Child Predator di Internet


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
Istilah predator sebenarnya merujuk kepada binatang yang memangsa binatang lainnya. Tetapi belakangan ini muncul istilah child predator yang –sesuai makna asalnya—menunjukkan tentang orang yang sangat membahayakan anak-anak melalui internet. 

Mereka memangsa layaknya hewan memangsa binatang buruannya. Mereka menjadikan anak-anak di bawah umur yang aktif melakukan kegiatan di dunia maya, khususnya yang memiliki media sosial sebagai korban pelecehan seksual maupun beragam kejahatan seksual lainnya. Para pemangsa anak (child predator) ini belum tentu seseorang yang mengidap pedofilia, tetapi jelas orang yang sangat bejat akhlaknya.

 Yang kerap terjadi, pemangsa anak berpura-pura seperti anak-anak, berbahasa layaknya anak-anak dan menggunakan foto profil yang juga anak-anak atau foto lain yang membuatnya tidak terindentifikasi oleh anak (bahkan oleh orangtuanya) sebagai orang dewasa. Para pemangsa anak ini kerapkali mengaku sebagai remaja atau anak-anak, padahal sebenarnya bisa saja bapak-bapak bertattoo dengan tampang sangar.

Apa yang perlu kita lakukan? Jawaban paling sederhana adalah mendampingi mereka. Tetapi apa langkah praktisnya? Mengajak anak berdialog, menggali dari anak apakah ia dapat memastikan bahwa setiap teman di media sosial yang berinteraksi dengannya bukanlah orang yang jahat (bad guy). Kita memang agak sulit memastikan seseorang itu benar-benar sangat baik, tetapi anak-anak sangat perlu menghindari teman media sosial yang buruk akhlak sekaligus membahayakan. Anak perlu peka dan segera memutus pertemanan (unfriend) atau bahkan blokir jika teman di dunia tersebut mulai melontarkan kata-kata yang cenderung cabul serta menampilkan gambar-gambar yang tidak baik. Permulaan memangsa biasanya dengan memberi pancingan terlebih dahulu.

Selain mendampingi anak, kita sendiri juga perlu terlibat mengontrol piranti yang dimiliki anak. Jangan memberi akses internet tanpa batas (unlimited), baik dari segi waktu, keleluasaan menguasai gadget maupun kuota internetnya. Jika anak belum betul-betul matang, kita juga dapat mengendalikan gadget anak melalui gadget yang ada di tangan kita. Akses anak juga dapat dibatasi melalui aplikasi tertentu meskipun aplikasi tersebut masih terpasang di gadget.

Berbagai hal tentang mendampingin anak menggunakan gadget, sebagian sudah saya tulis dalam bentuk makalah, sebagian in sya Allah akan saya perbincangkan lebih lanjut langkah-langkah praktisnya di Banda Aceh, 30 April yang akan datang.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Admin: @emthorif

Renungan : Sabar Berlaku Benar


Oleh: R. Bagus Priyosembodo


Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
(QS. Thaha : 132)


Untuk menjadikan anak baik, orangtua tidak cukup berbekal bisa memerintah. 
Mestilah ia mempunyai sabar dan bertakwa untuk bisa mendapati hasil yang baik.


Kisah Cerdas : Cambuk dan Hakim


Oleh: Dra. Asnurul Hidayati

Muhammad bin Waasi’ mempunyai hubungan dengan gubernur atau wali Basrah, Bilal bin Abi Burdah. Pada suatu hari Muhammad bin Waasi’ datang kepada gubernur ini dengan mengenakan jubah dari kain yang kasar. Beliau ditanya, ”Mengapa anda mengenakan pakaian sekasar ini, wahai Abu Abdillah?” Beliau pura-pura tidak mendengar dan tak berkomentar sepatah katapun sehingga wali Basrah itu kembali bertanya.

Bilal: ”Mengapa anda tidak menjawab pertanyaan saya wahai Abu Abdillah?”

Muhammad: “Aku tidak suka mengatakan bahwa beginilah zuhud, karena berarti aku membanggakan diri. Dan aku tidak rela mengatakannya sebagai kefakiran, karena itu menunjukkan bahwa aku tidak mensyukuri nikmat Allah, padahal sesungguhnya aku telah ridho.”

Bilal:”Apakah Anda membutuhkan sesuatu, wahai Abu Abdillah ?”

Muhammad:”Aku tidak memiliki hajat sehingga tidak perlu meminta kepada orang lain.
Aku datang untuk hajat saudara muslim.”

Bilal, ”Akan saya penuhi dengan izin Allah.”

Sang gubernur pun mengenal kesholihan dan kebijakan Muhammad bin Waasi’. Berkali-kali Muhammad bin Wasi’ diminta untuk menjadi hakim atau qadhi. Namun beliau menolak dengan tegas. Walau keputusannya itu membuat dirinya menghadapi resiko, namun beliau tidak merasa takut dan merubah keputusannya.

Beliau pernah dipanggil polisi Basrah, yaitu Muhammad bin Mundzir. Dia berkata:”Gubernur Irak memerintahkan aku untuk menyerahkan jabatan qadhi kepada Anda.” Beliau menjawab: ”Jauhkan aku dari jabatan itu. Semoga Allah memberimu kesejahteraan. ” Permintaan tersebut diulang dua atau tiga kali. Namun beliau tetap menolaknya.

Karena ditolak, kepala polisi itu marah dan berkata sambil mengancam:”Anda terima jabatan itu atau aku akan mencambuk anda sebanyak 300 kali tanpa ampun.” Beliau menjawab :”Jika engkau melakukan itu, maka engkau bertindak semena-mena. Ketahuilah bahwa disiksa di dunia lebih baik daripada harus disiksa di akhirat.”

Mendengar jawaban Muhammad bin Waasi’, polisi itu pun menjadi malu. Kemudian mengizinkan Muhammad bin Wasi’ untuk pulang dengan penuh hormat. Masya Allah, sungguh teguh hati tokoh dalam kisah tersebut. Keyakinan yang kuat membawa dirinya untuk tidak mudah menerima jabatan sebagai hakim. Hal ini karena Muhammad bin Waasi’ memiliki pertimbangan betapa beratnya memikul tanggung jawab sebagai hakim yang harus menegakkan keadilan.

Orangtua dan pengasuh yang budiman, mari kita bimbing anak-anak kita untuk belajar dari Muhammad bin Waasi’. Semoga anak kita menjadi bagian dari generasi yang kuat menegakkan keadilan . Aamiin.

Sumber : Tabi’in, DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Penulis: Dra. Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul

Admin: @emthorif
Foto: https://cdn.tmpo.co/data/2015/09/18/id_438159/438159_620.jpg

Makanan Cerdas : Sukun


Oleh: Ana Noorina

Sukun merupakan jenis tumbuhan yang hidup di wilayah Pasifik Selatan. Setiap satu musim buah sukun bisa menghasilkan kurang lebih hingga 200 buah pada satu pohon setiap tahunnya. Buah sukun biasanya berwarna hijau sebelum matang. Apabila buah sukun matang biasanya warna kulit nampak kekuningan, buah sukun juga tidak memiliki biji. Selain itu saat matang buah sukun mempunyai tekstur yang lembut serta memiliki aroma yang khas, warna daging nya pun krem kekuningan.

Sukun banyak mengandung karbohidrat sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Oleh karena itu sukun biasanya digunakan oleh para atlet untuk terapi. Sukun juga kaya serat. Serat sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan serat pada sukun sangat membantu untuk kesehatan pencernaan serta dapat mengurangi kadar kolesterol.

Kandungan lemak yang rendah pada sukun dapat digunakan sebagai terapi diet. Sukun memiliki kandungan protein yang rendah. Kelebihan protein dapat mengakibatkan stres serta gangguan pada ginjal. Karena itu, sukun sangat cocok digunakan sebagai diet harian anda. Kandungan kalium yang tinggi dalam sukun sangat berguna untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Sukun juga mengandung Omega 3. Omega 3 merupakan komponen penting  untuk mengoptimalkan kesehatan tubuh. Selain itu, omega 3 juga berfungsi untuk menyeimbangkan kolesterol, memperkuat dan membangun tulang serta berguna untuk kesehatan kulit. Zat serat yang terkandung dalam sukun sangat baik untuk sistem pencernaan serta berguna untuk menghindari masalah pencernaan.

Zat anti-oksidan dalam sukun sangat berguna untuk menangkal radikal bebas, serta untuk menghancurkan bakteri serta virus. Selain itu sukun dapat mencegah resiko osteo arthritis, arthtiti arthtritis, penyakit jantung serta kanker. Karbohidrat yang terkandung pada sukun berguna untuk pembangkit energi dalam tubuh. Selain itu, kandungan kalium yang terdapat pada sukun sangat baik untuk kesehatan jantung.

Penulis: Ana Noorina, Pemerhati gizi

Admin: @emthorif

Parenting : Jangan Sepelekan Janji pada Anak


~Teladan adalah guru terbaik. Begitu pula dalam mengajarkan sikap amanah~

Disadari atau tidak banyak orangtua kelepasan janji kepada anak-anaknya. Saat anak rewel atau merengek minta sesuatu, mengucapkan janji dirasa menjadi cara instan untuk menenangkan anak. Beberapa orangtua yang diwawancarai Karima juga mengakui mereka kerap menggunakan ‘senjata’ ini untuk membujuk anak melakukan sesuatu.

Ola, bunda berusia 34 tahun mengaku bahwa hampir tiap pagi, ia ‘jualan’ janji kepada dua anaknya yang berumur empat tahun dan dua setengah tahun supaya mereka semangat bersekelolah. “Saya sering janji nanti ayahnya akan memberikan hadiah di akhir minggu kalau mereka rajin ke sekolah dan tidak rewel di sekolah,” tuturnya.

Ia merasa cara ini lumayan tokcer untuk memancing semangat anak-anaknya datang ke PAUD. Walaupun kadang diakuinya, upaya ini tak membuahkan hasil. Biasanya iapun tidak menjelaskan secara detail bentuk hadiah yang dijanjikannya kepada anak-anak. Ia takut kalau menyebutkan secara spesifik malah tidak bisa memenuhinya.

“Anak-anak sudah senang ketika disebutkan akan diberikan hadiah. Di akhir minggu biasanya mereka lupa menagih. Tapi saya tetap berusaha memenuhi minimal dengan ajak mereka jalan keliling kompleks bersama suami,” terangnya.

Ria, bunda berusiah 30 tahun , juga memiliki pengalaman serupa. Putra sulungnya yang kini berusia lima tahun, diakui Ria, kerap diiming-imingi sesuatu supaya mau disuruh. “Anakku moddy banget. Kalau lagi mau, disuruh langsung jalan tapi kalau lagi tidak mau, harus penuh dengan iming-iming dulu,”ujarnya.

Ia pun mencontohkan sebuah kejadian di suatu pagi. Lantaran bapaknya tidak bisa mengantar ke sekolah karena sedang di luar kota, Ikhlas, putranya, harus diantar oleh orang lain. Awalnya, tutur Ria, si anak menolak dan harus dibujuk pelan-pelan. “Sambil dijanjikan, ‘Nanti pas Mas pulang sekolah sudah ada es krim di rumah’, barulah dia mau,” ujar Ria.

Seperti Ola, Ria juga mengakui bahwa cara seperti ini memang cukup ampuh. Namun disusu lain, Ria khawatir kebiasaan membujuk anak lewat janji akan menimbulkan efek yang tidak baik ke depannya. “Apa jadi kayak mengajari anak biasa disogok ya?” ujarnya sambil tertawa.

Memelihara Janji
Janji memang ringan diucapkan, tapi menunaikannya tidak selalu mudah. Kadang janji dianggap hal sepele apalagi kalau yang dihadapinya merupakan anak kecil. Kalau anak lupa, dianggap sudah gugur janji-janji yang pernah terucap. Namun tidak begitu aturannya di dalam Islam.

Dalam Islam, sikap mengingkari janji terhadap siapapun tidak dibenarkan. Kendati terhadap anak kecil. Al-Imam Abu Daud Rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari shahabat Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Pada uatu hari ketika Rasulullah Shalallahu ‘alahi wasallam duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan, ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada ibuku : ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma,’ lalu Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu, maka ditulis bagimu kedustaan.’” (Riwayat Abu Daud).

Di dalam hadits ini ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan seseorang kepada anak-anak kecil ketika mereka menangis, seperti kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada adalah diharamkan. (‘Aunul Ma’bud, 13/22).

Kartika, seorang ibu tiga anak mengatakan bahwa menepati janji kepada anak memang hal penting. Menurut dia, mengingkari janji kepada anak sama seperti menanamkan kejelelakan dalam diri meraka. Dengan menepati janji, tuturnya, orangtua secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk juga amanah terhadap janjinya ketika suatu saat giliran mereka yang berjanji kepada ayah ibunya. Kartika sendiri mengakui bahwa kedua anaknya yang besar sudah mengenal istilah “sistem negoisasi” sehingga mereka kerap saling berjanji.

“Kalau aku janji sama mereka itu ada dua jenis. Pertama, janji yang memang aku inginkan. Kedua, janji yang aku ucapkan ketika mereka sedang rewel. Selai itu, aku juga sering mereka berjanji. Misalnya, tidak makan permen, rajin sikat gigi, mau tidur cepat, matikan televisi. Kalau kita sering ingkar janji, mereka akan belajar kalau janji itu bisa dilanggar dan bukan sesuatu yang harus selalu ditepati,” papar dia. Makanya, Kartika melanjutkan, sekarang ia menjadi sering menginstrospeksi diri perihal janji ini.

Jangan Ketinggian
Salah satu cara mudah menepati janji kepada anak adalah dengan menjanjikan sesuatu yang terukur oleh kamampuan. Jangan mengumbar janji yang terlalu tinggi. Kartika, misalnya, karena merasa memiliki kemampuan dalam hal memasak, ia kerap ‘menjual’ keterampilannya ini ketika sedang berjanji kepada anak-anak. “Paling sering membuatkan makanan tertentu,” timpalnya.

Kadang juga, orangtua tidak menepati janji karena alasan lupa. Karena itu tak ada salahnya ketika sedang berjanji sekalian minta anak agar nanti membantu mengingatkan kita. jangan sungkan juga meminta maaf kepada anak ketika terlupa atau tidak bisa memenuhi janji.

Bisa juga, ketika sedang berjanji, kita katakan kondisi-kondisi yang membuat janji tersebut tak bisa terpenuhi. Harapannya agar anak mau mengerti. Seperti yang dilakukan Ola. Ketika berjanji membelikan anak-anak mainan, misalnya, ia juga menjelaskan bahwa waktunya harus menunggu setelah Ayah mereka mendapat gaji.”


|Meutia Rahmi, Nina Nurlena, Nuria Bonita, Majalah Karima Edisi 04/2015|

Memanfaatkan Rajab, Siapkan Ramadhan


Oleh: Imam Nawawi

SECARA urutan dalam hitungan kalender Islam, Rajab adalah bulan ketujuh. Sama seperti Muharram, Rajab termasuk bulan yang Allah muliakan. Di bulan Rajab Allah meng-isra’ mi’rajkan Rasulullah, yang karena itu, bulan Rajab adalah bulan dimana Rasulullah menerima perintah sholat lima waktu.
Dengan demikian, sangat tepat jika di bulan Rajab ini kaum Muslimin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dari sisi yang paling mampu dan diinginkan untuk bisa diamalkan dengan sebaik-baiknya. Syukur-syukur kalau sejak bulan ini kita sudah mencoba untuk memfokuskan diri benar-benar taqarrub kepada Allah Ta’ala. Sebab, selepas Rajab, kita akan disambut Sya’ban dan kemudian Ramadhan.
Sebagian kelompok menilai bahwa di antara amalan Nabi yang paling populer di bulan Rajab adalah berpuasa. Meskipun sebagian besar ulama berpendapat bahwa tidak ada kekhususan amalan yang perlu dilakukan di bulan Rajab, apalagi kekhususan perintah menjalankan puasa.
Namun, tentu ada amalan puasa yang tetap baik diamalkan di bulan Rajab, terutama bagi yang belum terlatih berpuasa guna persiapan menyambut Ramadhan.
Anjuran umum adalah memperbanyak puasa sebagai latihan. Misalnya puasa Senin atau Kamis,  puasa Daud bisa dilakukan.
كُلُّ عَمَلِ ابْن أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
“Semua amal anak adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya.” (HR. Imam Bukhori No.5472)
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: ” سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍعَنْ صَوْمِ رَجَبَ ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ”
“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad Shalalalahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.” (HR Imam Muslim)
Dari riwayat tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi pernah berpuasa di bulan Rajab dan pernah tidak berpuasa dengan utuh di bulan Rajab. Artinya di saat Nabi meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib.
Mengamalkan puasa seperti anjuran Nabi di atas sangat baik untuk menkondisikan jiwa-raga, terutama memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, dimana Rasulullah memang tidak melakukan puasa sebanyak di bulan Sya’ban. Tentu, pengamalan puasa sunnah sepanjang waktu dalam setiap bulan itu sangat membantu kita lebih siap secara mental dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Namun, jangan lupa, amal ibadah itu tidak banyak cakupannya. Dan, Rasulullah, terutama kala Ramadhan, puasanya dihiasi dengan beragam amal sholeh lainnya.Misalnya, kalau kita perhatikan bagaimana satu hadits yang menyebutkan Nabi amat dermawan di bulan Ramadhan, maka melatih kedermawanan di bulan Rajab juga suatu kebaikan. Apalagi kalau di sekitar kita ada anak yatim, janda dan fakir miskin.
عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمِ يَرْفَعُهُ اِلىَ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلسَّاعِى عَلَى اْلاَرِمَلَةِ وَ اْلمِسْكِيْنِ كَاْلمُجَاهِدِ فِى سَبِيْلِ اللهِ اَوْ كَالَّذِى يَصُوْمُ النَّهَارَ وَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ. البخارى
Dari Shafwan bin Sulaim, ia merafa’kannya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersabda, “Orang yang menolong janda dan orang miskin adalah seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang puasa di siang hari dan shalat malam di malam hari.” (HR. Bukhari juz 7, hal. 76)
Bahkan lebih jauh, jika ada di antara kita yang terhitung sebagai orang berharta, sangat baik jika segera berkonsultasi kepada ulama atau lembaga amil zakat mengenai harta yang dimiliki dan zakat yang mesti dibayar, sehingga Ramadhan nanti benar-benar telah disiapkan untuk bisa diisi dengan mengamalkan segenap kewajiban yang melekat pada diri sebagai Muslim.
Termasuk hal yang patut diutamakan adalah kembali menyediakan waktu untuk membaca berbagai macam kitab atau buku yang mengantarkan diri semakin paham tentang makna dan amalan yang Rasulullah lakukan sebelum dan ketika Ramadhan, sehingga jiwa-raga kita benar-benar mantab dalam kegembiraan dan kebahagiaan menyambut dan mengisi Ramadhan.
Pada akhirnya, mari kita senantiasa menjadikan setiap momentum, anugerah waktu yang Allah berikan kepada kita sebagai media untuk semakin meningkatkan iman dan taqwa. Terlebih pada bulan dimana Sya’ban akan segera menyapa dan Ramadhan tidak lama lagi akan tiba. Semoga Allah berikan kekuatan kepada kita untuk mengikuti jejak-Nya meraih ridha dan mendapatkan hidayah-Nya. Aamiin.*
Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar
Admin: @emthorif

Melatih Keterampilan Sosial di Kelas

Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Menghadapi 30 anak di kelas berarti menghadapi 30 sifat sosial yang melekat pada tiap anak. Ada anak yang mudah membangun hubungan pertemanan, bisa diterima di berbagai kelompok. Ada yang hanya mampu membangun pertemanan pada kelompok tertentu saja. Tetapi ada juga anak yang sulit mengambil peran dalam pertemanan. Bahkan keberadaannya sering diabaikan dalam kelasnya. Ini terkait dengan ketrampilan sosial yang dimilikinya.

Keterampilan sosial penting dimiliki oleh setiap anak. Keterampilan sosial sangat mendukung keberhasilan, baik selama proses belajar maupun dalam kehidupan yang sebenarnya kelak. Anak-anak yang mengalami penolakan dalam pertemanan cenderung menampakkan self-esteem yang rendah.

Guru mempunyai peran penting dalam meningkatkan keterampilan sosial murid-muridnya. Peran ini harus diambil oleh setiap guru dalam proses pembelajarannya. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengambil peran ini adalah: Pertama, guru harus menguasai peta keterampilan sosial anak-anak di kelasnya. Ini dilakukan dengan observasi terhadap pertemanan di antara anak-anak, baik di kelas maupaun di sekolah. Kemudian buatlah catatan dan perhatian untuk anak-anak yang rendah dalam keterampilan sosialnya.

Kedua, ada usaha untuk meningkatkan keterampilan sosial yang dilakukan dengan dua cara, yaitu cara khusus dan cara umum. Cara khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang memiliki atau rendah dalam keterampilan sosialnya. Kepada mereka kita beri latihan khusus. Kebanyakan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan dalam berbagai situasi sosial. Sehingga mereka perlu diajari langsung tentang beberapa keterampilan sosial (Williams dan Asher,1993).

Cara khusus ini meliputi tiga hal: (1) guru mengajak bicara dengan anak tentang cara berinteraksi yang baik dengan teman dalam berbagai situasi. Ini berdasarkan catatan observasi yang dimiliki guru. Pembicaraannya terfokus pada apa yang seharusnya dilakukan, bukan pada apa yang seharusnya tidak dilakukan. (2) Penyampaian tentang cara berinteraksi tadi harus dipraktikkan di antara anak-anak tersebut. (3) Dengan pengawasan guru, apa yang dipraktikkan tadi harus dicoba dalam situasi pertemanan yang sesungguhnya.

Cara umum adalah dengan melibatkan semua anak di kelas dalam kegiatan pembelajaran. Meskipun dengan tetap lebih memperhatikan anak-anak yang kurang keterampilan sosialnya. Menurut Williams dan Asher (1993) ada empat konsep dasar yang harus ada dalam melatih keterampilan sosial, yaitu:
  1. Kerja sama, misalnya dalam permainan ada pemberian giliran kepada yang berhak, ada berbagi bahan, dan memberi usul.
  2. Partisipasi, misalnya ikut terlibat, ikut memulai, dan memusatkan perhatian selama permainan.
  3. Komunikasi, misalnya berbicara dengan orang lain, melontarkan pertanyaan, keterampilan mendengarkan, melakukan kontak mata, memanggil anak lain dengan namanya, menyampaikan tentang diri sendiri.
  4. Validasi, misalnya dengan memberi perhatian pada orang lain, mengatakan hal-hal yang baik tentang orang lain, tersenyum, menawarkan bantuan atau saran.

