» » Alasan Memberi Pelajaran Tambahan

Alasan Memberi Pelajaran Tambahan

Penulis By on Saturday, October 3, 2015 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Orangtua Keysa bangga karena Keysa berhasil meraih juara pertama lomba Tartil Al Qur’an tingkat kecamatan. Bukan hanya itu. Keysa rajin belajar, rajin shalat, santun dalam pergaulan dan hormat pada orangtua. Tahun ini Keysa duduk di kelas lima. Ia tidak bisa lagi hadir ke Madrasah Diniyah. Setiap sore ia harus les, baik yang diadakan oleh sekolah maupun di lembaga lain atas permintaan orangtua. Padahal selama ini Keysa selalu rajin ke Madrasah Diniyah. Kejadian di atas umum terjadi pada murid SD.

Banyak anggota masyarakat memandang bahwa pendidikan karakter (dalam hal ini; pendidikan akhlak) di sekolah umum sangat kurang. Maka didirikanlah lembaga pendidikan non formal berupa Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Al Quran (TPA) atau lembaga lain untuk menutupi kekurangannya. Lembaga ini diperuntukkan bagi anak-anak usia 6 hingga 15 tahun. Tetapi umumnya setelah anak berusia 11 tahun atau setelah kelas lima SD mereka mulai meninggalkan Madin atau TPA.

Upaya masyarakat ini patut dihargai. Keberadaan lembaga non formal ini memperkuat tiga pilar pendidikan, yakni pendidikan di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Bahkan sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana tersebut dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Kita tidak mempertentangkan antara Madin/TPA dan bimbingan belajar/les. Yang harus diupayakan adalah mengoptimalkan waktu belajar anak-anak. Di luar jam sekolah, kita memberi pelajaran tambahan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ya, sesuaikan dengan kebutuhan anak. Bukan kebutuhan guru, kebutuhan sekolah, atau kebutuhan orangtua.

Ada tiga macam alasan anak diberi tambahan jam pelajaran atau les. Pertama, agar lulus ujian dengan nilai yang memuaskan. Kedua, agar tidak ketinggalan dalam proses pembelajaran. Ketiga, agar mempunyai kompetensi lain di luar kompetensi yang diajarkan di sekolah/madrasah.

Alasan pertama sudah diberlakukan bagi anak kelas 5 dan 6 SD. Alasan inilah yang paling kuat sehingga mengalahkan banyak alasan lain. Alasan ini menyangkut banyak kepentingan. Baik kepentingan anak, guru, kepala sekolah, nama baik sekolah, nama bupati/walikota dan sebagainya.

Dengan alasan kebutuhan yang mendesak, kita maklumi. Tetapi jangan sampai mengalahkan kepentingan yang lebih luas. Yaitu pendidikan secara utuh yang justru penting untuk kepentingan masa depan anak dan bangsa. Yakni pendidikan sikap sosial dan spiritual. Pendidikan yang menjadi fondasi bangunan karakter.

Anak yang sudah biasa belajar di Madin/TPA jangan meninggalkannya sama sekali. Perlu ada kerjasama antara sekolah, orangtua dan lembaga pengelola Madin/TPA. Kerjasama dalam membagi hari belajar. Karena anak kalau sudah tidak lagi belajar di Madin/TPA akan sulit untuk kembali belajar lagi setelah program les habis.

Alasan kedua yaitu memberi les karena anak ketinggalan dalam proses belajar. Ini terutama terjadi di kelas bawah. Misalnya anak kesulitan membaca, kesulitan dalam operasional hitungan, dan sebagainya. Jika sekolah tidak memberi bimbingan secara khusus, maka orangtua bisa mencari pembimbing di luar sekolah.

Alasan ketiga yaitu memberi les agar anak mempunyai kompetensi lain yang tidak didapat di sekolah. Misalnya musik, olahraga, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah anak memang cukup waktunya dan memang suka/hoby. Bukan menjadi pemuas bagi cita-cita orangtua atau prestasi sekolah saja. 

Ada alasan yang kuat bagi orangtua untuk memberi les. Terutama bagi anak yang punya banyak waktu luang di luar sekolah. Yaitu kekhawatiran orangtua denganmerebaknya game melalui internet. Yang perlu diingat yaitu jangan asal les. Tetapi pilihlah yang benar-benar dibutuhkan oleh anak, bagi diri dan masa depannya.


Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al Kautsar Cebongan Sleman

Admin : @emthorif
Foto : http://lesprivatbsm.com/wp-content/uploads/2014/08/Les-privat.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya