» » Kajian Utama : Saatnya Wisata Edukatif

Kajian Utama : Saatnya Wisata Edukatif

Penulis By on Wednesday, December 2, 2015 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Libur sekolah hampir tiba. Saatnya orangtua mendapat jatah mengelola belajar anak.  Karena hanya satu-dua kali dalam setahun, maka perlu disiapkan dengan baik dan dengan pertimbangan yang masak. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah: bersifat rekreatif, bersifat inspiratif, tambahan pengetahuan atau keterampilan, aman dan terjangkau.

Obyek yang dituju harus menarik bagi anak. Ada sesuatu yang menarik sehingga anak bersemangat. Bermain adalah dunianya, jalan-jalan adalah kesukaannya. Sebaiknya dua hal ini masuk dalam kemasan acaranya. Terutama jika obyek belajarnya tidak menarik bagi anak-anak, maka dua hal di atas bisa menutupinya.

Misalnya orangtua ingin mengajak anaknya mengunjungi sebuah museum. Orangtua bersemangat karena akan banyak yang bisa dipelajari oleh anak. Akan banyak nilai-nilai yang bisa diserap dari museum. Tetapi bagi anak, museum adalah tempat yang tidak disukai. Bangunan kuno, benda-benda masa lalu, suasana yang menyeramkan. Tidak ada yang menarik bagi anak. Kecuali museum yang bisa membawa anak berfantasi, misalnya museum pesawat terbang, museum purbakala, museum dirgantara dan sebagainya. 

Hal lain yang membuat anak tertarik adalah ada sesuatu yang dibuat atau dihasilkan dan bisa dibawa pulang. Misalnya anak diajak ke suatu sentra industri kecil. Ia bisa mencoba membuat sesuatu dan hasilnya dibawa pulang. Misalnya di rumah batik, anak bisa mencoba membatik dan hasilnya dibawa pulang. Di sentra gerabah, anak bisa membuat gerabah yang sederhana dan hasilnya dibawa pulang. Atau di agro industri, misalnya anak mengamati langsung peternakan sapi, pembuatan kompos dan gas dari kotoran sapi, pasteurisasi susu sapi, pembuatan bakso sapi. Selesai pengamatan anak dapat membawa pulang susu segar dan bakso.

Tidak perlu obyek yang kompleks dan mahal. Yang simpel dan sederhana saja tetapi bisa dinikmati oleh anak. Home industry bisa menjadi pilihan obek yang menarik asal orangtua bisa mengemasnya. Justru obyek yang demikian akan memberi banyak inspirasi bagi anak karena anak bisa berperan langsung.

Hal penting yang perlu dipikirkan oleh badan atau lembaga baik milik pemerintah maupun swasta hendaknya memberi ruang khusus bagi anak-anak sebagai sumber belajar. Baik tentang industri atau suatu profesi. Ini bisa dimasukkan sebagai bagian dari bentuk pengabdian dari badan atau lembaga tersebut kepada masyarakat.

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) merupakan salah satu instansi yang siap untuk dikunjungi anak-anak sebagai sarana edukasi. Damkar sudah menyiapkan miniatur pakaian dan peralatan yang bisa digunakan oleh anak. Atau area simulasi ketika petugas melakukan aksi. Dinas Pertanian dan Perkebunan pun demikian. Mereka telah menyiapkan area khusus yang bisa dimanfaatkan anak untuk belajar. Anak bisa mencoba aneka macam perbanyakan tanaman.

Dari sisi lain, anak juga harus disiapkan. Dia mendatangi sumber belajar memang mau belajar. Mau mengetahui sesuatu, mau bisa melakukan sesuatu. Bukan sekedar rekreasi. Maksudnya jangan sampai anak datang hanya iseng, berperilaku iseng, sehingga akan merugikan lembaga yang sudah menyiapkan sumber belajar.

Sisi keamanan anak harus menjadi perhatian. Bukan hanya keamanan jasmani tetapi juga keamanan rohani. Keamanan jasmani tampak nyata sehingga mudah diperhatikan. Misalnya keamanan saat berkendaraan, keamanan ketika menggunakan suatu alat, dan sebagainya.

Keamanan rohani harus diperhatikan pula. Terutama keamanan akidah. Apalagi jika berada di tempat umum. Melalui berbagai cara, anak-anak muslim diincar untuk dilemahkan dan dijauhkan dari akidahnya seperti melalui kesukaan makanan, pakaian dan hiburan (mainan).

Terjangkau juga menjadi bahan pertimbangan. Jaraknya terjangkau. Tidak menghabiskan waktu untuk perjalanan. Tidak melelahkan badan sebelum sampai tujuan. Biayanya terjangkau. Perhitungkan seluruh biaya yang diperlukan dan tebal kantong yang disiapkan. Materinya terjangkau. Anak kita kelas berapa? Dan obyek belajarnya setingkat apa? Sesuaikah?

Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al Kautsar Sleman Yogyakarta


Admin @emthorif
Foto http://bpbd.slemankab.go.id/wp-content/uploads/2013/09/petgs.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya