» » Kajian Utama : Karakteristik Penilaian Kelas

Kajian Utama : Karakteristik Penilaian Kelas

Penulis By on Wednesday, September 16, 2015 | No comments


Oleh Slamet Waltoyo

Menilai merupakan bagaian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Baik menilai proses maupun hasil belajar. Ketika guru menyusun rencana pembelajaran, misalnya dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), maka langkah penilaian sudah harus ditetapkan. Baik teknik penilaian, bentuk penilaian hingga kriteria dan penskorannya.

Dalam penilaian kelas di tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah ada lima karakteristik yang perlu diperhatikan, antara lain: Pertama, belajar tuntas. Kriteria ini berdasarkan asumsi bahwa semua murid dapat mencapai kompetensi yang ditentukan asal mendapatkan bantuan yang tepat dan diberi waktu yang cukup (sesuai yang dibutuhkan). Dapat dikatakan; tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak belum menemukan guru yang “pas” dalam memberikan bantuan belajar. Sehingga dalam pelaksanaannya, murid belum diberi pelajaran pada konsep atau ketrampilan berikutnya sebelum menuntaskan konsep atau ketrampilan sebelumnya, dengan mendapatkan nilai ketuntasan minimal.

Berdasarkan ini bisa dimengerti bahwa dalam Kurikulum 2013 tidak ada anak yang tinggal kelas. Tetapi kenyataan yang sering terjadi, terutama di madrasah atau sekolah yang belum bisa memilih murid akan menjumpai murid yang rendah kemampuan belajarnya. Di sekolah atau madrasah yang demikian biasanya guru yang mampu memberi pelayanan khusus pada anak sangat terbatas. Belum lagi fasilitas belajar yang biasanya juga terbatas.  Maka solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan standar kompetensi yang harus dicapai.

Kedua, otentik. Penilaian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran. Anak diukur kemajuan kemampuannya selama dan setelah melakukan proses pembelajaran. Penilaian menggunakan berbagai cara dan kriteria sehingga hasil penilaian menggambarkan kondisi kemampuan anak yang nyata. Anak tidak hanya diukur apa yang telah diketahui melainkan juga mengukur apa yang sudah bisa dilakukan. Nilai tidak hanya diambil dari hasil tes. Melainkan juga dari berbagai tugas yang telah dikerjakan. Contoh tugas yang bisa diberikan antara lain; melakukan percobaan, memecahkan suatu masalah, membuat karya, menulis laporan, membaca puisi, pidato atau bercerita.

Ketiga, berkesinambungan. Penilaian berlangsung terus-menerus selama proses pembelajaran. Dengan demikian pendidik akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang perkembangan dan prestasi yang telah diperoleh selama proses pembelajaran. Guru harus mempunyai catatan perkembangan setiap murid di samping penilaian ulangan harian.

Keempat, menggunakan teknik penilaian yang bervariasi. Untuk mendapatkan gambaran perkembangan yang lengkap, guru harus bisa menggunakan berbsgai teknik penilaian. Teknik penilaian dapat berupa tes atau bukan tes. Tes dapat dilakukan dengan tertulis, lisan atau unjuk kerja. Penilaian bukan tes misalnya dengan produk, portofolio, projek, pengamatan.

Kelima, berdasarkan acuan kriteria. Penilain berdasarkan pada acuan ukuran pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Kemampuan murid tidak dibandingkan dengan pencapaian kelompoknya melainkan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Untuk melakukan penilaian, sebelumnya guru telah menetapkan kriteria yang harus dicapai murid. Kriteria pencapaian yang disebut dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) ditetapkan dengan mempertimbangkan tiga hal, yaitu 1) Karakteristik kompleksitas kompetensi dasar yang akan dicapai. 2) Daya dukung, yaitu kesiapan guru dan sarana belajar yang tersedia, 3) Karakteristik peserta didik, yaitu kemampuan rata-rata murid dalam menangkap kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

Guru harus menguasai betul kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh murid sehingga, ketika proses pembelajaran mengacu pada materi yang ada pada buku, guru sudah bisa mengukur materi mana yang harus dikuasai murid dan materi mana yang terlalu gemuk yang dapat membebani murid. Guru juga sudah bisa mengantisipasi kesulitan anak sejak awal proses pembelajaran.


Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya