Mencintai Sesama Muslim


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Perasaan apakah yang hidup dalam diri kita? Jika ada saudara kita seiman yang berbeda pendapat dengan kita mengalami musibah, bagaimanakah perasaan kita terhadapnya? Adakah kita merasa perih atas musibah tersebut ataukah kita justru bergembira karenanya?

Banyak perbedaan pendapat di kalangan para ulama terdahulu. Ketika akhlak masih terjaga dan adab berbeda pendapat masih ditegakkan, maka perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi sebab terjadinya perpecahan (iftiraq). Perbedaan pendapat yang sangat tajam, kadang terjadi, tetapi polemik yang muncul kemudian menjelma dalam bentuk saling berbalas tulisan menegakkan hujjah. Bukan menghina dan menertawakan.

Masih adakah iman di hati kita jika justru gembira saat musibah menimpa saudara kita seiman yang berbeda pandangan, padahal masih satu aqidah? Bukankah takaran iman itu ada pada hidupnya perasaan sebagai satu tubuh?

Marilah sejenak kita mengingat sabda Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى .
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam." (HR. Muslim).

Masih adakah iman di hati kita? Atau jangan-jangan kita belum pernah merasakan iman itu di dada... Ataukah ia terkubur oleh besarnya 'ashabiyah (fanatisme golongan dan kelompok) sehingga kepekaan kita kepada sesama mukmin meredup tanpa terasa.

Meskipun besar jumlah kita, tetapi jika perselisihan tumbuh subur dan bahkan mengarah kepada perpecahan, maka kita akan lemah tak berdaya. Tak ada wibawa. Sebaliknya, sedikitnya jumlah akan disegani jika wibawa sebagai umat itu ada.

Nah, adakah kita akan menyuburkan perselisihan di antara kita sehingga muslimin ini seolah tak ada meskipun jumlahnya mayoritas? Kemanakah kita akan menuju? Menjadi ummat yang memiliki wibawa sehingga disegani bahkan ketika jumlah sedikit ataukah justru sebaliknya?

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Admin @emthorif
Foto http://www.citraislam.com/wp-content/uploads/2013/03/kebersamaan-e1362709519157.jpg

Kekuatan Ilmu


Oleh : O. Solihin

Ustad Deden, kami biasa memanggilnya. Beliau adalah amilin di Al-Azhar Peduli Umat. Nah, yang menarik bagi saya adalah penyampaiannya dalam kultum rutin ba’da Dhuhur. Tentang keutamaan ilmu an orang yang memiliki ilmu. Ayat yang disampaikannya, tak lain adalah ayat ke-11 dari al-Quran surah al-Mujaadilah (surah ke-58 dalam al-Quran):“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Bagi seorang muslim, rasa-rasanya ayat ini sudah sering mampir ke telinga karena hampir semua penceramah dan mubaligh, atau guru pengajian kita pernah menyampaikan ayat ini ketika membahas keutamaan ilmu. Ya, orang beriman yang memiliki ilmu jauh lebih tinggi derajatnya dibanding orang yang beriman tetapi ilmunya kurang atau malah minim sekali.

Kultum ba’da Dhuhur yang beliau sampaikan makin terasa memotivasi manakala ia mengutip sebuah syair dari Imam Syafi’i: “Man aroodaddunya fa’alaihi bi ’ilmi, wa wan aroodalaakhirot fa’alaihi bi ’ilmi wa man arooda humaa fa’alaihi bi ‘ilmi.” Artinya : “Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin sukses di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses pada keduanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah dengan ilmu (pula)” .

Islam memotivasi umatnya agar mencari ilmu untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Swt. berfirman, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia (Allah) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS al-‘Alaq [96]: 1-5)

Allah Ta’ala menurunkan semua ilmu yang ada di dunia ini. Sayangnya, banyak orang yang tak bersemangat untuk mencarinya. Padahal, jelas ada perbedaan yang amat signifikan antara orang yang berilmu (yang mengetahui sebuah ilmu) dengan yang tak berilmu (tak memiliki pengetahuan seputuar keilmuan di bidang tertentu). Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS az-Zumar [39]: 9)

Hmm… tentu amat kebetulan apa yang disampaikan Ustad Deden dalam kultum ba’da Dhuhur tadi dengan saat ini, saat saya sedang mengawas ujian bulanan Kelas Menulis Kreatif untuk para peserta diklat jurusan Menjahit dan Tatabusana. Persamaannya adalah dalam soal menulis adalah peserta diklat diminta menuliskan sebuah cerpen dengan tema mencari ilmu. Wah, menarik sekali. Jika mereka jeli, mungkin akan memasukkan pesan tersebut dalam cerpen yang mereka tulis.

Baik, tak banyak cerita dalam tulisan sederhana ini. Ya, sekadar ‘mentransfer’ ulang ilmu  yang saya dapatkan saat kultum ba’da Dhuhur tadi, semoga pembaca blog saya juga mendapatkan inspirasi dari cerita yang saya tuliskan ini. Yuk, kita berlomba untuk meraih ilmu. Sebagaiman perkataan Imam Syafi’i yang juga pernah saya dengar saat mengikuti salah satu kajian Islam, “Carilah ilmu sebagaiman seorang ilmu yang kehilangan anak perawannya.”

Jika ilmu sudah didapat, maka insya Allah ilmu akan memberikan kita menguasai hal-hal yang belum diketahui oleh orang yang belum belajar. Seorang teman yang ahli di bidang komputer tentu berbeda dengan saya yang tak begitu mengerti seluk-beluk komputer. Begitupun sebaliknya, saya insya Allah lebih menguasai ilmu seputar kepenulisan ketimbang teman saya yang ngerti komputer tersebut. Jika saya mau belajar seputar komputer insya Allah bisa juga pada akhirnya, begitupun dengan teman saya yang mahir komputer tetapi juga terus belajar dan berlatih bisa juga menulis pada akhirnya. Insya Allah.

Ayo, kejarlah ilmu yang Anda minati dan ingin kuasai. Namun, jangan lupa bahwa ilmu yang sudah kita dapatkan kemudian kita sebarkan lagi agar manfaatnya bisa dirasakan banyak orang dan tentu saja itu bernilai ibadah karena senantiasa mengharap ridho Allah Ta’ala bagi kebahagiaan di dunia dan juga akhirat. Semangat!

Salam,
O. Solihin
Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Renungan : Rasa Malu


oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Setidaknya ada dua macam rasa malu yang seharusnya ada pada diri kita. Pertama rasa malu insani yang normalnya setiap manusia memiliki. Makin berbudaya suatu bangsa, makin kuat rasa malu melekat pada diri orang-orangnya dari berbuat yang tidak baik dan tercela. Sebaliknya, makin terpuruk budaya suatu bangsa, makin keropos rasa malunya. Tak segan lagi orang melakukan keburukan yang hina secara terbuka. Kerapkali runtuhnya suatu peradaban dimulai dari rusaknya rasa malu yang menyebabkan tiadanya perintang bagi manusia untuk melakukan keburukan-keburukan yang hina. Runtuhnya tata krama sosial suatu bangsa juga dapat bermula dari tergerusnya rasa malu. Pelahan tapi pasti, kendali diri manusia dari melakukan hal-hal tercela akan runtuh.

Ada pula rasa malu yang tumbuh karena iman dalam dirinya. Ia malu memperbuat apa-apa yang dilarang oleh agama ini, meskipun menurut tata nilai budaya yang berlaku saat itu dianggap wajar, normal dan baik-baik saja. Ukuran rasa malu yang hidup pada dirinya telah berubah, dari takaran malu menurut tatanan sosial menjadi rasa malu menurut takaran agama yang ia imani. Ini sangat berkebalikan dengan orang-orang yang menyebarkan keburukan di tengah masyarakat. Ia tidak malu, bahkan ketika budaya masyarakat menganggapnya hina. Jika ia terus menyuarakan keburukan itu tanpa ada yang mencegahnya, maka takaran malu masyarakat pun akan tergerus.

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Admin @emthorif

5 Pelajaran Penting dari Sosok Nabi Daud Alayhissalam


Oleh : Imam Nawawi
Menjadi seorang sukses di mata manusia itu butuh komitmen tinggi dalam penerapan disiplin dan antusiasme kuat dalam beraktivitas. Demikianlah capaian-capaian manusia pada umumnya. Tetapi, untuk menjadi manusia yang diridhai Allah, disiplin dan antusiasme belum cukup. Seperti apakah itu, seperti apa yang ada pada sosok Nabi Daud Alayhissalam.
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (QS. Al-Saba [34]: 13).
Sekalipun Nabi, Daud Alayhissalam tetap bekerja. Bahkan beliau menjadi ahli besi karena ketekunannya dan ilham yang Allah berikan perihal bagaimana menundukkan besi (QS. Saba [34]: 10-11) dan (QS. Al-Anbiya [210: 80). Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup serta besi itu dijadikan perisai (pakaian perang). Dalam bahasa lain, Nabi Daud benar-benar pekerja keras dan amat teliti dalam pekerjaannya.
Selain itu, Nabi Daud Alayhissalam telah mengangkat panji kemenangan, dan mulai mengembalikan kejayaan (tamkin) untuk Bani Israil setelah terbunuhnya Jalut. Dengan kata lain, Nabi Daud adalah pribadi yang disiplin, antusias dan berkemauan kuat dalam mentaati Allah. Dan, seperti kita ketahui, tidak ada puasa sunnah yang sangat dikenal, setenar puasa Daud.
Bahkan, dikisahkan Nabi Daud menguatkan kerajaanya dengan tasbih, dzikir dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
إِنَّا سَخَّرۡنَا ٱلۡجِبَالَ مَعَهُۥ يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ١٨
“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi” (QS. Shaad [38]: 18).
Dari sosok Nabi Daud ini, setidaknya ada delapan sifat yang paling penting yang ditulis oleh DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, Fiqh An-Nashru wa Al-Tamkin. Namun, kita bahas lima di antaranya saja karena ada kemiripan pada tiga poin yang tidak kita telaah di sini.
Pertama, sabar. Allah telah memerintahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu alayhi wasallam – walaupun dengan segala kebesaran pribadi beliau – untuk mengikutinya dalam hal kesabaran dalam taat kepada Allah.
Kedua, ubudiyah. Manakala Rasulullah menyebutkan Nabi Daud dan membincangkannya, maka beliau akan menerangkan keutamaannya dan kesungguhannya dalam ibadah.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya puasa paling Allah cintai adalah puasa Daud, dan sholat yang paling Allah cintai adalah sholatnya Daud. Dia tidur separuh malam, bangun untuk sholat sepertiganya, tidur lagi seperenamnya. Dia puasa sehari dan berbuka sehari” (HR. Muslim).
Ketiga, senantiasa kembali kepada Allah untuk berlaku taat dalam semua urusan dan perkara. Firman-Nya pada ayat 19 Surah Shaad “Masing-masingnya amat taat kepada Allah” menunjukkan akan kesempurnaan makrifat Nabi Daud kepada Allah yang selanjutnya menjadikan Nabi Daud amat bersungguh-sungguh dalam ibadah sesuai dengan manhaj Allah.
Keempat, hikmah. Melalui kisah Nabi Daud kita bisa mendapatkan bahwa hikmah akan menjadikan kita memiliki pemaaman dalam, akal yang tajam, ilmu yang luas lagi dalam, komitmen terhadap keadilan, profesional dalam bekerja, serta cepat, tepat dan akurat dalam setiap pengambilan keputusan.
Kelima, bijak dalam menyelesaikan perselisihan. “…dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan” (QS. Shaad [38]: 20).
Yakni, diilhamkan kepadanya cara indah dalam menyelesaikan setiap masalah pelik dan rumit, dengan ditampakkanya yang benar dan dihancurkannya yang batil. Juga dikaruniai oleh-Nya kemampuan menguntai kalimat pendek namun jelas maksudnya dan bermakna sangat luas.
Dengan lima sifat paling penting yang ada pada diri Nabi Daud, insya Allah umat Islam dan generasi Muslim masa depan sangat berpotensi membawa pencerahan bagi dunia. Generasi yang memiliki komitmen tinggi dalam menegakkan keadilan, kedisiplinan, dan bisa diandalkan dalam segala kebaikan dan kemajuan dunia. Wallahu a’lam.
Imam Nawawi, Pimpinan Redaksi Majalah Mulia 

Menyeimbangkan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual


Oleh : Muhammad Irfan

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang hanya menekankan atau menitikberatkan pada kecerdasan intelektual saja akan membuat anak didik jauh dari masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda, tetapi di sisi lain tetap harus diperlakukan secara adil. (Pepi Nuroniah, 2015)

Dalam sistem pendidikan di negara kita, pendidikan agama merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan. Penitik-beratan pendidikan pada kecerdasan intelektual akan membuat ketidakseimbangan dalam menanamkan nilai sosial pada peserta didik. Oleh karena itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Siddik Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.”.

Maka menyeimbangkan potensi anak dalam sisi kecerdasan intelektual dan spiritual akan menjadikan peserta didik memiliki nilai sosial dalam masyarakat. Salah satu caranya adalah internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan. Lanjut M. Siddik Bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat”.

Ada beberapa beberapa elemen yang cukup berpengaruh dalam proses pendidikan. Pertama, keluarga ; apa yang sering dikatakan orangtua akan menjadi sugesti yang akan terus terbawa hingga ia mampu memahami segala hal yang terjadi di sekitarnya, hingga ia mampu mengontrol emosi dan alam bawah sadar yang akan terus mengontrol tindakannya. Sosialisasi yang baik dari keluarga akan memberikan manfaat yang sangat baik.

Kedua, teman; teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula pada kepribadian kita, akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan-pendidikan kecil yang akan kita peroleh. Setelah keluarga, kita akan sering bertemu dan bergabung dengan seorang teman, sebagai tempat berinteraksi, dan bertukar pendapat. Sebagai contoh, ketika dalam satu kotak terdapat dua buah kertas, kertas A kita coba untuk sirami sebuah tinta maka kemungkinan besar kertas B juga akan ikut terkena juga, bukan? Nah, seperti itulah 2 buah kertas sama dengan seseorang yang selalu bersama-sama dan ia akan saling mempengaruhi satu sama lain.

Ketiga, media; media yang dimaksud di sini adalah media massa. Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, segala hal yang sering kita saksikan akan menjadi acuan. Sebab, apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan tanpa sadar akan mempengaruh diri kita. Maka dari itu kita harus cerdas dalam menggunakan media dan memanfaatkannya.

Ilmu itu tidak hanya dari pembelajaran yang dijelaskan oleh seorang guru, baik itu di sekolah, di kampus atau bahkan penjelasan yang terus dijelaskan oleh atasan kepada bawahannya di tempat kerja, melainkan lebih dari itu. Sebab itulah urgensi mendidik anak di era informasi dan teknologi ini tidak cukup hanya memberikan pengetahuan yang bresifat kognitif saja, tapi juga harus berbasis pada tatanan sosial kemasyarakatan, dengan cara menambahkan forsi pendidikan agama di sekolah.

Membekali karakter sosial kemasyarakatan anak dalam agama Islam sendiri telah memiliki dua elemen sebagai pilar dasarnya. Pertama, kepedulian. Hal ini diterangkan dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Tidaklah sempurna iman seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang sedang tetangganya kelaparan. (HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam kitab iman, dari sahabat Ibnu Abbas no. 29748)”.

Kedua, kejujuran. Rasulullah telah menerangkan dalam haditsnya “Hendaklah kamu berpegang kepada kejujuran, karena kejujuran itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa kepada surga (kebahagiaan), dan hendaklah tetap seseorang itu bersifat jujur dan memilih kejujuran hingga ia tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu dusta, karena dusta itu akan membawa kepada keburukan dan keburukan itu akan membawa ke neraka (kehancuran…”

Akhirnya kita semua bersepakat, bahwa landasan membentuk karakter dasar anak dalam pendidikan, tidak cukup hanya dengan mengembangkan kecerdasan intelektual saja. Tapi harus pula diimbangi dengan kecerdasan spiritual, melalui implementasi pandidikan agama yang sungguh-sungguh oleh semua pihak di lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat.

*) Muhammad Irfan, Pemerhati dunia anak

Admin @emthorif

Parenting : Jangan Memberi Apresiasi Kesalahan Anak


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Seorang ibu memasuki minimarket bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Saya tidak memperhatikan dengan baik. Yang satu, kira-kira kelas 4 SD. Satu lagi mungkin TK atau SD kelas 1. Begitu masuk, ibu tersebut segera mengucapkan dua kata, "Nggak... Nggak...." sebagai isyarat larangan beli bagi kedua anaknya yang langsung berbelok ke tempat es krim.

Anaknya yang kecil segera menunjukkan reaksi spontan, hanya sepersekian detik (barangkali tidak sampai satu detik) dari kata "nggak" yang terakhir diucapkan ibunya, dengan menangis keras; melengking, memaksa....

Tak perlu waktu lama bagi anak itu untuk menangis. Ibunya segera memberi reward untuk tindakan anak mempermalukan orangtua. Ia mempersilakan anaknya mengambil es krim. Hampir saja tangisan kedua pecah ketika memilihkan es krim yang lebih murah dibanding pilihan anak. Tetapi tangisan itu segera berubah menjadi perayaan kemenangan yang ditunjukkan kepada kakaknya, "Dibeliin toh, Mbak...."

Sebuah tragedi yang sempurna.
Saya keluar dari mini market dengan hati galau; gelisah membayangkan perilaku kedua anak tersebut di masa-masa yang akan datang. Berapa banyak ia belajar menerima hadiah dan penguat untuk setiap tindakannya mengamuk, memaksa, menangis keras untuk membuat orangtua tak berkutik, atau tindakan lainnya yang bersifat mempermalukan orangtua demi meraih apa yang diinginkan. Berapa banyak perilaku serupa yang ditunjukkan anak ketika ia tidak mau mengikuti aturan maupun anjuran orangtua.

Betapa kita perlu ilmu dalam mendidik anak. Betapa kita perlu kesabaran dan mendahulukan yang lebih penting daripada sekedar gengsi maupun ketenangan sesaat.

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
admin @emthorif
foto http://4.bp.blogspot.com/-03lB8GaZJPc/VXg4hwTohAI/AAAAAAAABa0/Bg9-aCDUPF8/s1600/Belanja%2Bke%2BSuper%2BMarket%2B%25284%2529.jpg

Peran Sekolah dalam Mencegah Penculikan


Oleh : Subliyanto

Belakangan ini kita dihebohkan dengan maraknya penculikan anak di sekolah. Apapun motifnya, tentunya telah membuat keresahan, baik di sekolah maupun orang tua di rumah. Sehingga sekolah dan orang tua harus selalu waspada dan berhati-hati.


Hal tersebut perlu perhatian khusus dari sekolah dan orang tua agar kejadian-kejadian serupa tidak terjadi kembali di lingkungan sekolah, sehingga peserta didik dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan aman dan nyaman, dan orang tuapun tidak merasa terancam.

Lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, merupakan lembaga yang menjadi media dalam pengembangan seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek kognitif, afektif, maupun aspek psikomotorik. Sehingga sekolah harus berperan aktif dalam semua aktifitas murid, mulai dari kedatangan murid, istirahat, dan waktu kepulangan. Termasuk mencegah terjadinya penculikan di lingkungan sekolah.

Terdapat beberapa hal yang mungkin dapat menjadi referensi dalam mencegah terjadinya penculikan anak di sekolah.

Pertama, setiap aktifitas murid di sekolah maupun ketika kegiatan pembejaran luar kelas, hendaknya selalu terpantau oleh guru. Sehingga sekecil apapun yang terjadi pada murid dapat diketahui dan tertangani. Karena guru adalah orang tua bagi murid-muridnya.

Kedua, memaksimalkan peran guru piket ketika waktu pulang, entah guru piket berasal dari guru yang mengajar pada jam terakhir, ataupun guru khusus yang mendapat tugas khusus sebagai guru piket. Sehingga setiap murid yang pulang dapat terekam kepulangannya. Hal itu dapat didukung dengan presensi kepulangan.

Ketiga, peran aktif orang tua juga sangat diperlukan, khususnya ketika penjemputan murid agar murid bisa dijemput tepat waktu, karena peran guru piket dibatasi oleh waktu. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun komunikasi aktif antara orang tua, dan sekolah.

Keempat, memperkuat pengamanan sekolah melalui peran aktif satpam di sekolah. Sehingga setiap orang yang datang ke sekolah dapat diketahui identitas, dan tujuannya. Tentunya peran satpam ini bisa didukung dengan peralatan yang relevan.

Kelima, jika terdapat diantara murid yang broken home, maka sekolah harus mengetahui dengan jelas dan pasti tentang amanah kepengasuhan anak tersebut. Sehingga memudahkan sekolah dalam mengambil kebijakan.

Lima hal itulah yang kiranya bisa menjadi referensi bagi sekolah dan orang tua dalam mencegah penculikan anak di sekolah. Semoga anak-anak kita mendapat lindungan dari Allah, sehingga dapat belajar dengan nyaman, aman, dan menyenangkan, baik di rumah maupun di sekolah.


*Subliyanto, S.Pd.I. Pendidik di SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta.
Admin @emthorif
Foto http://joss.today/img/gambar1/shutterstock_184279601ok-e1408524242944-846x475.jpg

Parenting : Orangtua Digital


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Suatu malam di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Seorang ibu sedang menebar senyumnya, entah dengan siapa. Tapi bukan kepada orang di sekelilingnya, bukan pula kepada anaknya yang masih balita di sampingnya. Tampak sangat asyik. Diselai lorong sempit, suaminya duduk hamper berhadapan, tepatnya sejajar dengan anak lelaki mereka, juga tengah asyik dengan gadget ukuran cukup lebar di tangannya. Mungkinkah suami-istri sedang itu asyik bercanda melalui gadget? Sepertinya tidak. Ekspresi mereka menunjukkan keasyikan yang berbeda.
Anak lelakinya sesekali merajuk meminta perhatian, tetapi segera ditepis oleh ibunya, bahkan kadang agak ketus. Anak itu masih berusaha merebut perhatian ibunya, tapi tetap gagal. Lalu ia mencoba lagi meraih perhatian ayahnya. Tetap sama: gagal. Beberapa saat kemudian ibunya tiba-tiba dengan wajah penuh semangat berbicara kepada anaknya, meminta berdiri, lalu berpose sejenak untuk diambil gambarnya melalui gadget. Belum puas, sekali lagi anaknya diminta bergaya. Senyum lebar merekah dari keduanya. Tetapi sesudahnya, ibu itu kembali tenggelam dengan gadegtnya, membiarkan anak lapar perhatian.

Tak kehilangan akal, anak ini lalu menendang trolley bag miliknya. Jatuh. Ibunya segera merenggut tangannya dan memelototinya dengan marah. Anak laki-laki itu segera menangis, menunjukkan pemberontakannya. Gagal mendiamkan anaknya, meski upayanya belum seberapa, ibu itu segera meminta suaminya turun tangan. Tak kalah galak, ayah anak lelaki yang “malang” itu segera menampakkan kemarahan dan memaksanya diam. Tapi anak tetap menangis. Berontak. Anak itu baru diam sesudah jurus ancaman meninggalkan anak itu sendirian di stasiun, dilancarkan ayahnya.

Pemandangan menyedihkan. Inilah orangtua digital yang luar biasa sibuk, bukan karena banyaknya urusan, tetapi karena banyaknya percakapan di sosial media yang mereka ikuti. Orangtua memperoleh keasyikan dengan gadegtnya, tetapi anaknya menderita kelaparan perhatian.

Diam-diam saya bertanya, seperti apakah saya? Jangan-jangan saya pun telah menjadi orangtua digital yang menganggap semua persoalan dapat diselesaikan dengan up-date status twitter maupun facebook. Mesra di media sosial, tapi kering dalam berbincang tatap muka. Penuh jempol di laman facebook, tetapi yang bergerak hanya jari tengah dan telunjuk. Bukan jempolnya sendiri.

Pada anak-anak balita, mereka tak dapat mengimbangi dengan aktivitas internet. Tetapi mereka pun mulai belajar menikmati dunianya sendiri dengan gadget, game dan tontonan sembari pelahan-lahan belajar menganggap kehadiran orangtua sebagai gangguan. Di saat seperti itu, masihkah kita berharap tutur kata kita akan mereka dengar sepenuh hati?

Astaghfirullahal ‘adzim. Kepada Allah Ta’ala saya memohon atas lalai, lengah dan teledor saya terhadap anak-anak dan keluarga.

Tapi bukankah kita tidak dapat mengelak dari kehidupan digital? Emm… Mungkin ya, mungkin tidak. Berkenaan dengan ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan: 
Pseudo-Attachment: Seakan Dekat, tapi Tak Akrab 

Jika anak aktif di social media, orangtua memang sebaiknya berteman ataupun saling menjadi follower. Tetapi ini saja tidak cukup. Orangtua tetap perlu memperhatikan tingkat konsumsi anak terhadap social-media. Merespon status anak di social media juga sangat bagus, tetapi jika tidak mengimbangi dengan aktivitas nir-luring (off line) yang baik, kita dapat terjebak dalam pseudo-attachment (kedekatan semu), seakan saling dekat, padahal masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri; sibuk narsis. Orangtua merasa dekat dengan anak, padahal mereka sebenarnya belum benar-benar saling mengenal.

Privasi atau Alienasi: Tetap Harus Ada Kontrol Orangtua 
Salah satu kata sakti di era digital ini adalah privasi. Terlebih sejumlah gadget memang menyediakan fitur yang memberikan privasi penuh. Tetapi satu hal yang harus kita ingat, memberi pupuk (padahal ini sangat bermanfaat) sebelum waktunya justru menjadikan tanaman mati. Bukan sekedar tidak berkembang. Begitu pun privasi, tanpa kendali yang baik dari orangtua di satu sisi, dan kepedulian serta empati yang kuat pada diri anak, member privasi penuh justru menjadi pintu awal alienasi. Anak terasing secara sosial, selfish dan egois. Jika ini terjadi, kecakapan sosial anak akan tumpul.

