» » » Kolom Prof. In : Decak-decak Kagum

Kolom Prof. In : Decak-decak Kagum

Penulis By on Tuesday, November 10, 2015 | No comments




Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Saat kami sedang menunggu dimulainya acara wisuda lulusan program profesi bagi anak kami yang bungsu, istri saya menyapa anak perempuan yang duduk persis di depan kami. “Mbaknya ini, adiknya Putri ya?” (bukan nama sebenarnya).

Anak tadi menoleh ke belakang, mengangguk dan tersenyum. “Betul Ibu, saya adiknya”, lalu mereka berdua bercakap-cakap sebentar. Setelah istri duduk kembali di samping saya, dia berbisik “Papa ingat tidak, dulu saya pernah cerita tentang salah satu mahasiswi yang menjadi yatim piatu dalam waktu yang relatif singkat?” Kebetulan saya memang ingat cerita itu, karena peristiwanya sangat menyentuh hati.

Saat anak itu menginjak masuk ke semester tujuh, ibunya yang relatif masih muda telah meninggal dunia karena sakit. Dan yang lebih menyedihkan lagi, beberapa bulan kemudian disusul oleh ayahnya, yang meninggal dunia, juga karena sakit. Padahal saat itu, anak tersebut sedang merencanakan untuk mengajukan proposal penelitian untuk skripsi. Selain dalam pelaksanaannya nanti membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga dukungan moral. Dia juga harus menyediakan biaya kuliah dan hidup di Yogya, kebetulan dia berasal dari luar kota.

Agar dia tetap bisa melanjutkan kuliah dan juga tetap bisa merasakan kasih sayang pengganti orangtuanya, istri minta izin kepada saya dan anak-anak kami, untuk menawari dia tinggal bersama kami di rumah. Saat pertama kali menerima ajakan tersebut, dia belum bisa memberikan jawaban dan minta waktu beberapa hari untuk bisa memutuskan. Namun, setelah dia menyampaikan keputusannya, ternyata dia berketetapan untuk sementara tetap tinggal di tempat kosnya saja. Dia akan berusaha sendiri terlebih dahulu untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya di Yogya. Dia menceritakan juga bahwa salah satu dari adik orangtuanya telah menyampaikan kesediaannya untuk membantu membayar biaya SPP kuliahnya.

Saya dan istri sangat menghormati keputusan tersebut. Kami tidak bisa memaksa. Menurut pandangan istri, anak tersebut memang mempunyai kemandirian yang kuat, tidak mudah menyerah. Meskipun dia dalam kesulitan yang besar, namun tetap tidak ingin merepotkan orang lain. Dia akan berusaha semaksimal mungkin terlebih dahulu.    

Untuk memperingan pembiayaan penelitian skripsinya, istri menawari dia untuk ikut membantu mengerjakan salah satu penelitian yang saat itu sedang ditangani. Untuk tawaran yang ini, dia langsung menerima. Dia senang sekali karena kesempatan seperti ini juga diinginkan oleh banyak mahasiswa yang lain. Bahkan beberapa mahasiswa bersedia untuk antri. Karena, apa yang dikerjakan nanti, sebagian hasilnya bisa dipakai untuk skripsi. Praktis, mahasiswa tidak mengeluarkan biaya.

Ternyata untuk membiayai kehidupan dia di Yogya dan juga satu-satunya saudara kandung yang kuliah di kota asalnya, dia memberikan les privat kepada beberapa anak sekolah menengah. Kami membayangkan, bagaimana repotnya membagi waktu. Sebab  saat itu dia juga masih mempunyai kewajiban menempuh beberapa mata kuliah, melakukan penelitian skripsi di laboratorium, dan juga harus datang ke rumah-rumah anak didik les privatnya. Ternyata tidak hanya itu yang dilakukan. Dia juga menjadi asisten praktikum di fakultas. Tidak hanya satu praktikum, namun beberapa.

Saya dan istri berdecak kagum ketika mendengar apa yang telah dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pasti dia termasuk anak yang disiplin, dan sekaligus pandai membagi waktu, karena dia telah berhasil dengan baik mengerjakan berbagai kewajiban secara paralel, yang dibuktikan dengan lulus tepat waktu. Decak kagum kedua adalah ketika kami mendengar apa yang dikatakan Bapak Dekan saat memberikan sambutan dalam acara wisuda. Beliau menyebutkan nama-nama wisudawan yang lulus dengan predikat cumlaude, salah satunya adalah dia.

Saya dan istri sependapat, bahwa dengan bekal pengalaman hidup seperti itu, pasti kelak dia akan sukses meniti karir selanjutnya. Pasti nantinya akan ada decak-decak kagum berikutnya. Dan ini terbukti. Menjelang tulisan ini selesai, saya diberitahu oleh istri bahwa lamaran beasiswa anak itu untuk studi lanjut ke luar negeri telah diterima, Subhanallah.

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Pimpinan Umum Majalah Fahma
Admin @emthorif 
Foto : http://baak.unej.ac.id/wp-content/uploads/2015/03/wisuda_baak.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya