meminta dukungan dari orang lain.
Apakah sudah jelas arah perubahan yang hendak Anda lakukan? Apakah Anda orang yang secara konsisten memegang komitmen yang Anda ciptakan? Dan apakah Anda senang menolong dan meminta tolong orang lain? Bila semua jawaban pertanyaan tersebut YA, maka Anda siap berubah.
Namun, apabila jawabannya TIDAK maka siap-siaplah Anda menjadi “kodok” yang direbus. Nyaman, tenang, damai dan merasa aman padahal Anda sedang menuju “kematian” profesi Anda. Mau? Tentu orang yang sehat dan normal akan berkata TIDAK.
foto google

Cintai Ibumu Sepanjang Hidupmu


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim 
Tak putus kewajiban birrul walidain (berbuat kebajikan bagi kedua orangtua) sesudah mereka tiada. Sebagaimana mereka memiliki hak di masa hidupnya, demikian pula ada hak orangtua yang perlu kita penuhi sesudah mereka tiada. Apa saja hak mereka?

Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, "Ya Rasulallah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orangtuaku setelah mereka meninggal dunia?"

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِيفَاءٌ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

“Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka meninggal, memuliakan sahabat mereka, dan menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

Ada beberapa hak orangtua sesudah wafatnya mereka. Pertama, menshalatkan mereka, yakni melakukan shalat jenazah di saat orangtua kita meninggal dunia. Kedua, mendo'akan mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ada dua hal utama yang kita mohonkan kepada Allah Ta'ala, yakni ampunan (maghfirah) dan limpahan kasih-sayang bagi mereka. Ketiga, memenuhi janji orangtua kita yang belum tertunaikan ataupun yang masa penunaiannya panjang. Keempat, memuliakan para sahabat orangtua kita, orang-orang yang sangat dekat di hati orangtua. Kelima, menyambung silaturrahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka, yakni kerabat dari jalur orangtua, terutama yang sudah menjauh dan lebih-lebih yang sudah terputus sama sekali. Keenam, membayar hutang puasa mereka apabila ada puasa yang ditinggalkannya. Ketujuh, menunaikan nazar mereka sejauh nazar tersebut bukan kemaksiatan kepada Allah Ta'ala, terlebih jika disertai sumpah. Kedelapan, memperbaiki iman memperbanyak amal shalih.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa amalan paling utama dan paling berharga dari seorang anak yang shalih untuk orangtua sesudah tiada adalah do'a, baik do'a memohonkan ampunan maupun do'a memohon kasih-sayang bagi orangtua. Do'a jauh lebih utama daripada shadaqah yang kita keluarkan bagi orangtua disebabkan do'a memperbarui amalan. Do'a anak yang shalih juga merupakan satu dari tiga amal orangtua yang masih tetap mengalirkan pahala sesudah ia tiada.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo'akannya."(HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i).


Selain menunjukkan keutamaan anak shalih yang mendo'akan, hadis ini juga menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa anak shalih merupakan salah satu bentuk amal orangtua yang apabila itu ada, akan senantiasa mengalirkan pahala tak putus-putus. Pelajaran lainnya, do'a yang bermanfaat itu adalah do'a dari anak shalih. Jadi bukan sekedar do'a anak. Apa artinya do'a yang dimohonkan penuh kesungguhan oleh anak jika ia memperbuat hal-hal yang menghalangi terkabulnya do'a? Apa gunanya do'a anak jika saat berdo'a pun ia melakukan perkara-perkara yang menjadikan do'a tertolak? Sampai menangis pun, do'anya tak bernilai jika ia menyertai dengan hal-hal yang membuat do'anyamardud (tertolak). Itu sebabnya, yang diperlukan oleh seseorang yang telah meninggal dunia ialah anak shalih yang mendo'akan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Do'a apa yang sebaiknya kita mohonkan kepada Allah Ta'ala bagi orangtua kita yang telah meninggal dunia? Do'a memohonkan kasih-sayang Allah 'Azza wa Jalla bagi kedua orangtua sebagaimana mereka dulu memberikan tarbiyah (pendidikan, pengawasan, pengasuhan, penjagaan, kasih-sayang dan perhatian) kepada kita di waktu kecil. Inilah do'a yang berguna bagi mereka di kubur (semoga Allah Ta'ala sayangi orangtua kita saat mereka di dalam kubur) dan sangat bermanfaat pula untuk akhirat mereka, kelak setelah bumi ini dilipat dan langit digulung.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan berdo'alah:"Wahai Tuhanku, kasih-sayangilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mentarbiyahku waktu kecil." (QS. Al-Isra, 17: 24).

Do'a ini (رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا) sangat baik untuk kita mohonkan kepada Allah Ta'ala, semasa orangtua kita masih hidup maupun sesudah mereka tiada. Inilah do'a yang sangat kuat perintahnya. Ringkas do'anya, tetapi sungguh itu telah mencukupi. Apakah yang lebih baik dan sempurna daripada kasih-sayang Allah Ta'ala? Dalam hal ini, yang paling penting adalah kesungguhan kita dalam berdo'a, memohon dengan amat sangat agar tidak hanya menjadi ucapan yang sangat ringan di lisan. Mohonkanlah kepada Allah Ta'ala sepenuh pengharapan seraya menghayati betapa besar kasih-sayang dan penjagaan orangtua semasa kita masih kecil.

Selain memohon limpahan kasih-sayang bagi kedua orangtua, do'a lain yang sangat utama untuk kita mintakan kepada Allah Ta'ala adalah ampunan (maghfirah). Inilah do'a yang dapat menjadi sebab Allah Ta'ala mengangkat derajat mereka kepada surga yang lebih tinggi, bahkan sampai menjadikan mereka heran atas kemuliaan yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan mengucapkan do'a رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ (Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku). Sebuah do'a yang sangat ringkas dan sesungguhnya sebaik-baik do'a adalah yang ringkas, tidak merinci-rinci, tetapi cakupannya sangat luas. Inilah al-jawami' ad-dua'. Inilah do'a yang paling disukai oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam sebagai dituturkan oleh Ibunda 'Aisyah radhiyallahu 'anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai al-jawami’ ad-dua'. Dan beliau tinggalkan yang lainnya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Berkenaan dengan do'a memohonkan ampunan bagi kedua orangtua, kita dapati teladannya tatkala Nabi Nuh 'alaihissalaam berdo'a:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

"Tuhanku, ampunilah aku dan ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan." (QS. Nuh, 71: 28).

Do'a masyhur yang menggabungkan keduanya, ialah:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْراً

“Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, dan kasih-sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah merawat-mengasuhku di waktu kecil.”

Hanya itu do'a untuk orangtua? Jika yang ringkas telah mencukupi dan bahkan menyampaikan hajat yang terbaik secara sempurna, maka kita tidak perlu mereka-reka do'a yang berpanjang-panjang dan melampaui batas. Dua itu saja sudah melebihi segala yang kita inginkan apabila Allah Ta'ala kabulkan. Yang paling pokok adalah menyempurnakan upaya kita dalam berdo'a, yakni bersungguh-sungguh memohon, menjaga diri dari memakan harta yang haram, menjauhi syirik, meminta dengan merendahkan diri maupun suara kita di hadapan Allah Ta'ala serta melakukan munajat dengan raghbah diiringi rahbah (harap yang amat sangat dan cemas). Kita menadahkan tangan untuk berdo'a, kapan saja kita teringat kedua orangtua kita, selain di waktu-waktu yang memang kita biasa berdo'a.

Berkaitan dengan menyempurnakan amalan, mari kita ingat hadis dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah (Ta'ala) mencintai jika salah satu dari kalian melakukan amalan dan ia melakukannya dengan sebaik-baiknya (maksimal).” (HR. Baihaqi).

Amalan apakah itu? Segenap amal shalih dan ibadah, hendaknya kita lakukan dengan sebaik-baiknya, sepenuh kesungguhan dan berusaha untuk meraih kesempurnaan. Jika berdo'a, berdo'alah sebaik mungkin. Bukan sepanjang dan serinci mungkin. Jika melakukan umrah, perhatikanlah apa yang terbaik dan dapat kita kerjakan seoptimal mungkin. Satu kali umrah yang sempurna, jauh lebih baik daripada umrah berulang kali tanpa memperhatikan keutamaan-keutamaan di dalamnya.

Berkenaan dengan keutamaan memohon ampunan (maghfirah) bagi kedua orangtua kita yang telah meninggal dunia, mari kita ingat sabda Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sungguh seseorang akan diangkat derajat­nya di surga. Dia mengatakan, "Darimana ini?" Kemudian dikata­kan kepada­nya, "Ini disebabkan istighfar anakmu yang shalih.” (HR. Ibnu Majah).

Maka, kalau benar kita mencintai orangtua, mohonkanlah ampunan bagi mereka terus-menerus. Semoga Allah Ta'ala kabulkan do'a kita sehingga mereka kelak akan diangkat derajatnya di surga. Inilah amalan paling utama yang perlu dikerjakan oleh seorang anak bagi orangtuanya, yakni mendo'akan memohon ampunan dan kasih-sayang. Tampaknya paling ringan, tidak memerlukan modal apa pun, tetapi sesungguhnya do'a yang tulus penuh kesungguhan secara terus menerus jauh lebih berat dibanding mengeluarkan shadaqah sekali waktu atas nama mereka, meskipun jumlahnya cukup besar.

(Bersambung. Tulisan berikutnya insya Allah bertajuk Penuhi Janji Mereka).
Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku,
Twitter @kupinang
facebook Mohammad Fauzil Adhim

Kisah Cerdas : Hadiah Terbaik


Oleh : Asnurul Hidayati

Alhamdulillah. Segala puji kita panjatkan kepada Allah Ta’ala atas karunia nikmat dari-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam. Semoga kisah Fahma  ini bisa menginspirasi para pengasuh dan pendidik dalam mendidik  anak-anak. Ada hikmah dari kisah ini untuk anak-anak kita.  Selamat menyimak.

Suatu hari Abu Ayyub menyembelih kambing muda dan memerintahkan istrinya untuk memasaknya. Setelah makanan sudah matang lalu dihidangkan di hadapan Nabi dan kedua sahabatnya. Nabi mengambil  sepotong daging dan meletakkannya di atas sepotong roti, beliau bersabda, “Wahai Abu Ayyub, berikanlah ini dengan segera kepada Fatimah, karena sudah lama ia tidak  makan seperti ini.”
Lalu mereka makan sampai kenyang. Nabi bersabda, “Roti, daging, kurma,kurma segar, dan kurma setengah matang.” Tiba-tiba kedua mata nabi meneteskan air mata, kemudian beliau bersabda:  “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya. Sesungguhnya ini adalah kenikmatan di mana kalian akan ditanya tentangnya di hari kiamat. Jika kalian mendapatkan seperti ini lalu kalian hendak menyantapnya maka ucapkanlah, “Bismillahirrahmaanirrahiim.” Jika kalian sudah kenyang maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat kami kenyang dan memberikan nikmat dengan melimpah.”

Kemudian Nabi bangkit dan berkata kepada Abu Ayyub, “Datanglah kepada kami besok.”

Nabi tidak pernah diberi sebuah kebaikan oleh seseorang kecuali beliau ingin membalasnya. Namun Abu Ayyub tidak mendengar ucapan Nabi tersebut. Maka Umar berkata kepadanya, “Nabi memintamu untuk hadir kepada beliau besok wahai Abu Ayyub.”

Abu Ayyub berkata, “Aku mendengar dan menaati undangan Rasulullah.”

Besoknya Abu Ayyub datang kepada Nabi. Maka Nabi memberinya seorang hamba sahaya kecil yang biasa membantu beliau, seraya berkata : “Berbaik-baiklah kepadanya wahai Abu Ayyub, kami tidak melihat darinya kecuali kebaikan selama dia bersama kami.”

Abu Ayyub pulang membawa seorang hamba sahaya. Ketika Ummu Ayyub (istrinya) melihatnya, dia bertanya, “Milik siapa dia wahai Abu Ayyub?”

Abu Ayyub menjawab, “Milik kita, hadiah dari Rasulullah kepada kita.”
Istrinya berkata, “Hadiah yang sangat berharga dan pemberian yang sangat mulia.”

Abu Ayyub berkata, “Nabi memintaku untuk berbuat baik kepadanya.”

