» » Kolom Prof. In : Menghormati Istri

Kolom Prof. In : Menghormati Istri

Penulis By on Wednesday, September 23, 2015 | No comments


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Tepat jam 06.50, bus Damri yang saya tumpangi sampai ke terminal keberangkatan di bandara Soekarno-Hatta, saya turun dan menuju lift untuk naik ke lantai dua, tempat check-in.

Ketika sedang menunggu lift, datang sepasang laki-laki dan wanita berjilbab, dari cara laki-laki memanggil wanita itu, mereka adalah sepasang suami-istri yang masih muda.  Yang perempuan menarik sebuah koper, meskipun kelihatannya tidak terlalu berat, namun terlihat membebani karena volumenya besar. Sedangkan sang suami hanya membawa tas kecil yang talinya diselampirkan di bahunya. Ketika pintu lift terbuka, saya yang berdiri tepat di depan pintu melangkah masuk dan disusul lelaki tadi, baru kemudian istrinya. Saya mengerutkan kening ketika melihat suami tadi membiarkan istrinya masuk lift dengan menarik kopor sendirian, padahal terlihat repot.

Dalam hati saya berpikir, tega benar lelaki ini membiarkan wanita itu terbebani, tanpa ada keinginan untuk membantu. Namun pikiran tadi saya bantah sendiri “Ah.., mungkin hanya secara kebetulan saja, tanpa sengaja suami itu membiarkan istrinya”. “Coba, nanti saat keluar dari lift seperti apa reaksi lelaki itu”. Ternyata sikapnya sama, dia tetap membiarkan wanita itu membawa kopor sendiri keluar dari lift.

Sambil antri untuk check-in, saya mencoba mengingat kembali peristiwa yang baru saja saya lihat itu, dan mencoba melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, terutama yang muslim. Memang secara umum, suami masih belum betul-betul memuliakan istri seperti yang diajarkan oleh junjungan kita nabi besar Muhammad Shallallahu ‘allaihi wassallam.

Seperti halnya pasangan tadi, terlihat belum tercipta perasaan saling berbagi di antara keduanya. Kami bersyukur, istri dan saya selalu berusaha berbagi dalam menjalani aktivitas keluarga, tanpa melepas tanggung jawab kita masing-masing. Misal, ketika belanja di pasar ataupun di supermarket, saya selalu berusaha membawa belanjaan lebih banyak dari yang dibawa istri. Bahkan, kalau diijinkan akan saya bawa semuanya, tetapi istri selalu mengambil alih sebagian. Terutama kalau di dalam belanjaan itu ada sayur-mayurnya, istri selalu berusaha melarang saya membawanya. Katanya “Bapak-bapak kok membawa belanjaan sayur, nggak pantas”. Biasanya saya jawab “Ya nggak apa-apa, kan nggak ada larangan”.

Secara pribadi saya tidak mempersoalkan itu semua. Yang ada di benak saya, laki-laki harus bertanggung jawab, termasuk membawakan barang belanjaan. Kalau orang lain melihat saat istri mengambil sebagian belanjaan dari saya, dikiranya kami rebutan sesuatu, padahal ingin berbagi beban.

Ketika sedang berjalan berdua, suami harus selalu berusaha ada di sisi yang lebih berbahaya, pada posisi melindungi. Kalau berjalan di kiri jalan, maka suami berada di kanannya, dan sebaliknya kalau berjalan di kanan jalan. Kalau kebetulan saya belum di posisi itu, istri mengingatkan dengan cara menarik tangan saya, agar saya berpindah ke sisi yang berbahaya.

Kesediaan saling berbagi, saling mengingatkan ini tidak hanya saat membawa barang, penanganan anak-anak saat kecil pun juga begitu. Karena sejak anak pertama lahir sampai usia 3,5 tahun, saya tidak bisa menunggui terus, waktu itu saya tugas belajar di Perancis, maka begitu anak kedua dan ketiga lahir saya harus menebus ketidak-ikut sertaan saya sebelumnya. Tanpa diawali kesepakatan, ternyata tercipta pembagian kewajiban. Kalau siang hari istri yang melayani anak-anak, dan pada malam hari berganti saya. Jadi kalau malam hari mereka pipis, ingin ke belakang atau minta sesuatu, maka saya yang bangun melayaninya. Memandikan anak-anak saat usia TK dan SD juga bagian saya. Semua ini berlangsung sampai mereka bisa melakukannya sendiri. Alhamdulillah, dengan berbagi seperti itu, kami dapat menjalankan kewajiban memelihara anak-anak dengan adil. Mereka mempunyai kedekatan yang sama dengan ayah dan ibunya, kami tidak ingin saling mendominasi.            

Jadi, wajarlah kalau saya kurang setuju ketika melihat sikap suami terhadap istri seperti yang di bandara itu. Tetapi mungkin bisa juga, suami tadi sudah meminta koper untuk dibawakan, tetapi istrinya tidak memperbolehkan. Namun sebetulnya apapun alasannya, akan tetap lebih baik bila suami memegang koper tersebut agar tetap merasa saling berbagi.


Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gajah Mada | Pemimpin Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya