» » Menjadikan Semua Murid Berprestasi

Menjadikan Semua Murid Berprestasi

Penulis By on Friday, January 29, 2016 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Prestasi adalah hasil yang diraih atas usaha yang telah dilakukan. Berprestasi bermakna meraih hasil yang baik dari usaha atau kerja yang telah dilakukannya. Mengupayakan semua murid berprestasi berarti mengupayakan semua murid berusaha dengan baik. Belajar dengan baik. Penekanannya pada usaha atau belajar bukan hasil. Jika dikembangkan dalam sistem sekolah, budaya prestasi akan melahirkan budaya kerja (budaya belajar), bukan budaya hasil.

Bukan hanya sisi akademis. Terlalu sempit. Akademis hanya menekankan pada ranah kognitif. Harus diperluas karena potensi murid, apalagi di tingkat dasar amat luas, ranah afektif dan psikomotor sangat penting untuk dikembangkan.

Sebuah sekolah telah mengembangkan budaya ini. Langkah-langkah yang ditempuh adalah; Pertama, pimpinan sekolah dalam tim merumuskan bidang yang menjadi obyek pengembangan budaya. Baik bidang akademis maupun non akademis. Bidang akademis meliputi semua mata pelajaran.

Bidang non akademis yang menjadi obyek antara lain; tertib wudhu,  tertib shalat, tepat waktu, suka menolong, bekerjasama, peduli, menjaga lisan, menghargai, mampu memimpin dan dipimpin, menjaga kebersihan, ramah, kreatif, menjaga barang sendiri dan teman, aktif dalam diskusi,  teguh dan percaya diri, adab makan, adab di masjid, dan sebagainya.

Kedua, guru dalam tim yang dipimpin oleh tiap guru kelas membuat kriteria penilaian untuk tiap-tiap bidang. Dengan indikator yang mudah diamati secara sekilas sehingga tiap bidang mempunyai kriteria yang jelas. Yang harus diperhatikan, indikator pengamatan harus menekankan pada usaha, spontan, bukan hasil.

Untuk bidang akademis, kriterianya lebih mudah. Yaitu dari hasil ulangan masing-masing mata pelajaran. Tapi ingat, bukan hanya berdasarkan nilai yang terbaik melainkan juga memperhitungkan peningkatan nilai yang diperoleh.

Ketiga, menyusun jadwal mingguan atau bulanan. Keduanya bisa dilakukan tergantung kondisi sekolah. Jadwal ini dirahasiakan dari murid sehingga murid tidak tahu bidang apa yang akan dinilai di kelasnya pada minggu/bulan ini. Bagi guru, jadwal ini akan mempermudah dalam pengamatan. Misalnya minggu/bulan ini guru bisa fokus mengamati bidang tertentu. Misalnya kelas 2a penilaian tentang kerjasama. Guru bisa fokus mengamati tetapi murid tidak tahu apa yang sedang diamati dan dinilai oleh guru.

Kelemahannya adalah; bila suatu hari guru menjumpai anak melakukan sesuatu yang luar biasa dan pantas diapresiasi, tetapi yang ia lakukan tidak sesuai dengan bidang penilaian minggu/bulan ini. Akibatnya, hal ini menjadi prestasi yang terlewatkan. Karena itu guru harus bijak. Prestasi itu dicatat untuk dikeluarkan pada saat sesuai jadwalnya.

Keempat, hasil pengamatan dan pinilaian diumumkan dalam upacara. Hal ini dilakukan untuk memberi kebanggaan dan penghargaan. Murid yang berprestasi dipanggil ke depan untuk mendapatkan ucapan selamat dan disematkan pin bintang prestasi. Pin dikumpulkan oleh murid dan pada akhir tahun ada penghargaan kepada murid pengumpul pin terbanyak. Dengan mengapresiasi atas prestasi yang telah diraih, akan menjadi pengalaman sukses bagi anak. Ini penting untuk memberi rasa percaya diri.

Kelima, sekolah membuat forum khusus di luar kelas. Forum diadakan rutin setiap hari di mana guru dapat berbicara dari hati ke hati dengan murid. Misalnya forum dalam bentuk halaqoh tiap selesai sholat dzuhur. Satu orang guru membimbing 7 sampai 10 murid. Tujuan forum ini adalah untuk memberi makna agar murid menghayati pentingnya usaha atau belajar dengan sungguh-sungguh pada semua bidang budaya yang dikembangkan.

Hal penting untuk menjaga agar cara ini tetap bermakna adalah kesungguhan guru dalam memberi penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Budaya prestasi bukan mengejar penghargaan, melainkan budaya usaha dengan prestasi sebagai ikutan.

* Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman Yogyakarta

Admin @emthorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya