» » » Sesuai Tahap dan Kebutuhan

Sesuai Tahap dan Kebutuhan

Penulis By on Saturday, October 3, 2015 | No comments


Oleh : Bagus Priyosembodo

Pendidikan dan pengajaran terhadap anak dilangsungkan dalam rangka mendewasakannya dalam kebaikan. Pemberian ajaran padanya dilakukan secara bertahap. Begitulah cara baiknya. Anak akan mendapat madharat apabila harus menanggung beban yang belum sepadan dengan kemampuannya.

Dr. Saad Riyadh menukilkan hadits Muadz dalam menjelaskan jiwa dalam bimbingan Rasulullah untuk menunjukkan pentingnya pengasuhan jiwa dalam bimbingan penerapan aturan Allah ini.

Ketika Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, untuk mendakwahi ahlul kitab. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi mengutus Mu'adz ke Yaman. Pesan beliau kepada Mu'adz: "Serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhi hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap sehari semalam. Jika mereka mematuhi hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka yang dipungut dari mereka yang kaya untuk dibagikan kepada mereka yang miskin". Apabila mereka mematuhi seruanmu itu maka tariklah zakat mereka tersebut dan setelah itu peliharalah keselamatan harta mereka.”(HR. Bukhari dalam kitabul zakat).

Dengan gamblang hadits tuntunan Rasul itu menjelaskan bahwa berbagai kewajiban dari Allah Ta’ala itu membutuhkan pentahapan dalam penyampaiannya. Bersebab manusia membutuhkan hal itu. Lazimnya, mereka tidak mampu menanggung bebanan sekaligus. Jiwa dan pikiran mereka memerlukan tingkatan demi tingkatan. Dakwah dan pengajaran yang Rasul tuntunkan mengingatkan kepada kita untuk tidak mengabaikan pengasuhan jiwa dan pikiran ini. Meskipun terhadap orang dewasa, apalagi terhadap anak anak. Semangat yang besar dalam mewujudkan kebaikan sama sekali tidak boleh mengabaikan kaidah ini.

Dalam semangatnya untuk menjadikan anak berprestasi, guru dan orangtua mestilah memegang teguhi kesabaran dan keikhlasan dalam membersamai anak bergiat proses belajar.

Kesabaran amat dibutuhkan dalam perjalanan belajar. Ketiadaannya akan menghalangi kesempurnaan belajar. Bahkan bisa mematikannya. Kita lihat sebagian anak penuntut ilmu mempunyai semangat membara di awal masanya. Kemudian meredup didera kebosanan. Berbagai sebab turut menghasilkan keadaan ini. Di antaranya adalah metode menuntut ilmu yang tidak tepat, pembelajaran yang tidak berjenjang, dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar.

Semestinya, seseorang mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya.  Ia menaiki tangga. Tapak demi tapak menanjak ke atas. Sesiapa yang tergesa gesa hendak mencapai puncak, apalagi tanpa kewaspadaan, ia bisa gagal mencapai puncak karena terjatuh.

Para ulama sering menjelaskan : “Barangsiapa yang tidak menguasai materi-materi ushul (pokok/dasar), dia tidak akan memperoleh hasil”. Ketergesaan yang mengabaikan penguatan dasar hanyalah membangun hal yang rapuh. Mudah runtuh. Mungkin akan segera tampak indah menjulang tapi tidak berumur panjang.

Demikian juga kita dapati nasehat para ulama yang amat berharga, “Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang” (Hilyatu tholibil ‘ilmi, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid) 

Itulah beberapa penyakit penting yang mesti dipahami dan diwaspadai agar perjalanan panjang anak dalam menuntut ilmu tidak menjadi layu sebelum berkembang. Menjaga semangat belajar dan menempanya agar tak mudah patah. Hal ini bisa jadi lebih penting daripada sekedar berlari kencang untuk menyelesaikan materi pelajaran yang banyak atau segera menjadi sosok membanggakan. Buat apa mendapat tepuk tangan riuh rendah untuk seratus meter pertama dan sesudah itu kehabisan tenaga. Padahal jarak nan ditempuh masih lima ribu meter jauhnya.

Lalu sabar dan seksama membangun pondasi yang kokoh. Tidak gegabah dan ceroboh melewati fase ini. Ada cukup banyak orangtua dan pengajar yang kurang perhitungan dalam menjejali anak dengan materi yang berlimpah. Atau mengerjakan kesalahan dengan ragam yang berbeda, yakni melakukan rancangan pengajaran yang baik dengan cara tidak seksama.

Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma.


Admin : @emthorif
Foto : Google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya