Menjadikan Semua Murid Berprestasi


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Prestasi adalah hasil yang diraih atas usaha yang telah dilakukan. Berprestasi bermakna meraih hasil yang baik dari usaha atau kerja yang telah dilakukannya. Mengupayakan semua murid berprestasi berarti mengupayakan semua murid berusaha dengan baik. Belajar dengan baik. Penekanannya pada usaha atau belajar bukan hasil. Jika dikembangkan dalam sistem sekolah, budaya prestasi akan melahirkan budaya kerja (budaya belajar), bukan budaya hasil.

Bukan hanya sisi akademis. Terlalu sempit. Akademis hanya menekankan pada ranah kognitif. Harus diperluas karena potensi murid, apalagi di tingkat dasar amat luas, ranah afektif dan psikomotor sangat penting untuk dikembangkan.

Sebuah sekolah telah mengembangkan budaya ini. Langkah-langkah yang ditempuh adalah; Pertama, pimpinan sekolah dalam tim merumuskan bidang yang menjadi obyek pengembangan budaya. Baik bidang akademis maupun non akademis. Bidang akademis meliputi semua mata pelajaran.

Bidang non akademis yang menjadi obyek antara lain; tertib wudhu,  tertib shalat, tepat waktu, suka menolong, bekerjasama, peduli, menjaga lisan, menghargai, mampu memimpin dan dipimpin, menjaga kebersihan, ramah, kreatif, menjaga barang sendiri dan teman, aktif dalam diskusi,  teguh dan percaya diri, adab makan, adab di masjid, dan sebagainya.

Kedua, guru dalam tim yang dipimpin oleh tiap guru kelas membuat kriteria penilaian untuk tiap-tiap bidang. Dengan indikator yang mudah diamati secara sekilas sehingga tiap bidang mempunyai kriteria yang jelas. Yang harus diperhatikan, indikator pengamatan harus menekankan pada usaha, spontan, bukan hasil.

Untuk bidang akademis, kriterianya lebih mudah. Yaitu dari hasil ulangan masing-masing mata pelajaran. Tapi ingat, bukan hanya berdasarkan nilai yang terbaik melainkan juga memperhitungkan peningkatan nilai yang diperoleh.

Ketiga, menyusun jadwal mingguan atau bulanan. Keduanya bisa dilakukan tergantung kondisi sekolah. Jadwal ini dirahasiakan dari murid sehingga murid tidak tahu bidang apa yang akan dinilai di kelasnya pada minggu/bulan ini. Bagi guru, jadwal ini akan mempermudah dalam pengamatan. Misalnya minggu/bulan ini guru bisa fokus mengamati bidang tertentu. Misalnya kelas 2a penilaian tentang kerjasama. Guru bisa fokus mengamati tetapi murid tidak tahu apa yang sedang diamati dan dinilai oleh guru.

Kelemahannya adalah; bila suatu hari guru menjumpai anak melakukan sesuatu yang luar biasa dan pantas diapresiasi, tetapi yang ia lakukan tidak sesuai dengan bidang penilaian minggu/bulan ini. Akibatnya, hal ini menjadi prestasi yang terlewatkan. Karena itu guru harus bijak. Prestasi itu dicatat untuk dikeluarkan pada saat sesuai jadwalnya.

Keempat, hasil pengamatan dan pinilaian diumumkan dalam upacara. Hal ini dilakukan untuk memberi kebanggaan dan penghargaan. Murid yang berprestasi dipanggil ke depan untuk mendapatkan ucapan selamat dan disematkan pin bintang prestasi. Pin dikumpulkan oleh murid dan pada akhir tahun ada penghargaan kepada murid pengumpul pin terbanyak. Dengan mengapresiasi atas prestasi yang telah diraih, akan menjadi pengalaman sukses bagi anak. Ini penting untuk memberi rasa percaya diri.

Kelima, sekolah membuat forum khusus di luar kelas. Forum diadakan rutin setiap hari di mana guru dapat berbicara dari hati ke hati dengan murid. Misalnya forum dalam bentuk halaqoh tiap selesai sholat dzuhur. Satu orang guru membimbing 7 sampai 10 murid. Tujuan forum ini adalah untuk memberi makna agar murid menghayati pentingnya usaha atau belajar dengan sungguh-sungguh pada semua bidang budaya yang dikembangkan.

Hal penting untuk menjaga agar cara ini tetap bermakna adalah kesungguhan guru dalam memberi penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Budaya prestasi bukan mengejar penghargaan, melainkan budaya usaha dengan prestasi sebagai ikutan.

* Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman Yogyakarta

Admin @emthorif

Belajar Memahami Proses Belajar


Oleh : Galih Setiawan

Jika mendengar kata anak berprestasi, hampir bisa dipastikan yang terlintas di benak sebagian besar orangtua adalah anak yang mempunya nilai bagus di semua nilai pelajaran. Anak berprestasi adalah anak yang mampu menjuarai olimpiade sains, meraih ranking pertama di kelas, meraih nilai bagus dalam ulangan dan sebagainya. Yang jelas patokannya adalah pada nilai.

Tak bisa dipungkiri, inilah realita yang ada di masyarakat dalam mengukur pembelajaran anak di sekolah.  Orangtua mengukur keberhasilan anak berdasarkan nilai ulangan yang bagus dan ranking di buku rapor.  Orangtua tentu akan kecewa jika mendapati nilai ulangan anaknya jelek. Orangtua pasti juga kecewa jika nilai rapor anaknya tidak sesuai harapan.  Sebaliknya, jika nilai ulangan atau rapornya bagus, pasti orangtua akan gembira. Bahkan bisa dengan bangga menunjukkan prestasi anaknya tersebut kepada keluarga dan tetangga. Atau bukan tak mungkin diupload di media sosial.

Jika hanya berorientasi nilai, maka anak justru akan terbeban dalam menjalani proses pendidikan. Anak-anak pun menjalani proses belajar hanya untuk mendapatkan nilai bagus. Kadang sampai tidak mempedulikan bagaimana proses untuk mendapatkan nilai nagus tersebut. Bisa dengan mencontek, berbuat curang dalam ujian dan sebagainya, Akibatnya, hal-hal dasar dalam pendidikan akhirnya terabaikan. Contohnya bisa terlihat ketika pengumuman kelulusan sekolah. Banyak siswa yang melampiaskan kegembiraannya dengan coret-coret baju hingga konvoi ke jalan raya. Seolah mereka sedang meluapkan perasaan terkekangnya selama belajar. Seolah belajar dianggap sebagai sebuah beban hingga ketika sudah lulus dirayakan dengan cara seperti itu.

Tujuan pendidikan adalah membentuk watak dan karakter mulia yang sudah ada dalam diri setiap anak, Andaikan tiap orangtua menyadari hal ini, maka tidak akan ada anak yang terbebani.  Anak akan leluasa mengembangkan minat dan potensinya masing-masing.

Tidak adil jika penilaian prestasi hanya berdasarkan komparasi antara satu anak dengan anak yang lain.  Yang lebih fair, anak dibandingkan dengan dirinya sendiri.  Hasil belajar hari ini dibandingkan dengan hasil kemarin, semester sekarang dengan semester sebelumnya, dan tahun ini dengan tahun lalu.

Dengan demikian, pembelajaran akan fokus pada anak per anak.  Sebab setiap anak membutuhkan pendekatan yang personal sesuai dengan keunggulannya. Hal yang menjadi persamaan adalah, proses pembelajaran yang dilakukan merujuk pada bentuk pengalaman kegiatan belajar.  Konten materi pembelajaran dilekatkan pada konteks, isi dilampirkan pada makna, sehingga muncullah nilai-nilai universal yang mengkristal dalam pemahaman dan sikap anak.  Nilai-nilai inilah yang akan menjadi bekal mengarungi kehidupan yang keras dan terjal.  Kita menyebutnya karakter yang baik, perilaku terpuji, atau akhlak yang mulia.

Maka, prestasi bukan hanya diukur dari nilai yang bagus. Namun juga bagaimana efek pembelajaran di dalam kehidupan sehari-hari anak. Misalnya, anak mendapatkan pelajaran bahwa shalat lima waktu itu wajib. Maka penilaian prestasi tidak hanya sekedar mendapatkan nilai bagus dalam ulangan, namun juga bagaimana proses anak dalam melaksanakan shalat lima waktu tersebut. Atau misalnya penanaman nilai sosial dalam pelajaran IPS, prestasi bisa disimbolkan dalam bagaimana ketika anak menjumpai kejadian nyata yang ia pelajari di sekolah. Misalnya ketika melihat ada teman yang berangkat sekolah jalan kaki, sedang dia bersepeda. Apakah ia membiarkan temannya berjalan, atau memboncengkan temannya dengan sepeda?

Memang hal ini tidak akan masuk ranah penilaian akademik. Namun hal ini menunjukkan bahwa anak sudah memahami proses belajar yang ia lakukan. Tidak hanya mengendap sebatas teori. Mengapa proses belajar yang harus dihargai daripada hasil?  Karena proses itulah pembelajaran anak yang hakiki.  Target-target belajar diraih melalui pengalaman dan pembiasaan.  Dalam tradisi Islam, pembiasaan ini disebut riyadhoh atau latihan jiwa.  Anak ditempa dengan pengalaman bermakna.  Anak juga diberi pilihan-pilihan yang mendewasakan, tentunya dengan bimbingan dan pendampingan guru.   Semua kegiatan dan aktivitas dipantau, dievaluasi dan didiskusikan dengan anak.  Dari situlah timbul pemahaman yang konstruktif, anak tidak melulu disuapi dengan definisi dan pengetahuan tanpa memahaminya.  Itu semua sangat penting karena belajar adalah pembentukan jiwa anak, supaya mereka menjadi generasi yang tangguh, mandiri, dan mulia.

*) Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma

Admin @emthorif

Mari Menuju Prestasi yang Hakiki


Oleh : Bagus Priyosembodo

Setiap diri mendamba prestasi, hasil yang telah dicapai dari usaha yang telah dilakukan. Ada ingin dalam hati untuk mendapat sukses dan untung serta lari dari rugi dan tidak berarti.

Ada naluri mengejar prestasi. Untuk itu seseorang bersedia berkorban dan berpayah mendapatkannya. Karena prestasi itu terasa penting bagi masing masing orang. Prestasi merupakan wujud nyata kualitas dan kuantitas yang diperoleh seseorang atas usaha yang telah ia perbuat.

Ia juga pelajaran berharga untuk melangkah ke masa depan. Pengalaman berhasil dan beruntung itu membuat percaya diri dan menjaga semangat beramal lagi. Adapun gagal yang terus menerus hingga terasa sepi prestasi seringkali membuat semangat pergi.

Prestasi juga menghadirkan rasa bangga bagi diri-sendiri, keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara. Prestasi digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan orang-orang yang beramal.

Tentu saja ada banyak ragam hasil usaha.Tidak hanya prestasi akademis hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Ada juga prestasi kerja hasil kerja yang dicapai oleh seorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Ada banyak jenis. Semuanya berhak atas perhargaan kala hasil usah itu baik dan bermanfaat.

Marilah kita seksamai sifat dan amalan yang dipuji Allah. Jika amal perbuatan ini terhasil maka beruntunglah yang melakukannya. Betul-betul merupakan prestasi besar. Allah menegaskan, sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.

Beruntung serta terpujilah orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Juga beruntung dan terpujilah orang-orang yang menunaikan zakat. Terpujilah orang-orang yang menjaga kemaluannya. Mereka tidak berzina dan tidak membuka auratnya. Mereka hanya melakukan dengan pasangan yang dihalalkan Allah Ta’ala. Maka hal ini tiada terceIa. Barangsiapa melakukan dengan pasangan yang tidak halal maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Beruntung dan terpujilah pula orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipercayakan dan janjinya. Beruntunglah dan terpujilah orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka tidak melalaikannya dan tidak meninggalkannya.

Orang-orang dengan amalan tersebut sungguh beruntung. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Maka adakah pencapaian yang lebih besar daripada kenikmatan surga? Adakah kebanggaan yang melebihi menjadi orang yang diridhoi Sang Pencipta?

Maka juga tiada kegagalan yang melampaui kegagalan hidup yang tidak akan ada pengulangan kesempatan untuk kedua kali. Kegagalan yang mengantar kepada kesengsaraan abadi yang tak akan ada henti. Terkekalkan dalam neraka jahim. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan hal ini.

Lihatlah orang yang merasa jaya berprestasi mengungguli orang lain tapi sejatinya ia ditunggu kebinasaan.  Allah memberitahu kita, kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela orang lain karena sombong yang ia punya. Orang ini yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Membuatnya bahagia sempurna. Maka Allah membantah tegas keyakinan rusak itu. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu api yang dinyalakan. Saking panasnya maka api itu  yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. Mereka sama sekali tidak bisa lari. Pintu Huthamah dipalang dengan kayu panjang panjang. Mereka juga diikat pada tiang yang panjang panjang.

Semoga Allah jaga kita dan keluarga semua dari kegagalan hakiki seperti ini.||

*) Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma

Admin @emthorif

Gangguan Belajar Pada Anak


Oleh : Ahmad Budiman

Memantau kegiatan belajar dan akademik anak bukan hanya tugas guru di sekolah. Baik atau tidaknya prestasi anak juga dipengaruhi oleh kesehariannya di rumah, misalnya saja jadwal belajar anak, jadwal bermain dan sebagainya. Peran orangtua menjadi sangat penting untuk mengawasi kegiatan belajar anak di rumah. Dengan selalu memantau belajar anak, orangtua juga akan cepat mengetahui jika anak mengalami kesulitan belajar.

Diagnosis dini ini akan mempercepat anak keluar dari masalah kesulitan belajar. Jika hal ini tidak segera dilakukan, anak akan semakin malas dan membuat pemikiran sendiri bahwa belajar adalah sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan. Belum lagi tanggapan dari orang-orang di sekitarnya yang melabeli anak tersebut bodoh atau malas, yang justru akan membuat anak tidak lagi percaya diri.

Beberapa macam gangguan belajar pada anak antara lain: Pertama, Expresive Language Disorder atau yang disebut dengan gangguan berbicara. Gangguan ini muncul ketika seorang anak harus melakukan komunikasi verbal dan bahkan bahasa isyarat. Pada kondisi seperti ini, perilaku atau kemunduran berbahasa anak tidak mencerminkan nilai mereka saat mereka melakukan kemampuan menulis yang normal. Pada anak yang mengalami gangguan berbicara, mereka akan menunjukkan gejala seperti keterlambatan berbicara, sulit menghafal dan mengingat kata yang baru, minim kosa kata dalam berbicara, seringnya melakukan kesalahan dalam mengucap kata dan kalimat, sulit berbicara lancar dengan orang lain, hanya dapat menyusun kalimat yang sederhana serta kemampuan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak dengan usianya. Kondisi keterbatasan ini berkaitan dengan sistem syaraf dan juga dapat disebabkan oleh kondisi medis akibat si anak mengalami trauma atau mengalami benturan di bagian kepala.

Kedua, Diseleksia. Diseleksia merupakan gangguan membaca yakni sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada anak yang disebabkan oleh kesulitan melakukan aktivitas membaca dan menulis. Akan tetapi pada kondisi ini anak tidak mengalami gangguan atau keterbatasan aspek lainnya. Diseleksia dapat terjadi akibat adanya kondisi dari biokimia atau juga bisa dipicu sebagai faktor keturunan yang diwariskan oleh orangtuanya. Secara fisik para penderita diseleksia tidak menunjukan keluhan atau tanda-tandanya. Penderita diseleksia tidak hanya terbatas pada kesulitan membaca, menulis serta menyusun kata dan kalimat secara terbalik tetapi juga dalam berbabagai macam urutan, baik tulisan atau kalimat yang dibuat urutan menjadi terbalik kanan ke kiri dan bentuk lain-lain. Sehingga para penderita diseleksia kerap kali dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

Ketiga, Mathematics Disorder. Gangguan yang juga menyerang sistem syaraf ini dicirikan dengan ketidakmampuan seorang anak untuk menghitung, penempatan angka yang sering terbolak-balik, pusing dan sering marah ketika mengerjakan soal matematika atau pelajaran lain yang berkaitan dengan perhitungan. Selain itu, penderita mathematic disorder cenderung membutuhkan penjelasan perhitungan berulang-ulang agar mereka dapt memahami apa yang mereka kerjakan. Namun demikian, anak-anak tetap dapat dikenalkan dengan pelajaran berhitung meski akan mengalami adaptasi dan memahami materi dengan waktu yang lebih lama.

Mengatasi masalah belajar pada anak merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Karena hal tersebut bila terjadi secara terus menerus maka dapat mempengaruhi proses dan tahap perkembangan belajar anak dalam mencapai prestasinya. Sehingga bagi anak yang mengalami masalah belajar, hal yang perlu dilakukan jika menemui anak mengalami kesulitan belajar adalah segera meminta bantuan psikolog, guru, dan terapis. Konsultasikan anak untuk mendapatkan treatment yang disepakati bersama. Buatlah jadwal anak dan terapis untuk melakukan bimbingan belajar sesuai dengan kebutuhan.

Gangguan belajar pada anak sangat mungkin disembuhkan, walaupun dalam proses lama. Akan tetapi, satu hal yang perlu orangtua yakini bahwa anak memiliki bakat masing-masing. Jika akademiknya memang kurang baik, tentu anak tersebut memiliki bakat lain. Oleh karena itu, orangtua juga harus menggali dan menemukan cara untuk mengembangkan bakat-bakat anak.

*) Ahmad Budiman, Pemerhati pendidikan, Tinggal di Yogya

Admin @emthorif

Pentingnya Mengembangkan Keterampilan Sosial


Oleh : Adi Sulistama

Memiliki teman ataupun sahabat adalah salah satu pondasi dalam kehidupan. Seorang teman yang baik akan dapat memberikan pengaruh dan mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik. Untuk dapat memiliki teman, seseorang harus memiliki keterampilan sosial yang harus dilatih sejak usia dini, begitupun dengan anak-anak. Usia mereka yang masih begitu dini, terkadang membuat anak-anak kesulitan bersosialisasi dan mendapatkan teman di lingkungannya yang baru.

Anak-anak yang pandai bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru, tentunya tidak hanya membuat mereka akan mudah memiliki teman. Namun juga, akan membuat mereka tidak akan kesulitan dibawa berkunjung ke tempat-tempat yang baru. Salah satu faktor yang mudah membuat anak bersosialisasi dengan lingkungannya juga dipengaruhi oleh kepribadian si anak. Akan lebih mudah bagi anak bisa menjadi pertemanan dengan lingkungannya tanpa bantuan orangtua jika anak anda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Lain halnya, dengan anak yang pemalu. Mereka akan cenderung kesulitan bisa bergabung dan berbaur dengan anak lainnya. Untuk itulah, sudah menjadi tugas seorang orangtua dalam membantu anak mengatasi masalahnya, termasuk masalah untuk bersosialisasi.

Anak-anak biasanya akan mencontoh segala perilaku dan sikap yang mereka lihat dari lingkungannya, yang mana lingkungan terdekat anak adalah keluarga. Maka jangan heran jika anak akan cenderung meniru dan mengadaptasi sikap orangtunya. Nah, dalam membantu anak untuk bisa bersosialisasi lebih mudah dengan lingkungannya, maka orangtua perlu menjadi role model yang baik untuk anak-anak.

Berikan contoh yang baik pada anak-anak bagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain. Ketika anak-anak melihat kedua orangtuanya mampu menjalin persahabatan dan pertemanan dengan lingkungannya, maka akan secara otomatis hal ini juga diadaptasi oleh anak-anak. Perlihatkan pada anak bagaimana menyapa dan memulai percakapan dengan orang lain. Buat mereka memahami bagaimana bersosialisasi yang baik dengan orang lain.

Anak-anak umumnya juga akan dapat menikmati dan menunjukkan minatnya dalam sebuah kegiatan jika di dalamnya ada anak-anak lain. Hal ini bisa dijadikan sebagai media yang menjembatani anak agar mudah bersosialisasi dengan teman-temannya. Untuk itu, carilah kegiatan yang bisa dilakukan oleh si anak bersama dengan teman-temannya. Selain akan mendapatkan keterampilan baru untuknya, anak juga akan memiliki kesempatan untuk dapat berinteraksi dan menemukan teman baru.

Kegiatan tersebut tidak perlu hal yang susah atau memerlukan dana yang mahal. Orangtua tetap bisa merancang sebuah kegiatan yang mudah dan murah, seperti mengikut sertakan anak dalam kegiatan PAUD. Di PAUD, terdapat banyak kegiatan yang interaktif di mana anak-anak dituntut untuk melatih dan mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan teman barunya.

Jelaskan pula pada anak arti penting memiliki teman. Hal ini akan membuat anak menyadari bagaimana pentingnya bersosialisasi dan mendapatkan teman. Hanya saja, jika anak adalah tipikal anak yang pemalu, maka orangtua tidak perlu memaksa. Anak yang pemalu umumnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuka diri dan memulai berinteraksi, apalagi dengan lingkungannya yang baru. Untuk itulah, orangtua harus mengerti dan memberikan mereka apa yang mereka inginkan. Akan ada waktunya, di mana mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungannya, mereka akan mulai bersosialisasi dengan lingkungannya.

Orangtua juga dapat melatih anak bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. Terkadang, tidak sedikit orangtua yang merasa kesal saat anak-anak mereka hanya berdiam diri dan tidak mencoba berbaur dengan teman lainnya. Sehingga orangtua malah akan memaksa anak untuk terburu mendapatkan teman. Hal ini justru tidak akan berhasil dan tidak membuat anak-anak dengan mudah mendapatkan teman. Sebaliknya, hal ini malah akan memberikan tekanan dan membuat anak-anak semakin mundur untuk mulai bersosialiasi dengan orang lain. Sebaiknya kontrol emosi. Daripada memaksakan kehendak, akan lebih baik terus memberikan dorongan dan memfasilitasi anak agar bisa berteman dan berinteraksi dengan yang lainnya.


*) Adi Sulistama, Pemerhati masalah pendidikan
Admin @emthorif

Kolom Prof. In : Guru, Pengemudi dan Sosiolog


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Seperti biasanya, setelah lebaran pasti sulit mencari tiket pesawat, sehingga saya naik kereta api untuk memenuhi undangan pertemuan di Jakarta. Kebetulan kereta yang saya tumpangi sampai di tujuan bisa tepat waktu, yaitu menjelang Subuh, sesuai dengan jadwal yang tertulis di tiket.

Sebetulnya pihak pengundang telah menawarkan penjemputan di stasiun, namun saya keberatan karena jarak antara stasiun dengan tempat tinggalnya jauh sekali, sehingga dia harus berangkat dari rumah jam 3 dini hari. Agar tidak terlalu merepotkan, maka saya putuskan untuk naik taksi saja, sekalian meneruskan rejekinya pengemudi taksi.

Saat penumpang keluar dari stasiun, seperti biasanya mereka sudah ditunggu oleh para pengemudi taksi, baik pribadi maupun resmi. Berhubung masih sepi, saya merasa nyaman kalau menggunakan taksi resmi. Lalu saya memilih di antara pengemudi itu yang menggunakan pakaian seragam atau paling tidak yang pakaiannya terlihat resmi. Subhanallah ...manusia hanya merencanakan, Allah menghendaki lain, ternyata yang terpilih adalah taksi pribadi, yang sebetulnya tidak saya inginkan. Namun di balik semua ini pasti ada hikmahnya.

Untuk memecah keheningan di dalam kendaraan, saya mulai membuka pembicaraan dengan bapak pengemudi. Kebanyakan mereka memang enggan memulai bicara, khawatir kalau mengganggu penumpang yang mungkin ingin istirahat. Seperti biasanya saya mulai dengan pertanyaan ringan. “Dari kota mana asalnya?”, “Sudah berapa lama menjadi pengemudi?”, “Putranya berapa?”, “Tadi keluar rumah jam berapa, dan jam berapa nanti pulang ke rumah?”. Jawaban dari pertanyaan terakhirlah yang membuat saya heran, bahwa bapak itu harus sampai rumah sebelum jam enam pagi, karena beliau harus tiba di sebuah sekolah sebelum jam tujuh.

Saya kira bapak itu ke sekolah untuk mengantar atau menjemput penumpang. Namun ternyata beliau itu seorang guru, yang pekerjaan sampingannya sebagai pengemudi taksi pribadi. Hebatnya lagi, beliau adalah guru di sekolah menengah atas, yang tugasnya tidak ringan karena murid-muridnya sudah menginjak dewasa. Karena suasana sudah cair, akhirnya beliau bercerita tentang sejarah perjalanan pekerjaannya.

Ketika pertamakali beliau bekerja, 25 tahun silam, di mana saat itu guru masih merupakan profesi yang hanya dipandang sebelah mata, tidak seperti sekarang ini. Waktu itu banyak pencari kerja yang tidak tertarik dengan profesi guru, karena kalau dilihat dari sisi penghasilan memang tidak bisa diharapkan. Sehingga untuk menambah pendapatan, beliau bekerjasama dengan temannya yang mempunyai mobil. Dipilihnya stasiun sebagai lokasi mencari penumpang, karena setelah mengantar satu atau dua penumpang, beliau masih bisa ke sekolah. Meskipun harus berangkat dari rumah jam 2 atau 3 dini hari, shalat Subuh di stasiun.

Dengan ketekunan, kesabaran dan kerja keras dalam menawarkan jasa, setiap harinya hampir selalu dapat penumpang. Mungkin ini juga berkat doa dari murid-muridnya. Akhirnya beliau memberanikan diri membeli mobil dengan cara kredit. Bahkan istrinya yang semula bekerja, disuruh berhenti agar bisa mendampingi dan mendidik putra-putrinya dengan lebih baik.

Meskipun saat ini gaji guru sudah membaik, namun pekerjaan  sampingannya masih dipertahankan karena ada pertimbangan lain yang bersifat akademis. Sebagai guru, beliau memberikan mata pelajaran yang ada kaitannya dengan sosiologi (ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat). Dalam pelajaran ini diperlukan seorang guru yang kaya wawasan dan pengalaman langsung di masyarakat. Dengan menjadi pengemudi maka syarat tersebut akan bisa terpenuhi dengan lebih mudah.

Pengalamannya didapat ketika mengantar berbagai macam karakter tamu ke manapun tujuannya. Mulai dari tempat ibadah, keramaian,kantor-rumah, hotel dan sampai ke tempat (maaf) maksiat telah beliau datangi. Pengalaman baik, buruk, menyenangkan, menjengkelkan, diceritakan ke murid-muridnya agar mereka bisa mengambil hikmahnya. Hal-hal yang beliau alami itu semua sulit ditemui di dalam literatur.

Perjalanan hidup beliau ini merupakan contoh seorang pendidik yang mempertahankan kerja sambilannya, demi untuk pengembangan wawasannya sebagai sosiolog, meskipun harus dengan kerja ekstra. Wallahu a’lam bishawab.


*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gajah Mada, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Admin @emthorif

Yang Membahagiakan Seorang Ayah Muda


Oleh : Imam Nawawi

Setiap manusia, memiliki kriteria dan pandangan tersendiri tentang apa yang membuatnya bahagia. Begitu pula dengan diriku. Dengan tiga orang anak, dua di antaranya sudah sekolah di TK dan Play Group, pagi dan soreku selalu diwarnai suka cita.
Anak sulungku, yang duduk di bangku TK dan anak keduaku, yang duduk di PG, setiap pagi selalu memberiku doa, terutama kala berpamitan kepada istri dan anak-anaku. “Abah berangkat dulu ya, nak.”
Kedua anakku pun menjawab dan hampir serempak, kadang-kadang bergantian, “Abah, hati-hati di jalan. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan urusan Abah. Allah ridhoi Abah dalam semua pekerjaan Abah.”
“Wow, subhanalloh, anak-anakku sudah sepandai ini, ya Allah. Semoga kelak mereka menjadi anak-anak yang menegakkan sholat, sholeh-sholehah dan bersungguh-sungguh dalam berdedikasi kepada-Mu dengan mengutamakan manfaat dan maslahat bagi seluas-luas umat manusia,” gumamku dalam hati.
Kebahagiaan juga datang kala sore hari atau tepatnya saya pulang dari tempat saya berdedikasi untuk Allah dan Rasul-Nya, untuk bangsa dan negara dan seluruh rakyat di negeri ini. Dengan sigap, kedua anakku itu, bahkan yang sementara ini bungsu, begitu antusias untuk membuka pintu dan pagar tempatku bernaung.
“Abah………………..,” suara mereka memanggil disertai kegembiraan luar biasa. Anak kedua pun bertugas membuka pagar, sedang anak ketiga, menunggu apa yang akan diserahkan kepadanya sebagai buah tangan untuk mereka nikmati bersama.
“Alhamdulillah, Abah sudah datang. Abah bawa apa?” itu pertanyaan rutin anak sulungku. Tetapi, meski begitu, untuk kebaikan masa depan mereka, tidak setiap malam, mereka mendapat oleh-oleh.
Selepas itu, anak-anak akan bermain bersama, sesekali mereka menggodaku dengan melompat-lompat dipundak, ada yang minta disuapin makan dan tidak jarang meminjam alat kerjaku sekadar untuk melihat video yang sebenarnya hampir setiap hari mereka saksikan.
Setidaknya, dua hal ini sangat mendominasi suasana hatiku setiap hari. Kemampuan mereka berdoa, berkata baik dan menghormati orang tua, menjadi suatu anugerah indah saat mereka masih berusia dini.
Syukurku kepada Allah tiada henti, terimakasih kepada istriku tak terhingga, juga kepada para guru-gurunya di TK Little Kangaroo, semoga Allah membalas amal bakti kita semua dengan balasan yang sempurna dari sisi-Nya.
Semoga, Allah perkenankan anak-anakku seperti yang Nabi Ibrahim mohonkan dalam doa yang indah yang Allah ajarkan sendiri kepada kita dalam kitab-Nya.
“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” (QS. Ash Shaffaat: 100).
Pada akhirnya, manusia memang tidak mengerti apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi semoga kebahagiaan saat mereka anak-anak ini menjadi tanda nyata bahwa masa depan nanti bahkan sampai akhirat, kebahagiaanku sebagai seorang ayah akan semakin nyata. Karena tidak aset nyata yang bisa menembus ruang dan waktu selain ilmu dan amal jariyah, melainkan anak-anak yang sholeh-sholehah yang mendoakan kedua orang tuanya.
Imam Nawawi, Pimpinan Redaksi Majalah Mulia | twitter @abuilmia
admin @emthorif

Mendampingi Anak Hingga Luar Rumah


Oleh : Subliyanto

"Anak-anak tetaplah anak-anak,yang harus mengerti adalah kedua orang tuanya"

Ungkapan tersebut tentunya patut menjadi catatan bagi kita sebagai orang tua,karena kesimpulannya kalau terjadi apa-apa terhadap anak-anak kita yang menjadi sorotan utama dan dimintai pertanggung jawaban pertama adalah kita sebagai orang tuanya,lebih-lebih pertanggung jawaban disisi Allah subhanhu wa ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah anak manusia dilahirkan melainkan pasti lahir di atas fitrahnya,maka kemudian orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi atau nasrani atau majusi" (HR.Bukhari-Muslim).

