» » Gangguan Belajar Pada Anak

Gangguan Belajar Pada Anak

Penulis By on Friday, January 29, 2016 | No comments


Oleh : Ahmad Budiman

Memantau kegiatan belajar dan akademik anak bukan hanya tugas guru di sekolah. Baik atau tidaknya prestasi anak juga dipengaruhi oleh kesehariannya di rumah, misalnya saja jadwal belajar anak, jadwal bermain dan sebagainya. Peran orangtua menjadi sangat penting untuk mengawasi kegiatan belajar anak di rumah. Dengan selalu memantau belajar anak, orangtua juga akan cepat mengetahui jika anak mengalami kesulitan belajar.

Diagnosis dini ini akan mempercepat anak keluar dari masalah kesulitan belajar. Jika hal ini tidak segera dilakukan, anak akan semakin malas dan membuat pemikiran sendiri bahwa belajar adalah sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan. Belum lagi tanggapan dari orang-orang di sekitarnya yang melabeli anak tersebut bodoh atau malas, yang justru akan membuat anak tidak lagi percaya diri.

Beberapa macam gangguan belajar pada anak antara lain: Pertama, Expresive Language Disorder atau yang disebut dengan gangguan berbicara. Gangguan ini muncul ketika seorang anak harus melakukan komunikasi verbal dan bahkan bahasa isyarat. Pada kondisi seperti ini, perilaku atau kemunduran berbahasa anak tidak mencerminkan nilai mereka saat mereka melakukan kemampuan menulis yang normal. Pada anak yang mengalami gangguan berbicara, mereka akan menunjukkan gejala seperti keterlambatan berbicara, sulit menghafal dan mengingat kata yang baru, minim kosa kata dalam berbicara, seringnya melakukan kesalahan dalam mengucap kata dan kalimat, sulit berbicara lancar dengan orang lain, hanya dapat menyusun kalimat yang sederhana serta kemampuan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak dengan usianya. Kondisi keterbatasan ini berkaitan dengan sistem syaraf dan juga dapat disebabkan oleh kondisi medis akibat si anak mengalami trauma atau mengalami benturan di bagian kepala.

Kedua, Diseleksia. Diseleksia merupakan gangguan membaca yakni sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada anak yang disebabkan oleh kesulitan melakukan aktivitas membaca dan menulis. Akan tetapi pada kondisi ini anak tidak mengalami gangguan atau keterbatasan aspek lainnya. Diseleksia dapat terjadi akibat adanya kondisi dari biokimia atau juga bisa dipicu sebagai faktor keturunan yang diwariskan oleh orangtuanya. Secara fisik para penderita diseleksia tidak menunjukan keluhan atau tanda-tandanya. Penderita diseleksia tidak hanya terbatas pada kesulitan membaca, menulis serta menyusun kata dan kalimat secara terbalik tetapi juga dalam berbabagai macam urutan, baik tulisan atau kalimat yang dibuat urutan menjadi terbalik kanan ke kiri dan bentuk lain-lain. Sehingga para penderita diseleksia kerap kali dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

Ketiga, Mathematics Disorder. Gangguan yang juga menyerang sistem syaraf ini dicirikan dengan ketidakmampuan seorang anak untuk menghitung, penempatan angka yang sering terbolak-balik, pusing dan sering marah ketika mengerjakan soal matematika atau pelajaran lain yang berkaitan dengan perhitungan. Selain itu, penderita mathematic disorder cenderung membutuhkan penjelasan perhitungan berulang-ulang agar mereka dapt memahami apa yang mereka kerjakan. Namun demikian, anak-anak tetap dapat dikenalkan dengan pelajaran berhitung meski akan mengalami adaptasi dan memahami materi dengan waktu yang lebih lama.

Mengatasi masalah belajar pada anak merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Karena hal tersebut bila terjadi secara terus menerus maka dapat mempengaruhi proses dan tahap perkembangan belajar anak dalam mencapai prestasinya. Sehingga bagi anak yang mengalami masalah belajar, hal yang perlu dilakukan jika menemui anak mengalami kesulitan belajar adalah segera meminta bantuan psikolog, guru, dan terapis. Konsultasikan anak untuk mendapatkan treatment yang disepakati bersama. Buatlah jadwal anak dan terapis untuk melakukan bimbingan belajar sesuai dengan kebutuhan.

Gangguan belajar pada anak sangat mungkin disembuhkan, walaupun dalam proses lama. Akan tetapi, satu hal yang perlu orangtua yakini bahwa anak memiliki bakat masing-masing. Jika akademiknya memang kurang baik, tentu anak tersebut memiliki bakat lain. Oleh karena itu, orangtua juga harus menggali dan menemukan cara untuk mengembangkan bakat-bakat anak.

*) Ahmad Budiman, Pemerhati pendidikan, Tinggal di Yogya

Admin @emthorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya