Sapa Redaksi : Bukan Sekedar Liburan

 
Murid TK Tawakal Plembuaran

Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan perbuatan mengandung niat dan setiap orang dinilai dengan niatnya. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai mengikut niatnya menuju kepada Allah dan Rasul-Nya (bernilai ibadah). Barang siapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia atau wanita untuk dikawininya, maka hijrahnya dinilai mengikut tujuan hijrah itu (tidak bernilai ibadah).” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut mengungkapkan, pada hakikatnya apa saja yang kita lakukan akan bisa bernilai ibadah. Terdapat dua syarat agar hal tersebut terwujud. Pertama, perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang baik, tidak melanggar aturan Allah dan rasul-Nya, tidak melanggar hukum yang berlaku, dan tidak menyakiti/merugikan orang lain. Kedua, perbuatan tersebut harus mengandung niat untuk beribadah kepada Allah.

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang dinamis. Tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak ingin dijelajahi oleh manusia. Semua daerah jika memungkinkan ingin dijangkau oleh manusia. Suksesnya perjalanan ruang angkasa ke bulan sebagai tanda kegigih manusia untuk merealisasikan harapannya menjelajahi bumi Allah.

Dalam kacamata Islam bepergian atau rihlah sangat dianjurkan, terutama rihlah yang mengandung ibadah. Dalam kehidupan manusia di dunia, Islam selalu menyerukan agar manusia dalam bepergian dan bergerak menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Dari maksud tersebut, manusia akan mendapatkan nilai plus pada rihlah. Jadi bukan hanya kesenangan saja yang didapat dari rihlah itu tetapi pahala atau ganjaran dari Allah juga akan diraih. Semua kegiatan di atas tersebut bernilai ibadah jika tujuan berpergian dalam rangka mencari ridho Allah semata.Berikut adalah alternatif cara agar Liburan anak-anak dan orangtua selain untuk bersenang-senang, juga mendapatkan nilai plus dari Rihlah itu yaitu nilai ibadah.

Di waktu yang hampir memasuki masa liburan sekolah ini, memperbaharui niat aktivitas dengan niat ibadah. Hal ini dilakukan agar liburan yang akan kita lakukan bersama anak bukan hanya sekedar liburan, namun juga menjadi ibadah dan akan diterima oleh Allah Ta’ala. Insya Allah

Wassalaamu ‘alaikumk wa rohmatullahi wa barokaatuh


Redaksi

Kisah Cerdas : Sedekah Sembunyi-sembunyi


Oleh : Dra. Asnurul Hidayati,

Allah Ta’ala memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada cicit Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, yang bernama Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Perdagangannya selalu untung. Tanah pertaniannya subur. Hartanya semakin bertambah banyak. Akan tetapi Ali bin Husain tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya digunakan untuk kebaikan menuju akhirat.

Amal shalih yang  disukai cicit Rasulullah yang dijuluki kaumnya dengan “Zainul Abidin” (hiasan para ahli ibadah) itu di antaranya adalah bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Di saat malam mulai gelap, beliau memikul karung tepung di punggungnya. Beliau keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak.

Ali bin Husain berkeliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya. Ia letakkan sekarung tepung di depan rumah orang miskin. Esoknya saat penghuni rumah membuka pintu rumahnya, mereka mendapati  sekarung tepung yang diperuntukkan kepada mereka. Tanpa mengetahui siapa orang yang telah memberikan dan mengantarkan bantuan itu. Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana datangnya rezeki untuk mereka itu.

Setelah waktu berlalu,  Ali bin Husain pun wafat. Pada saat  dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya. Maka bertanyalah mereka yang memandikan itu, “Bekas apa ini?” Di antara yang hadir ada yang menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.”  Semenjak itu para fakir miskin Madinah tidak lagi menerima rezeki seperti biasanya. Terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu. Akhirnya mereka pun menyadari  siapakah  gerangan manusia dermawan itu.

Ayah Bunda dan pendidik yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, Masya Allah, ada hikmah penting dari kisah tersebut.  Penduduk Madinah masa  itu  telah mengetahui kebaikan Ali bin Husain. Dengan wafatnya Ali dan diketahuinya amal shalih berupa sedekah sembunyinya itu, maka semakin terpujilah kedudukan Ali bin Husain. Masya Allah, Ali beramal secara sembunyi agar tidak dipuji orang. Tetapi setelah wafatnya, orang pun memujinya karena Ali menyembunyikan amalnya demi menjaga ikhlasnya.   Begitulah orang yang ikhlas dalam beramal. Wujud amalnya untuk kebaikan orang lain sedangkan dia hanya mengharap dapat ridho Allah dan balasan kebaikan  di akhirat. Pembaca yang budiman, semoga anak-anak kita mampu memurnikan niat dalam beribadah dan beramal untuk Allah semata,  mengharap ridho-Nya serta pahala di akhirat. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah dalam mendidik dan mengasuh anak  agar menjadi generasi yang ikhlas dalam beribadah dan beramal shalih. Aamiin.
 
Referensi : Mereka adalah para Tabi’in. DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Dra. Asnurul Hidayati, Guru  di Bantul

Admin @emthorif

Makanan Cerdas : Kolang-kaling


Oleh : Ana Noorina

Kolang-kaling adalah produk olahan hasil perebusan endosperm biji buah aren yang masih muda. Buah ini sebetulnya hanya merupakan protein albumin yang dibutuhkan benih pohon aren sebagai persediaan makanan. Buah yang tinggi kadar airnya ini, diambil dari biji buah aren yang berbentuk lonjong pipih, bergetah, dan bikin gatal. Mirip kelapa namun kelihatan kotor karena terbalut oleh ijuk.

Tanaman bernama Latin arenga pinnata ini tumbuh mulai dari Indo-China ke selatan sampai Asia Tenggara, kolang-kaling dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertkjes. Banyak terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Biasanya tumbuh di daerah yang memiliki ketinggian 250-1.400 meter di atas permukaan laut.

Pada saat buah masih muda dengan kulit luarnya berwarna hijau, biji aren mempunyai tekstur yang lembek dan berwarna bening. Kulitnya berwarna kuning dan tipis, bentuk bijinya lonjong. Biji muda inilah yang dinamakan kolangkaling. Untuk menghasilkan kolang-kaling, buah aren ini harus dibakar terlebih dahulu hingga hangus atau direbus selama beberapa jam. Setelah direndam dengan air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun, barulah biji-biji ini bisa diolah.

Dalam 100 gram kolang-kaling terkandung 0,69 gram protein, karbohidrat 4,0 gram, kadar abu 1 gram dan serat kasar 0,95 gram. Kadar air kolang-kaling relatif sangat tinggi, yakni mencapai 94%, sehingga kolang-kaling terasa segar saat dikonsumsi.

Kadar gelatin yang dimilikinya juga cukup tinggi sehingga memiliki manfaat membantu mempercepat rasa kenyang, menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet.

Serat kolang-kaling yang masuk ke tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur sehingga dapat mencegah kegemukan atau obesitas. Meskipun secara tidak sadar dimaksudkan untuk diet namun mengonsumsi kolang-kaling secara rutin, terutama selama bulan puasa, sudah merupakan diet yang gampang sekaligus menyehatkan.

Ana Noorina, Pemerhati gizi

Admin @emthorif
Foto https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/3/3d/Kolangkaling_mentah.jpg

Tips Cerdas : Agar Anak Pandai Bersyukur


Oleh : Ali Rahmanto

Dewasa ini begitu banyak sekali anak yang selalu dimanjakan dengan limpahan materi dalam kehidupannya, mulai dari permainan atau barang-barang mewah lainnya seperti gadget paling baru bahkan hampir dimiliki oleh beberapa anak. Sebagai orangtua kita tentu ingin memanjakan anak karena kita begitu mencintainya.

Meskipun di sisi lain sebenarnya kita juga menginginkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterimakasih atas apa yang dimilikinya. Sebagai orangtua ibu tentu tidak ingin jika buah hati tercinta berpusat pada diri sendiri dan menjadi pribadi dewasa yang selalu mementingkan diri sendiri.

Mengajarkan dan menanamkan sifat selalu bersyukur pada anak sebaikanya dilakukan sejak anak usia dini. Hal ini dapat dimulai dengan tidak secara langsung memberikan apa yang mereka inginkan. Memang tidak jadi masalah jika anda ingin memberikan barang-barang yang bagus untuk anak. Namun jika setiap kali anak menginginkan sesuatu dan anda langsung mengabulkannya dengan seketika, hal ini akan membaut anak merasa memiliki hak untuk mendapatkan barang tersebut dan tidak mengerti bagaimana untuk bersyukur memiliki sesuatu.

Ajaran paling ampuh dalam mengajarkan anak akan sesuatu adalah dengan menjadi contoh atau tauladan yang baik untuk mereka. Sebab sebuah teori saja tidak cukup, anak perlu melihat bukti nyata yang dilakukan oleh orangtuanya, sehingga ia dapat meniru dan mengaplikasikan hal baik tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Misalkan, bila anak melihat orangtuanya sering berhemat, bersyukur dan beramal maka secara tidak langsung mereka akan mencamkan ajaran tersebut hingga mereka tua nanti.

Menanamkan sikap bersyukur pada anak juga bisa dilakukan dengan menerapkan ajaran 'dapat satu, berikan satu'. Misalkan ketika si anak mendapatkan boneka atau barang baru lainnya, maka ajarkan anak untuk melepaskan mainan lamanya untuk diberikan kepada orang lain. Menyumbangkan barang kepada orang lain yang lebih membutuhkan adalah pola pengajaran terbaik bagaimana mengajarkan anak untuk bersyukur.

Sebuah teori mengenai cara bersyukur saja tidak akan cukup membuat anak anda menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Apalagi kecenderungan seorang anak yang selalu meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Nah, jika anda menginginkan memiliki anak yang selalu bersyukur maka awali pula dari diri anda sendiri.

Berbicara mengenai membantu orang yang kurang beruntung, semakin cepat anda bisa mengajak anak-anak anda terlibat menjadi relawan, akan semakin baik. Menjadi sukarelawan adalah cara yang baik dalam mengeratkan hubungan dalam keluarga. Sementara itu, menjadi relawan tidak berarti harus selalu terjun kelapangan. Anda bisa mengawalinya dari hal kecil seperti mengikuti acara keagamaan di lingkungan anda. Yang mana hal ini tentunya baik untuk anak yang masih berusia dini.

Tips mengajarkan anak pandai bersyukur

1.     Ajari anak untuk menolong sesama
Salah satu cara yang tepat untuk membuat anak-anak selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki adalah dengan mengajaknya untuk menolong sesama. Ajak mereka untuk pergi ke panti asuhan dengan membawa barang-barang yang ingin mereka sumbangkan.
2.     Ajari anak-anak untuk menyisihkan uang dan memberi orang lain yang membutuhkan. Ajak mereka untuk ikut serta dalam kegiatan sosial untuk menggalang dana atau menjadi sukarelawan. Misalnya saat penggalangan dana untuk korban bencana alam, atau untuk saudara-saudara kita di Gaza, Suriah dan sebagainya. Dengan demikian, anak akan belajar untuk lebih menghargai hidupnya sendiri.
3.     Tidak memberikan semua yang diinginkan
Kita sudah pasti sangat menyayangi anak-anak, tapi hindari memberikan semua yang diminta anak-anak dengan alasan menunjukkan rasa sayang pada mereka. Memberi semua hal yang diminta anak-anak hanya akan membuat mereka manja dan tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki.
4.     Mengajari menjadi orang yang baik
Mulailah sedari dini untuk mengajari buah hati menjadi orang yang baik. Bacakan cerita sebelum tidur saat buah hati masih balita dan tanyakan pada mereka mana karakter yang baik dan mana karakter yang buruk. Lalu, ceritakan mengapa karakter tersebut menjadi baik atau buruk dan apa untungnya menjadi orang yang baik.
5.     Jelaskan mengapa harus berperilaku baik
Salah satu cara membuat anak-anak selalu bersyukur adalah dengan menjelaskan pentingnya memiliki perilaku yang baik dan terpuji. Jelaskan bahwa menjadi orang yang menghargai, jujur, dan baik hati akan membuat orang lain di sekitar merasa senang. Lebih penting lagi bahwa berbuat baik akan membuat diri sendiri merasa baik

*) Ali Rahmanto, Pemerhati dunia anak

Admin @emthorif

Penangangan dan Pencegahan Kekurangan Vitamin A


Oleh : Arhie Lestari

Kelompok umur yang terutama mudah mengalami kekurangan vitamin A adalah kelompok bayi usia 6-11 bulan dan kelompok anak balita usia 12-59 bulan (1-5 tahun). Sedangkan yang lebih beresiko menderita kekurangan vitamin A adalah bayi berat lahir rendah kurang dari 2,5 kg, anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun, anak yang tidak mendapat makanan pendamping ASI yang cukup, baik mutu maupun jumlahnya, anak kurang gizi atau di bawah garis merah pada KMS, anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, TBC, pneumonia) dan kecacingan, anak dari keluarga miskin, anak yang tinggal di daerah dengan sumber vitamin A yang kurang, anak yang tidak pernah mendapat kapsul vitamin A dan imunisasi di Posyandu maupun Puskesmas, serta anak yang kurang/jarang makan makanan sumber vitamin A.

Untuk mencegah terjadinya kekurangan vitamin A di Posyandu atau Puskesmas pada setiap bulan Februari dan Agustus seluruh bayi usia 6-11 bulan, harus mendapat 1 kapsul vitamin A biru dan seluruh anak balita usia 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A warna merah. Sedangkan untuk ibu nifas sampai 30 hari setelah melahirkan mendapat 1 kapsul vitamin A warna merah

Fortifikasi (penambahan zat gizi) vitamin A pada pangan merupakan solusi untuk mengatasi kekurangan vitamin A. Dengan fortifikasi, kandungan vitamin A suatu makanan bisa lebih tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan seseorang.

Vitamin  A banyak terdapat pada pepaya, labu, wortel, daun singkong, ubi jalar merah, daging ayam, hati, telur, minyak hati ikan, kuning telur, mentega, krim dan margarin yang telah diperkaya dengan vitamin A. Provitamin A dapat diperoleh dari sayur-sayuran berdaun hijau gelap dan buah-buahan berwarna kuning atau merah serta minyak kelapa.

Pemberian minyak kelapa sawit +/- 4 cc sehari pada anak-anak balita; terlihat bahwa frequensi deficiency vitamin A menurun dan serum vitamin A meningkat dengan nyata. Vitamin  A tahan terhadap panas cahaya dan alkali tetapi tidak tahan terhadap asam dan oksidasi. Pada cara memasak biasa tidak banyak vitamin A yang hilang. Suhu tinggi untuk menggoreng dapat merusak vitamin A, begitu juga oksidasi yang terjadi pada minyak yang tengik. Ketersediaan biologik vitamin A meningkat dengan kehadiran vitamin E dan antioksidan lain.

Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak

Admin @emthorif
Foto http://www.germanypro.com/wp-content/uploads/2013/06/fruits-veg-vitamin-A.jpg

Kesadaran Metakognitif


Oleh : Dr. Ali Mahmudi,

Mengukur kemajuan belajar anak merupakan hal yang mendasar dalam proses pembelajaran. Namun, mendorong tumbuhnya kesadaran dan kebiasaan pada diri anak untuk secara mandiri memantau dan mengevaluasi proses berpikir dan kemajuan belajarnya sendiri dipandang jauh lebih penting. Kesadaran demikian disebut sebagai kesadaran metakognitif. Secara sederhana, kesadaran metakognitif merujuk pada kesadaran berpikir mengenai apa yang dipikirkan dan merefleksi atas tindakan-tindakan yang dilakukan (Baker dan Brown, 1985). Seorang anak dengan kesadaran metakognitif bertanggung jawab terhadap proses belajar yang dilakukannya. Ia secara sadar mengetahui tujuan belajarnya, mengetahui cara atau proses berpikir untuk mencapainya, dan mengetahui pula cara mengetahui bahwa tujuan tersebut telah tercapai. Anak dengan kesadaran demikian juga akan menyadari apa yang telah diketahui, belum diketahui, dan perlu diketahui, serta mengetahui pula kelebihan maupun keterbatasannya.

Kesadaran metakognitif akan mendorong tumbuhnya keingintahuan konstruktif pada diri anak. Dalam aktivitas penyelesaian masalah, misalnya, anak dengan kesadaran metakognitif tidak akan puas dan berhenti ketika jawaban atau solusi masalah itu telah ditemukan, melainkan akan senantiasa mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (self-questioning) atau berdialog dengan diri sendiri (inner-dialogue) untuk memantau proses berpikirnya. Misalnya, ia akan bertanya mengapa jawaban ini telah sesuai?, apakah terdapat jawaban lain?, apakah ada strategi lain untuk menjawab masalah ini?, apakah strategi ini dapat diterapkan pada masalah lain?, dan sebagainya. Kesadaran demikian sangat penting dimunculkan dalam aktivitas penyelesaian masalah karena memang suatu masalah belum dikatakan telah diselesaikan hanya karena telah ditemukannya solusi dari masalah itu, melainkan jika anak telah menyadari sepenuhnya akan proses berpikir yang dilakukan untuk menemukan solusi itu.

Bagaimanapun juga, kesadaran metakognitif tidak akan terbentuk dengan serta merta pada diri anak. Untuk menumbuhkan kesadaran ini, guru dapat mendorong anak untuk mengemukakan secara verbal proses berpikirnya untuk memahami suatu materi tertentu, termasuk bagian-bagian yang sudah maupun belum dipahaminya. Selain itu, guru juga berperan sebagai model bagi siswa dalam mengembangkan kesadaran ini. Misalnya, ketika guru meminta anak untuk mengungkap pesan atau menarik simpulan terkait suatu bacaan tertentu, ia dapat mengemukakan secara verbal dialog diri (inner dialogue) mengenai proses berpikirnya sebagai berikut. Hal demikian dapat dijadikan model bagi anak untuk melakukan hal serupa.

”Saya diminta untuk mengidentifikasi pesan atau membuat simpulan dari bacaan ini. Hal ini berarti pesan atau simpulan itu tidak disajikan secara jelas dalam bacaan ini. Hmm …, lantas bagaimana saya menemukannya? Saya kira saya perlu membaca kalimat demi kalimat bacaan ini. Saya harus menemukan informasi penting yang disajikan secara eksplisit dalam bacaan ini. (Guru membaca teks itu). Apakah terdapat kata-kata atau frasa yang dapat memberikan petunjuk? Oh …, jika saya menghubungkan kalimat pertama pada paragraf 1 dan kalimat pertama pada paragraf kedua, saya dapat menyimpulkan bahwa …. (Guru menarik simpulan). Tapi, sebentar dulu. Apa betul ini simpulannya? Tampaknya, simpulan ini bertentangan dengan kalimat terakhir pada paragraf ketiga”, ….

Kesadaran metakognitif akan mendorong anak menjadi peka dan kritis terhadap kemajuan belajar yang telah dicapainya. Anak dengan kesadaran demikian akan senantiasa mengevaluasi diri (self-evaluation) mengenai kelebihan maupun keterbatasannya dalam mencapai suatu pemahaman tertentu. Selanjutnya kesadaran demikian dijadikan dasar untuk memperbaiki diri, yakni mengatasi keterbatasan dan memperkuat kelebihan yang telah dimilikinya. Ketika anak mengungkapkan secara verbal proses berpikirnya, maka saat itu ia telah menata ulang pemahamannya. Demikian pula, ketika ia memperhatikan ungkapan verbal proses berpikir temannya, ia juga akan mempertajam proses berpikirnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kesadaran metakognitif akan menunjang keberhasilan proses belajar anak.

Kesadaran metakognitif tidak hanya penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar anak di kelas, melainkan juga akan menunjang kesuksekan individu dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam berbagai jenjang apapun, seseorang memerlukan kesadaran demikian untuk menentukan suatu program atau tujuan tertentu, termasuk tujuan hidup, menentukan strategi untuk mencapai tujuan itu, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung atau menghambat pencapaian tujuan itu, dan mengevaluasi ketercapaian tujuan itu.  Dalam konteks ‘ubudiyah, kesadaran metakognitif bersesuaian dengan istilah muhasabah yang merujuk pada kesadaran untuk memeriksa atau mengevaluasi diri mengenai apa yang telah dan belum dilakukan, khususnya terkait dengan ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Muhasabah merupakan pangkal bagi perbaikan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Demikian pentingnya menumbuhkan kesadaran metakognitif pada diri anak, maka upaya berkelanjutan untuk menumbuhkannya perlu terus dilakukan.

Dr. Ali Mahmudi, Dosen Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Admin @emthorif
Foto Murid TK Tawakal Plemburan Sleman

Harapan yang Patut Diharapkan



Oleh : Imam Nawawi

Ketika seorang anak belajar ke sekolah, orangtua selalu memotivasi anak-anaknya untuk belajar dengan rajin, disiplin dan tak kenal lelah agar kelak bisa lulus dengan nilai baik dan dapat pekerjaan yang bagus. Tentu nasehat ini tidak keliru.

Tetapi fatal jika kemudian kesuksesan anak dalam hal pekerjaan dan harta menjadi tumpuan harapan para orangtua tanpa peduli bagaimana kesholihan putra-putrinya. Sementara dirinya sendiri abai dari melakukan amalan sholeh dalam setiap harinya.

Berharap kepada anak bukanlah hal yang salah, tetapi menjadikan anak sebagai tumpuan harapan jelas sangat salah. Apalagi, jika semata-mata untuk kenyamanan kehidupan di dunia belaka.

Sebab anak pada hakikatnya hanya benar-benar bisa diharapkan manakala kesholihan melekat pada perilakunya dan senantiasa memintakan ampun untuk kedua orangtuanya. Oleh karena itu, yang patut diharapkan para orangtua dari anaknya hanyalah kesholihan dirinya sendiri baru kesholihan putra-putrinya.

Tanpa kesholehan diri sendiri, maka anak pun tak bisa diharapkan, apalagi sebatas harta kekayaan, jabatan dan popularitas. Semua itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan hakiki. Maka sangat keliru jika itu semua yang diharapkan. Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala telah memberikan contoh bagaimana anak Nabi Nuh tidak bisa diharapkan.

Satu-satunya yang bisa diharapkan oleh setiap diri adalah amal sholih yang dilakukannya dengan penuh kesungguhan. Di sinilah kita dapat melihat alasan yang gamblang mengapa para Nabi bersusah payah dalam amal, jihad, dan dakwah. Karena hanya amalan-amalan sholih lagi mulia saja yang benar-benar bisa dijadikan tumpuan harapan yang paling nyata.

Mari kita lihat bagaimana komitmen Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengerjakan amalan-amalan sholih. Dalam setiap hari beliau beristighfar tidak kurang dari 70 kali. Kemudian, setiap malam selalu berupaya bangun tahajjud hingga bengkak kedua tapak kakinya. Tidak cukup di situ, beliau tidak melewati hari kecuali telah bersedekah kepada umatnya.

Sebenarnya itu sudah cukup untuk dijadikan petunjuk penting bagi umat Islam bahwa yang harus diutamakan dalam keseharian hidup kita adalah melakukan banyak amal sholih. Itulah mengapa dalam setiap detik perjalanan waktu, Allah sediakan banyak sekali kesempatan beribadah dan beramal sholih, utamanya setiap usai sholat lima waktu di mana kita disunnahkan untuk dzikir kepada-Nya.

Jadi, kembali pada diri sendiri harapan kebahagiaan itu bisa benar-benar diharapkan. Karena dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan bahwa harta dan anak-anak yang kita miliki hanyalah ujian belaka.

Karena Anak Tetaplah Ingat Allah
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. 8: 28).

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan fitnah di sini adalah apakah seorang Muslim akan tetap istiqomah mengingat Allah atau justru akan semakin sibuk dengan harta dan anak-anaknya dan lalai dari mengingat Allah. Ayat serupa juga bisa kita lihat pada Surah Al-Taghabun : 15).

Maka dari itu, Allah memberikan penjelasan bahwa hanya di sisi Allah semata pahala yang besar. Maksudnya adalah, pahala Allah, pemberian-Nya dan surga-surga-Nya lebih baik bagi kita daripada harta dan anak-anak, sebab kadang-kadang di antara mereka itu menjadi musuh dan kebanyakan mereka tidak memberi arti apa-apa bagi kita, sedang Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur, yang memiliki dunia dan akhirat. Dan, Dia memiliki pahala yang besar pada hari pembalasan.

Dengan demikian, mari kita bangun kesholehan diri dengan meneladani kehidupan Nabi sembari mengajak anak dan istri untuk menata diri menjadi orang yang sholeh. Karena itulah harapan yang sebenar-benarnya bisa kita harapkan, bukan yang lain.

Semoga Allah memberikan kemudahan kita semua untuk menjadi pribadi sholeh demikian pula dengan anak dan istri serta keluarga kita. Amin.||


Imam Nawawi, Pimpinan Redaksi Majalah Mulia | Penulis di www.hidayatullah.com | twitter @abuilmia

Tantangan Mendidik di Era Digital


Oleh : Muhammad Abdurrahman


Teknologi yang semakin maju dan perkembangan dunia digital yang semakin pesat ternyata memberikan tantangan baru bagi para orang tua. Membesarkan anak di era digital ini terbilang berat. Sebagai orang tua, selain harus bisa mengikuti perkembangan teknologi, kita juga perlu memiliki siasat baru dalam mengasuh anak. Sebagai orang tua, kita perlu mengetahui tantangan besar yang harus kita hadapi saat membesarkan anak di era digital yang semakin mengglobal ini.

Anak-anak dan remaja di era digital ini punya kecenderungan lebih terbuka dalam berbagi informasi pribadi di dunia maya. Mereka banyak memiliki teman baru dan di antaranya mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya lewat jejaring sosial. Maka tak heran bila ada di antaranya yang menjadi korban penipuan, pelecehan dan berbagai kejahatan lain yang dilakukan oleh teman “maya”nya. Melalui media sosial mereka juga acapkali mengekspresikan diri dengan mengunggah foto atau video kegiatan mereka.

Selagi itu sesuatu yang positif tentu tak mengapa. Lalu bagaimana bila foto atau video yang diunggah tidak patut? Bagaimana pula jika kicauan atau komentar putra-putri kita di media sosial dipenuhi oleh cacian dan makian? Atau mungkin anak kita yang menjadi korban hujatan, bullying atau korban penipuan yang bersembunyi di balik identitas palsu dengan tampilan foto cantik dan tampan palsu pula?

Belum lagi beredarnya game dan konten-konten negatif bermuatan pornografi dan kekerasan yang kerap beredar di jejaring sosial. Apalagi jika anak-anak sudah memegang gadget sendiri.  Oleh karena itu diperlukan pengawasan orangtua terhadap aktivitas berinternet anak. Orangtua di era digital juga harus waspada dan berperan aktif. Jangan sampai kita terlambat tahu jika anak kita kecanduan game online , menyimpan video dewasa yang tidak layak mereka konsumsi atau dampak buruk dari penyalahgunaan media digital lainnya.

Di era digital ini orangtua dituntut untuk sadar teknologi dan melek media. Jangan asal membelikan gadget untuk anak tanpa memberikan edukasi yang cukup mengenai manfaat dan dampak buruknya. Tahu saat yang tepat pada usia berapa anak membutuhkan gadget. Karena sangat tidak bijak menghadirkan gadget sebagai “pengasuh” bagi balita kita.

Ingatkan putra-putri kita bahwa teknologi dibuat untuk memudahkan manusia, tetapi agamalah yang akan menyelamatkan manusia. Oleh karena itu arahkan mereka agar tetap menjaga etika dan berlaku santun sesuai tuntunan agama ketika berinteraksi melalui media sosial. Tidak mengunduh foto atau video pribadi atau orang lain yang melanggar norma kesusilaan dan agama serta tidak menulis status atau kicauan rasis atau hujatan karena bisa saja terjerat kasus hukum.

Selain mengingatkan dan menasehati, orangtua juga dapat membatasi aktivitas berinternet anak di rumah dengan menyimpan password dan memblokir konten yang berisi pornografi. Tetapi yang paling penting adalah membentengi putra-putri kita dengan nilai-nilai agama sebagai bekal atau tameng dalam menghadapi godaan dan kejahatan yang mengintai ketika mereka berselancar mengakses internet.

Hal inilah yang utama harus dilakukan orangtua, karena kita tidak bisa mendampingi atau memantau anak terus menerus. Dengan demikian di manapun anak mengakses internet diharapkan mereka sudah memiliki pengetahuan bagaimana berinternet dengan sehat dan aman. Begitu pula ketika menggunakan akun-akun digital yang dimiliki, mereka sudah tahu rambu-rambu atau batasan-batasannya.

Dan yang terpenting adalah nasehat yang kita sampaikan pada saat yang tepat dan menggunakan komunikasi dan teladan yang baik. Jangan sampai anak justru meniru kita orangtuanya yang anteng bergadget ria.

Untuk kita orangtua yang masih gaptek, bukan berarti harus memiliki akun-akun digital dan ikut-ikutan bersosial media. Tetapi harus peduli dan mau belajar atau mengenal apa itu teknologi beserta manfaat dan dampaknya. Sehingga kita tetap dapat mengedukasi putra-putri kita atau memberi panduan penggunaan media digital yang bertanggungjawab dan produktif.

Muhammad Abdurrahman, Pemerhati dunia anak.

Admin @emthorif
Foto https://nelsidotme.files.wordpress.com/2014/12/smartphone-pelajar-indonesia.jpg

Kajian Utama : Pentingnya Memahami Soal dalam Ujian


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Ulangan dalam bentuk tes adalah salah satu cara pengambilan nilai dari proses dan hasil belajar anak. Nilai ulangan memberi gambaran kualitas belajar anak. Ulangan yang dilakukan sekolah adalah Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, Ulangan Kenaikan Kelas, dan Ujian Nasional.

Guru, anak, maupun orangtua pasti mengendaki semua ulangan tadi nilainya harus. Guru dan murid terlibat langsung dalam perolehan nilai ulangan. Agar anak memperoleh nilai yang baik Guru berusaha mengajar dengan baik dan menyusun soal yang baik. Soal yang benar-benar mampu mengambil gambaran kemampuan anak yang sebenarnya. Untuk memperoleh nilai yang baik anak harus berusaha belajar dengan baik dan mengulang pelajarannya kembali di rumah.
Orangtua, meskipun tidak terlibat langsung dalam perolehan nilai ulangan tetapi pasti punya keinginan yang kuat agar anaknya memperoleh nilai yang terbaik. Maka orangtua harus mengambil peran.

Nilai ulangan tidak ditentukan sehari dua hari menjelang ulangan. Nilai ulangan tidak hanya menggambarkan hasil belajar, melaiknkan juga proses belajar. Maka untuk mendapatkan nilai yang baik, anak harus mengikuti proses belajar dengan baik. Artinya, selama belajar anak harus dapat mendengar dengan baik, melihat dengan baik, membaca dengan baik, menulis dengan baik dan melakukan dengan baik.

Peran apa yang bisa diambil orangtua? Memastikan. Memastikan anak belajar dengan baik ketika di sekolah. Menanyakan, apa yang tadi dipelajari bersama guru. Buku mana yang menjadi acuan atau sumber belajar. Kegiatan apa yang tadi dilakukan. Juga dengan mengamati buku catatan anak.

Umumnya anak paling malas kalau harus mengulang pelajaran yang tadi diajarkan. Apalagi kalau dalam kegiatan belajar tadi tidak ada kegairahan. Padahal mengulang pelajaran di rumah  adalah bagian yang amat penting dalam proses belajar. Mengulang pelajaran di rumah berarti anak melakukan penataan, konfirmasi, dan mengikat apa yang telah didapat. Sehingga mampu memasukkan hasil belajar dalam memori jangka panjang.

Peran inilah yang sebenarnya dilakukan oleh orangtua tadi. Tetapi yang harus diingat oleh orangtua adalah menjaga suasana hati anak. Tidak mudah mengambil peran ini. Karena anak kebanyakan tidak seua melakukan itu. Pahami betul kondisi anak dan menanyakan hal-hal di atas dengan bijak. Tidak seperti menginterograsi. Setiap hari selalu punya cara memberi motivasi. Tidak membosankan dan tidak menambah beban.

Amati dan teliti buku catatan anak. Itulah gambaran memori yang ada di otak anak. Jika catatannya rapi dan terstruktur, Anda bisa lega. Jika catatannya morat-marit, orangtua harus membantu menata di dalam memorinya.

Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua adalah ketika anak menghadapi pertanyaan atau soal ulangan. Tidak sedikit anak yang hasil ulangannya di bawah kemampuannya karena ia tidak memahami soal. Beberapa penyebab yang mungkin terjadi antara lain;

Pertama, anak memang mengalami kesulitan dalam memahami kalimat. Baik ketika dibacakan (dikte) maupun ketika membacanya. Terutama jika pertanyaannya menggunakan kalimat majemuk. Tidak sedikit anak yang kesulitan memahami soal cerita. Ditambah lagi dalam suasana ulangan yang menegangkan.

Kedua, anak kurang jeli dalam menebak arah jawaban yang dimaksud. Anak sudah memahami kalimat pertanyaannya tetapi kurang tepat dalam menebak jawaban yang diminta. Ini akan menghambat kecepatan dalam mengerjakan soal.

Ketiga, bentuk soal atau pertanyaan yang sulit dipahami anak. Mungkin bentuknya mungkin juga susunan kalimatnya.

Maka sebaiknya orangtua menambah porsi pendampingannya ketika anak menghadapi masa ulangan. Yaitu dengan memperbanyak latihan memecahkan atau menjawab pertanyaan. Gunakan contoh-contoh pertanyaan yang biasanya digunakan oleh guru. Dengan banyak latihan menjawab pertanyaan akan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam memahami pertanyaan.

*) Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman DIY

Admin @emthorif
Foto : http://www.skanaa.com/assets/images/news/20150516/555719d5a81bb7107b8b4568.jpg

Kajian Utama : “Nak, Besok Ujian, Lho!”


Oleh : Galih Setiawan

Pernahkah kita berkata pada anak, “Nak, besok ujian lho Ayo belajar, kalau nggak belajar, nanti nggak bisa!” Mungkin maksud kita baik, untuk mengingatkan anak agar mempersiapkan diri menghadapi ujian. Namun, tahukah Anda bahwa kata-kata seperti ini justru berpotensi melunturkan kepercayaan diri anak?

Kata-kata “akan gagal” dapat membuat anak tidak percaya diri sehingga membuat anak cenderung takut menghadapi ujian. Karena itu, orangtua perlu memberi kata-kata yang membangun dan mendukung, jangan menggunakan kata yang memojokkan. Anak perlu diberi kepercayaan diri yang baik, apalagi ia sebelumnya sudah belajar. Tugas orangtua adalah melegakan anak dari tekanan serta tidak baik memforsir belajar anak, terutama hari-hari menjelang ujian. Tetap berikan waktu khusus untuk bermain. Berdoa bersama pun turut membangun kemampuan rohaninya.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam membersamai anak menghadapi ujian. Pertama, kenali modalitas belajar anak. Bila anak kita termasuk tipe auditori, maka kita bisa memberikan penjelasan secara lisan disertai dengan contoh-contoh yang konkrit. Diskusikan topik-topik yang akan diujikan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan secara lisan. Bila anak kita termasuk tipe visual, maka kita bisa membantunya membuat ringkasan dari materi yg akan diujikan disertai gambar dan pemberian warna pada “keywords” yang harus diingat oleh anak.

Kedua, mengenalkan berbagai instruksi yang harus diperhatikan anak saat mengerjakan ujian. Misalnya, menuliskan nama, tanggal dan kelas anak, bagaimana cara menjawab soal, apakah dengan dilingkari, disilang, dan sebagainya. Untuk latihannya, orangtua bisa membuat soal-soal yang sangat sederhana dan mudah dipahami anak. Karena tujuan utama kita adalah mengenalkan instruksi. Nanti, jika anak sudah memahami instruksi-instruksi tersebut, barulah kita bisa latihkan dengan menggunakan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang akan diujikan.

Ketiga, mengenalkan sikap yang harus dilakukan anak saat ujian. Misalnya datang tepat waktu, mengerjakan semua soal yang diberikan, mengerjakan sendiri, tidak tergesa-gesa walau sudah banyak teman yang selesai, dan lain-lain. Katakan juga pada anak supaya tidak ragu untuk bertanya pada guru jika ada soal yang sulit dipahami.  Keempat, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menuntut anak untuk mendapat nilai sempurna. Kelima, berlatih soal, terutama untuk pelajaran matematika. Dengan demikian diharapkan anak akan familiar dengan berbagai bentuk soal yang mungkin akan diujikan.

Keenam, untuk ujian tahfidz Al Qur’an, lakukan muraja’ah (mengulang dan menghafal ayat per ayat) setiap hari. Misalnya setiap selesai shalat maghrib menghafal 1 ayat saja. Karena itu, baiknya jauh-jauh hari kita mengetahui surat-surat apa saja yang harus dihafal oleh anak sehingga pada saat ujian sehingga anak tidak langsung dihadapkan untuk menghafal banyak ayat. Untuk target surat/ayat yang harus dihafalkan, bisa kita tanyakan langsung pada guru tahfidz atau guru kelasnya. Ketujuh, mengajarkan anak untuk berdoa sebelum belajar dan sebelum mengerjakan soal. Berikan penjelasan kepada anak bahwa dengan mengingat Allah, maka kita akan menjadi lebih tenang dan berharap agar ilmu yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat.

Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah persiapan nonteknis, misalnya memastikan alat tulis anak lengkap untuk ujian. Pastikan pensil, pulpen, penghapus, alas tulis, dan penyerut pensil siap di kotak pensilnya. Jangan lupa pula dengan kartu ujian anak.

Pastikan pula anak tidak melewatkan jadwal sarapannya setiap pagi. Berikan makanan yang sehat dan bergizi agar anak tetap fit. Hindari menu makanan yang pedas sebab dikhawatirkan dapat membuat anak sakit perut sehingga mengganggu konsentrasi anak saat ujian. Berikan sedikit nasi, namun perbanyak sayuran, buah-buahan, ikan atau daging, telur serta segelas susu.

Pastikan anak memiliki waktu istirahat yang cukup karena akan membantu anak untuk berkonsentrasi saat mengerjakan ujian. Kurang tidur juga dapat berpengaruh pada kesehatannya mengakibatkan anak tidak maksimal dalam belajar dan saat mengerjakan soal ujian. Karena itu, hindari anak tidur terlalu larut.

*) Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma


Admin @emthorif
Foto Anak TK Tawakal, Plemburan Sleman

Kajian Utama : Konsentrasi untuk Menghadapi Hari ini


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Setiap hari ada berbagai tugas hidup yang harus dihadapi setiap orang. Keberhasilannya menjalankan tugas itu dengan usaha terbaiknya akan menjadi batu bata penyusun kebahagiaannya. Harga dirinya tinggi manakala ia bersikap dan bertindak benar dalam menyelesaikan berbagai tugasnya. Kehormatannya akan jatuh ketika ia lalai dan teledor dalam bertindak.

Hendaklah setiap orang berusaha menjadi manusia terbaik dalam menyongsong harinya yang sedang ia hadapi. Berupaya mampu mengkonsentrasikan keseriusan dan kesungguhannya untuk memperbaiki hari yang sedang dihadapinya itu. Pemusatan hati untuk berbuat demikian akan menuntunnya untuk mengoptimalkan amalannya. Hal ini membawa ia menuju hasil terbaik yang bisa diraih. Juga menjadikan hatinya terhibur dari kegundahan dan kesedihan.

Di antara sarana yang dapat menangkis kesedihan dan keguncangan hati adalah memberikan perhatian penuh kepada pekerjaan hari ini yang sedang ada di hadapan. Seraya menghentikan pikiran dari menerawang jauh ke masa mendatang yang menimbulkan kegundahan, takut dan khawatir. Juga berhenti dari kesedihan terhadap perkara-perkara yang telah lampau yang tidak mungkin diputar ulang ataupun diralat.

Seiring memohon dan mengharap pertolongan dan karunia Allah hendaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang menjadi sebab terwujudnya harapannya itu dan menghindari apa yang menjadi sebab terhalangnya. Karena, doa itu bergandeng dengan perbuatan.

Amat berharga petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, beringinlah dengan kuat  untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: Andaikan aku berbuat demikian tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan (ini). Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. Karena, kata ‘andai’ akan bukakan pintu perbuatan syetan‌.

Perhatikanlah bimbingan berharga ini dan beruntunglah. Berupaya keras untuk mencapai hal-hal yang bermanfaat dalam berbagai kondisi, seiring memohon pertolongan kepada Allah serta tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah, yaitu sikap malas yang membahayakan. Juga bersikap benar dalam pasrah kepada Allah dalam hal-hal yang telah lampau dan telah terjadi, menata hati untuk ridlo terhadap qadha dan taqdir Allah.

Apabila seseorang telah menetapkan hati untuk mengerjakan suatu amalannya maka hendaklah dia menyempurnakan dengan tawakalnya. Kemampuan menyandarkan hati kepada kuasa Allah. Jika hati seseorang bersandar dan bertawakal kepada Allah, tidak takluk kepada bayang-bayang buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan buruk, sedang ia percaya penuh kepada Allah dan mendambakan karuniaNya, maka dengan itu segala kegelisahan dan kegundahan akan tertangkis, sejumlah penyakit luar maupun dalam akan hilang darinya, dan akan tercipta di hatinya kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang tak mungkin terungkapkan olah kata.

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya,
Orang yang bertawakal akan tenang dan beruntung. Mereka mampu mengatakan tatkala bahaya mengancam, “Allah cukup menjadi pelindung kita dan sebaik-baiknya yang dijadikan tempat bertawakal.” Kemudian mereka kembali dengan mendapatkan kenikmatan dan keutamaan dari Allah, mereka tidak terkena sesuatu halanganpun dan mereka mengikuti keridhaan Allah dan Allah itu memiliki keutamaan yang agung.

Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma menyampaikan ucapan doa yang menguatkan jiwa menentramkan hati, yaitu hasbunallah wa ni'mal wakil, cukuplah Allah itu sebagai penolong kita dan Dia adalah sebaik-baiknya yang diserahi. Doa itu pernah diucapkan oleh Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api, juga pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad  ketika orang-orang sama berkata: "Sesungguhnya orang-orang banyak telah berkumpul -bersatu padu- untuk memerangi engkau, maka takutilah mereka itu," Akan tetapi ucapan sedemikian itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang beriman melainkan keimanan belaka dan mereka berkata: Hasbunallah wa ni'mal wakil. Hati mereka tidak tergoncang.

Andaikata seseorang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sesungguhnya Dia akan memberikan rezeki padanya sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Pagi-pagi burung-burung berperut kosong dan sore-sore kembali dengan perut penuh berisi. Hatinya senang dan kebutuhan tercukupi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  "Barangsiapa yang mengucapkan, yakni ketika keluar dari rumahnya: Bismillah, tawakkaltu 'alallah wala haula wala quwwata illabillah (-artinya: Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakal kepada Allah dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah), maka akan dikatakan kepada orang itu: Engkau telah diberi petunjuk, telah pula dicukupi keperluanmu, dan telah diberi penjagaan. Setan pun menyingkirlah dari orang tersebut."

*) Ustadz R. Bagus Priyosembodo, Guru Ngaji | Penulis Kajian Utama Majalah Fahma

Admin @emthorif
Foto : http://jabar.pojoksatu.id/wp-content/uploads/2015/05/un-sd.jpg

Salam Redaksi : Ujian Sekolah, Dampingi Anak Layaknya Sahabat


Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Mendampingi anak saat hendak menghadapi ujian sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika kita mendampinginya saat belajar sehari-hari. Hal yang penting bagi anak-anak kita, terutama bagi anak yang baru pertama kali menghadapi ujian adalah pada usaha kita untuk membiasakan anak dengan berbagai instruksi yang biasanya ada pada soal-soal ujian. Selain itu, biasakan anak pada sikap yang harus ditampilkan anak saat ujian berlangsung.

Orangtua adalah sahabat yang terbaik bagi anak karena orangtualah yang paling tulus menginginkan sesuatu yang terbaik bagi anaknya. Sebagai sahabat terbaik seharusnya  orangtua selalu mengarahkan anak pada cara-cara yang baik dan mulia dalam menghadapi ujian, dan menghindari cara-cara hina atau tercela. Sahabat yang baik selalu memberi pengaruh baik, bukan sebaliknya. Dengan pendekatan layaknya sahabat, orangtua harus menanamkan pada anak tentang nilai-nilai kemuliaan yang harus dijaga dalam berjuang menuju sukses, khususnya menghadapi ujian.

Anak yang merasa didampingi orangtua sebagai sahabat akan membuat mentalnya lebih kuat menghadapi ujian. Anak akan merasakan dukungan yang maksimal, tidak merasa berat menanggung beban, sehingga bisa berpikir dengan segar dan jernih.

Menyongsong ujian semester yang akan berlangsung tidak lama lagi, Majalah Fahma edisi November akan membahas tema membersamai anak dalam menghadapi ujian sekolah. 

Selamat menyimak.

Simak Tulisan PERTAMA
Simak Tulisan KEDUA
Simak Tulisan KETIGA

Wasalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh


Redaksi

Admin @emthorif

Anak Sukses Berawal dari Bangun Pagi




Oleh : Atiek Setyowati. S. Si

Suatu ketika salah satu wali siswa bertemu saya dan berkata: “Bu, maaf anak saya terlambat lagi. Bangunnya susah sekali. Bagaimana ya biar anak saya bisa bangun pagi. Terkadang kalau pagi saya harus marah-marah dulu baru anaknya bangun. Akhirnya tidak shalat Subuh juga.

Cerita di atas mungkin pernah dialami oleh sebagian orangtua. Setiap pagi disibukkan dengan banyak hal, apalagi jika ayah dan ibu juga bekerja. Si orangtua pun kadang tidak sabar dalam membangunkan anaknya. Banyak orangtua mengalami kesulitan untuk membiasakan anak-anaknya untuk bangun pagi, apalagi shalat Subuh. Orangtua selalu beranggapan bahwa anaknya masih lelah kasihan kalau dibangunkan.

Perlu diketahui, anak yang sukses itu bermula dari kebiasaannya untuk bangun pagi. Jika kita sebagai orangtua belum bisa mengajarkan anaknya bangun pagi sejak dini, maka ketika besar jangan salahkan mereka ketika bangun masih saja kesiangan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang dari ikatan bila ia tidur 3 ikatan. Lalu ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata:”makam masih panjang maka tidurlah”. Bila ia terjaga kemudian ia menyebut nama Allah, maka terurailah satu ikatan, bila ia berwudhu, maka terurailah satu ikatan dan bila ia menunaikan sholat maka terurailah satu ikatan. Sehingga ia pun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik, bila tidak maka ia akan berjiwa buruk dan malas (Muttafaqun ‘Alaih). Rasulullah saja sudah mengajarkan kita untuk bangun pagi, kita sebagai orangtua yang ingin masa depan anaknya baikpun harus mengajarkan mereka untuk bangun pagi.

Agar anak bisa bangun pagi, maka orangtua harus bisa mengkondisikan anak untuk memulai dengan malam yang berkualitas. Sehabis sholat isya usahakan tidak ada aktivitas fisik. Gunakan untuk aktifitas yang menyenangkan seperti membaca cerita, mengajak ngobrol anak terkait sekolahnya ataupun berbagi cerita aktiivtasnya seharian tadi.

Sebelum tidur buatlah kesepakatan/peraturan dengan anak. Kesepakatan untuk bangun jam berapa, minta dibangunkan seperti apa dan bagaimana konsekuensi jika tidak dilaksanakan. Terkadang sering kita jumpai orangtua yang membangunkan anaknya dengan mengebrak-gebrak pintu kamar, dengan suara keras atau sambil marah-marah. Padahal anak masih tidur, tiba-tiba anak terbangun kaget sehingga membuat anak kecewa, rewel atau ngambek. Untuk itu awali dengan membuat kesepakatan.

Tutuplah aktivitas dengan mendengarkan tilawah dan ajarilah anak untuk berdoa sebelum tidur. Ketika sudah pagi, bangunkan anak sesuai dengan kesepakatan semalam. Bangunkan dengan cara yang ia inginkan. Jika anak tidak beranjak bangun, ingatkan dengan kepakatan semalam dan konsekuensinya.

Bangunkan anak dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut. Seperti: “Kakak sayang, ayo bangun. Sudah pagi, kita sholat Subuh dulu yuk biar Allah tambah cinta sama kakak”.

Ketika anak mau bangun pagi berilah apresiasi seperti ciuman, makanan yang ia sukai. Kita juga bisa memberikan minuman yang hangat seperti susu agar badan lebih hangat dan segar.

Jika anak sudah terjaga ajaklah untuk beribadah seperti shalat Subuh dan mengaji. Jalankan pola tersebut minimal 2 pekan agar menjadi kebiasaan anak. Karena jika sudah terbiasa lama-lama tubuh si anak akan menyesuaikan.

Tidak ada kata terlambat untuk membuat anak mencapai masa depannya. Mari kita ciptakan bangun pagi anak-anak kita dengan menyenangkan dan penuh kasih sayang.||

Atiek Setyowati. S. Si, Guru SDIT Salsabila 3 Banguntapan, Bantul
Admin @emthorif
Foto http://cdn-2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/anak-tidur-ilustrasi_20150608_215430.jpg