» » Kisah Cerdas : Perjuangan Memegang Teguh Keyakinan

Kisah Cerdas : Perjuangan Memegang Teguh Keyakinan

Penulis By on Sunday, October 25, 2015 | No comments


Oleh : Dra. Asnurul Hidayati

Seorang anak dari keluarga miskin bernama Abdul Uzza bin Abd Naham telah ditinggal wafat bapaknya saat usianya belum ada satu tahun. Pamannya seorang yang berharta melimpah dan hidupnya makmur, namun ia tidak memiliki seorang anak pun. Paman itu pun sangat mengasihi  keponakannya yang bernama Abdul Uzza, dan mengasuhnya dengan penuh kecintaan. Mereka hidup di daerah pelataran gunung Warqan, warga kabilah Muzainah. Abdul Uzza tumbuh menjadi pemuda yang lembut hati dan bersih jiwanya.

Pemuda itu sering menghabiskan siangnya di pinggir jalan menuju Madinah untuk bertanya kepada orang yang hilir mudik dari dan ke Madinah, mengenai agama baru, Nabi baru dan tentang pengikutnya. Akhirnya dia pun bersyahadat sebelum bertemu dengan Rasulullah. Dia-lah  orang pertama dari penduduk Warqan yang masuk Islam. Namun ia masih menyembunyikan keislamannya dari paman dan kaumnya. Jika saat beribadah dia pergi menjauh dari kaumnya agar tidak diketahui. Ia sangat berharap agar pamannya masuk Islam. Namun telah sekian lama pamannya belum kunjung masuk Islam. Sedang kerinduannya untuk bertemu Rasulullah semakin besar.  Ia juga menyadari telah luput dari berbagai peperangan yang dijalani Rasulullah. Maka ia bertekad bulat untuk berbicara kepada pamannya. Dan ia sudah menyadari akibat yang akan diterimanya.

Dia berkata, “Paman, aku sudah menunggumu masuk Islam dalam waktu yang lama sampai kesabaranku habis. Jika Engkau berhasrat masuk Islam dan Allah menetapkan kebahagiaan bagimu, maka hal itu sebaik-baik yang Engkau lakukan. Namun jika engkau berhasrat selainnya, maka biarkanlah aku mengumumkan keislamanku di hadapan orang-orang.”  Mendengar perkataan anak muda itu, sang paman langsung marah besar. Dia berkata, “Aku bersumpah demi Lata dan Uzza. Kalau kamu masuk Islam, aku akan mengambil kembali segala sesuatu yang pernah kuberikan kepadamu. Aku akan menyerahkan kamu kepada kemiskinan. Aku akan membiarkanmu menjadi mangsa kelaparan dan kefakiran.”

Ancaman pamannya itu tidak menggoyahkan tekadnya sedikitpun. Kaumnya pun juga  membujuk  dan mengancamnya. Anak muda itu menjawab, “Lakukan  apa yang ingin kalian lakukan. Demi Allah aku akan tetap mengikuti Muhammad dan meninggalkan penyembahan kepada berhala. Aku menggantinya dengan penyembahan kepada yang Maha Esa lagi Maha Kuat. Silakan kalian dan pamanku melakukan apa yang kalian inginkan.”

Maka sang paman pun mengambil semua yang telah diberikan kepadanya. Tidak menyisakan apapun selain kain kasar yang menutupi badannya. Akhirnya anak muda itu berangkat berhijrah membawa agamanya kepada Rasulullah. Meninggalkan kemewahan dan kemakmuran hidup  dengan pamannya. Berharap pahala dan balasan yang ada di sisi Allah Ta’ala. Saat mendekati Yatsrib, dia merobek kainnya menjadi dua. Dia gunakan yang satu sebagai sarung dan satunya untuk menutupi tubuh atasnya. Dia masuk dan bermalam di masjid Rasulullah. Menjelang fajar, pandangannya tertumpu pada Rasulullah, maka pipinya basah oleh air mata kebahagiaan dan kerinduan yang memuncak.  

Ketika shalat subuh selesai ditunaikan, Nabi memandang ke wajah hadirin.  Beliau melihat anak muda dari Muzainah itu, dan berkata, “Dari mana kamu wahai anak muda?” Dia menjawab, dari Muzainah. Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Abdul Uzza.” Nabi bersabda, “Tidak, akan tetapi namamu Abdullah.” Kemudian Nabi mendekatinya dan bersabda, “Singgahlah di dekat kami. Jadilah kamu di antara tamu-tamu kami.” Ia pun biasa dipanggil oleh para sahabat, Abdullah. Lalu ia digelari dengan Dzul Bijadain, setelah para sahabat  mengetahui kisahnya dan melihat dua lembar kainnya.        

Ayah Bunda dan pendidik yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, subhanallah, ada hikmah penting dari kisah tersebut. Bahwa untuk memegang teguh sebuah keyakinan yang benar itu ada perjuangannya. Bahkan ada pengorbanan yang tidak ringan. Ada saatnya seseorang harus memutuskan pilihannya. Memilih keyakinan yang benar itu berarti siap dengan segala konsekuensinya.  Pada kisah di atas, si anak muda memilih kebenaran dan siap meninggalkan kesenangan dan kemewahan hidup dengan pamannya. Ia memilih balasan dari Allah. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah dalam mendidik dan mengasuh anak  agar menjadi generasi yang teguh meyakini kebenaran dan siap membuktikan keyakinannya, dengan amal sholih. Siap  menghadapi rintangan,  bahkan rela berkorban demi mempertahankan keyakinan yang benar. Baarakallahufikum.||

Referensi : Mereka adalah para Shahabat. DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Dra. Asnurul Hidayati, Guru MITQ di Bantul

Admin : @emthorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya