Pembelajaran yang Menumbuhkan Kegigihan Belajar


Oleh : Dr Ali Mahmudi

Pada suatu Jumat, seorang guru memberikan 3 soal kepada anak sebagai tugas akhir pekan. Guru itu menjelaskan bahwa dua soal pertama sangat sulit, sehingga memerlukan usaha yang keras untuk menyelesaikannya. Sedangkan soal ketiga jauh lebih sulit daripada dua soal pertama, sehingga guru merasa cukup puas jika anak telah dapat menunjukkan ide penyelesaian yang benar. Di akhir penjelasan mengenai tugas ini, seorang anak masuk ke kelas. Karena terlambat, ia tidak memperoleh penjelasan mengenai tugas tersebut. Ia hanya mengetahui bahwa tugas akhir pekan tersebut harus dikumpulkan Senin pekan depan.

Demi maksud untuk memperbaiki nilainya, anak yang dikenal berkemampuan marginal di kelas ini, berusaha untuk mengerjakan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Dengan usaha yang sangat gigih, anak ini pun mampu menyelesaikan dua soal pertama dan dengan usaha yang jauh lebih keras ia pun dapat menyelesaikan soal ketiga. Meskipun untuk itu ia hampir menghabiskan akhir pekannya. Selanjutnya ia pun menyerahkan tugas itu ke guru dan mengatakan bahwa ia memerlukan bantuan belajar lagi karena hanya untuk menyelesaikan 3 soal saja ia hampir menghabiskan akhir pekannya. Sang guru begitu terkejut ketika mendapati pekerjaan anak ini yang menurutnya nyaris sempurna dan menunjukkan proses berpikir kreatif; hal yang tidak ditunjukkan oleh anak-anak lainnya. Dengan bangga, guru itu pun menunjukkan hasil pekerjaan anak ini kepada seluruh kelas.

Mencermati kisah di atas, apa yang kita pikirkan mengenai keberhasilan atau kesuksesan? Apakah kesuksesan hanya berpihak kepada individu-individu cerdas? Nyatanya terdapat banyak faktor yang mendukung keberhasilan, termasuk keberhasilan belajar. Faktor-faktor nonkognitif seperti kegigihan, keyakinan, dan hasrat berprestasi adalah faktor-faktor penentu keberhasilan. Bahkan, dalam banyak hal, kegigihan dapat mengalahkan kejeniusan. Benar yang dikatakan Thomas Edison bahwa jika kita melakukan segala hal yang mampu kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka akan membuat kagum diri sendiri.

Sebagaimana karakter lainnya, kegigihan atau ketekunan dapat ditumbuhkan. Dalam pembelajaran, mengembangkan karakter ini sama pentingnya dengan mengembangkan strategi dan prosedur formal untuk memahami materi pelajaran. Bahkan mengembangkan karakteri-karakter positif seperti itu hendaknya juga merupakan salah satu tujuan pembelajaran semua mata pelajaran. Dalam berbagai kesempatan, guru dapat menekankan bahwa segala kesuksesan, kebahagiaan, dan prestasi tinggi selalu dikaitkan dengan kerja keras sepenuh kesungguhan. Anak perlu mengetahui bahwa Allah menghendaki dan memuliakan orang-orang yang menunjukkan kesungguhan. Misal, dalam QS. Alam Nasyrah: 7, Allah menegaskan “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu  urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Sedangkan dalam dalam Q.S. Thaahaa: 75 Allah SWT menegaskan“Barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal sholeh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)”.

Kegigihan akan tumbuh pada anak jika mereka yakin kemampuannya. Anak memiliki keyakinan bila mereka punya pengalaman keberhasilan. Oleh itu, penting bagi guru untuk memberikan sejumlah soal yang diperkirakan dapat dikerjakan oleh semua anak khususnya di awal-awal pembelajaran. Hal ini dapat menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mempunyai kemampuan belajar. Tentu saja, selanjutnya guru harus memberikan soal dengan tingkat kesulitan yang beragam dan menantang siswa. Memberikan soal yang semuanya mudah saja sama tidak baiknya dengan memberikan soal yang semuanya sulit. Soal-soal demikian akan mematikan potensi siswa.

Kegigihan juga akan tumbuh jika siswa meyakini bahwa terdapat beragam jawab atau cara untuk menyelesaikan suatu soal. Ketika siswa tidak segera menemukan jawab dari suatu soal, ia tidak segera menyerah karena ia yakin terdapat alternatif cara lain untuk menemukan jawab itu. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membudayakan memberikan soal terbuka (open-ended problem) yang multijawab atau multicara menemukan jawab. Soal seperti ”tentukan ukuran sisi-sisi persegi panjang yang luasnya 24 cm2” adalah contoh soal terbuka yang multijawab. Soal terbuka berpotensi untuk menumbuhkan keyakinan pada diri siswa bahwa selalu terdapat aternatif cara untuk menyelesaikan soal. Hal ini akan mendorong siswa untuk gigih menemukan cara atau jawab itu.

Selanjutnya guru perlu membudayakan pemberian penghargaan atau apresiasi terhadap perilaku gigih yang ditunjukkan siswa. Guru hendaknya juga memberikan apresiasi terhadap tugas-tugas yang dikerjakan siswa. Memberikan tugas yang tidak diapresiasi hampir sama jekeknya dengan tidak memberikan tugas sama sekali. Apa lagi yang dapat menumbuhkan kegigihan anak? Keteladanan. Guru tidak dapat berharap agar anak didiknya berperilaku gigih jika ia tidak menunjukkan perilaku serupa. Kegigihan dan sifat-sifat positif lainnya ibarat virus positif yang dapat menular. Guru yang antusias, semangat, dan gigih dalam melaksanakan pembelajaran atau membimbing anak didiknya akan menjadi teladan yang baik bagi anak untuk berperilaku serupa. Memang, keteladanan adalah kunci membelajarankan segala hal.

Dr Ali Mahmudi, Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta


Admin @emthorif

Gagasan : Karena Kita Adalah Lingkungan Bagi Mereka


Oleh : Maulani

Di tengah kajian yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas membaca Al Qur’an, terdengar lantunan tilawah yang dibacakan oleh beberapa anak. Salah satu di antara mereka ada yang suara dan gaya ngajinya mirip Ahmad Saud

Usai mengikuti kajian, agenda saya beralih ke workshop Kurikulum 2013. Ada paparan narasumber yang jadi catatan penting bagi saya tentang anak unggul dan berbakat. Mereka ada karena proses dan peran pribadi hebat di sekitarnya, bukan sulapan bimsalabim, mendadak dalam sekejap jadi anak pintar, pintar menghormati orang lain, pintar menjaga perasaan orang lain, pintar mengelola emosi, pintar mencintai agamanya,lalu mengaplikasi dalam hidupnya. Pintar membaca, membaca kondisi, membaca lingkungan, membaca perubahan, bukan proses yang instan atau sulapan.

Saat duduk di ruang workshop, ingatan saya masih berlarian ke anak kecil bersuara mirip Ahmad Saud tadi. Sebelum ngaji, saya lihat bahasa tubuhnya saat berjalan di depan orang yang lebih tua, sopan dan bersahaja. Cara mengajinya juga tidak sekedar tahu cara membaca, tapi terlihat ada rasa cinta membaca Al Qur'an. Tentu semua itu ada yang mengajari dan bukan terbentuk dalam hitungan satu atau dua hari.

Ya, anak-anak terbentuk oleh orang-orang dan lingkungan sekitar. Jika ia tinggal dalam komunitas pencinta Al Qur'an, maka yang anak-anak lihat sehari-hari adalah nafas Al Qur'an. Seperti anak-anak di Gaza, Palestina. Di barak pengungsian, di bengkel, di gang sempit, di pasar, di manapun anak-anak berada, merekamuroja’ah, tilawah dan setoran hafalan kepada gurunya. Sebab sedari kecil, lingkungan seperti keluarga dan sekolah mengajarkan bahwa negeri mereka akan merdeka karena kekuatan Al Qur'an. Kisah ini saya dapat saat mengikuti acara yang digelar oleh Sahabat Al Aqsha beberapa waktu yang lalu.

Dalam acara tersebut, hadir relawan yang pernah terjun ke Gaza, menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan anak-anak Gaza. Relawan tersebut menuturkan bahwa anak-anak di Gaza memiliki cita-cita menjadi syahid karena lingkungan yang membentuknya. Mereka menjadi hafidz dan hafidzah dalam usia yang sangat muda juga karena pribadi hebat di sekitarnya.

Lalu sudahkah kita menjadi contoh panutan atau sudahkah kita menciptakan lingkungan yang baik untuk anak-anak kita? Sedangkan kita setiap hari masih asyik dengan tayangan sampah di televisi, mulai dongeng berhala yg melenakan karena penuh dengan hal-hal yang tidak logis bahkan menyimpang dari agama. Anak-anak kita biarkan mengidolakan tokoh di TV, memangnya siapa mereka?

Bahkan kita saja tidak mengenalnya karena buku-buku ilmiah tidak ada yang menulis memoar tentang hidup artis-artis sinetron tersebut. Akibat pengaruh televisi, anak-anak juga sudah terbiasa melihat pribadi-pribadi yang tidak memiliki rasa malu.Betapa sering puluhan kamera menyorot pelaku kasus 'pencurian' (mengambil yg bukan haknya) tapi beliau yg 'terhormat' masih bisa berpose santai dengan senyum lebar penuh percaya diri. Belum lagi orang dengan pakaian perlente dan berteriak garang di depan forum besar dan ditonton seluruh penduduk negeri ini. Sudah hilangkah budaya malu di negeri ini?

Kasihan anak-anak saya kelak jika melihat lingkungan yang demikian. Miris dan sedih.Tapi tadi pagi saya menemukan anak-anak yang bertumbuh dan terjaga lingkungannya, berada dalam komunitas yang sehat dan cerdas sehingga saya pun yakin akan banyak Ahmad Saud laindi sekitar kita. Semua itu bisa terjadi jika kita lebih peduli, karena setiap kita adalah lingkungan bagi anak-anak kita.

Maulani, SSosI, Pendidik di TPA Praba Dharma, Yogyakarta

Admin : @emthorif

Foto Murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta ketika outbond

Kajian Utama : Pembelajaran Berbasis Kreativitas


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan harus dikembangkan oleh setiap guru di SD/MI. Diantara tugas terpenting bagi guruadalah menumbuhkan kreativitas pada anak didik.Kreativitas sering diartikan sebagaikemampuan yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru, menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan orang lain, ide-ide serta alternatif baru.

Tugas penting itu harus selalu ada dalam benak guru ketika merancang sebuah pembelajaran. Membuka wawasan, memberikan berbagai contoh kreativitas dan memberi kesempatan kepada anak untuk menggali hal-hal yang baru. Beberapa item yang bisa dimasukkan dalam komponen kegiatan pembelajaran antara lain:

Pertama, bercerita. Hampir semua anak menyukai cerita. Maka bercerita harus menjadi kemampuan wajib oleh guru. Cerita yang mampu menyentuh emosi anak akan membekas kuat dalam diri anak, sehingga anak mendapatkan hikmah dari balik cerita yang disampaikan. Bagaimana mengembangkan aspek kreatifnya? Bisa melalui isi cerita. Ucapan, ide-ide, atau perilaku yang mengejutkan dalam alur ceritanya. Anak mendapatkan sesuatu yang baru dari alur yang ia tebak. Seperti ide-ide cemerlang Si Kancil. Bisa juga melalui media cerita yang dibawakan oleh guru. Misalnya guru memvisualisasikan cerita dengan alat peraga yang kreatif. Dengan alat peraga yang sederhana misalnya, membawa imajinasi anak dalam sebuah cerita. Kreatifitas anak akan lebih terasa melalui imajinasi.

Kedua,permainan. Bermain adalah dunia anak. Berbagai bentuk permainan pasti disukai anak. Masukkan unsur bermain dalam kegiatan pembelajaran. Permainan dengan aktivitas membentuk, menyusun, merangkai, membangun, menghindar dan sebagainya akan memicu dan memacu kreativitas anak. Anak akan mencoba berbagai cara, tidak takut salah untuk mendapatkan sesuatu.

Ketiga, memberi peran. Dengan memberi tugas anak akan berlatih tanggung jawab. Anak diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Beri keleluasaan dalam mengekspresikan tanggung jawab. Misalnya dalam keorganisasian kelas. Buatlah organisasi yang dinamis yang memberi kesempatan setiap anak untuk memegang peran. Guru harus selalu memberi apresiasi atas peran yang telah dilaksanakan. Bentuk lain adalah berbagi peran dalam sosiodrama dengan memberi sedikit arahan dan memberi kebebasan berekspresi.

Keempat, menggambar. Semua anak suka menggambar. Manfaatkan sebagai bentuk ekspresi visual. Di kelas atas ada anak yang tidak suka menggambar karena otot-otot halusnya tidak terlatih untuk menvisualkan idenya. Maka pelajaran menggambar harus diberikan di kelas satu dan diampu oleh guru yang punya kompetensi untuknya.  Dengan menggambar, anak akan mengembangkan imajinasinya dan berani mengekspresikannya karena diliputi rasa gembira. Maka berilah kebebasan dan fasilitas anak untuk menggambar.

Kelima, pengakuan. Kadang guru masih keluar egonya. Menganggap murid sebagai anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Lupa bahwa mereka menyimpan potensi besar yang harus dikembangkan. Akuilah anak kita sebagai manusia utuh yang selalu diperhitungkan keberadaan dan potensinya. Dengan motivasi dan kesempatan yang kita berikan kita akan menunggu kejutan-kejutan ide atau karya yang akan muncul darinya. Sikap menyepelekan justru akan melumpuhkan kreativitas yang semestinya keluar.

Hasil kadang-kadang tidak seindah yang kita gambarkan. Proses tidak semulus yang kita angankan. Kita perlu mencermati beberapa kendala yang mungkin terjadi. Baik kendala eksternal maupun internal. 

Kendala eksternal antara lain; hambatan sosialisasi dengan teman. Kadang dijumpai anak yang memerlukan perhatian super untuk mengendalikannya. Anak ini menjadi ancaman atau menghambat sosialisasi bagi yang lain. Kendala bisa datang dari rumah. Terutama pada bentuk pengasuhan. Misalnya orangtua yang terlalu protek atau sering memaksakan kehendak pada anak. Dari sekolah sendiri bisa juga menjadi kendala. Misalnya sikap guru yang diktator. Bisa juga metode dan pendekatan belajar yang monoton atau terlalu berpusat pada guru.

Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman


Admin : @emthorif

Kajian Utama : Mengembangkan Kreativitas dengan Membangun Kepribadian Islami


Oleh : Galih Setiawan

Kreativitas adalah sebuah bagian penting dalam proses pendidikan anak. Semua anak yang lahir di dunia pasti mempunyai sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya kreativitas anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor genetik (bawaan lahir) dan faktor lingkungan. Kreativitas ini akan tumbuh secara optimal jika kedua faktor dipadukan secara baik. Seperti perkembangan kepribadian, perkembangan kreativitas anak terkait erat dengan pola asuh. Hubungan yang dekat antara orangtua dengan anak memberikan dasar bagaimana dan sejauh mana anak dapat mengembangkan kreativitasnya. Pengasuhan yang dilandasi oleh hubungan yang hangat, nyaman, dan mendukung akan menghasilkan keleluasaan pada anak untuk mengembangkan dirinya, termasuk juga mengembangkan kreativitas.

Karena itu, mengembangkan kreativitas anak tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh upaya keras, berkesinambungan, serta kesabaran ekstra untuk melalui tahap demi tahap,sesuai perkembangan kemampuan berpikir anak. Tentu saja kita tidak sekedar ingin membentuk anak yang bukan hanya sekedar kreatif, namun juga berkepribadian Islami.

Orangtua dapat membangun kepribadian Islam pada anak yang tercermin dari pola pikir dan pola sikap anak yang Islami. Orangtua yang paham akan senantiasa merangsang aktivitas berpikir dan bersikap anak sesuai dengan standar Islam. Menstimulasi aktivitas berpikir dilakukan dengan cara menstimulasi unsur-unsur/komponen berpikir (indera, fakta, informasi dan otak). Aktivitas bersikap adalah aktivitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri (beragama, mempertahankan diri dan melestarikan jenis).

Menurut Hilman Rosyad dalam sebuah makalahnya di situs academia.edu, orangtua dapat menstimulasi alat indera anak dengan cara melatih semua alat indera sedini mungkin. Ajak anak mengamati, mendengarkan berbagai suara, meraba berbagai tekstur benda, mencium berbagai bau dan mengecap berbagai rasa. Menstimulasi otak dilakukan dengan cara memberi nutrisi yang halal dan bergizi yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak sejak dalam kandungan serta banyak menghadirkan fakta daninformasi yang dapat diserap oleh anak.
Menstimulasi informasi diarahkan untuk meyakini adanya Pencipta melalui fakta-fakta penciptaan alam.

Orangtua juga bisa membacakan cerita, mengajari anak untuk selalu mengaitkan fakta baru dengan informasi yang sudah diberikan,serta menghindarkan anak dari fakta dan informasi yang merusak dengan cara menseleksi tayangan TV, buku dan majalah.  Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa anak memahami standar secara bertahap seiring dengan kesempurnaan akalnya. Anak usia dini belum sempurna akalnya. Namun, orangtua tetap perlu mengenalkan standar-standar kepada anak secara berulang-ulang tanpa memaksa anak untuk melakukannya. Biasakan pula mengenalkan dalil kepada anak. Orangtua juga hendaknya senantiasa menghadirkan keteladanan yang baik pada anak di mana saja mereka berada.

Orangtua yang paham tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainnya. Kita dapat membentuk kepribadian anak kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka. Umar ra., Abu Bakar ra. dan sebagainya tidak memiliki karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan pribadi-pribadi yang Islami. Keunikan mereka justru menjadikan mereka ibarat bintang-bintang yang gemerlapan di langit,terangnya bintang yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula halnya dalam hal kreativitas mereka. Setiap sahabat adalah insan kreatif. Masing-masing memiliki kreativitas sendiri-sendiri. Salman al-Farisi adalah penggagas Perang Parit, Umar bin Khaththab adalah penggagas ketertiban lalu-lintas, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah penggagas tegaknya sistem ekonomi Islam, Khalid bin Walid adalah penggagas strategi perang modern dan masih banyak lagi sederet kreativitas para sahabat.

Yang menjadi masalah sekarang, para orangtua sering kurang bersungguh-sungguh untuk mengembangkan kreativitas anak. Anak dipaksa untuk mengikuti apa yang menjadi trend sekarang. Seolah-olah para orangtua lebih suka jika anak menjadi fotokopi orang lain ketimbang dia tumbuh sebagai suatu pribadi yang utuh. Karena kepribadian menentukan kreativitas, seorang muslim pada hakikatnya memiliki potensi kreatif lebih besar dibandingkan dengan umat-umat lainnya.


Galih Setiawan, Sekretaris Majalah Fahma. Twitter @pak_gaal

Admin : @emthorif

Kajian Utama : Menghadirkan Manfaat


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda dengan kata-kata ringkas bermakna luas dan membimbing kearah yang berguna : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Beliau tunjukkan ukuran kualitas seseorang. Tingkat mutu seorang ditentukan oleh tingkat manfaatnya. Semakin besar manfaat dirinya maka semakin tinggi derajatnya. Demikian juga, semakin banyak madharat seseorang maka semakin rendah dan jeleklah dirinya.
Maka upaya penting untuk menaikkan derajat diri di hadapan Allah Ta'ala adalah upaya membesarkan dan memperbanyak manfaat diri untuk orang lain. Baik dalam urusan duniawi ataupun diniyyah. Dengan menggunakan segenap pikiran, tenaga, waktu, dan harta.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.

Kebahagiaan dan kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh tiga hal yang termaktub dalam petunjuk Rasul ini. Yakni semangat, kesungguhannya dalam melakukan segala yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunianya, serta keseriusannya dalam memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla. Kala semua unsur ini sudah terpenuhi, maka itu adalah kesempurnaan baginya dan sebagai tanda kesuksesannya. Sedang bila ia meninggalkan salah satu dari tiga perkara ini maka dia akan kehilangan kesempurnaan kebaikan dan keberhasilannya.
Minim semangat dan kaya malas maka ia akan dekat dengan kegagalan. Ia akan menjauh dari kebaikan, keberhasilan, dan kemuliaan.

Namun hendaklah ingat. Bersemangat saja tidaklah cukup. Mestilah bersemangat dalam hal yang bermanfaat. Bukan bersemangat dalam hal yang sia sia, mencelakakan, dan mendekatkan kepada kemurkaan Allah.

Itupun belumlah akan menghasilkan hal yang maksimal. Kala orang hanya bertumpu pada semangat dan kesungguhannya sendiri, tanpa bersandar dan memohon pertolongan sama sekali kepada Allah yang maha kuat dan kuasa. Urusannya akan menjadi sulit dan tidak barokah.

Apabila seorang hamba bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , menyerahkan urusan hanya kepada Allâh, dan minta tolong hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh akan memudahkan urusannya, memudahkan segala kesulitannya, menghilangkan kesedihannya, memberikan hasil akhir yang baik dalam urusan agama dan dunianya.

Demikianlah, kita mesti mengetahui ilmu yang berguna membedakan manakah perkara bermanfaat dan manakah yang madharat. Kefakiran ilmu tentang hal inilah yang menjadikan hidup tidak berarti. Meski sudah diisi dengan semangat dan kesungguhan. Betapa banyak orang yang telah mengabdikan umur hidupnya, menghabiskan tenaga dan hartanya untuk perkara yang mencelakakan dirinya dan menghinakannya di hadapan sesama makhluk serta Sang Maha Pencipta.

R. Bagus Priyosembodo, Guru Ngaji dan Redaktur Ahli Majalah Fahma. Twitter @orangawam1


Admin : @emthorif

foto murid TK Tawakal Plemburan Sleman

Makanan Cerdas : Ikan Gabus


Oleh : Ana Noorina

Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.

Dilihat dari kandungan gizinya, ikan gabus tidak kalah dari ikan air tawar lain yang cukup populer, seperti ikan mas dan ikan bandeng. Keunggulan ikan gabus adalah kandungan proteinnya yang cukup tinggi. Kadar protein per 100 gram ikan gabus setara ikan bandeng, tetapi lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan lele maupun ikan mas yang sering kita konsumsi.
Kandungan protein ikan gabus juga lebih tinggi daripada bahan pangan yang selama ini dikenal sebagai sumber protein seperti telur, daging ayam, maupun daging sapi. Kadar protein per 100 gram telur 12,8 gram; daging ayam 18,2 gram; dan daging sapi 18,8 gram. Nilai cerna protein ikan juga sangat baik, yaitu mencapai lebih dari 90 persen.

Selain itu, protein kolagen ikan gabus juga lebih rendah dibandingkan dengan daging ternak, yaitu berkisar 3-5 persen dari total protein. Hal tersebut yang menyebabkan tekstur daging ikan gabus lebih empuk daripada daging ayam ataupun daging sapi. Rendahnya kolagen menyebabkan daging ikan gabus menjadi lebih mudah dicerna.

Keunggulan protein ikan gabus lainnya adalah kaya akan albumin, jenis protein terbanyak (60 persen) di dalam plasma darah manusia. Peran utama albumin di dalam tubuh sangat penting, yaitu membantu pembentukan jaringan sel baru.

Tanpa albumin; sel-sel di dalam tubuh akan sulit melakukan regenerasi, sehingga cepat mati dan tidak berkembang. Albumin inilah yang juga berperan penting dalam proses penyembuhan luka.

Di dalam ilmu kedokteran, albumin biasa dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan. Itulah sebabnya pasien pascaoperasi sangat dianjurkan mengonsumsi ikan gabus, dengan harapan dapat membantu proses penyembuhan di dalam tubuh.


Ana Noorina, Pemerhati dunia anak

Admin : @emthorif

Tips Cerdas : Bangga, Berjilbab Sejak Dini


Oleh : Zakya Nur Azizah

Kita tentu telah mengetahui tentang hukum berjilbab bagi seorang muslimah. Ya, benar bahwa hukumnya ialah wajib. Hukum ini berlaku ketika anak perempuan telah mencapai masa balighnya. Oleh sebab itu, orangtua wajib mengajarkan anak perempuannya untuk berjilbab. Namun, cara yang orangtua terapkan dalam mengajarkan anaknya untuk berjilbab seringkali belum tepat. Banyak orangtua yang baru mengajarkan anaknya untuk berjilbab ketika mereka sudah tumbuh menjadi dewasa. Apakah hal ini salah? Tentu tidak, tetapi belum tepat.

Alangkah baiknya apabila orangtua mengetahui cara untuk mengajarkan anak berjilbab sejak dini sehingga mereka dapat menerapkannya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta sang anak terhadap jilbabnya. Tak hanya itu, sang anak juga dapat mengetahui sejak dini bahwa jilbab ialah salah satu identitas dari seorang muslimah yang harus selalu mereka jaga. Tak hanya sekadar mengajarkan hal itu, orangtua juga harus memiliki kemampuan untuk melatih anak-anaknya berjilbab dalam kesehariannya. Dengan demikian, mereka akan terbiasa memakai jilbab sejak kecil dan kelak ketika mereka sudah dewasa, mereka tidak akan merasa asing lagi dengan jilbab.

Masa akil baligh pada anak perempuan berlangsung lebih awal, yakni 9-12 tahun. Maka mereka mulai dibebani dengan hukum syara’ (mukallaf). Amal dan dosa mereka dihisab. Agar saat baligh mereka telah siap menjalankan hukum syara’, mereka perlu dilatih dan dibiasakan menjalankannya sedari kecil. Rasulullah bersabda:

“Jika seorang anak telah mampu membedakan tangan kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk melakukan shalat.” (HR Thabrani).

Rasulullah juga bersabda: “Perintahkan anakmu shalat usia 7 tahun, dan bila telah berusia 10 tahun pukullah bila ia mengabaikannya .” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Daruquthni)

Dari perintah membiasakan anak shalat saat usianya belum menginjak baligh, dapat diambil analogi bagi pembiasaan hukum-hukum syara’ yang lain. Telah masyhur bahwa para shahabat mengajarkan anak-anak mereka berpuasa saat mereka masih kecil, sampai-sampai mereka membuatkan mainan dari wol agar anak-anak bisa bermain sampai tiba waktu berbuka (HR Bukhari –Muslim).

Dari apa yang diperintahkan Rasulullah dan apa yang dilakukan para shahabat, maka pembiasaan bagi anak dalam menjalankan hukum syara’ adalah hal yang harus kita lakukan. Tanpa adanya pembiasaan di awal, dikhawatirkan anak akan merasa berat menjalankan hukum syara’ saat usia mereka masuk baligh. Sementara mereka telah dikenai dosa ketika meninggalkan kewajiban-kewajiban syara’
.
Tips mengenalkan anak perempuan dengan jab sejak dini:

Biasakan anak memakai pakaian muslimah secara bertahap
Biasakan mereka untuk memakai pakaian muslimah secara bertahap, seperti memakaikan kerudung dan baju panjang. Tidak perlu setiap saat, lakukan saja ketika mereka keluar rumah atau saat berpergian. Dalam hal ini, penting bagi orangtua untuk memilihkan bahan yang cocok untuk sang anak. Pilihkan bahan yang mudah menyerap keringat sehingga membuat anak tidak gerah dan nyaman ketika memakainya.

Beri motivasi dan pujian
Untuk anak bayi atau balita, mungkin mereka belum mengerti manfaat dari berjilbab itu seperti apa atau ketika orangtua memberikan motivasi dan pujian kepada mereka. Namun, ketika anak tumbuh besar, mereka akan mulai bertanya-tanya kegunaan dari berjilbab. Maka tugas orangtua adalah memberikan penjelasan kepada sang anak yang tentunya harus disesuaikan dengan usia dari anak tersebut. Memberikan motivasi dan pujian kepada anak juga perlu dilakukan agar anak merasa bahwa yang mereka lakukan merupakan suatu hal baik

Beri pemahaman tentang jilbab
Ajarkan anak bahwa berjilbab ialah perintah Allah. Ajarkan kepada anak bahwa berjilbab sepenuhnya harus diniatkan karena Allah, bukan sekadar untuk pujian dari orang lain saja. Sampaikan pada mereka secara bertahap dan lembut bahwa Allah akan terus melihat yang mereka lakukan dan Allah sangat mencintai wanita yang berjilbab karena Allah. Tanamkan hal ini sedari dini dengan menggunakan pendekatan yang tepat. Dengan demikian, mereka akan terbiasa berjibab semata karena Allah, bukan sekadar untuk pujian orang lain.

Sesekali berikan reward pada anak
Sesekali berilah hadiah atau reward kepada anak karena telah rajin dan semangat dalam berjilbab. Namun, orang tua harus selalu mengingatkan anaknya bahwa hadiah terbesar yang kelak akan mereka dapat atas ikhtiar mereka dalam berjilbab ialah hadiah dari Allah, yakni surga. Dengan demikian, sang anak semakin termotivasi utnuk dapat dicintai Allah dan menggapai surga-Nya.

Zakya Nur Azizah, Beliau adalah seorang Ibu rumah tangga

Admin : @emthorif

Cerdas di Rumah : Anak Suka Mengacak-acak Rumah


Oleh : Nur Muthmainnah

Pernahkah kita melihat anak-anak mengacak-acak atau membuat berantakan barang-barang di rumah? Bagaimana perasaan kita ketika melihat hal itu? Jengkel, marah, kesal, atau senang malah bercampur menjadi satu? Perlu diketahui bahwa anak belajar dengan cara mengeksplorasi semua benda yang ada di sekitarnya dan benda yang terdekat ada di dalam rumah. Dinding, kasur,piring, gelas, sendok, garpu, pisau, kompor, kran air, tanah, kasur, bantal, dan sebagainya. Itu adalah media belajar anak.Mereka mengeksplorasinya yang disisi lain mungkin kita menyebut mereka mengacak-ngacaknya.

Studi yang dilakukan tim peneliti dari University of Lowa (2014), menemukan bahwa balita yang memahami, menyentuh, dan merasa bahkan melempar-lempar benda, termasuk mainan dan makanannya, bisa terus mengumpulkan informasi tentang dunia sekitarnya. Peneliti menguji 72 balita berusia 16 bulan. Kemudian, mereka diberi beberapa benda.

Peneliti pun memperhatikan apakah anak itu bisa mempelajari nama-nama benda yang ada. Mereka menemukan bahwa anak yang cenderung berantakan saat bermain lebih baik dalam mempelajari benda sekaligus mengingat namanya. Salah satupeneliti,  Larissa Samuelson mengatakan informasi dari suatu benda yang dilempar atau diacak-acak oleh anak akan lebih mudah mereka ingat. Sebab, mereka melakukan tindakan itu sambil mencatat informasi di pikirannya. Dalam penelitian tersebut, para peneliti juga memberi objek non padat seperti selai, keju, mentega, oatmeal, dan saus cokelat.

Kemudian, mereka diberi nama masing-masing objek dengan kata yang sederhana. Lalu, mereka diberi objek yang sama dengan bentuk berbeda. Ternyata, anak-anak yang lebih berantakan saat bermain, lebih akurat dalam memberi nama benda. Menurut peneliti, cara yang cenderung mengacak-acak, misalnya menggenggam, mengambil, lalu memasukkan benda-benda ke dalam mulut mereka. Sedangkan, anak yang tidak berantakan misalnya hanya menyentuh dan menusukkan jari ke suatu benda.

Berdasar penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa mereka yang bermain dengan cara berantakan bisa mengidentifikasi benda hampir 70 persen benar sedangkan yang tidak berantakan hanya 50 persen. Mereka yang duduk di kursi tinggi pun bisa mengidentifikasi objekdenganlebihbaik.Studiinisudahditerbitkan dalam jurnal Developmental Science. Dalam laporannya, peneliti mengatakan informasi yang diperoleh melalui eksplorasi aktif terkadang penting untuk mengetahui sesuatu.

Kita semua punya harapan untuk mempunyai anak yang cerdas dan pintar. Anak yang cerdas dan pintar adalah anak yang banyak belajar. Jadi, seharusnya kita senang apabila anak mengeksplorasi isi rumah kita walau kita harus sering melihat seisi rumah berantakan. Seharusnya kita juga bersyukur bila mempunyai anak yang aktif.

Dengan alur berpikir ini, berarti tidak seharusnya kita marah bila anak mengacak rumah. Apabila kita memang tidak mau rumah kita diacak-acak, kita harus menyediakan sesuatu untuk diacak oleh anak-anak kita. Atau jika tidak ada waktu untuk menyediakan, ikhlaskan saja barang-barang rumah demi pendidikan anak. Jika ada barang yang memang tidak boleh dipegang anak, sebaiknya disembunyikan di tempat tidak dapat dijamah oleh anak.

Meski demikian, bukan berarti kita bisa membiarkan begitu saja anak untuk membuat berantakan. Sebab kita juga harus mengajarkan kerapian, kebersihan dan keteraturan pada anak-anak. Bagaimana caranya? Ketika mengacak makanan, atau tanah atau apapun, baiknya kita temani anak sambil menanamkan nilai-nilai tersebut. Misalnya : “Wah, adik lagi apa? Bikin kue dari tanah ya? Bunda ikut ya. Kita main tanah di halaman saja, kan tanahnya kotor.  Supaya bebas kuman, setelah main tanah kita cuci tangan dulu.”

Jadi, dalam keadaan bermain yang menyenangkan, kita bisa menjalin kedekatan sambil menanamkan berbagai macam nilai. Dalam keadaan senang, anak lebih mudah menerima apa yang kita sampaikan. Tips ini bisa fleksibel untuk semua kegiatan mengacak di rumah.


Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia pendidikan

Admin : @emthorif

Anak Sehat : Batasi Garam Untuk Anak


Oleh : Arhie Lestari

Sekitar 43 persen garam yang diasup si kecil berasal dari beberapa jenis makanan yang paling sering mereka makan, di antaranya: roti, daging, camilan gurih, roti isi, keju, nugget, sup, dan sebagainya. Beberapa dari makanan di atas sebenarnya tidak berasa asin, tapi sebenarnya mengandung sodium cukup tinggi. Hal ini karena kebanyakan sodium sudah ada dalam makanan, bahkan sebelum makanan tersebut diproses.

Seperti halnya orang dewasa, konsumsi garam yang berlebihan pada anak-anak juga bisa mendatangkan masalah pada kesehatan. Salah satunya adalah tekanan darah tinggi.  Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi pembatasan konsumsi garam dari pola makan anak. Panduan yang baru pertama kali dikeluarkan ini diharapkan bisa mencegah penyakit kronik yang disebabkan pola makan yang buruk.

WHO menyebutkan konsumsi garam yang tinggi merupakan faktor di balik terjadinya tekanan darah tinggi yang akan memicu penyakit jantung dan stroke, penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia.

Penyakit jantung, stroke, dan penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes, kanker, dan pernapasan kronik merupakan penyebab kematian terbesar dibanding dengan kombinasi seluruh penyakit lainnya.

Penyakit tidak menular terkait pola makan adalah kronik dan perlu waktu bertahun-tahun untuk terbentuk. Selain itu menunda kejadian penyakit tersebut akan meningkatkan kualitas hidup dan menghemat biaya.


Mengurangi asupan sodium yang dimulai sejak anak-anak akan mencegah penyakit hipertensi dan faktor risiko penyakit jantung lainnya yang baru terbentuk di usia dewasa. Di sini, peran orangtua sangat diharapkan untuk membatasi asupan garam pada anak. Caranya? Dengan membiasakan si kecil mengasup lebih banyak sayur dan buah-buahan segar, serta mengurangi penggunaan garam dalam masakan.

Admin : @emthorif

Foto : http://www.tipskeluarga.net/

Kolom Prof. In : Menghormati Istri


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Tepat jam 06.50, bus Damri yang saya tumpangi sampai ke terminal keberangkatan di bandara Soekarno-Hatta, saya turun dan menuju lift untuk naik ke lantai dua, tempat check-in.

Ketika sedang menunggu lift, datang sepasang laki-laki dan wanita berjilbab, dari cara laki-laki memanggil wanita itu, mereka adalah sepasang suami-istri yang masih muda.  Yang perempuan menarik sebuah koper, meskipun kelihatannya tidak terlalu berat, namun terlihat membebani karena volumenya besar. Sedangkan sang suami hanya membawa tas kecil yang talinya diselampirkan di bahunya. Ketika pintu lift terbuka, saya yang berdiri tepat di depan pintu melangkah masuk dan disusul lelaki tadi, baru kemudian istrinya. Saya mengerutkan kening ketika melihat suami tadi membiarkan istrinya masuk lift dengan menarik kopor sendirian, padahal terlihat repot.

Dalam hati saya berpikir, tega benar lelaki ini membiarkan wanita itu terbebani, tanpa ada keinginan untuk membantu. Namun pikiran tadi saya bantah sendiri “Ah.., mungkin hanya secara kebetulan saja, tanpa sengaja suami itu membiarkan istrinya”. “Coba, nanti saat keluar dari lift seperti apa reaksi lelaki itu”. Ternyata sikapnya sama, dia tetap membiarkan wanita itu membawa kopor sendiri keluar dari lift.

Sambil antri untuk check-in, saya mencoba mengingat kembali peristiwa yang baru saja saya lihat itu, dan mencoba melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, terutama yang muslim. Memang secara umum, suami masih belum betul-betul memuliakan istri seperti yang diajarkan oleh junjungan kita nabi besar Muhammad Shallallahu ‘allaihi wassallam.

Seperti halnya pasangan tadi, terlihat belum tercipta perasaan saling berbagi di antara keduanya. Kami bersyukur, istri dan saya selalu berusaha berbagi dalam menjalani aktivitas keluarga, tanpa melepas tanggung jawab kita masing-masing. Misal, ketika belanja di pasar ataupun di supermarket, saya selalu berusaha membawa belanjaan lebih banyak dari yang dibawa istri. Bahkan, kalau diijinkan akan saya bawa semuanya, tetapi istri selalu mengambil alih sebagian. Terutama kalau di dalam belanjaan itu ada sayur-mayurnya, istri selalu berusaha melarang saya membawanya. Katanya “Bapak-bapak kok membawa belanjaan sayur, nggak pantas”. Biasanya saya jawab “Ya nggak apa-apa, kan nggak ada larangan”.

Secara pribadi saya tidak mempersoalkan itu semua. Yang ada di benak saya, laki-laki harus bertanggung jawab, termasuk membawakan barang belanjaan. Kalau orang lain melihat saat istri mengambil sebagian belanjaan dari saya, dikiranya kami rebutan sesuatu, padahal ingin berbagi beban.

Ketika sedang berjalan berdua, suami harus selalu berusaha ada di sisi yang lebih berbahaya, pada posisi melindungi. Kalau berjalan di kiri jalan, maka suami berada di kanannya, dan sebaliknya kalau berjalan di kanan jalan. Kalau kebetulan saya belum di posisi itu, istri mengingatkan dengan cara menarik tangan saya, agar saya berpindah ke sisi yang berbahaya.

Kesediaan saling berbagi, saling mengingatkan ini tidak hanya saat membawa barang, penanganan anak-anak saat kecil pun juga begitu. Karena sejak anak pertama lahir sampai usia 3,5 tahun, saya tidak bisa menunggui terus, waktu itu saya tugas belajar di Perancis, maka begitu anak kedua dan ketiga lahir saya harus menebus ketidak-ikut sertaan saya sebelumnya. Tanpa diawali kesepakatan, ternyata tercipta pembagian kewajiban. Kalau siang hari istri yang melayani anak-anak, dan pada malam hari berganti saya. Jadi kalau malam hari mereka pipis, ingin ke belakang atau minta sesuatu, maka saya yang bangun melayaninya. Memandikan anak-anak saat usia TK dan SD juga bagian saya. Semua ini berlangsung sampai mereka bisa melakukannya sendiri. Alhamdulillah, dengan berbagi seperti itu, kami dapat menjalankan kewajiban memelihara anak-anak dengan adil. Mereka mempunyai kedekatan yang sama dengan ayah dan ibunya, kami tidak ingin saling mendominasi.            

Jadi, wajarlah kalau saya kurang setuju ketika melihat sikap suami terhadap istri seperti yang di bandara itu. Tetapi mungkin bisa juga, suami tadi sudah meminta koper untuk dibawakan, tetapi istrinya tidak memperbolehkan. Namun sebetulnya apapun alasannya, akan tetap lebih baik bila suami memegang koper tersebut agar tetap merasa saling berbagi.


Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gajah Mada | Pemimpin Umum Majalah Fahma

Kisah Cerdas : Surat dari Kaisar


Oleh : Dra. Asnurul Hidayati

Suatu kali Amir bin Syurahabil Asy-Sya'bi diutus untuk urusan penting menemui Justinian, Kaisar Romawi. Sya'bi tiba di Romawi. Ia lalu memberi keterangan kepada kaisar Romawi. Setelah mendengar penuturan Sya'bi, Kaisar merasa kagum akan kecerdasan dan kelihaiannya. Takjub akan keluasan wawasan dan kekuatan daya tangkapnya. Oleh sebab itu pula akhirnya Kaisar meminta kesediaan Asy-Sya'bi untuk memperpanjang kunjungannya sampai beberapa hari. Hal itu tidak pernah dilakukan Kaisar terhadap tamu-tamunya yang lain.

Ketika Asyi-sya'bi mendesak agar segera diizinkan pulang ke Damaskus, Justinian bertanya:"Apakah anda dari keturunan raja-raja?" Beliau menjawab:"Tidak, saya seperti umumnya kaum muslimin."

Akhirnya beliau diizinkan pulang. Kaisar berkata :"Jika anda telah sampai kepada Abdul Malik bin Marwan dan menyampaikan apa yang dikehendakinya, berikan surat ini kepadanya."

Setibanya Asy-sya'bi di Damaskus, beliau segera menghadap kepada khalifah Abdul Malik untuk menyampaikan apa yang dia lihat dan dia dengar. Ketika hendak beranjak pulang, beliau berkata, "Wahai Amirul mukminin,  kaisar Romawi juga menitipkan surat ini untuk Anda." Kemudian beliau pulang.

Ketika Amirul mukminin membaca surat tersebut, beliau berkata kepada pembantunya, "Panggillah Asy-Sya'bi kemari." Maka Asy-Sya'bi kembali menghadap khalifah.

Khalifah bertanya, "Tahukah engkau, apa isi surat ini?"
Asy-sya'bi menjawab, "Tidak, wahai Amirul mukminin."

Khalifah pun berujar, "Kaisar Romawi itu berkata, 'saya heran bagaimana bangsa Arab mau mengangkat raja selain orang ini (Asy-Sya'bi)."

Asyi-sya'bi berkata, "Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah bertemu dengan Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian."

"Tahukah Anda, mengapa kaisar Romawi menulis seperti ini?" tanya Khalifah.
"Tidak, wahai Amirul mukminin." tukas Asy-Sya’bi.

"Dia menulis seperti ini karena iri kepadaku, lantaran aku memiliki pendamping sepertimu. Lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu," cetus Khalifah.

Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, maka Justinian  berkata, "Demi Allah. Memang tidak ada maksud lain dariku selain itu."

Ayah Bunda dan Pendidik sekalian,  ada hikmah dari kisah di atas. Keunggulan dan kelebihan yang dimiliki seseorang  biasanya menimbulkan rasa kagum. Tetapi juga bisa menimbulkan rasa iri. Rasa kagum bisa menumbuhkan semangat pada seseorang untuk  berusaha agar bisa unggul. Adapun rasa iri dari orang lain kepada kita bisa menimbulkan madharat terhadap kita. Iri atau hasad bisa memisahkan hubungan persaudaraan. Bisa memecah persatuan. Bisa meruntuhkan kepemimpinan. Masya Allah, kita perlu memberikan keteladanan kepada anak-anak kita agar menyingkirkan rasa iri yang hinggap di hati. Dan juga membiasakan berlindung kepada Allah agar terhindar dari pengaruh rasa iri atau hasad ketika ada orang hasad kepada kita.

Sumber : Mereka adalah Para Tabi'in. DR. Abdurrahman Ra'fat Basya. At-Tibyan. Solo.

Menanamkan Kesabaran dan Perjuangan untuk Memperoleh Sesuatu


Oleh : Ahmad Baihaqi

Menangis selalu jadi senjata andalan anak saat keinginannya tidak dituruti. Orangtua mana yang tega mendengar anaknya menangis? Apalagi jika tangisannya semakin keras, ditambah raungan, teriakan, hingga berguling-guling di lantai. Hati pun menjadi luluh seketika.

Menghadapi anak-anak yang menangis atau marah, orangtua harus tetap tenang. Anak-anak sangat fokus pada ekspresi wajah, nada suara dan bahasa tubuh. Jika mereka marah atau khawatir, mereka hampir tidak mendengar kata-kata kita. Jangan berteriak atau membentaknya, karena mereka berhenti untuk mendengarkan dan tidak merasa takut. Jadi, orangtua harus tenang dan tegas. Tatap matanya, tunjukkan kalau kita tidak menyukai apa yang dia lakukan. Mintalah padanya dengan baik, untuk berhenti melakukan hal tidak baik.

Jika orangtua memiliki peraturan baik di rumah maupun di luar rumah, usahakan selalu menerapkannya. Bila sewaktu-waktu orangtua membiarkannya, anak-anak malah bingung dan beranggapan tidak masalah jika melanggar peraturan. Konsistensi sangat penting agar anak tidak membuat orangtua menurutinya.

Orangtua memang harus memuji anak saat mereka melakukan hal baik dan memberikan hukuman jika anak melanggar peraturan. Hal ini untuk menunjukkan pada anak setiap hal memiliki konsekuensi. Jangan segan untuk memberikan hadiah atau sekadar pujian, jika anak mendapat nilai bagus atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Sayang anak tidak berarti mengabulkan semua keinginan atau permintaannya. Ada kalanya orangtua perlu mengatakan “tidak” kepada si kecil. Hal ini bukan tanpa alasan. Terbiasa dituruti semua permintaannya, bisa menyebabkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang manja dan keras kepala. Sebagian anak, akibat pemanjaan yang berlebihan, akhirnya tumbuh dengan daya juang yang rendah, dan memiliki daya tahan terhadap stres yang rendah pula.

Akibatnya, ia menjadi mudah tertekan saat keinginannya tidak tercapai, merasa orangtuanya tidak lagi peduli dan menyayanginya seperti dulu (ketika keinginannya dituruti!). Nah, untuk itulah, sejak dini, anak harus diajarkan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan, meski hal yang berguna sekalipun, seringkali membutuhkan kesabaran dan perjuangan untuk mendapatkannya. Bagaimana caranya?

Pertama, ajarkan anak belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Tak mudah bagi anak, terutama balita, untuk memahami apa itu keinginan dan kebutuhan. Pengaruh teman, sering kali membuatnya  meminta sesuatu yang nampak menarik baginya. Anda perlu menjelaskan apa saja yang masuk dalam kategori keinginan atau kebutuhan. Misalnya, “Adik butuh pensil, kan, untuk menulis? Nanti Mama belikan, ya. Tapi, kalau Adik minta pensil dengan hiasan boneka di atasnya, itu namanya keinginan. Mama tidak bisa memberikan pensil seperti itu sekarang, karena harganya lebih mahal dibanding pensil biasa.”

Kedua, berikan alasan mengapa kita tidak memenuhi keinginannya. Katakan padanya bahwa sikap kita ini didasari oleh perasaan sayang dan bertanggung jawab terhadapnya. Misalnya, “Mama bisa saja membelikanmu pensil boneka. Tapi nanti teman-teman di kelas kamu pasti juga ingin punya pensil bagus seperti itu. Kasihan, kan, kalau mereka menangis dan merengek minta dibelikan pensil itu juga kepada mamanya?” Anda sekaligus mengajarkannya untuk menjadi anak yang berempati pada sesamanya.

Ketiga, membuat daftar prioritas. Dalam satu periode tertentu, ada kalanya kita diperkenankan untuk berkata “ya”, misalnya sebulan sekali, sehabis pembagian rapor, atau setelah ia mengerjakan tugas tertentu. Meski begitu, tetap harus ada aturannya. Kita bisa mengajak si kecil  membuat skala prioritas keinginan. Minta ia menyebutkan apa saja keinginannya, urutkan mulai dari yang paling diinginkan sampai yang paling tidak diinginkan. Dari daftar itu, kita dan si kecil bisa berkompromi mengenai keinginan mana yang bisa ia dapatkan dalam waktu dekat ini.


Ahmad Baihaqi, Pemerhati dunia anak

Anak Sehat : Asupan Vitamin C untuk Anak


Oleh : Arie Lestari

Vitamin C atau dikenal dengan asam askorbat ini mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan kolagen yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta membantu penyerapan zat besi. 

Beberapa studi dan penelitian mengungkapkan fungsi vitamin C dalam menurunkan kadar kolesterol dan memproduksi bahan kimia tertentu pada otak. Selain itu, tingginya kandungan antioksidan pada vitamin C juga dapat menangkal radikal bebas yang merusak sel-sel dalam tubuh.

Fungsi lain vitamin C adalah membantu membentuk dan memperbaiki sel-sel darah merah, tulang, dan jaringan tubuh.  Bagi pertumbuhan anak, vitamin C membantu menjaga gusi anak tetap sehat dan memperkuat pembuluh darah anak, meminimalkan terjadinya memar jika anak jatuh  maupun tergores . Vitamin C juga bermanfaat untuk membantu mengobati luka, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, vitamin C akan membantu tubuh untuk menyerap zat besi yang diperoleh dari makanan.

Vitamin ini adalah vitamin yang tersedia dari begitu banyak sumber makanan sehingga kekurangan vitamin C ini rata-rata jarang terjadi.

Vitamin C bisa ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran yang berwarna cerah, seperti: jambu, jeruk, paprika merah, kiwi, brokoli, stroberi, blewah, mangga, tomat, bayam, kentang, pisang, dan sebagainya. Jumlah vitamin C bervariasai dari setiap sumber, tergantung dari ukuran buah atau sayuran.

Karena vitamin C adalah vitamin larut air, kelebihan vitramin ini berapapun akan dikeluarkan dari tubuh anak melalui urin. Dosis tinggi vitamin C bisa menyebabkan mual, diare , batu ginjal , dan gastritis ( radang selaput perut ) .

Jumlah maksimum asupan vitamin C yang dianggap aman oleh Dewan Pangan dan Gizi dari Institut of Medicine adalah 400 mg per hari untuk anak usia 1 sampai 3 tahun, dan 650 mg untuk anak usia 4 sampai 8 . Jadi hati-hati memberikan suplemen kunyah yang diperuntukkan kepada orang dewasa kepada anak-anak,  yang biasanya bisa berisi hingga 500 mg.


Arie Lestari, Pemerhati dunia anak