» » Kajian Utama : Pembelajaran Berbasis Kreativitas

Kajian Utama : Pembelajaran Berbasis Kreativitas

Penulis By on Sunday, September 27, 2015 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan harus dikembangkan oleh setiap guru di SD/MI. Diantara tugas terpenting bagi guruadalah menumbuhkan kreativitas pada anak didik.Kreativitas sering diartikan sebagaikemampuan yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru, menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan orang lain, ide-ide serta alternatif baru.

Tugas penting itu harus selalu ada dalam benak guru ketika merancang sebuah pembelajaran. Membuka wawasan, memberikan berbagai contoh kreativitas dan memberi kesempatan kepada anak untuk menggali hal-hal yang baru. Beberapa item yang bisa dimasukkan dalam komponen kegiatan pembelajaran antara lain:

Pertama, bercerita. Hampir semua anak menyukai cerita. Maka bercerita harus menjadi kemampuan wajib oleh guru. Cerita yang mampu menyentuh emosi anak akan membekas kuat dalam diri anak, sehingga anak mendapatkan hikmah dari balik cerita yang disampaikan. Bagaimana mengembangkan aspek kreatifnya? Bisa melalui isi cerita. Ucapan, ide-ide, atau perilaku yang mengejutkan dalam alur ceritanya. Anak mendapatkan sesuatu yang baru dari alur yang ia tebak. Seperti ide-ide cemerlang Si Kancil. Bisa juga melalui media cerita yang dibawakan oleh guru. Misalnya guru memvisualisasikan cerita dengan alat peraga yang kreatif. Dengan alat peraga yang sederhana misalnya, membawa imajinasi anak dalam sebuah cerita. Kreatifitas anak akan lebih terasa melalui imajinasi.

Kedua,permainan. Bermain adalah dunia anak. Berbagai bentuk permainan pasti disukai anak. Masukkan unsur bermain dalam kegiatan pembelajaran. Permainan dengan aktivitas membentuk, menyusun, merangkai, membangun, menghindar dan sebagainya akan memicu dan memacu kreativitas anak. Anak akan mencoba berbagai cara, tidak takut salah untuk mendapatkan sesuatu.

Ketiga, memberi peran. Dengan memberi tugas anak akan berlatih tanggung jawab. Anak diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Beri keleluasaan dalam mengekspresikan tanggung jawab. Misalnya dalam keorganisasian kelas. Buatlah organisasi yang dinamis yang memberi kesempatan setiap anak untuk memegang peran. Guru harus selalu memberi apresiasi atas peran yang telah dilaksanakan. Bentuk lain adalah berbagi peran dalam sosiodrama dengan memberi sedikit arahan dan memberi kebebasan berekspresi.

Keempat, menggambar. Semua anak suka menggambar. Manfaatkan sebagai bentuk ekspresi visual. Di kelas atas ada anak yang tidak suka menggambar karena otot-otot halusnya tidak terlatih untuk menvisualkan idenya. Maka pelajaran menggambar harus diberikan di kelas satu dan diampu oleh guru yang punya kompetensi untuknya.  Dengan menggambar, anak akan mengembangkan imajinasinya dan berani mengekspresikannya karena diliputi rasa gembira. Maka berilah kebebasan dan fasilitas anak untuk menggambar.

Kelima, pengakuan. Kadang guru masih keluar egonya. Menganggap murid sebagai anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Lupa bahwa mereka menyimpan potensi besar yang harus dikembangkan. Akuilah anak kita sebagai manusia utuh yang selalu diperhitungkan keberadaan dan potensinya. Dengan motivasi dan kesempatan yang kita berikan kita akan menunggu kejutan-kejutan ide atau karya yang akan muncul darinya. Sikap menyepelekan justru akan melumpuhkan kreativitas yang semestinya keluar.

Hasil kadang-kadang tidak seindah yang kita gambarkan. Proses tidak semulus yang kita angankan. Kita perlu mencermati beberapa kendala yang mungkin terjadi. Baik kendala eksternal maupun internal. 

Kendala eksternal antara lain; hambatan sosialisasi dengan teman. Kadang dijumpai anak yang memerlukan perhatian super untuk mengendalikannya. Anak ini menjadi ancaman atau menghambat sosialisasi bagi yang lain. Kendala bisa datang dari rumah. Terutama pada bentuk pengasuhan. Misalnya orangtua yang terlalu protek atau sering memaksakan kehendak pada anak. Dari sekolah sendiri bisa juga menjadi kendala. Misalnya sikap guru yang diktator. Bisa juga metode dan pendekatan belajar yang monoton atau terlalu berpusat pada guru.

Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman


Admin : @emthorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya