» » Harapan yang Patut Diharapkan

Harapan yang Patut Diharapkan

Penulis By on Sunday, November 22, 2015 | No comments



Oleh : Imam Nawawi

Ketika seorang anak belajar ke sekolah, orangtua selalu memotivasi anak-anaknya untuk belajar dengan rajin, disiplin dan tak kenal lelah agar kelak bisa lulus dengan nilai baik dan dapat pekerjaan yang bagus. Tentu nasehat ini tidak keliru.

Tetapi fatal jika kemudian kesuksesan anak dalam hal pekerjaan dan harta menjadi tumpuan harapan para orangtua tanpa peduli bagaimana kesholihan putra-putrinya. Sementara dirinya sendiri abai dari melakukan amalan sholeh dalam setiap harinya.

Berharap kepada anak bukanlah hal yang salah, tetapi menjadikan anak sebagai tumpuan harapan jelas sangat salah. Apalagi, jika semata-mata untuk kenyamanan kehidupan di dunia belaka.

Sebab anak pada hakikatnya hanya benar-benar bisa diharapkan manakala kesholihan melekat pada perilakunya dan senantiasa memintakan ampun untuk kedua orangtuanya. Oleh karena itu, yang patut diharapkan para orangtua dari anaknya hanyalah kesholihan dirinya sendiri baru kesholihan putra-putrinya.

Tanpa kesholehan diri sendiri, maka anak pun tak bisa diharapkan, apalagi sebatas harta kekayaan, jabatan dan popularitas. Semua itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan hakiki. Maka sangat keliru jika itu semua yang diharapkan. Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala telah memberikan contoh bagaimana anak Nabi Nuh tidak bisa diharapkan.

Satu-satunya yang bisa diharapkan oleh setiap diri adalah amal sholih yang dilakukannya dengan penuh kesungguhan. Di sinilah kita dapat melihat alasan yang gamblang mengapa para Nabi bersusah payah dalam amal, jihad, dan dakwah. Karena hanya amalan-amalan sholih lagi mulia saja yang benar-benar bisa dijadikan tumpuan harapan yang paling nyata.

Mari kita lihat bagaimana komitmen Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengerjakan amalan-amalan sholih. Dalam setiap hari beliau beristighfar tidak kurang dari 70 kali. Kemudian, setiap malam selalu berupaya bangun tahajjud hingga bengkak kedua tapak kakinya. Tidak cukup di situ, beliau tidak melewati hari kecuali telah bersedekah kepada umatnya.

Sebenarnya itu sudah cukup untuk dijadikan petunjuk penting bagi umat Islam bahwa yang harus diutamakan dalam keseharian hidup kita adalah melakukan banyak amal sholih. Itulah mengapa dalam setiap detik perjalanan waktu, Allah sediakan banyak sekali kesempatan beribadah dan beramal sholih, utamanya setiap usai sholat lima waktu di mana kita disunnahkan untuk dzikir kepada-Nya.

Jadi, kembali pada diri sendiri harapan kebahagiaan itu bisa benar-benar diharapkan. Karena dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan bahwa harta dan anak-anak yang kita miliki hanyalah ujian belaka.

Karena Anak Tetaplah Ingat Allah
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. 8: 28).

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan fitnah di sini adalah apakah seorang Muslim akan tetap istiqomah mengingat Allah atau justru akan semakin sibuk dengan harta dan anak-anaknya dan lalai dari mengingat Allah. Ayat serupa juga bisa kita lihat pada Surah Al-Taghabun : 15).

Maka dari itu, Allah memberikan penjelasan bahwa hanya di sisi Allah semata pahala yang besar. Maksudnya adalah, pahala Allah, pemberian-Nya dan surga-surga-Nya lebih baik bagi kita daripada harta dan anak-anak, sebab kadang-kadang di antara mereka itu menjadi musuh dan kebanyakan mereka tidak memberi arti apa-apa bagi kita, sedang Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur, yang memiliki dunia dan akhirat. Dan, Dia memiliki pahala yang besar pada hari pembalasan.

Dengan demikian, mari kita bangun kesholehan diri dengan meneladani kehidupan Nabi sembari mengajak anak dan istri untuk menata diri menjadi orang yang sholeh. Karena itulah harapan yang sebenar-benarnya bisa kita harapkan, bukan yang lain.

Semoga Allah memberikan kemudahan kita semua untuk menjadi pribadi sholeh demikian pula dengan anak dan istri serta keluarga kita. Amin.||


Imam Nawawi, Pimpinan Redaksi Majalah Mulia | Penulis di www.hidayatullah.com | twitter @abuilmia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya