Permainan Kreatif


Oleh : Adi Sulistama

Ingat masa kecil kita dulu? Membuat kincir angin dari tangkai daun yang mirip jari-jari, membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, cincin dari biji salak, dan sebagainya. Semua proses pembuatan mainan ini begitu menantang dan menyenangkan. Dan biasanya aneka permainan di atas dibuat bersama teman-teman dan dimainkan bersama.

Sayangnya, saat ini zaman seakan telah menggerus keindahan masa kecil kita tersebut. Anak-anak kini lebih familiar dengan gadget. Aneka games bisa diperoleh dari iphone, Ipad, dan sebagainya. Tapi jangan berkecil hati. Bukan berarti kenyataan ini membuat kita tak bisa mengajak anak-anak kita menikmati indahnya masa kecil kita dulu. Kita bisa mengajak anak lebih kreatif dengan berbagai permainan kreatif. Intinya, orangtua harus pintar memberikan stimulasi melalui mainan yang dapat mendidik. Tak harus mahal, mainan dari kayu, kertas serta benda-benda di sekitar kita bisa membuat anak jadi lebih kreatif.

Satu hal yang paling berperan penting dalam mengajak anak lebih kreatif adalah dengan mengembangkan daya imajinasi anak. Caranya? Dengan merangsang (stimulasi) otaknya sejak dini. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, mulai dari membacakan dongeng, membacakan murottal Al Qur’an, memperdengarkan kisah para nabi, hingga memberikan berbagai mainan yang mengasah kemampuan otaknya.

Media untuk stimulasi juga bisa dibuat sendiri, misalnya dengan kertas koran bekas yang nantinya dapat dibentuk menjadi sesuatu yang baru oleh anak, atau melipat-lipat kertas origami menjadi berbagai bentuk.

Anak yang kreatif tidak tercipta begitu saja. Mereka perlu didukung oleh lingkungan yang kaya stimulasi, terutama dari kedua orangtuanya. Orangtua harus memiliki referensi berbagai macam permainan atau sesuatu yang dapat dieksplor, digali dan dikembangkan.

Sebelum memberikan suatu permainan untuk anak, ada baiknya kita harus menyesuaikan jenis permainan dengan usia dan kemampuan anak. Perhatikan pemilihan alat dan bahan bermain, sesuaikan dengan usia anak. Misalnya saja untuk anak usia dua tahun, hindari benda yang terlalu kecil karena berisiko masuk ke mulut dan membuatnya tersedak. Anak balita belum suka dengan mainan yang rumit, lebih baik berikan mainan yang sederhana dan mudah diingat.

Permainan kreatif untuk balita seyogyanya yang membuat anak gembira, merangsang kemampuan motorik halus, motorik kasar, kemampuan emosional, kemampuan bersosialisasi, berbicara, dan daya berpikir. Orangtua bisa mengemasnya menjadi games yang menyenangkan. Misalnya tebak benda dalam mangkuk. Alat yang digunakan cukup sederhana; bola kain berwarna warni dan tiga mangkuk plastik berwarna sama. Letakkan bola kain di atas meja, lalu telungkupkan mangkuk untuk menyembunyikannya. Letakkan dua mangkuk lain di dekat mangkuk yang berisi bola. Pindah posisikan ketiga mangkuk di atas, lalu minta si kecil menebak di manakah mangkuk yang berisi bola.

Contoh permainan sederhana adalah permainan menyusun balok-balok kayu dan lego menjadi sebuah bangunan, jembatan, rumah dan lain sebagainya dapat merangsang motorik halus anak, melatih konsentrasi sekaligus melatih anak untuk memecahkan masalah.

Pilih balok-balok kayu dengan warna-warna menyolok. Temani anak dalam bermain dan bantu ia menyusun legonya menjadi satu benda. Sambil bermain dengan si kecil, orangtua juga dapat mengenalkan nama-nama warna kepada anak dan meminta anak untuk mengelompokkan satu warna tertentu.

Masih banyak permainan yang lain, seperti menggambar, mewarnai, melipat kertas, lomba mengenakan sepatu dan mengikatkan temalinya, bermain petak umpet dengan selimut, dan sebagainya. Kuncinya adalah kreativitas orangtua dalam mengemas permainan untuk menumbuhkan daya kreatif anak.

*) Adi Sulistama, Pemerhati dunia anak
Admin @emthorif

Tanggung Jawab Mendidik, Berlaku Seumur Hidup


Oleh : Galih Setiawan

Di tengah masyarakat seolah-olah terdapat “pembagian wilayah tugas” antara ayah dan ibu. Ayah mencari nafkah, dan karena itu sebagian besar waktunya ia habiskan di luar rumah. Sedangkan ibu, tugasnya mengurus segala kepentingan rumah tangga termasuk di dalamnya mengurus anak.

Bila kondisinya seperti itu, ayah lebih sibuk di luar rumah dan ibu diasumsikan punya banyak waktu di dalam rumah, lantas bagaimana dengan tanggung jawab pendidikan anak? Menjadi kewajiban ibukah? Ayahkah? Kalau berdua, bagaimana pula?

Pada dasarnya tidak ada pembedaan di antara ayah dan ibu. Keduanya sama-sama mempunyai tugas mendidik anak. Seorang ayah tentu memiliki tugas pendidikan anak, sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab tidak ada ayah yang lebih baik daripada beliau. “Rasulullah adalah seorang ayah, sekaligus murabbi, seorang pendidik. Sehingga, tugas utama ayah adalah at-tarbiyah, mendidik anaknya.”

Sementara tugas seorang ibu ternyata juga mendidik anak. Hanya bedanya tugas ayah menjadi lebih berat karena dia memikul pula tugas-tugas lainnya di luar rumah, yaitu mencari nafkah, serta berdakwah, misalnya. Dengan demikian, peran ibu dalam hal pendidikan justru dapat dikatakan sebagai mitra bagi para ayah.

Bahkan, saat kita mengacu pada teks-teks Al-Quran kita akan temukan beragam kisah yang menceritakan bagaimana para ayah, dalam hal ini nabi dan orang-orang shalih, mendidik anaknya. Contoh yang paling dikenal adalah kisah Luqman, seorang ayah, laki-laki yang shalih, yang memberi pesan tauhid kepada anaknya. Ini tercatat dalam surat Luqman, ayat 13 yang berbunyi, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Luqman (31): 13). Selain kisah Luqman di atas, kita pun bisa mengetahui bagaimana Ibrahim mendidik anaknya, Ismail, sehingga perintah yang diterima Ibrahim dari Tuhannya untuk menyembelih Ismail kemudian bisa ditaati oleh putra tercintanya itu. Juga terangkum dalam sejarah, Nabi Muhammad yang mengajarkan anak-anaknya, terutama Fatimah, kecintaan kepada Allah, dan mendidiknya hingga tumbuh menjadi pribadi yang kuat, cerdas dan sederhana.

Meski yang sering disebut dalam Al-Quran itu adalah ayah, itu bukan berarti menafikan peran seorang ibu. Dalam Al-Quran, ketika yang disebut itu laki-laki, maka bagi perempuan itu sudah include di dalam instruksi tersebut. Jadi kalau orangtua dalam Al-Quran digambarkan mendidik anak, dalam hal ini seorang ayah, itu otomotis hal yang sama juga tertuju kepada ibu juga.

Tidak mungkin Ismail bisa begitu cepat merespon panggilan Allah dengan mengatakan, “Wahai bapakku, lakukan apa yang kau diperintahkan,” kalau dia tidak dididik oleh ibunya, Hajar. Karena kalau ibunya bukan seorang pendidik, ia mungkin saja akan memprovokasi anak,Jangan mau, Nak,”

Jadi, dengan tidak disebut secara langsung, tetap termaktub sebuah isyarat bahwa Hajar—dengan makna luas adalah ibu, merupakan bagian dari sistem pendidikan untuk anak-anak dalam sebuah keluarga yang dibinanya. Intinya antara ayah dan ibu harus saling bekerjasama. Peran keduanya tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam pendidikan anak.

Begitu pula bila urusan pendidikan anak diserahkan ke sekolah. Kewajiban mendidik anak, yang utama jelas terletak pada kedua orangtua, ayah dan ibu. Bukan pada sekolah, madrasah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya.

Ketika anak yang diasuh dan dididik sedari kecil mencapai usia dewasanya, kemudian dia menikah, orangtua merasa itulah saat di mana semua tanggung jawab dan kewajiban terhadap anak yang selama ini dipikulnya selesai pula. Cukup sering kita mendengar pernyataan yang dilontarkan orangtua saat anaknya melangkah ke pelaminan, “Alhamdulillah, sudah selesai kewajiban saya, anak saya sudah berumahtangga.” Memang, ketika anak menikah, gugur pula kewajiban orangtua terhadap anak, tapi itu tidak seluruhnya. Kewajiban memberi nafkah selesai sampai di situ, tapi kewajiban menasehati, memutaba’ah (memonitor), mendidik, mendakwahi, memberikan tausiyah, itu terus, sampai seumur hidup. Jangankan sama anak, sama orang lain pun kita wajib berdakwah.

Makanya, dalam Islam, tidak ada kata berhenti untuk mendidik anak, sekalipun anak itu sudah menikah dan berada dalam tanggung jawab orang lain.

*) Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma

Admin @emthorif

Bermuara Pada Puncak Tanggung Jawab


Oleh : Dr. Subhan Afifi, M.Si.

Shalat Magrib berjama’ah telah usai. Seorang anak yang belum lama lulus SD masih duduk terdiam di shof depan. Ayahnya datang menghampiri, mengajak pulang.Tinggal mereka berdua saja di masjid yang memang jama’ahnya tidak terlalu ramai itu. “Kenapa Nak ?” sapa sang ayah yang langsung merasa si anak sedang galau. Terlihat dari matanya yang bergerimis. “Tadi bakso yang kita makan halal nggak ya?,” tanyanya. “Insya Allah halal, masa’ kita makannya di tempatnya yang nggak halal”, jawab ayahnya tersenyum.“Aku sampe berdoa pada Allah abis shalat tadi, kalau memang baksonya nggak halal, biar dimuntahin saja,” kata si anak lirih.

Rupanya si anak kepikiran dengan kehalalan bakso yang mereka makan, karena melihat ada sticker kecil toko non muslim tertempel bersama banyak sticker lain di warung bakso yang terkenal laris itu. Pikiran polosnya menghubungkan sticker kecil itu dengan kehalalan bakso yang dimakan.“Tapi setelah berdoa abis shalat tadi nggak muntah kan?” canda sang ayah mengajaknya pulang, sambil diam-diam menyelipkan rasa syukur, anak sulungnya itu sudah mulai mengenal arti tanggung jawab.

Tanggung jawab secara sederhana bermakna keadaan wajib menanggung segala sesuatu sebagai konsekuensi dari suatu tingkah laku atau perbuatan.Terdapat fungsi pembebanan atau kesiapan untuk menanggung akibat dari sesuatu.

Penting untuk mengenalkan tanggung jawab sejak dini kepada ananda tersayang. Tanggung jawab paling puncak tentu saja adalah tanggung jawab pada Allah Ta’ala sebagai Rabb Semesta Alam dan satu-satunya sesembahan. Anak dikenalkan sejak dini bahwa kita semua adalah mahluk Allah Ta’ala yang wajib taat pada seluruh aturan kehidupan yang telah ditetapkan-Nya.

Rasululloh Shollallahu ‘alaihi Wassalam mencontohkan bagaimana beliau mendidik cucu tersayang agar bertanggung jawab, misalnya terkait dengan apa yang dimakan.

Dari Abu Huroiroh Rodhiallahu ‘anhu, ia berkata: Hasan bin Ali Rodhiallahu ‘anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma zakat, lalu ia memasukkan ke dalam mulutnya. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Kih..Kih…! (keluarkanlah dan) buanglah kurma itu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa kita tidak boleh memakan barang zakat?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk bagaimana Rasul memerintahkan mendidik tanggung jawab terbesar untuk menegakkan shalat sebagai ibadah yang paling menentukan.

“Perintahkanlah anak-anak untuk mendirikan shalat ketika dia berumur tujuh tahun. Dan ketika dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau meninggalkan shalat. (HR Abu Daud)

Mendidik anak tentang halal haram, boleh-tidak boleh, baik-buruk, pada dasarnya adalah mendidik mereka untuk bertanggung jawab sebagai hamba Allah Ta’ala. Bahwa kehidupan ini dengan segala pernak-perniknya, kelak akan dipertanggungjawabkan.

Tanggung jawab puncak sebagai hamba Allah Ta’ala akan mendasari aneka tanggung jawab turunan yang terkait dengan diri sendiri dan keseharian. Ada kewajiban juga untuk membiasakannya.

Misalnya bagaimana melatih kemandirian sejak dini, seperti membereskan mainan sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, dan seterusnya. Berikutnya, dilatih untuk merapikan kamar tidur, menyiapkan perlengkapan sekolah, mencuci piring-gelas hingga pakaian sendiri. Kemudian meningkat pada belajar untuk sensitif dan bertanggung jawab pada lingkungan sekitar. Belajar menolong yang kesusahan, tak acuh pada sekeliling. Hingga  terbentuk jiwa untuk selalu ingin berbuat baik dengan niat mencari ridho Allah Ta’ala.

Semua proses mendidik tanggung jawab itu dilakukan dalam suasana menyenangkan, dan tidak membebani di luar kemampuan. Memberikan kepercayaan penuh plus penghargaan pada anak dengan balutan keteladanan dan gaya komunikasi bernuansa motivatif, menjadi prinsip penting.

Mendidik tanggung jawab sejak dini, berarti mempersiapkan lahirnya generasi yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan,sekaligus calon pemimpin di masa depan.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

*) Dr. Subhan Afifi, M.Si. Dosen Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Admin @emthorif 

Bertanggung Jawab dalam Mendidik


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Demikianlah, seorang lelaki adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Kepemimpinan itu bergandeng dengan tanggung jawab. Sesiapa yang berhasil dalam mempertanggungjawabkan amanah yang ia pikul maka ia berhak atas balasan kebaikan dan terpuji. Sesiapa yang tidak bisa maka ia gagal. Ia pantas mendapatkan hukuman dan celaan.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Wujud kesungguhan bertanggung jawab adalah melakukan upaya pendidikan yang baik. Keteledoran dalam usaha pendidikan ini akan mengantar kepada kegagalan. Adapun kesungguhannya akan membuahkan manis di dunia ini semasa hidup dan di akhirat kelak sesudah mati. Amal dan doa anak shalih mengalirkan tambahan ganjaran kebaikan kepada orangtuanya yang telah tidak bisa beramal.

Tanggung jawab pendidikan terbesar yang semestinya dilaksanakan oleh setiap mukminin adalah menghalangi anak dan keluarga dari celaka. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah memberi wejangan berharga, “Perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya” (Ihya Ulum al-Din 3/72).

Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud hal. 125).

*) R. Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma

Admin @emthorif

Parenting : Menakar Ulang Pendidikan Seks


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

When I Was A Child
Saya dibesarkan dalam lingkungan muslim tradisional yang di usia 7-8 tahun berkenalan dengan kitab-kitab fiqih dasar semacam Sulam Safinah dan yang serupa dengan itu. Semua itu merupakan kitab-kitab fiqih dasar madzhab Syafi’i yang mencakup berbagai masalah secara umum, termasuk soal menstruasi, bersuci dari hadas besar dan berbagai sebabnya (jima’/sexual intercourse salah satunya).

Pengenalan awal tentang hukum Islam dalam kerangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak-anak usia sekolah dasar kelas bawah telah mengenal berbagai hal yang hari ini dianggap sebagai porsi orang dewasa. Salah satu alasan untuk membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar hukum Islam hingga ke masalah hadas besar dan penyebabnya adalah karena orangtua berkewajiban menegakkan disiplin ibadah di usia 10 tahun. Salah satu sanksinya adalah memukul. Dan tidak dibolehkan memukul kecuali anak sudah mengerti hal-hal dasar tentang hukum Islam.

Walhasil, anak-anak mengerti hal-hal pokok terkait kewajiban yang berkaitan dengan seksualitasnya, tetapi tidak memperolehnya dalam konteks pendidikan seks. Anak memahaminya sebagai bekalan penting sebagai hamba Allah Ta’ala. Anak mengetahui apa itu menstruasi, apa itu ihtilam (wet dream), pun anak paham apa bedanya mani (sperma) dan madzi sat ia berusia sekitar 9 tahunan. Ini semua hasil ikutan dari pendidikan tentang syari’at Islam.

Several Years Ago
Begitu saya dibesarkan. Tetapi ketika saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi dan membaca berbagai literatur mengenai seksualitas manusia dan khususnya tentang pendidikan seks, terlebih ketika dihadapkan pada sejumlah pertanyaan dari orangtua, saya sempat mengalami perubahan cara pandang. Anak-anak harus memperoleh informasi “memadai” (sebuah istilah yang sebenarnya sangat ambigu) tentang seksualitas serta organ reproduksi mereka. Ini sangat penting agar mereka dapat mengendalikan diri karena memahami bahayanya melakukan hubungan seks pra-nikah.

Jika anak meminta bertanya tentang hal-hal yang berkait dengan seksualitas, maka orangtua dan pendidik berkewajiban untuk memberikan informasi yang sesuai.


In The Recent Years
Belakangan saya membaca dan merenungi beberapa hal. Pertama, pergeseran paradigma pendidikan seks di Amerika dari seks bertanggung-jawabyang berorientasi kelonggaran melakukan hubungan seks pra-nikah asalkan siap dan mampu bertanggung-jawab, lalu bergeser menjadi safe sex (seks yang aman) sebagai reaksi terhadap merebaknya STD alias penyakit menular akibat hubungan seks bebas, lalu pada tahun 1980-an wacana yang menguat adalah kampanye pro-abstinence alias mencegah hubungan seks pra dan di luar nikah. Tetapi ini justru mendapatkan penentangan dari warga negaranya sendiri, termasuk industri terkait seks semisal kondom yang kemudian melebarkan sayapnya ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia melalui berbagai LSM.

Kedua,ada realitas menarik di berbagai negara kawasan Timur Tengah bahwa remaja umumnya tidak mengalami krisis identitas sebagaimana yang diyakini dalam psikologi perkembangan. Jika Anda membaca buku, yang paling sederhana adalah The 50 Great Myths in Popular Psychology, Anda akan mendapati bahwa tidak mengalami krisis identitas pada saat seseorang memasuki masa remaja bukan hanya terjadi di Timur Tengah. Mereka tidakmengalami keguncangan (storm and stress) yang juga diyakini mutlak terjadi pada remaja. Lalu, apa sebabnya mereka tidak mengalami krisis identitas maupun keguncangan? Ada dua hal. Pertama, apa yang disebut sebagai identity foreclosure. Mereka memiliki kejelasan identitas sebelum mereka memasuki masa remaja. Kedua, jelas dan kuatnya orientasi mereka terkait hubungan dengan lawan jenis, sementara terpaan media yang member rangsang seksual relatif rendah.

Ketiga, saya meyakini sebaik-baik masa adalah para salafush-shalih. Dan tidak ada satu pun perkara yang terabaikan dalam agama ini. Inna ashdaqal hadiitsi kitabuLlah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah, yakni Al-Qur’anul Kariim. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kita dapati bahwa agama ini mengajarkan agar para pemuda memiliki orientasi menikah yang kuat. Bekal awalnya ditanamkan semenjak kanak-kanak dengan mengenali taklif (bebanan syari’at) dalam segala hal, termasuk ketika seseorang telah ihtilam (polutio).

Bagaimana kita membekalkan itu? Ini yang perlu kita diskusikan. Semoga lain kesempatan dapat membuat catatan yang lebih memadai.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Admin @emthorif

Makanan Cerdas : Daging Kambing


Oleh : Ana Noorina

Daging kambing adalah salah satu daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Namun, meski lezat, banyak orang yang menghindari makan daging jenis ini karena kekhawatiran terhadap kesehatan.  Meski begitu, mengutip Health Me Up, daging kambing sebenarnya punya banyak manfaat bagi kesehatan. Tentu saja jika dikonsumsi secara benar dan tidak berlebihan.

Dalam 100 gram daging kambing, kurang lebih hanya memiliki 1 gram kolesterol. Ini berarti daging kambing cukup baik untuk turut serta menjaga kesehatan jantung dan menghindarkan diri dari risiko kolesterol. Daging kambing juga bisa meredakan peradangan dan mestabilkan ritme jantung serta menurunkan risiko atherosclerosis dan penyakit jantung koroner.

Kandungan Vitamin B di dalam daging kambing bisa membantu membakar lemak. Kondisi daging kambing yang mengandung jumlah protein tinggi tanpa lemak dan lemak jenuh rendah juga bisa membantu mengontrol berat badan dan mengurangi risiko obesitas.

Daging kambing bermanfaat bagi wanita hamil karena mencegah anemia selama kehamilan di kedua ibu dan bayi berkat kandungan zat besinya yang tinggi. Konsumsi daging kambing selama kehamilan meningkatkan kadar hemoglobin darah pada ibu dan suplai darah ke bayi. Selain itu, daging kambing mengurangi risiko cacat lahir pada bayi, seperti cacat tabung saraf, jika dikonsumsi saat hamil.

Selain untuk menjaga syaraf dan fungsi utamanya untuk mengubah energi, Vitamin B12 dalam kambing ini juga bermanfaat untuk kesehatan mental. Kandungan ini bisa membantu mengurangi stres dan depresi. Selain itu, kandungan omega-3 dan asam lemak dalam daging kambing bisa digunakan untuk pengobatan yang efektif untuk autisme.

Manfaat dari daging kambing yang tidak dapat kita pungkiri adalah sumber energi yang cukup besar untuk beraktivitas sehari-hari. Kandungan kalori, lemak dan protein akan menjaga tubuh tetap fit selama mengkonsumsi daging ini.Sehingga protein yang ditemukan dalam daging kambing bertindak sebagai agen kelaparan penekan dan menjaga perut kenyang lebih lama, sehingga pengelolaan berat badan.

Daging kambing kaya kalsium yang membantu menguatkan tulang dan gigi. Kandungan fosfor sebesar 272 mg dalam 100 gram daging kambing memenuhi 27% kebutuhan harian terhadap fosfor yang merupakan salah satu dari zat yang dapat menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Daging kambing juga meningkatkan produksi sel-sel baru yang membantu menunda penuaan.

*) Ana Noorina, Pemerhati gizi

Admin @emthorif

Jangan Matikan Potensi Anak


Oleh : Suhartono

Suatu ketika, seorang anak bermain di dapur dan tanpa sengaja memecahkan gelas kaca. Gelaspun hancur tak berbentuk lagi. Sontak sang ibu berteriak kuat sambil mengucapkan kata nakal yang membuat sang anak ketakutan. Hanya karena gelas saja ibunya rela menyakiti hati sang anak dan ditambah lagi dengan pukulan yang mendarat di kakinya. Sang anak hanya mampu berdiri di pojok ruangan dengan wajah memerah dan ketakutan. Hanya karena sebuah gelas seharga Rp. 10.000, sang ibu rela menyakiti hati sang anak yang mungkin saja dapat ia ingat sampai ia dewasa.

Pertanyaannya sekarang, nakalkah anak tersebut? Apakah pantas seorang anak yang memecahkan gelas tanpa sengaja atau sekadar melompat-lompat di kursi lantas kita sebut sebagai anak nakal?

Anak diciptakan dengan segudang potensi dan keunikan masing-masing. Namun, sadarkah kita, sebagai orangtua atau guru,  ternyata kita punya andil dalam mematikan atau membonsai potensi anak yang merupakan anugerah terbesar bagi dirinya. Kita terlalu cepat memberikan label kepada mereka dengan sebutan anak nakal.

Mereka sebenarnya anak yang kreatif dan memiliki kecerdasan yang luar biasa namun kreatifitasnya tak sejalan dengan pemikiran dan keinginan kita. Seorang anak yang ingin bermain di luar rumah dan sang ibu memaksanya untuk tidur. Akhirnya pintu dikunci dan tak lupa menyelot kunci pintu yang ditaruh paling atas pintu. Lalu, kuncinya digantung di atas tembok yang tak dapat terjangkau oleh sang anak. Apa yang terjadi? Sang anak mengangkat kursi dan naik di atasnya, lalu mengambil kunci yang digantung di tembok. Menyadari kunci sudah ada di tangannya sang ibu hanya memperhatikan saja. Dalam hati, mana bisa anak sekecil itu bisa membuka pintu. Anak pun memasukkan kunci ke lubangnya dan mencoba beberapa kali memutar-mutar kunci. “Klik….” bunyi kunci terbuka.

Anak tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia mampu memikirkan cara untuk mengambil kunci yang tergantung di tembok dan membuka pintu. Tapi masalahnya adalah kecerdasan sang anak tidak sejalan dengan keinginan sang ibu yang menginginkan anaknya untuk tidur.

Anak kadang memiliki energi “ekstra” namun kita tidak dapat menyalurkannya dengan baik Masih ingatkah kita dengan sosok si jenius Albert Einstein? Anak yang bermasalah dari sekolah dasar. Selama sekolah, ia tidak mau mengikuti pelajaran selain matematika dan fisika. saat pelajaran sastra dan yang lainnya, ia memilih keluar dari kelas dan pergi ke danau untuk bereksplorasi dengan alam. Saat di sekolah, Einstein dikenal sebagai anak nakal. Alhamdulillah ia memiliki orang tua yang sangat mendukung keinginannya yang kuat untuk terus belajar matematika dan fisika dan memilih untuk tidak mempelajari ilmu lainnya. Orangtua dan guru memiliki tanggung jawab penuh untuk menyalurkan energi ekstra sang anak pada posisi yang tepat agar sang anak mampu untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Sering pula anak yang memiliki ide yang ” tidak biasa” namun kita menganggapnya sebagai anak yang tidak bisa diatur. Proses belajar mengajar di kelas sering sekali terhambat karena adanya beberapa anak yang tidak mampu mengikuti prosedur yang diharapkan guru. Contohnya saja ketika melakukan praktikum. Sering sekali anak tidak mengikuti arahan dari guru dan melakukan kreasi sendiri. Kita sering sekali menganggap anak nakal hanya karena ia tidak bisa mengikuti arahan kita, padahal di luar dari itu, sang anak sedang mencoba ide kreatifnya yang muncul secara tiba-tiba dan mungkin tidak mendapatkan pengakuan di rumahnya. Seharusnya kita mampu melihat dan membimbing apa yang dikerjakannya dan memberikan apresiasi atas usahanya.

Apapun yang dilakukan seorang anak yang dinyatakan terlarang bagi anak dan merugikan bagi orang lain, sesungguhnya posisi anak tetap sebagai korban. Anak adalah korban kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, korban pendidikan yang belum memadai, korban perkembangan teknologi dan media massa dengan aturan yang tidak berpihak kepada kepentingan tumbuh kembang moralitas dan mentalitas anak. Karena apa yang dilakukan anak yang dipandang sebagai bentuk kenakalan itu, juga merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab perlindungan orangtua, keluarga, masyarakat, bahkan negara dan pemerintah.

*) Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya

Admin @emthorif

Tips Cerdas : Marah Tidak Menyelesaikan Masalah


Oleh : Nur Muthmainnah


Perilaku anak-anak yang sulit diatur dan tak bisa dinasihati, terkadang bisa saja membuat amarah kita terpancing dan terluapkan dengan begitu saja. Ya, dalam kehidupan sehari-hari

Walaupun perilaku si anak seringkali membuat kita begitu kesal, akan tetapi sesungguhnya bukanlah hal itu yang menjadi sumber amarah anda bisa meledak dan mencapai puncaknya. Ketika anda melihat si anak berperilaku tertentu seperti misalkan ia menykiti adiknya dan anda lantas menyimpulkan bahwa si anak nantinya akan menjadi seorang psikopat dan lantas kesimpulan tersebut membawa anda pada kesimpulan berikutnya bahwa anda telah gagal menjadi orangtua adalah hal yang tidak seharusnya anda pikirkan.

Pemikiran semacam ini akan dapat memicu serangkaian emosi seperti rasa takut dan perasaan bersalah dalam diri anda, Ketika anda tak mampu menampung perasaan ini dengan baik, maka cara yang akhirnya akan dipilih adalah melampiaskan kekesalan tersebut pada anak.

Sadarilah, seluruh proses psikologis tersebut hanya memakan proses beberapa detik saja. Akan tetapi, hasil yang ditimbulkan pada amarah anda memberikan pengaruh yang besar yang akhirnya membuat anda meledak dan memaki si buah hati. Mungkin memang benar, si anak membuat anda kesal dan menguji kesabaran anda, namun pahami bukan anak penyebab munculnya respon kemarah anda.

Adapun cara mengatasi sebuah masalah adalah berasal dari apa yang sudah kita pelajari sebelumnya. Cobalah berkaca dari apa yang sudah anda alami dari orangtua anda terdahulu. Ketika anda masih kanak-kanak, orangtua anda mungkin akan melakukan hal yang sama ketika anda melakukan kesalahan dengan memaki dan memarahi anda. Akan tetapi, jelas anda rasakan bahwa hal tersebut sudah membuat anda mengalami "luka" psikologis akibat kesalahan dalam pola asuh yang diberikan oleh orantua anda saat anda masih kanak-kanak. Untuk itu, tidak bijak jika anda mengulang kesalahan yang sama terhadap buah hati anda saat ini.

Tips Mengatasi Marah Pada Anak :

Sadari apa akibat yang akan timbul
Ketika si anak terus membangkan dengan nasihat yang anda berikan pada mereka, maka mundurlah sejenak dari "pertarungan" yang anda hadapi bersama dengan si anak. Ambil langkah ke luar rumah atau menjauh dari si anak, tarik nafas dalam-dalam dan usahakan untuk memfokuskan diri pada bagaimana meredam amarah anda yang akan meledak.

Sadari betul dampak dan akibat yang akan ditimbulkan jika amarah anda meledak pada si kecil. Pada intinya jangan pernah terpengaruh dengan rengekan atau tangisan si buah hati yang akan membuat amarah anda semakin parah. Ingat kembali bahwa mereka adalah buah cinta anda yang sudah seharusnya anda lindungi.

Jika anda sudah merasa lebih tenang, maka barulah anda bisa kembali keluar dan bicarakan kembali bersama dengan si buah hati.

Temukan Alasan Amarah Anda
Ketika muncul kekesalan dan amarah dalam hati, segera ambil waktu anda untuk mencari alasan penyebab anda marah saat ini. Terkadang, saat seseorang merasa tertekan dengan pekerjaannya di tempat kerjanya, membuat mereka lebih mudah bergejolak dan pada akhirnya mereka akan melepaskan stres dan depresi yang dirasakannya pada si buah hati.

Refreshing
Keadaan stres, beban pikiran dan tekanan adalah beberapa sumber yang akan membuat amarah mudah meledak. Saat anda terlalu sibuk bekerja di tempat kerja atau di rumah, mungkin anda butuh refreshing atau rehat sebentar. Dalam hal ini, liburan yang bisa anda dapatkan tidak usah berbentuk liburan mahal dengan mengunjungi tempat-tempat mewah. Dengan duduk rileks di tempat yang berbau alam dengan pepohonan rindang, udara yang segar akan membuat anda merasa lebih rileks dan lebih tenang sehingga amarah akan bisa diredam.


*) Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak

Apa yang Berbeda dari Guru Hebat


Oleh : Atiek Setyowati, S.Si

Apakah anda berprofesi sebagai seorang guru? Kalau ya. Selamat! Anda sedang menjalani sebuah profesi yang penuh tantangan. Bahkan, seluruh umat manusia di dunia ini menganggap guru adalah profesi yang mulia.  Guru itu membagikan ilmu kepada para siswanya tanpa kenal lelah. Kualitas pendidikan bangsa ini pun banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya.

Pentingnya peranan seorang guru dalam mendidik para siswanya bepengaruh besar dalam kemajuan bangsa. Guru yang professional dan berkualitas pastinya akan selalu terus belajar dan bekerja dengan baik serta memiliki kemauan yang tinggi untuk bergerak maju. Seorang guru itu tidak hanya sekedar mengajar dan mendidik saja akan tetapi dapat mencintai dan dicintai murid-muridnya, sehingga kebaikan dan ilmu apapun yang ia sampaikan dapat menghunjam kuat ke dalam sanubari murid-muridnya.

Dalam sebuah seminar “Gurunya Manusia” Pak Munif mengatakan ada 3 jenis guru: pertama, “Guru Robot” yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah. Mereka peduli dan mirip seperti robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah diprogramkan di sekolahnya. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini: “wah…..itu bukan masalahku….itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri saja..” atau “maaf aku tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya..”

Kedua, “Guru Materialistis”, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima. Barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan tergantung dari hak yang mereka terima. Guru jenis ini pada awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam kesombongan dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat benefitasnya dalam bekerja. Ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar dari guru jenis ini antara lain : “Cuma digaji sekian saja kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap ya” atau “percuma saja mau kreatif, orang penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk transport” dan lain-lain.

Ketiga, “Gurunya Manusia”yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk intropeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar, sebab mereka sadar profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang berkeinginan kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangkannya.

Gurunya manusia juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bedanya dengan guru materialistis, gurunya manusia menempatkan penghasilan sebagai akibat yang akan di dapat dengan menjalankan kewajibannya yaitu keikhlasan mengajar dan belajar. Kita ketahui sudah banyak contoh yang mana rizki seorang guru tiba-tiba di kasih oleh Allah SWT dari pintu yang tidak terduga atau dari akibat guru tersebut terus menurus belajar untuk para siswanya. Allah maha melihat dan mengetahui apa yang diinginkan oleh hamba-hambaNya.
Guru hebat adalah gurunya manusia yaitu guru yang tanpa henti belajar untuk menginsipirasi para siswa agar berhasil di kemudian hari. Bukankah sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup, mereka pun mengajari kita apa kehidupan itu.

Mari sejenak tundukkan wajah, ambil nafas lalu lakukan intropeksi. Anda termasuk guru jenis yang mana ?


*) Atiek Setyowati, S.Si, Guru Kelas SDIT Salsabila 3 Banguntapan, Bantul, DIY

Kolom Prof In : Mendidik Lewat Dunia Nyata


Oleh : Prof. Dr. Ir.Indarto, D.E.A.

Seperti biasanya, setelah selesai silaturahim ke saudara-saudara, sebelum pulang ke Yogya kami mampir di warung sate kambing yang cukup terkenal di Solo. Karena saya dan istri sudah harus mulai menjaga asupan makan, maka kami hanya pesan sate daging, berbeda dengan anak perempuan bungsu, dia pesan sate kambing buntel, daging kambing dicacah yang dibungkus dengan lemak.

Pada saat menunggu pesanan, tiba-tiba ada sebuah kendaraan roda empat berhenti di depan warung dan dari pintu belakang turun seorang anak laki-laki usia SMA sambil menjinjing sebuah keranjang, lalu kendaraan tadi pelan-pelan beranjak pergi. Pemuda yang berpakaian rapi ini masuk ke dalam warung, tidak langsung mencari tempat duduk, namun justru mendatangi meja kami, setelah dekat dia membungkuk hormat. Saya pikir dia akan menanyakan sesuatu, ternyata kalimat yang keluar adalah “Ibu, bolehkan saya menawarkan kue yang kami buat sendiri”. “Kue ini saya buat dengan bunda tadi pagi, jadi masih baru”. Dia juga menyebutkan harga dari masing-masing paket kue tersebut.

Mendengar kalimat itu, kami bertiga saling berpandangan, seolah saling minta pertimbangan, kue yang ditawarkan itu perlu dibeli atau tidak, karena selain di rumah masih terdapat banyak kue, juga harga yang ditawarkan relatif mahal. Namun kalau hanya dengan berpandang-pandangan, kami tidak akan bisa memutuskan, maka akhirnya kami saling berkomunikasi dalam bahasa Perancis, agar anak laki-laki tadi tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Keputusan dari diskusi singkat ini, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami akan tetap membeli.

Sebetulnya, keputusan membeli itu bukannya kami ingin merasakan kuenya, tetapi justru yang ingin kami ketahui lebih banyak adalah tentang motivasi pemuda tadi menjajakan kue. Karena agak janggal seorang pemuda santun, berpakaian rapi, turun dari kendaraan, tanpa rasa malu yang berlebihan, mendatangi kami hanya untuk berjualan kue. Kami menanyakan banyak hal ke dia, mulai dari tempat tinggalnya, jumlah saudaranya, sekolahnya, sampai pekerjaan orangtuanya. Ternyata apa yang dia lakukan itu bukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan, tetapi lebih kepada sebuah bentuk proses edukasi dari orangtuanya.

Setelah anak muda tadi pindah ke meja yang lain, kami saling berpandangan lagi, sepakat untuk mengatakan bahwa orangtuanya telah menggunakan cara hebat dalam memperkenalkan dunia nyata kepada anaknya. Kami termasuk yang setuju dengan prinsip kedua orangtuanya, mendidik dengan memperkenalkan langsung dalam persoalan hidup.

Dengan edukasi seperti itu, si anak akan mempunyai pengalaman berhadapan dengan orang dari berbagai karakter. Bagaimana dia harus bereaksi ketika berhadapan dengan orang yang dengan kasarnya menolak untuk membeli. Bagaimana dia harus berterimakasih pada orang-orang yang dengan sopannya mengatakan bahwa mereka akan membeli di lain kesempatan. Bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan kepada orangtua bila tidak satupun kuenya laku.   

Selain itu si anak juga akan merasakan dan bahkan mengalami sendiri bagaimana susahnya orang mencari rejeki, sehingga kelak dia akan bisa hidup berhemat. Kalau si anak tadi seorang perempuan, maka kelak dia akan menghormati suaminya yang bekerja membanting tulang mencari nafkah untuk keluarganya. Dia tidak akan protes kepada suaminya ketika pulang tanpa membawa uang.

Selain itu, dia juga mempunyai pengalaman untuk mengerjakan tugas selain pelajaran sekolah. Dia harus pandai-pandai membagi waktu untuk belajar, membuat kue, memasarkannya, membuat laporan hasil penjualan dan sebagainya. Dengan berbagai pekerjaan dan tanggung jawab tersebut maka si anak akhirnya akan mempunyai keterampilan dalam manajemen waktu.

Dalam perjalanan pulang, kami masih mendiskusikan cara orangtua pemuda tadi mendidik. Alhamdulillah, meskipun kami tidak menggunakan cara yang sama, namun prinsip tidak berbeda, kami sudah merasakan hasilnya. Anak-anak kami, mereka semua bertiga, atas kehendak Allah Ta’ala dalam waktu singkat bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidangnya dan mereka diterima oleh lingkungan barunya dengan baik, bahkan ketiganya disenangi oleh atasannya. Wallahu A’lam Bishawab.

*) Prof. Dr. Ir.Indarto, D.E.A. Guru Besar UGM Yogyakarta | Pimpinan Umum Majalah Fahma

Admin @emthorif
foto http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/10/20/78216_anak_anak_menjual_cobek_300_225.jpg

Renungan : Bermanfaat


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Sebaik-baik kalian adalah di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Begitulah ajaran mulia Nabi kita. 

Kualitas diri dan ketinggian kedudukan kita terletak pada memberi manfaat. 

Bukan mengambil dan memanfaatkan orang lain.

*) R. Bagus Priyosembodo, Guru Ngaji
Admin @emthorif

Tips Cerdas : Ketika Ada Masalah di Sekolah


Oleh : Suhartono

Suatu ketika, Bu Mira, guru kelas Aldi di kelas 1 melapor ke Ibunda Aldi bahwa Aldi di sekolah begitu bandel, sulit diatur. Bahkan sempat mendorong temannya hingga terjatuh dan luka. Aldi juga sering membuat gaduh di kelas sehingga pembelajaran tidak kondusif . Akan tetapi, ketika Ibunda Aldi mengkonfirmasi ke Aldi, Aldi justru memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Sebaliknya, Aldi justru mengatakan bahwa gurunya memperlakukannya dengan galak.

Jika ilustrasi seperti di atas terjadi pada kehidupan kita, bagaimana kita menyikapinya? Jika hal ini benar-benar terjadi, tentu akan menjadi dilema yang besar. Di satu sisi, kita tak ingin menjadi sosok orangtua yang menaruh curiga pada anak. Apalagi usia si anak masih begitu kecil. Akan tetapi, di sisi lain, kita pun dibuat bingung. Bagaimana mungkin seorang guru berbohong dengan ucapannya? Saat hal ini terjadi, seringkali akan membuat kita bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Terkadang hal ini malah akan menjadi beban pikiran.

Sebelum terburu memutuskan mana yang salah dan mana yang benar, sebaiknya kita lebih bijak untuk mengetahui dengan baik karakter si anak di rumah. Jika kita melihat karakter anak terlihat baik, pendiam dan lain sebagainya. Maka, kita bisa mempertimbangkan laporan si kecil. Namun, jika karakter anak di rumah seringkali menjahili anak lain, maka kita bisa menentukan sikap anda selanjutnya. Akan tetapi, tidak bijak pula jika anda langsung menyalahkan guru. Untuk itulah, kenali terlebih dahulu sifat dan sikap anda di rumah dan di sekolahnya.

Penting juga untuk anda mengetahui sikap dan karakter mereka di sekolah. Hanya karena anak terlihat aktif di rumah, seringkali jahil dengan saudaranya dan kerap membuat kegaduhan, bukan berarti sikap yang sama mereka aplikasikan di sekolahnya, begitupun sebaliknya.Adakalanya, sikap seorang anak akan berubah saat di sekolah. Hal ini dikarenakan anak akan menimbang kehadiran teman-temannya, orang lain dan bahkan gurunya. Dalam hal ini, bisa jadi si anak berubah menjadi pemalu, atau malah sebaliknya. Untuk itu, kenali dengan pasti sikap dan karakter anak.

Tips untuk mensinkronkan laporan guru dengan laporan anak
> Klarifikasikan hal ini pada teman-teman anak, atau mengkonfirmasi guru lain yang tidak bersangkutan dengan laporan guru tersebut, seperti misalkan guru mata pelajaran lain yang juga mengajarkan di kelas anak atau mungkin wali kelasnya.

> Perlu sekali bagi anda untuk mengetahui dengan jelas akan kronologis peristiwanya. Cerita dari si anak biasanya tidak berurut dan tidak lengkap. Selain itu, bisa jadi pernyataan yang diberikan oleh si anak hanya diungkapkan dari kondisi yang menguntungkannya saja. Sementara itu, cerita yang didapat dari si guru juga tidak bisa diterima mentah-mentah, bisa jadi si guru tidak melihat peristiwa ini dari awal dan hanya menyimpulkan bagian yang dilihatnya saja.

> Jika kesalahan ada pada anak, maka mintalah anak untuk meminta maaf baik pada teman-temannya, gurunya dan bahkan pada kita. Sebaliknya, jangan pernah tunjukan rasa kekesalan pada anak karena sudah membuat kita malu.

> Hal yang tak kalah penting adalah introspeksi bagaimana pola didikan yang sudah kita berikan pada si kecil. Sudah tepatkah selama ini anda mendidik si buah hati? Dari sini, kita bisa meminta anak dengan perlahan untuk mau meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat. Selain itu, kita juga bisa langsung menghubungi guru yang bersangkutan dan menyampaikan permohonan maaf anda padanya atas kesalahan yang dilakukan si buah hati.

*) Suhartono, Pendidik, Tinggal di Yogya

Admin @emthorif

Makanan Cerdas : Ikan Nila


Oleh : Ana Noorina

Ikan nila adalah salah satu jenis ikan air tawar yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Ikan nila adalah salah satu sajian favorit keluarga yang dapat diolah dengan cara digoreng, dibakar maupun dibumbui asam manis. Kelezatan ikan nila membuat anak-anak dan orang dewasa menyukainya.

Ikan nila memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh. Manfaat tersebut antara lain dapat mengurangi berat badan, membantu pertumbuhan badan, mempercepat metabolisme, membangun tulang, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menyehatkan rambut, mencegah penuaan dini, mencegah arthritis, sampai pencegah kanker. Ikan nila dikenal sebagai sumber pangan yang rendah lemak sehingga tidak meningkatkan kadar kolesterol.

Ikan nila juga dikenal rendah kalori dan karbohidrat jadi sangat pas untuk program diet sehat. Kandungan omega 6 yang ada dalam ikan nila bermanfaat mencegah dermatitis. Kandungan fosfor yang ada dalam ikan nila sangat bermanfaat untuk pembentukan tulang dan gigi.

Kandungan vitamin B12, bermanfaat untuk membentuk sel darah merah. Ikan nila juga mengandung potassium yang berguna untuk mencegah pembentukan batu ginjal dan melancarkan aliran oksigen ke otak. Kandungan kolagen dalam ikan nila jumlahnya lebih rendah daripada daging ternak. Sehingga membuat tekstur daging ikan menjadi lebih empuk dan mudah dicerna.

Ikan nila memiliki kandungan selenimum yang sangat tinggi. Studi penelitian menunjukkan bahwa asupan selenium terkait dengan penurunan risiko kanker prostat. Selenium dikenal karena kemampuannya untuk mengurangi aktivitas radikal bebas dalam tubuh, sehingga menurunkan kemungkinan stres oksidatif pada semua sistem organ, dan mutasi sel-sel sehat menjadi kanker .

Selenium juga berperan penting dalam regulasi kelenjar tiroid, yang bertugas mengontrol banyak fungsi hormon. fungsi kelenjar tiroid akan menjaga keseimbangan metabolisme, fungsi organ yang tepat, serta reaksi kimia di seluruh tubuh.

Asam lemak omega 3 dalam ikan nila dapat membantu mengurangi terjadinya aterosklerosis, serangan jantung, dan stroke. Kalium yang ada pada ikan nila bersifat mengurangi tekanan darah. Kandungan kalium dan omega 3 yang ada pada ikan nila membantu meningkatkan kekuatan otak dan fungsi neurologis. Kalium akan meningkatkan oksigenasi ke otak, dan juga sangat penting untuk keseimbangan cairan tubuh.


*) Ana Noorina, Pemerhati gizi
Admin @emthorif
Foto http://www.suryamina.com/wp-content/uploads/2013/06/budidaya-ikan-nila-gesit.jpg