Istrinya bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan sehingga engkau bisa melaksanakan permintaan Rasulullah itu?”

Abu Ayyub menjawab, “Demi Allah, tidak ada cara yang lebih baik untuk melaksanakan wasiat Rasulullah selain memerdekakannya.”

Ummu Ayyub berkata, “Engkau telah dibimbing kepada kebenaran, Engkau telah diberi taufik.” Kemudian Abu Ayyub memerdekakan hamba sahaya hadiah dari Rasulullah tersebut.

Masya Allah. Hikmah yang sangat bagus dari perbuatan Abu Ayyub, yang dicontohkan dengan berlaku sebaik-baiknya kepada seorang budak. Keputusan Abu Ayyub yang dibimbing dengan taufik dan kepada kebenaran maka dia memutuskan untuk memerdekakan budak tersebut. Hal itu merupakan karunia dan kebahagiaan tersendiri bagi si budak, yaitu merdeka. Semoga kita sebagai orang tua bisa mengambil hikmah tersebut untuk kita dan juga untuk kita didikkan kepada anak-anak kita.

Asnurul Hidayati. Guru MI.
Sumber : Mereka adalah para Shahabat. DR. Abdurrrahman Ra’fat Basya. At-Tibyan.

Anak Perlu Belajar Mandiri


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Secara alamiah, anak sebenarnya memiliki kecenderungan untuk belajar kemandirian. Ia berusaha menyuapi diri sendiri, meniru kita memasak, pakai sepatu atau pakai baju sendiri, meskipun masih terbalik. Ini semua merupakan kecenderungan awal yang apabila memperoleh kesempatan dari orangtua menjadikan anak memiliki kemandirian, secara luas maupun terbatas. Lebih-lebih jika orangtua memberi dukungan kepada anak untuk melakukan berbagai hal, termasuk yang masih relatif sulit, secara mandiri.

Tetapi kerap terjadi, orangtua tidak tega melihat anak mengalami kesulitan, sehingga alih-alih sayang anak justru merebut kesempatan anak untuk belajar. Tak jarang orangtua melakukan itu bukan karena sayang, tapi karena tidak sabar atau bahkan gengsi. Menyuapi anak makan misalnya, kadang karena sayang. Tapi tak dapat dipungkiri kerap orangtua menyuapi anak di saat anak sedang ingin belajar menyuapi diri sendiri karena orangtua tidak sabar, menganggap anak kelamaan, atau hanya karena tidak ingin lantainya kotor.

Sikap orangtua yang semacam ini akan memperburuk keadaan jika di saat yang sama anak sedang mengembangkan perilaku merajuk demi memperoleh perhatian yang lebih. Adakalanya anak tidak mau melakukan sesuatu sendiri juga bersebab keasyikan terhadap sesuatu, misalnya nonton TV atau main game. Jika ini dibiarkan, maka bukan saja kemandirian sulit diraih, meskipun untuk perkara yang sederhana. Lebih dari itu juga dapat mendorong anak menjadi pemalas atau mengembangkan rasa tak berdaya karena menganggap diri ‘ajiz (lemah karena sial).

Lalu apa saja yang perlu mendapat perhatian kita? Beberapa hal berikut ini semoga bermanfaat:

Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam soal ini adalah memberi kesempatan. Bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan. Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan. Meskipun demikian, kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Makan misalnya, kita melihatnya sebagai keterampilan yang sangat biasa dan tidak istimewa. Tetapi Anda akan terkejut manakala mendapati orang dewasa tidak terampil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena orangtua terlalu memanjakan sehingga senantiasa menyuapi anak hingga dewasa. Ini memang jarang terjadi, tapi kasus anak benar-benar tidak memiliki keterampilan makan hingga ia dewasa itu sungguh-sungguh terjadi.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Kemandirian Psikososial
Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalanya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal. Salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Anak tidak berani menolak ketika temannya mengajak merokok atau mencoba minuman keras. Mengapa? Karena ia dididik untuk tidak berani menghadapi konflik. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka: principles over harmony.Lalu, apa yang harus kita lakukan kala mendapati anak-anak kita bertengkar? Insya Allah akan kita bahas pada edisi selanjutnya.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku ‘Segenggam Iman Anak Kita’