Anak yang Allah berikan kepada kita merupakan sebuah amanah yang harus kita jaga. Jika kemudian anak-anak kita menyimpang,mereka menjadi yahudi,atau nasrani ataupun majusi,dan ahli maksiat,maka kita sebagai orang tua nemiliki andil besar sebagai penyebabnya,karena orang tua adalah pihak yang sejak awal paling dekat dan berpengaruh langsung kepada mereka,dan lalai tidak memberikan pendidikan yang tepat sejak usia dini.

Tugas kita sebagai orang tua adalah mendampinginya dengan memberi arahan dan bimbingan kepadanya,sesuai dengan arahan dan bimbingan yang telah Allah dan Rasulnya ajarkan kepada kita.

Pendidikan merupakan jalur utama yang harus kita tempuh untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Terdapat tiga elemen pendidikan yang setidaknya akan dilalui oleh anak-anak kita,yaitu pendidikan keluarga dalam hal ini di rumah,pendidikan formal dalam hal ini sekolah,dan pendidikan non formal dalam hal ini lingkungan masyarakat.

Pendidikan keluarga yang menjadi tokoh utamanya adalah kita sebagai orang tua,sehingga kita harus memberikan contoh yang baik dalam semua aspek yang kita lakukan.

Pendidikan formal dalam hal ini sekolah yang menjadi tokoh utamnya adalah guru,selain itu terdapat tokoh-tokoh yang lain yang juga berperan aktif dalam mendidik anak-anak kita,termasuk juga adalah teman sebaya dan tentunya kita sebagai orang tua. 

Tentunya semua tokoh tersebut harus juga berperan aktif memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita agar anak-anak kita menjadi generasi yang baik.

Selanjutnya pendidikan non formal yang cakupannya lebih luas lagi. Tokoh yang berperan di dalamnya adalah kita sebagai orang tua,dan masyarakat di sekitar kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan pada elemen pendidikan yang ketiga ini,terlebih ketika anak-anak kita pulang sekolah ?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas alangkah idealnya kalau kita bertanya dulu kepada diri kita sendiri,ketika anak pulang sekolah apakah kita sudah pulang dari tempat kerja dan sudah siap menemani anak-anak di rumah ?

Kalau ketika anak-anak kita pulang sekolah dan kita sudah siap di rumah untuk menemani mereka,maka mungkin lebih mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan pertama,karena kita bisa berinteraksi langsung dengan anak-anak kita,menemani mereka,dan memberi arahan dan bimbingan kepada mereka.

Namun jika ketika anak-anak kita pulang sekolah,kita masih berada di tempat kerja,apalagi antara ayah dan ibu juga sama-sama bekerja,maka mungkin kita perlu ektra untuk menjawab pertanyaan pertama di atas.

Setidaknya ada beberapa hal yang mungkin bisa untuk kita lakukan untuk membimbing anak-anak kita ketika pulang sekolah.

Pertama,jika ketika anak-anak kita pulang sekolah dan kita sudah berada di rumah,maka temanilah mereka dalam segala aktivitasnya,sehingga terhindar dari pengaruh-pengaruh  negatif di lingkungan kita.

Kedua,jika kita sebagai orang tua yang sama-sama bekerja (ayah dan ibu),sehingga ketika anak-anak kita pulang sekolah kita tidak berada di rumah untuk menemani mereka,maka buatlah jadwal kegiatan untuk anak-anak kita sepulang sekolah,misalkan dengan mengikutkan kegiatan pengembangan diri di sekolah,les privat di rumah,kegiatan TPA dan sebagainya.

Ketiga,jangan biarkan anak-anak kita sendirian di rumah ketika pulang sekolah,apalagi rumah kita dilengkapi dengan perangkat media yang sudah serba canggih,seperti internet,game,televisi dan lain sebagainya. Semua itu harus ada yang mengawasinya,paling tidak kakek atau nenek bisa menemaninya di rumah.

Keempat,kuatkanlah anak-anak kita dengan pemahaman keislaman,mulai dari aqidah,akhlak,fiqih dan sebagainya,hingga anak-anak kita betul-betul faham dan tertanam di dalam hati mereka,sehingga dengan sendirinya mereka akan bisa membedakan yang baik dan yang buruk,yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh.

Tentunya kita semua mengharapkan anak-anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah,karenanya mari kita bimbing,dan dampingi anak-anak kita setiap saat,kapanpun dan dimanapun mereka berada,serta dengan siapapun mereka berinterakasi.

Tak mudah memang untuk melakukan hal itu karena kita dibatasi kemampuan baik secara ilmu,materi,maupun yang lainnya. Tapi percayalah Allah maha kaya atas semua itu,karenanya kita titipkan anak-anak kita kepadaNya,dan do'akan mereka dalam setiap waktu. Wallahu a'lam.

*Penulis adalah pendidik di Hidayatullah Sleman Yogyakarta, twitter : @Subliyanto
Admin @emthorif

Dilema Gadget


Oleh : O. Solihin

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini menjadi salah satu teknologi yang paling mudah nyeteldengan kita. User friendly. Sebab, seperti kata slogan sebuah produk ponsel: “teknologi yang mengerti Anda”. Ya, teknologi komunikasi ini memang disesuaikan dengan manusia sebagai penggunanya.

Nah, karena manusia makhluk sosial, dan salah satu cirinya adalah keinginan manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya, maka teknologi informasi dan komunikasi ini menjadi alat yang memudahkan antar manusia untuk saling berhubungan. Bentuk hubungan komunikasinya bisa dengan cara verbal, maupun nonverbal. Cara verbal adalah dengan lisan, seperti menelepon menggunakan ponsel. Sementara cara nonverbal bisa dengan gerak tubuh, jeritan dan desahan, juga dengan tulisan dan gambar.

Saat ini, ponsel dan internet khususnya, memang mengakomodasi kebutuhan manusia akan teks, suara, dan gambar (termasuk video). Itu sebabnya, bukan hanya remaja yang lebih asik nundukmelototin gadget, berinteraksi dengan kawan-kawannya di dunia maya, tetapi juga mahasiwa dan pekerja, bahkan para orang tua yang ingin tampil eksis berbalut narsis ikut ‘nunduk’ di berbagai kesempatan: di jalan, di kendaraan umum, di tempat kerja, bahkan di kamarnya sendiri, termasuk mungkin saja ada yang tetap nekat membawa ke kamar mandi saking pengennya dapetin update info dari kawan-kawannya atau karena ingin update keberadaan diri dan kondisinya agar orang lain tahu aktivitas yang sedang dijalaninya.

Beragam pilihan gadget saat ini membuat pusing sebagian dari kita. Bukan karena harganya saja, tetapi semua gadget ingin dimiliki sekaligus. Seorang teman bercerita bahwa dirinya sempat naik bus dan melihat orang yang membawa gadget begitu banyak di tasnya. Dari mulai beragam smartphone, hingga tablet dan netbook. Saya sempat memberi komentar atas cerita kawan saya itu, “mungkin dia tukang servis gadget,” seloroh saya sambil tersenyum. Teman saya cepat menanggapi, “Tidaklah Pak, saya lihat dia asik berkomunikasi via smartphone dan tabletnya kok. Gonta-ganti lagi. Kemungkinan dia sendiri pemilik semua gadget itu,” paparnya.

Teknologi informasi telah mengubah cara kita berkomunikasi dan tentu sekaligus mengubah gaya hidup kita. Jika dahulu harus berkirim surat via pos, kini tak usah repot-repot, tinggal kirim SMS dan dalam hitungan detik pesan sudah sampai. Apalagi sekarang di kampung juga sudah banyak orang yang punya ponsel. Sebab, BTS (base transceiver station) didirikan hingga di desa-desa. Artinya, sinyal tetap nyala. Tak ada blank spot-nya meski di daerah terpencil.

Belum lagi teknologi 3G jika sudah merata penyebarannya. Nonton televisi tak perlu lagi diam di rumah. Sambil di perjalanan bisa nonton siaran sepakbola dari mobile television. Bisa video conference dan video call. Dengan teknologi ini kita bisa bertatap muka dengan orang yang kita telepon. Kita pun bisa mengakses mobile video. Dengan kemajuan seperti ini, tentu bukan hanya cara kita dalam berkomunikasi yang berubah, tapi juga gaya hidup. Memang, fasilitas ini masih terbatas bagi kalangan tertentu saja yang memang memiliki ponsel yang mendukung generasi 3G (malah sekarang sudah ada generasi 4G). Bukan tak mungkin suatu saat nanti, malah harga ponsel jenis itu sudah terjangkau oleh semua kalangan, dari golongan ekonomi kelas menengah.

Namun, saat ini gadget membuat dilema bagi sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang tak puas dengan satu layanan operator seluler dan kualitas gadget yang sudah dimiliki sebelumnya. Satu orang ada yang bisa memiliki simcard lebih dari 1. Untuk mengintip kecenderungan seperti itu, pantau saja produk-produk ponsel yang menawarkan empat simcard sekaligus tertanam dalam satu ponsel. Itu artinya produsen sudah melihat peluang pasarnya yang satu orang bisa memiliki kartu lebih dari 1 untuk berbagai keperluan yang dipisah-pisah. Saya kadang berseloroh dengan beberapa kawan, ternyata bukan saja poligami yang diminati, tetapi juga ‘polisimcard’. Jangan ditanya bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang memiliki simcard hingga empat biji itu, sebab sudah pasti betapa repotnya. Terutama untuk mengisi pulsanya.

Bagi mereka yang merasa harus update teknologi (atau justru korban iklan?) mungkin hal itu adalah solusi untuk memenuhi kepuasannya akan informasi dan komunikasi. Ketika Blackberry jadi primadona komunikasi smartphone, mereka segera miliki untuk update teknologi. Saat muncul produk keluaran Apple melimpah: dari mulai iPod, iPhone, hingga iPad, mereka juga segera update. Begitu Android naik daun, tak segan berburu smartphone dan tablet si robot ijo tersebut.

Sayangnya, banyak dari kita yang tersandera gadget hanya untuk kepentingan gaya hidup, bukan kebutuhan komunikasi semata. Akibatnya, berlomba untuk mendapatkan status sosial dari orang lain dengan label pemilik gadget tertentu ketimbang menjalin komunikasi yang efektif dan efisien dengan orang lain. Mereka menganggap memiliki gadget tertentu akan berkorelasi pada kekayaan, pendidikan, jenis pekerjaan dan hal duniawi lainnya, lalu mengangankan dirinya akan ditaburi decak kagum manusia lalu menepuk dada.

Padahal, sebagai muslim kita seharusnya menunjukkan ketakwaan sebagai status termulia di hadapan Allah Swt.: Inna akromakum ‘indallaahi atqookum (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu—al-Quran surat al-Hujuraat ayat 13)[]

Salam,
O. Solihin | Twitter @osolihin | www.osolihin.net