Apakah ini berarti kita tidak memberikan privasi? Kita tetap memberikannya sesuai tuntunan agama dengan takaran yang tepat. Kita memberikannya untuk hal-hal tertentu, misal berkenaan dengan penjagaan aurat, tetapi tidak membiarkan anak tenggelam dengan dunianya sendiri atas nama privasi. Soal gadget yang berkemampuan untuk melakukan aktivitas online misalnya, kita perlu mengingat bahwa anak perlu bekal memadai berkait etika berinternet dan memahami betul apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh manfaat dari gadget. Bukan sekedar memperturutkan keasyikan.

Privasi juga hanya akan baik apabila sudah tepat waktunya untuk memberikan. Ibarat api. Jika anak belum dapat cukup matang, jangan biarkan anak bermain-main api sendirian

Mesin Pembunuh Itu Bernama Game Online
Jangan kaget. Saya harus menyebut dengan ungkapan menyeramkan karena memang sangat banyak kasus yang saya temukan. Gegara game online, anak yang tinggal setengah juz saja sudah hafal Al-Qur’an penuh 30 juz, akhirnya terdampak menjadi pecandu game online. Sanggup bermain terus-menerus hingga lebih dari 2 hari 2 malam tanpa istirahat. Mereka berhenti bermain hanya karena badannya sudah tidak kuat lagi menyanggah keinginannya. Berhenti karena tertidur. Ini berarti, anak yang telah kecanduan game online kelas berat hampir tak melakukan aktivitas lain di luar bermain game. Ini sangat mengerikan.
Ada pula yang sampai melakukan penipuan demi membeli level bermain game online yang lebih tinggi. Ini semua tentu tidak tiba-tiba. Ada tahapnya. Nah, yang perlu kita jaga adalah, anak yang belum kenal game online jangan sampai diantarkan ke pintu-pintunya semata karena temannya banyak yang bermain game online. Tiap orangtua punya arah (termasuk yang tidak tahu harus kemana). Kita harus mengendalikan arah pendidikan anak kita.

Time to Go Online: Kapan Kita Beri Kesempatan Anak Berselancar 
Boleh saja anak melakukan aktivitas online, tetapi kita perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, apakah budaya belajarnya telah tertanam kuat. Budaya belajar, bukan sekedar kebiasaan belajar. Jika budaya belajar belum mereka miliki, maka kegiatan online akan mematikan hingga ke akar-akarnya. Kedua, apakah anak telah memahami betul etika dunia maya serta manfaat apa yang akan mereka dapatkan. Jika mereka memiliki arah yang jelas, internet dapat menjadi fasilitas yang sangat bermanfaat. Tetapi jika tidak, mereka akan terkalahkan oleh internet dan tenggelam di dalamnya, termasuk tenggelam dalam aktivitas pacaran online. Ketiga, apakah anak memiliki kecakapan sosial yang memadai dan memiliki ikatan sosial yang baik dengan teman-teman maupun keluarga. Jika ini tidak ada, kita perlu persiapkan anak agar memiliki lingkungan hubungan sosial yang baik terlebih dahulu agar kelak tidak teralienasi dari kehidupan sosial atau bahkan kehidupan nyata pada tingkat minimal.

Usia berapa sebaiknya anak boleh melakukan kegiatan online? Jika benar-benar sampai pada tingkat kebutuhan, anak dapat memiliki alamat email dan kegiatan internet untuk mencari pengetahuan di usia sekitar 10 tahun. Syaratnya, tiga hal tadi telah ada. 
Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Admin @emthorif
Foto http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/953490/big/068070500_1439369572-hp.jpg

Anak Sehat : Gula, Jangan Kurang, Jangan Pula Berlebihan


Oleh : Arhie Lestari

Gula dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan pertumbuhan sel-sel tubuh. Tapi bila jumlahnya terlalu banyak, malah menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Sampai saat ini, sebagian besar bahan pemanis yang digunakan adalah yang berasal dari gula. Misalnya, sukrosa (gula pasir, gula yang diperoleh dari tanaman tebu) yang banyak dipakai dalam pembuatan convectionary (makanan bergula seperti permen), kue, cokelat, aneka minuman, dan sebagainya.

Gula memang tidak mengandung zat gizi lain, seperti protein, vitamin atau mineral, juga tidak mengandung serat. Tapi, sebagai bagian dari karbohidrat, gula adalah sumber kalori penghasil energi (sebagai pemberi tenaga) untuk aktivitas dan menjaga proses metabolisme tubuh, serta pertumbuhan sel-sel tubuh.

Pemberian gula pada makanan anak juga sebaiknya dibatasi. Mengapa? Untuk menjadi kalori, gula di dalam tubuh akan mengalami proses pemecahan. Proses tersebut memerlukan vitamin B1. Jadi, bila kita banyak makan gula, atau karbohidrat, tentu akan semakin banyak vitamin B1 yang dibutuhkan.

Jika tidak diimbangi dengan asupan yang cukup dari makanan yang kita makan, maka tubuh akan kekurangan vitamin B1. Akibatnya, timbul gangguan pada fungsi sistem saraf yang akan menimbulkan gejala-gejala kelelahan, kurang konsentrasi, menjadi lebih peka dan sebagainya. Sumber vitamin B1 antara lain kacang-kacangan dan biji-bijian.

Efek samping bila anak terlalu banyak mengonsumsi gula adalah terjadinya kerusakan pada gigi. Bila setelah mengonsumsi makanan bergula, anak tidak segera membersihkan (menyikat) gigi, maka akan mengakibatkan kerusakan pada gigi, seperti gigi berlubang (karies). Karies timbul karena karbohidrat yang sudah terurai oleh enzim pada air liur akan difermentasi oleh bakteri dalam mulut dan menghasilkan asam. Asam inilah  yang dapat merusak lapisan email gigi, sehingga  timbul karies.

Setiap kelebihan kalori dari yang dibutuhkan tubuh sehari-hari akan disimpan dalam bentuk lemak. Karena itu, konsumsi makanan, termasuk gula, yang berlebihan, bila tidak disertai peningkatan aktivitas fisik, dapat mengakibatkan penambahan berat badan. Akhirnya, menjadi kegemukan atau obesitas dengan berbagai komplikasi dan dampaknya di masa datang.


*) Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak
Admin @emthorif
Foto http://media.suara.com/thumbnail/650x365/images/2014/05/06/Harga-Gula-e1412509359835.jpg?watermark=true

Renungan : Hasil Manis


Setelah bersungguh-sungguh seringkali seseorang tertakjubkan oleh hasilnya. “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan doa yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” 

(HR. Ahmad: 10618. Hasan).

Admin @emthorif
Foto http://www.everydayhijab.com/userfiles/Image/everyday_hijab_anak_rajin_solat_2.jpg


Kisah Cerdas : Sahabat Malam


Oleh : Asnurul Hidayati

Pada masa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam, seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Umar, ketika pada masa remajanya bermimpi. Adapun mimpinya adalah seolah-olah di tangannya ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang saya ingini di surga, maka beludru itu akan menerbangkanku ke sana. Lalu tampak pula dua orang yang mendatangiku dan ingin membawaku ke neraka. Tetapi satu malaikat menghadang mereka, katanya, “Jangan ganggu!” Maka kedua orang itu pun meluangkan jalan bagiku.

Kemudian Abdullah bin Umar menceritakan mimpinya itu kepada saudara perempuannya yang bernama Hafshah binti Umar, yang merupakan istri Rasulullah. Maka Hafshah pun menceritakan mimpi saudaranya itu kepada Rasulullah. Setelah mendengar cerita itu, Rasulullah mengatakan takwil mimpi itu adalah, “Abdullah akan menjadi laki-laki paling utama, andainya ia sering shalat malam dan banyak melakukannya.”

Maka semenjak mendengar perkataan Rasulullah itu sampai ia pulang dipanggil Allah, Abdullah tidak pernah meninggalkan qiyamul lail baik di waktu mukim maupun  musafir. Ia banyak melakukan shalat, membaca Al Qur’an, berdzikir menyebut nama Allah. Abdullah sangat menyerupai ayahnya dalam hal airmatanya bercucuran bila mendengar ayat-ayat peringatan dari Al Qur’an.

Boleh dikata bahwa Ibnu Umar adalah “Penyerta Malam”, ia biasa mengisi malam untuk shalat. Juga disebut “Kawan Dinihari” yang dipakainya untuk menangis dan memohon diampuni.

Masyaa Allah, sungguh khusyuk hati tokoh dalam kisah tersebut. Amal ibadah telah menghiasi hidupnya dan menjadi kebahagiaan hatinya. Dan keyakinan yang kuat membawa fisiknya untuk beribadah dan beramal dengan mengharap kebahagian yang kekal di akhirat nanti. Orang tua dan pengasuh yang budiman, mari kita bimbing anak-anak kita untuk belajar dari Ibnu Umar.semoga anak kita menjadi bagian dari generasi yang kuat ibadah dan amal sholihnya. Aamiin. 

Sumber : Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah. Khalid Muhamad Khalid. Diponegoro, Bandung.

*) Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul

Admin @emthorif