» » Kolom Prof. In : Guru, Pengemudi dan Sosiolog

Kolom Prof. In : Guru, Pengemudi dan Sosiolog

Penulis By on Friday, January 29, 2016 | No comments


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Seperti biasanya, setelah lebaran pasti sulit mencari tiket pesawat, sehingga saya naik kereta api untuk memenuhi undangan pertemuan di Jakarta. Kebetulan kereta yang saya tumpangi sampai di tujuan bisa tepat waktu, yaitu menjelang Subuh, sesuai dengan jadwal yang tertulis di tiket.

Sebetulnya pihak pengundang telah menawarkan penjemputan di stasiun, namun saya keberatan karena jarak antara stasiun dengan tempat tinggalnya jauh sekali, sehingga dia harus berangkat dari rumah jam 3 dini hari. Agar tidak terlalu merepotkan, maka saya putuskan untuk naik taksi saja, sekalian meneruskan rejekinya pengemudi taksi.

Saat penumpang keluar dari stasiun, seperti biasanya mereka sudah ditunggu oleh para pengemudi taksi, baik pribadi maupun resmi. Berhubung masih sepi, saya merasa nyaman kalau menggunakan taksi resmi. Lalu saya memilih di antara pengemudi itu yang menggunakan pakaian seragam atau paling tidak yang pakaiannya terlihat resmi. Subhanallah ...manusia hanya merencanakan, Allah menghendaki lain, ternyata yang terpilih adalah taksi pribadi, yang sebetulnya tidak saya inginkan. Namun di balik semua ini pasti ada hikmahnya.

Untuk memecah keheningan di dalam kendaraan, saya mulai membuka pembicaraan dengan bapak pengemudi. Kebanyakan mereka memang enggan memulai bicara, khawatir kalau mengganggu penumpang yang mungkin ingin istirahat. Seperti biasanya saya mulai dengan pertanyaan ringan. “Dari kota mana asalnya?”, “Sudah berapa lama menjadi pengemudi?”, “Putranya berapa?”, “Tadi keluar rumah jam berapa, dan jam berapa nanti pulang ke rumah?”. Jawaban dari pertanyaan terakhirlah yang membuat saya heran, bahwa bapak itu harus sampai rumah sebelum jam enam pagi, karena beliau harus tiba di sebuah sekolah sebelum jam tujuh.

Saya kira bapak itu ke sekolah untuk mengantar atau menjemput penumpang. Namun ternyata beliau itu seorang guru, yang pekerjaan sampingannya sebagai pengemudi taksi pribadi. Hebatnya lagi, beliau adalah guru di sekolah menengah atas, yang tugasnya tidak ringan karena murid-muridnya sudah menginjak dewasa. Karena suasana sudah cair, akhirnya beliau bercerita tentang sejarah perjalanan pekerjaannya.

Ketika pertamakali beliau bekerja, 25 tahun silam, di mana saat itu guru masih merupakan profesi yang hanya dipandang sebelah mata, tidak seperti sekarang ini. Waktu itu banyak pencari kerja yang tidak tertarik dengan profesi guru, karena kalau dilihat dari sisi penghasilan memang tidak bisa diharapkan. Sehingga untuk menambah pendapatan, beliau bekerjasama dengan temannya yang mempunyai mobil. Dipilihnya stasiun sebagai lokasi mencari penumpang, karena setelah mengantar satu atau dua penumpang, beliau masih bisa ke sekolah. Meskipun harus berangkat dari rumah jam 2 atau 3 dini hari, shalat Subuh di stasiun.

Dengan ketekunan, kesabaran dan kerja keras dalam menawarkan jasa, setiap harinya hampir selalu dapat penumpang. Mungkin ini juga berkat doa dari murid-muridnya. Akhirnya beliau memberanikan diri membeli mobil dengan cara kredit. Bahkan istrinya yang semula bekerja, disuruh berhenti agar bisa mendampingi dan mendidik putra-putrinya dengan lebih baik.

Meskipun saat ini gaji guru sudah membaik, namun pekerjaan  sampingannya masih dipertahankan karena ada pertimbangan lain yang bersifat akademis. Sebagai guru, beliau memberikan mata pelajaran yang ada kaitannya dengan sosiologi (ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat). Dalam pelajaran ini diperlukan seorang guru yang kaya wawasan dan pengalaman langsung di masyarakat. Dengan menjadi pengemudi maka syarat tersebut akan bisa terpenuhi dengan lebih mudah.

Pengalamannya didapat ketika mengantar berbagai macam karakter tamu ke manapun tujuannya. Mulai dari tempat ibadah, keramaian,kantor-rumah, hotel dan sampai ke tempat (maaf) maksiat telah beliau datangi. Pengalaman baik, buruk, menyenangkan, menjengkelkan, diceritakan ke murid-muridnya agar mereka bisa mengambil hikmahnya. Hal-hal yang beliau alami itu semua sulit ditemui di dalam literatur.

Perjalanan hidup beliau ini merupakan contoh seorang pendidik yang mempertahankan kerja sambilannya, demi untuk pengembangan wawasannya sebagai sosiolog, meskipun harus dengan kerja ekstra. Wallahu a’lam bishawab.


*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gajah Mada, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Admin @emthorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya