Renungan : Tergesa-gesa Nan Buruk


Oleh : Bagus Priyosembodo

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang hamba akan senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah Jalla wa ‘Ala selama dia tidak berdoa yang mengandung kezaliman, tidak memutuskan tali silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa. Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apa yang dimaksud tergesa-gesa di sini, wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, “Aku telah berdoa, aku telah berdoa, tetapi mengapa aku tidak melihat tanda-tanda doaku dikabulkan? Sehingga dia lelah dalam berdoa dan meninggalkan doanya tersebut” (HR. Muslim).



Admin @emthorif

Anak Sehat : Kebutuhan Vitamin A pada Anak


Oleh : Arhie Lestari

Vitamin A terutama memainkan peran penting untuk kesehatan penglihatan, pertumbuhan tulang, serta membantu untuk melindungi tubuh dari infeksi. Vitamin A juga berguna untuk mempromosikan kesehatan dan pertumbuhan sel dan jaringan tubuh, terutama pada jaringan rambut, kuku , dan kulit.

Anak usia 1 sampai 3 tahun membutuhkan vitamin A sekitar 1.000 IU, atau 300 mikrogram (mcg) per hari. Sedangkan untuk usia 4 tahun hingga 1.320 IU ( 400 mcg ) per hari.

Vitamin A berfungsi antara lain menjaga kelembaban dan kejernihan selaput lendir, memungkinkan mata dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya (sore atau senja hari), serta pada ibu nifas akan meningkatkan mutu vitamin A dalam ASI, sehingga bayi akan mendapatkan vitamin A yang cukup dari ASI.

Vitamin A dapat diperoleh pada minyak hati ikan, kuning telur, mentega, krim dan margarin yang telah diperkaya dengan vitamin A. Sedangkan provitamin A dapat diperoleh dari sayur-sayuran berdaun hijau gelap dan buah-buahan berwarna kuning atau merah serta minyak kelapa.

Akibat dari kekurangan vitamin A ini bermacam-macam antara lain terhambatnya pertumbuhan, gangguan pada kemampuan mata dalam menerima cahaya, kelainan-kelainan pada mata seperti xerosis dan xerophthalmia, serta meningkatnya kemungkinan menderita penyakit infeksi. Bahkan pada anak yang mengalami kekurangan vitamin A berat angka kematian meningkat sampai 50%.

Kekurangan vitamin A terjadi terutama karena kurangnya asupan vitamin A yang diperoleh dari makanan sehari-hari. Pada anak yang mengalami kekurangan energi dan protein, kekurangan vitamin A terjadi selain karena kurangnya asupan vitamin A itu sendiri juga karena penyimpanan dan transpor vitamin A pada tubuh yang terganggu. Insya Allah, pada edisi selanjutnya, kita akan membahas tentang bagaimana tanda-tanda dan cara pencegahan dan penanganan akibat kekurangan vitamin A.

Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak

Admin : @emthorif

Kisah Cerdas : Perjuangan Memegang Teguh Keyakinan


Oleh : Dra. Asnurul Hidayati

Seorang anak dari keluarga miskin bernama Abdul Uzza bin Abd Naham telah ditinggal wafat bapaknya saat usianya belum ada satu tahun. Pamannya seorang yang berharta melimpah dan hidupnya makmur, namun ia tidak memiliki seorang anak pun. Paman itu pun sangat mengasihi  keponakannya yang bernama Abdul Uzza, dan mengasuhnya dengan penuh kecintaan. Mereka hidup di daerah pelataran gunung Warqan, warga kabilah Muzainah. Abdul Uzza tumbuh menjadi pemuda yang lembut hati dan bersih jiwanya.

Pemuda itu sering menghabiskan siangnya di pinggir jalan menuju Madinah untuk bertanya kepada orang yang hilir mudik dari dan ke Madinah, mengenai agama baru, Nabi baru dan tentang pengikutnya. Akhirnya dia pun bersyahadat sebelum bertemu dengan Rasulullah. Dia-lah  orang pertama dari penduduk Warqan yang masuk Islam. Namun ia masih menyembunyikan keislamannya dari paman dan kaumnya. Jika saat beribadah dia pergi menjauh dari kaumnya agar tidak diketahui. Ia sangat berharap agar pamannya masuk Islam. Namun telah sekian lama pamannya belum kunjung masuk Islam. Sedang kerinduannya untuk bertemu Rasulullah semakin besar.  Ia juga menyadari telah luput dari berbagai peperangan yang dijalani Rasulullah. Maka ia bertekad bulat untuk berbicara kepada pamannya. Dan ia sudah menyadari akibat yang akan diterimanya.

Dia berkata, “Paman, aku sudah menunggumu masuk Islam dalam waktu yang lama sampai kesabaranku habis. Jika Engkau berhasrat masuk Islam dan Allah menetapkan kebahagiaan bagimu, maka hal itu sebaik-baik yang Engkau lakukan. Namun jika engkau berhasrat selainnya, maka biarkanlah aku mengumumkan keislamanku di hadapan orang-orang.”  Mendengar perkataan anak muda itu, sang paman langsung marah besar. Dia berkata, “Aku bersumpah demi Lata dan Uzza. Kalau kamu masuk Islam, aku akan mengambil kembali segala sesuatu yang pernah kuberikan kepadamu. Aku akan menyerahkan kamu kepada kemiskinan. Aku akan membiarkanmu menjadi mangsa kelaparan dan kefakiran.”

Ancaman pamannya itu tidak menggoyahkan tekadnya sedikitpun. Kaumnya pun juga  membujuk  dan mengancamnya. Anak muda itu menjawab, “Lakukan  apa yang ingin kalian lakukan. Demi Allah aku akan tetap mengikuti Muhammad dan meninggalkan penyembahan kepada berhala. Aku menggantinya dengan penyembahan kepada yang Maha Esa lagi Maha Kuat. Silakan kalian dan pamanku melakukan apa yang kalian inginkan.”

Maka sang paman pun mengambil semua yang telah diberikan kepadanya. Tidak menyisakan apapun selain kain kasar yang menutupi badannya. Akhirnya anak muda itu berangkat berhijrah membawa agamanya kepada Rasulullah. Meninggalkan kemewahan dan kemakmuran hidup  dengan pamannya. Berharap pahala dan balasan yang ada di sisi Allah Ta’ala. Saat mendekati Yatsrib, dia merobek kainnya menjadi dua. Dia gunakan yang satu sebagai sarung dan satunya untuk menutupi tubuh atasnya. Dia masuk dan bermalam di masjid Rasulullah. Menjelang fajar, pandangannya tertumpu pada Rasulullah, maka pipinya basah oleh air mata kebahagiaan dan kerinduan yang memuncak.  

Ketika shalat subuh selesai ditunaikan, Nabi memandang ke wajah hadirin.  Beliau melihat anak muda dari Muzainah itu, dan berkata, “Dari mana kamu wahai anak muda?” Dia menjawab, dari Muzainah. Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Abdul Uzza.” Nabi bersabda, “Tidak, akan tetapi namamu Abdullah.” Kemudian Nabi mendekatinya dan bersabda, “Singgahlah di dekat kami. Jadilah kamu di antara tamu-tamu kami.” Ia pun biasa dipanggil oleh para sahabat, Abdullah. Lalu ia digelari dengan Dzul Bijadain, setelah para sahabat  mengetahui kisahnya dan melihat dua lembar kainnya.        

Ayah Bunda dan pendidik yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, subhanallah, ada hikmah penting dari kisah tersebut. Bahwa untuk memegang teguh sebuah keyakinan yang benar itu ada perjuangannya. Bahkan ada pengorbanan yang tidak ringan. Ada saatnya seseorang harus memutuskan pilihannya. Memilih keyakinan yang benar itu berarti siap dengan segala konsekuensinya.  Pada kisah di atas, si anak muda memilih kebenaran dan siap meninggalkan kesenangan dan kemewahan hidup dengan pamannya. Ia memilih balasan dari Allah. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah dalam mendidik dan mengasuh anak  agar menjadi generasi yang teguh meyakini kebenaran dan siap membuktikan keyakinannya, dengan amal sholih. Siap  menghadapi rintangan,  bahkan rela berkorban demi mempertahankan keyakinan yang benar. Baarakallahufikum.||

Referensi : Mereka adalah para Shahabat. DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Dra. Asnurul Hidayati, Guru MITQ di Bantul

Admin : @emthorif

Makanan Cerdas : Hati Ayam




Oleh : Ana Noorina

Hati ayam sudah lama dikenal sebagai makanan yang tinggi mengandung berbagai nutrisi penting, bahkan seringkali ahli kesehatan menyarankan untuk menjadikannya sebagai bagian dari diet sehat anak anak.Tingginya protein, berbagai mineral (fosfor dan zat besi), lemak, dan vitamin (B12, A, C, Niacin), jelas sangat dibutuhkan terutama bagi pertumbuhan anak.

Hati ayam memiliki kandungan lemak yang tidak terlalu tinggi namun sangat tinggi kolesterol. Meski demikian, hati ayam masih merupakan makanan yang sehat, asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan. Namun bagi orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu harus menghindari mengkonsumsi hati ayam.

Hati ayam mengandung vitamin A yang tinggi. Hanya satu porsi hati ayam dimasak menyediakan 280 persen dari nilai total Angka Kecukupan Gizi(AKG) harian Anda dengan jumlah 12.228 UI. Vitamin B -1218 mg – 280 persen AKG;  folat 476 mg 160 persen AKG; riboflavin 2 miligram 90 persen AKG; vitamin B-6 0,7 miligram 25 persen AKG; vitamin C 2,3 miligram 20 persen AKG; niacin,11,8 miligram 20 persen AKG; dan  tiamin 25 miligram 10 persen AKG. Vitamin A sangat penting untuk menjaga fungsi normal organ tubuh, penglihatan, fungsi kekebalan tubuh, pembentukan dan reproduksi sel. Sementara vitamin B-12 yang hanya tersedia dari makanan hewani, diperlukan untuk fungsi otak yang tepat dan untuk pembentukan sel darah merah dan DNA.

Asam pantotenat yang ditemukan dalam makanan padat nutrisi ini juga mendukung optimalisasi fungsi kelenjar adrenal, yang bertanggung jawab untuk memproduksi dan melepaskan berbagai hormon, termasuk untuk optimalisasi kesehatan reproduksi. Meningkatkan efektivitas kelenjar adrenal juga bisa membantu mengatasi stres lebih mudah. Beberapa studi menunjukkan bahwa hati ayam bisa membantu untuk meningkatkan testosteron, dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh bagi para pekerja berat, atlet atau binaragawan.

Meskipun hati ayam sangat tinggi gizi, namun beberapa orang harus menghindarinya. Orang dengan kolesterol tinggi, dengan masalah ginjal, atau wanita hamil sebaiknya tidak mengkonsumsinya. Kadar fosfor yang tinggi tidak baik bagi diet penyakit ginjal, karena bisa menyebabkan kalsium dilepaskan dari tulang, dan kandungan vitamin A yang terlalu tinggi bagi wanita hamil berpotensi menyebabkan bayi dengan cacat lahir. Orang sehat aman mengkonsumsi hati ayam dengan porsi kecil, terutama jika membatasi jumlah makanan yang mengandung kolesterol yang dikonsumsi pada hari yang sama.

Ana Noorina, Pemerhati gizi anak
Admin : @emthorif
Foto : google

Dunia Belajar yang Menyenangkan




Oleh : Ali Rahmanto

Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang bersifat menetap melalui serangkaian pengalaman. Belajar tidak sekadar berhubungan dengan buku-buku yang merupakan salah satu sarana belajar, melainkan berkaitan pula dengan interaksi anak dengan lingkungannya, yaitu pengalaman. Hal yang penting dalam belajar adalah perubahan perilaku, dan itu menjadi target dari belajar

Dunia belajar anak tentu tidak selamanya hanya berkutat dengan permainan dan imajinasi saja. Ada banyak hal yang bisa diperoleh dalam dunia belajar mereka. Jika kebanyakan orang dewasa menganggap bahwa dunia belajar adalah dunia yang serius, maka hampir semua anak memiliki persepsi bahwa belajar haruslah menyenangkan sehingga orangtua atau pendidik diharapkan mampu memberikan metode pembelajaran yang berbeda bagi tiap anak agar sesuai dengan karakter dan minat serta bakat yang dimilikinya.

Jika orangtua tidak menyukai anak-anak bermain lumpur, pasir atau berlarian hingga tubuh anak basah oleh keringat, maka ada baiknya mulai sekarang untuk segera mengubah mind set belajar. Mulailah untuk memperlakukan anak sesuai dengan dunianya sehingga anak tidak merasa tertekan dan bahkan ingin sekali belajar dengan orangtua sambil melakukan permainan yang disukainya.

Berikan waktu pada anak untuk bermain lumpur, pasir atau permainan yang membutuhkan aktivitas fisik selama setengah jam atau kurang untuk memberikan rasa senang. Lakukan pengawasan saat anak bermain. Setelah itu, berikan pertanyaan mengapa tanah yang diberi air bisa meresap ke tanah? Jika si anak tidak mengerti, jelaskan mengenai konsep respirasi secara sederhana sehingga anak bisa memahami pembelajaran tersebut sesuai dengan porsinya. Atau bisa juga kita bertanya, mengapa air yang dituang ke tanah lama-kelamaan akan mongering? Saat itulah kita bisa menjelaskan pada anak tentang proses penguapan hingga terjadinya hujan.

Metode pembelajaran bisa diberikan kapan saja dan di mana saja sehingga anak tidak terlalu berpikir bahwa belajar adalah hal serius yang mesti dilakukan di suatu tempat tertutup dengan disertai buku-buku dan alat tulis. Tanyakan setiap hal kepada anak mengenai apa yang diceritakannya, lalu berikan pengarahan kepada anak mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan tersebut serta apa saja manfaat yang didapatkan dan kerugian yang bisa pula diperoleh.

Sebagai orangtua, semakin banyak hal yang bisa kita ajarkan melalui permainan, maka semakin banyak pula kebahagiaan dan pengetahuan yang akan anak dapatkan nantinya. Sementara beberapa keterampilan perlu diajarkan secara formal, misalnya seperti matematika dan pelajaran membaca, masih ada cara yang lebih bagus yang bisa anda ajarkan melalui permainan. Itulah dunia belajar anak yang mereka sukai.

Tips membentuk dunia belajar yang menyenangkan
Bentuk konsep
Bentuklah konsep dunia belajar anak sesuai dengan minat dan bakatnya. Jika anak menyukai kegiatan menggambar, ajaklah ia berkomunikasi dengan baik saat sedang menggambar karena dalam keadaan seperti ini, anak akan lebih mudah menerima pengarahan, penjelasan, dan pemberian materi ajar yang sebetulnya akan sulit diterima jika ia tidak sedang dalam keadaan tertarik ke dunia menggambarnya.

Gunakan media anak
Gunakan beberapa media yang sesuai dengan dunia anak, seperti mainan anak, alat tulis atau alat-alat lain yang disukai anak, dan kenalkan anak pada lingkungannya. Pengenalan anak kepada lingkungan tidak harus dilakukan dengan membawa anak ke suatu tempat yang berkondisi sosial. Orangtua juga bisa mulai memberikan pengenalan melalui media buku cerita atau permainan yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Temani anak saat bermain
Selain untuk mengawasi bagaimana kegiatan anak, apa saja perkembangan yang sudah diperoleh dari kegiatan bermain anak, dan hal lain yang berhubungan dengan pendidikan anak, orangtua juga bisa menjalin hubungan komunikasi dan kasih sayang yang hangat dengan anak sehingga anak merasa dirinya ditemani, disayangi, dan dihargai. Penghargaan dan komunikasi seperti ini sangat penting untuk membentuk karakter anak yang kuat dan tangguh sebab anak bisa bermain sendiri dan merapikannya lagi setelah selesai bermain bersama orangtuanya.

Ali Rahmanto, Pemerhati dunia anak
Admin : @emthorif

Efektivitas Kelompok Belajar


Oleh : Suhartono


Di dalam proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menentukan metode mengajar yang dapat menunjang proses belajar mengajar tersebut. Salah satu metode belajar yang mulai banyak digunakan guna meningkatkan kualitas anak didik, yaitu metode kerja kelompok.

Metode pembelajaran adalah teknik penyajian pelajaran yang dipergunakan guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Ada berbagai macam teknik penyajian dari yang tradisional yang telah dipergunakan sejak dulu sampai dengan pada teknik modern yang dipergunakan sekarang ini. Teknik pembelajaran kelompok merupakan salah satu strategi belajar mengajar, di mana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 3 sampai dengan 5 siswa, mereka bekerjasama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas tertentu dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan guru. Kerja kelompok adalah kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar, di mana keberhasilan kelompok ini menuntut kegiatan yang kooperatif dari individu anggota kelompok tersebut (Robert L. Cilstrap dan William R. Martin dalam Roestiyah 2001:45).

Metode kerja kelompok memiliki peran yang amat penting dalam menumbuhkan kedewasaan dan kemampuan anak dalam menguasai materi dengan belajar bersama - sama. Namun di balik peran pentingnya, metode ini memiliki kelebihan serta kekurangan.

Roestiyah (2001:32) memaparkan bahwa keuntungan menggunakan teknik kerja kelompok adalah : 1) mengembangkan keterampilan bertanya, 2) siswa lebih intensif dalam melakukan penyelidikan, 3) mengembangan bakat kepemimpinan, 4) guru lebih memperhatikan siswa, 5) siswa lebih aktif, 6) mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar siswa. Sedangkan Mudjiono (2002:3) menjelaskan bahwa pembelajaran kelompok kecil merupakan perbaikan dari kelemahan pengajaran klasikal. Adapun pada pembelajaran kelompok kecil mempunyai tujuan : 1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, 2) mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam kehidupan, 3) mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar, sehingga setiap anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung jawab, 4) mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada setiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.

Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan dapat diperoleh beberapa ciri yang menonjol dalam pembelajaran secara kelompok, yaitu : 1) siswa sadar sebagai anggota kelompok, 2) siswa memiliki tujuan bersama, 3) siswa memiliki rasa saling membutuhkan, 4) interaksi dan komunikasi antar anggota,   5) ada tindakan bersama, 6) guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing dan pengendali ketertiban kerja.

Tak ada metode yang sempurna. Metode kerja kelompok pun memiliki beberapa kekurangan, antara lain: 1) Terlalu banyak persiapan dan pengaturan yang kompleks, 2) Bila kurang terkontrol maka akan terjadi persaingan negatif antar kelompok, 3) Sering terjadi ketidakseimbangan dalam pembagian tugas. Biasanya akan dikerjakan oleh beberapa anggota saja yang rajin, sedangkan anggota lainnya tidak terlibat sama sekali, 4) Cenderung menjadi tempat mengobrol jika tidak ada kedisiplinan dalam belajar.

Para periset mengatakan bahwa metode kelompok belajar dapat menjadi suatu strategi yang efektif untuk meningkatkan prestasi.Menurut Slavin (1995),suatu kelompok belajar akan semakin efektif jika memenuhi syarat : 1) Disediakan penghargaan kepada kelompok. Kepada setiap anggota kelompok diberikan suatu penghargaan, meski hanya sekedar pujian akan hasil kerja mereka.Hal ini bertujuan agar sertiap anggota kelompok menyadari bahwa hasil kerja kelompok itu bukan hanya untuk satu orang saja namun kepada semua anggota kelompok.Dan dengan menyadari hal itu,maka setiap anggota kelompok akan bisa memberikan hasil kerja yang baik bahkan lebih baik lagi daripada hasil kerja sebelumnya.

2) Setiap individu diminta pertanggungjawaban. Dalam suatu kelompok belajar sangat sering dijumpai adanya individu yang tidak ikut bekerja sama dalam kelompok itu.Hanya beberapa orang saja yang dituntut untuk menyelesaikan tugas tersebut.Untuk mengatasi hal ini,maka ada baiknya jika setiap anggota kelompok diberi tanggung jawab yaitu melalui pembagian tugas.Dengan demikian,semua anggota kelompok akan ikut berperan serta dalam menyelesaikan tugas itu dan akan tercipta suatu kerja sama yang baik.

Suhartono, Pemerhati pendidikan, tinggal di Yogya

Admin : @emthorif
Foto : @emthorif

Ketika Kakak Iri Pada Adiknya


Oleh : Ahmad Baihaqi

Rasa iri hati bisa menyerang siapa saja, bahkan anak usia balita pun bisa mengalaminya. Iri hati kerap muncul sebagai akibat rasa cemburu atau rasa cemas. Misalkan kakak yang iri hati pada perhatian yang dicurahkan orangtua pada adik. Tidak jarang sang kakak sering berpura-pura sakit atau nakal untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Rasa iri hati bisa mengubah perilaku anak. Sifat iri hati yang berkelanjutan dapat menyebabkan depresi, dendam, amarah, frustasi, rendah diri dan stress.

Rasa iri kakak pada adik memang selalu bisa terjadi pada dua bersaudara dengan rentang usia berapapun. Kakak yang lebih tua akan lebih bisa memahami adik, nyatanya lebih sering hanya merupakan harapan orangtua.  Sudut pandang anak ternyata tidaklah demikian. Kecemburuan kakak yang berusia jauh lebih tua bahkan kadang-kadang bisa lebih mendalam.

Untuk menghindari berkembangnya iri hati pada anak, perlu beberapa langkah yang harus dilakukan. Terutama dalam hal kesiapan kakak untuk menerima kehadiran adiknya. Jika saat ini, sang adik masih berada dalam kandungan, maka orangtua harus siapkan anak untuk menerima sang adik. Libatkan anak dalam aktivitas yang berhubungan dengan menyambut kehadiran adik barunya. Misalnya, mengajaknya ke dokter saat periksa kehamilan, biarkan sang kakak mengelus perut dan berbicara pada calon adiknya.

Saat-saat awal lahir, yang sangat penting untuk orangtua tunjukkan adalah bahwa yang baru lahir itu adalah adiknya. Tunjukkan wajah gembira ketika ia pertama kali muncul. “Itu kakak. Ini adiknya sudah nunggu. Adik kangen sekali dengan kakak. Adik ingin ketemu.” Sampaikan bahwa adik sayang sekali padanya, sehingga ia juga akan menyayangi adiknya. Bukan sebaliknya, menyuruh agar ia sayang pada adiknya. Boleh saja kita menyampaikan pesan seperti itu, tetapi setelah menunjukkan bahwa adik sayang padanya. Setiap kali ada kesempatan yang leluasa, beri perhatian yang hangat kepada anak. Tunjukkan kerinduan kita dan kerinduan adiknya kepadanya. Sehabis dimandikan, ketika bayi merasa tenang, orangtua bisa panggil ia untuk berbaring di dekat bayi sehingga ia merasa dekat.

Jika sikap iri ini masih menjangkit hingga usia TK-SD, mungkin ada baiknya kita untuk introspeksi diri. Adakah yang salah dalam perhatian kita pada mereka? Atau mungkin selama ini kita tanpa sadar sering membandingkan kakak dan adiknya? Memotivasi anak untuk selalu berkompetisi adalah hal baik, namun hanya memuji salah satu akan membuat rasa cemburu anak muncul. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Dan yang harus orangtua lakukan adalah memotivasi mereka agar mengembangkan potensi yang mereka miliki tanpa rasa iri. Sebab bisa jadi kakak pandai dalam matematika, sedangkan adik lebih piawai dalam melukis. Tonjolkan kelebihan masing-masing tanpa membandingkan dengan kekurangan mereka.

Meminimalisir rasa iri kakak pada adiknya bisa dilakukan pula dengan mengarahkan kakak untuk ikut bertanggung jawab pada adiknya tanpa membuatnya terbebani. Biarkan ia ikut menghibur ketika adiknya menangis karena terjatuh, mengajari ketika adiknya belum bisa belajar, membantu mencari buku gambar adiknya yang lupa diletakkan di mana, atau sekadar mengingatkan adiknya ketika tiba saatnya untuk belajar dan membuat PR. 

Dengarkan pula keluhan kakak kalau adiknya memang melakukan sesuatu yang membuatnya kesal. Jangan buru-buru memotong dengan mengatakan bahwa adiknya masih kecil. Kalau adik membuat kamar kakak berantakan, bantulah kakak membereskan kembali kamar itu, dan ajak adiknya ikut pula membantu.

Ketika kakak dan adik bertengkar, kadang kita lebih membela adik dan meminta kakak untuk mengalah. Padahal mungkin saja pada saat itu, sang adik dalam posisi yang salah. Hal ini tentu saja tidak fair bagi kakak. Karena itu, siapapun yang salah, tegur dan nasehati dengan cara yang halus. Ajarkan mereka untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Tetap beri kakak pelukan dan ciuman. Jangan pernah menganggapnya terlalu besar untuk pelukan dan ciuman Anda, karena bila Anda hanya memberikan hal itu untuk adiknya, diam-diam ia akan menganggap Anda lebih sayang pada adiknya dan tidak lagi sayang padanya. Sementara itu, terapkan nilai-nilai dan tetap berikan peraturan maupun batasan-batasan agar anak selalu saling menyayangi, tidak mengalami pertengkaran yang sampai meruncing, dan tidak saling mengolok-olok satu sama lain.

Ahmad Baihaqi, Pemerhati dunia anak

Admin : @emthorif
Foto : @emthorif

Mengapa Anak Mengabaikan Nasehat Orangtua?


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar nasehat dan mentaati perintah orangtua meskipun dia sedang dalam keadaan capek dan baru saja tiba di rumah. Lalu apa bedanya dengan anak-anak di masa sekarang?

Sebagian orang mengatakan bahwa anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Tampaknya pernyataan ini benar, tetapi jika kita meyakini begitu saja, sesungguhnya kita hampir-hampir tergelincir dalam syubhat yang besar. Bukankah setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah? Ini berlaku untuk masa dulu, masa kini maupun masa yang akan datang. Artinya, di zaman apa pun anak lahir dalam keadaan yang sama. Orangtuanya yang mempengaruhi dan menentukan akan seperti apa anak-anaknya kelak.

Ini berarti, jika anak-anak kita kurang menghormati nasehat orangtua dan tidak memperhatikan pengajaran yang kita berikan kepada mereka, yang pertama kali perlu kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri. Kita menelisik apa yang salah dalam diri kita sebelum kita berusaha memahami apa yang terjadi pada anak.

Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke Masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh. Mereka duduk sembari menyimak baik-baik uraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan. Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau. Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan?

Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal. Apa itu? Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.

Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan. Mereka menerimanya. Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan. Jadi, bukan langsung menolaknya.

Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan. Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya. Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka. Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan. Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.

Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan. Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan sungguh-sungguh menginginkan mereka menjadi baik. Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua. Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak. Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat. Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita? Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).”

Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut? Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan). Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.

Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan. Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan. Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan. Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat. Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.

Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita | Twitter @kupinang


Admin : @emthorif
Foto : M. Fauzil Adhim