Konsep-konsep di atas diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran di kelas. Beberapa hal yang perlu dipraktikkan dalam pembelajaran adalah bermain peran. Metode ini sangat terbuka untuk dimasuki berbagai bentuk keterampilan sosial. Modelling atau pemberian model (contoh) yaitu dengan menunjukkan apa yang dilakukan orang dengan baik. Dan yang tidak kalah penting adalah melalui kelompok kerja.

Drs. Slamet Waltoyo, Pimpinan Madin Saqura, Sleman

Admin: @emthorif

Ketika Anak Beranjak Baligh


Oleh : Muhammad Abdurrahman

Islam sangat memperhatikan masalah pembinaan dan pendidikan anak. Sangat ironis jika ada orangtua yang mengabaikan pendidikan anaknya. Mereka menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah. Padahal sekolah berbasis agama saja tidak akan mampu memberi garansi, apalagi sekolah-sekolah umum yang minim sentuhan agama.

Apalagi tantangan mendidik di era modern ini. Anak zaman sekarang banyak yang baligh lebih cepat dari generasi yang sebelumnya. Banyak orangtua yang belum memberi bekal yang cukup pada anak-anaknya, sehingga ketika baligh, mereka minim bekal. Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi pada diri mereka di masa awal baligh. Karena itu, sejak pra-baligh, anak harus mendapat bekal yang cukup.

Ajarkanlah kepada sang buah hati untuk minta izin ketika hendak masuk ke kamar orangtua. Allah telah berfirman bahwa hendaklah anak meminta ijin sebelum masuk menemui orangtua mereka.

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nuur [24]: 59)

Sungguh tidak mungkin Islam mengajarkan sesuatu tanpa adanya hikmah di dalamnya. Sesungguhnya orangtua adalah teladan bagi anak-anak mereka. Ketika anak memasuki kamar orangtua tanpa izin, boleh jadi mereka akan melihat kedua orangtua mereka dalam keadaan yang tidak pantas untuk mereka lihat. Anak yang melihat orangtua mereka dalam keadaan berbeda dengan keadaan sehari-hari yang mereka lihat akan berdampak kepada pekerti mereka, karena mereka melihat sesuatu yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pahami. Kewibawaan orangtua pun akan jatuh di mata anak.

Hendaknya setiap orangtua mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga pandangan dan menutup aurat sejak masih kecil. Hal tersebut lebih baik dan lebih mudah untuk membentuk kebiasaan yang baik pada diri mereka. Anak akan merekam segala hal yang berkesan dalam ingatan mereka. Makna berkesan bagi anak berarti sesuatu yang baru dan segala sesuatu yang baru akan tampak menarik di mata anak. Apabila anak melihat sesuatu yang tidak pantas atau belum waktunya mereka lihat, maka jiwanya akan terguncang dan pikirannya akan terganggu dengan apa yang dilihatnya.

Anak yang tidak dibiasakan untuk menjaga pandangannya akan melihat aurat orang lain yang tidak boleh dilihatnya, apalagi pada zaman sekarang ini begitu banyak manusia mengobral auratnya tanpa merasa malu sedikit pun. Allah telah berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (Qs. An-Nuur [24]:30)

Orangtua juga harus mengajarkan pada mereka untuk menutup aurat sejak dini. Biasakan anak kita untuk menutup aurat mereka agar tumbuh dalam jiwa si kecil perasaan malu dan kecintaan mereka terhadap hijab. Menutup aurat dapat diajarkan pada si kecil ketika shalat sebagai syarat sah shalat, kemudian biasakanlah ia memakai hijab di luar sholat sedikit demi sedikit.

Pisahkanlah tempat tidur mereka. Rasulullah adalah pendidik yang sangat cermat, sehingga tidak terluput dari perhatiannya prinsip yang sangat penting dalam membina anak-anak yang berlainan jenis. Rasulullah telah mengajarkan kepada orangtua untuk memisahkan tempat tidur anak-anak mereka. Imam Ahmad (6467) meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan sanad hasan,

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika meninggalkannya apabila mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Pisahkanlah ranjang anak-anak ketika mereka telah mencapai usia 10 tahun. Hal ini disebabkan ketika berusia 10 tahun, syahwat mereka telah mulai berkembang dan bila tidak diatur bisa jadi mereka akan melampiaskan nafsu seksualnya pada jalan yang diharamkan oleh agama.

Orangtua juga wajib mengajari anak tentang kewajiban-kewajiban mandi dan tata cara membersihkan diri dari janabat. Tidak kalah penting dari kedua hal tersebut, hendaknya kita selalu memperingatkan mereka agar tidak terjerumus dalam perbuatan keji dan perzinaan. Wallahu a’lam.

*) Muhammad Abdurrahman, Pemerhati dunia anak

Admin: @emthorif

Sapa Redaksi : Pentingnya Ilmu dan Keterampilan Pengasuhan


Cover Maret 2016
Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Ahad, 28 Februari 2016 yang lalu, pengelola Majalah Fahma mendapat undangan untuk mengisi Parenting Class Wali Murid TK Bunayya, Berbah, Sleman. Pembicara dalam acara ini adalah Ustadz Bagus Priyosembodo, yang tak lain adalah Dewan Redaksi Majalah Fahma. Saat mengisi acara, Ustadz Bagus Priyosembodo menekankan pentingnya ilmu dan keterampilan pengasuhan. Sebab jika orangtua tidak menguasai hal ini, maka yang terjadi adalah ketidakmampuan orangtua dalam menangani anak, yang dapat berujung stres dalam pengasuhan.

Selang beberapa hari setelah Parenting Class, kru Fahma datang ke TK Bunayya mengantar Majalah Fahma edisi Maret. Ketika berjumpa kru Fahma, Kepala Sekolah TK Bunayya, yang akrab disapa Bu Eni, mengungkapkan kegembiraannya sebab sambutan wali murid sangat bagus. “Beberapa hari yang lalu, ada sekitar 20 wali murid yang menemui saya. Mereka menceritakan bahwa apa yang disampaikan Ustadz Bagus Priyosembodo memang riil terjadi dalam kehidupan mereka,” ujar Bu Eni.

Bu Eni juga mengungkapkan bahwa setelah Parenting Class tersebut, banyak wali murid yang mulai merubah metode mendidiknya. “Mereka sudah mulai sadar bahwa pendidikan anak, terutama pendidikan agama, adalah yang nomor satu. Sebab itulah aset dan bekal mereka di masa yang akan datang. Mau jadi apa anak-anak jika tidak memiliki bekal ilmu agama yang baik? Padahal banyak orangtua yang ringan ketika mengeluarkan uang untuk kredit motor, namun berpikir berkali-kali ketika hendak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah anak,” tandas Bu Eni penuh semangat.

Pembaca yang dirahmati Allah,
Apa yang disampaikan Bu Eni ini tak bisa dipungkiri adalah realita yang terjadi di sekitar kita. Mungkin juga di sekitar kita. Mungkin kita merasa anak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan hingga menjadi beban pikiran kita. Jika ini hal ini tak ditangani dengan baik, maka, seperti yang disampaikan Ustadz Bagus Priyosembodo, orangtua berpotensi mengalami stress pengasuhan. Karena itulah, penting bagi kita menguasai ilmu dan keterampilan pengasuhan. Insya Allah, pembahasan ini akan diulas lebih lengkap di Kajian Utama edisi April 2016. Selamat menikmati sajian kami.

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Redaksi

Teknologi Murah dan Manfaat


Oleh : Rizki Farani, S.Pd., M.Pd.

Apakah tidak punya smartphone, ipad atau akses internet itu berarti kemunduran? Atau istilah gaul nya jadul? Jawaban dari pertanyaan ini pasti bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Itulah sifat teknologi.

Teknologi boleh bermacam-macam, modern dan mewah namun penggunaan teknologi haruslah selektif sesuai kebutuhan dan kondisi, terutama teknologi yang digunakan untuk pembelajaran di kelas. Di sisi lain, menurut lembaga Association for Education Communication and Technology ( 1977: 153), aspek teknologi untuk pembelajaran sebenarnya tidak hanya terbatas pada alat (hardware/ software) namun teknologi bisa juga termasuk pesan yang disampaikan (message), Orang yang menyampaikan (people), bahan ajar yang digunakan (materials), teknik penyampaian (technique) dan lokasi belajar (settings). Berdasarkan keluasan aspek teknologi ini maka seorang guru dapat mengembangkan teknologi yang bermacam2 sesuai tujuan pembelajaran, sederhana, murah, dan bermanfaat.

Salah satu contoh media sederhana yang bermanfaat adalah media grafis. Menurut Sri Anitah (2010: 60), media grafis dapat berupa gambar, bagan, diagram, grafik atau poster. Media seperti ini sangat mudah dicari di berbagai majalah, surat kabar atau buku. Guru bisa menyeleksi beberapa gambar

yang relevan dengan pembelajaran dan menggunakan gambar tersebut untuk mengajar di kelas. Guru juga bisa membuat media grafis sendiri sesuai dengan tujuan pembelajaran. Inti dari penggunaan media grafis adalah guru dapat memvisualisasikan konsep abstrak sehingga siswa lebih paham materi yang disampaikan. Dalam contoh ini, teknologi tidak hanya sebatas pada media gambarnya saja namun kemampuan guru untuk menyeleksi gambar yang cocok untuk belajar menunjukkan bahwa guru juga bisa menjadi sumber teknologi. Jadi gabungan teknologi sederhana seperti ini sebenarnya bermuatan multi kompetensi untuk menggabungkan bahan ajar, materi, media, dan guru. Sederhana namun efektif, bukan?

Contoh lain adalah lokasi pembelajaran. Guru dapat membawa siswa ke luar kelas untuk bisa mempraktikkan teori yang dipelajari di dalam kelas. Deskripsi singkat tentang penggunaan lokasi sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut:

Berdasarkan deskripsi di atas, tujuan penggunaan masjid sebagai lokasi belajar adalah untuk menciptakan nuansa islami dalam setiap mata pelajaran; misalnya ketika tim mendapatkan poin, biasakan siswa untuk mengucapkan Alhamdulillah dan tidak berteriak di dalam masjid. Cara ini juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan belajar sambil bermain dan siswa mudah bergerak karena ruangan masjid cukup luas untuk kapasitas kelas besar seperti umumnya kelas-kelas di Indonesia. Dalam proses pembelajaran ini, masjid adalah teknologi sederhana yang diintegrasikan ke dalam proses belajar bahasa Inggris.

Kesimpulannya, dengan memperluas pemahaman kita terhadap kompenen-komponen teknologi, guru tidak perlu berkecil hati terhadap kondisi sekolah yang masih minim teknologi canggih. Masih banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk menciptakan proses pembelajaran dengan teknologi yang sederhana, murah, dan bermanfaat.||

Topik : Pengenalan kosa kata benda dalam bahasa Inggris
Teknik penyampaian : Permainan (untuk kelas besar 30-40 anak)
Lokasi : Masjid
Kegiatan : Guru mengajak siswa ke masjid (pastikan tidak mengganggu waktu sholat). Guru membagi siswa menjadi dua kelompok besar. Siswa berbaris membentuk garis panjang di tim nya masing-masing. Guru membisikkan satu kata benda ke siswa yang berdiri paling depan di tiap tim. Siswa tersebut akan membisikkan kata yang sama ke siswa yang berdiri di belakangnya. Kegiatan berlanjut sampai siswa yang berdiri paling belakang mendapatkan informasi kata bendanya. Setelah semua siswa mendapat giliran maka siswa yang berdiri paling belakang harus menyebutkan kata apa yang dibisikkan oleh temannya. Kalau jawaban nya betul maka tim mendapatkan poin satu.

Variasi kata dapat disesuaikan dengan level kelas dan kompetensi yang diharapkan

*) Rizki Farani, S.Pd., M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris , Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia

Admin @emthorif

Tips Cerdas : Ajak Anak Beraktivitas Fisik


Oleh : Muhammad Irfan

Aktif bergerak merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik anak-anak. Dengan aktif bergerak tumbuh kembang anak juga akan terbantu, baik perkembangan fisik maupun singkronisasi pergerakan dari berbagai bagian tubuhnya. Selain dengan membantu perkembangan tubuh, dengan turutu bergerak kesehatan anak anda akan ikut terbantu, anak anda akan lebih sehat secara fisik.

Orangtua sebaiknya menjadi orang yang turut perhatian terhadap tumbuh kembang anak dari berbagai aspek, baik afektif, kognitif serta psikomotornya. Oleh karena itu, alangkah sangat baik jika anak kita adalah anak yang cukup aktif bergerak dan senang melakukan aktifitas fisik ketimbang hanya duduk bermain game dan tidur di rumah. Akan lebih baik jika kita bersama dengan seluruh anggota keluarga lainnya secara aktif bergerak bersama-sama.

Jika anak termasuk ke dalam anak yang senang beraktifitas fisik, maka jangan untuk mencoba melarangnya untuk melakukan aktifitas fisik tersebut. Sebab hal tersebut justru bisa mengekang kreativitas. Bagi Anda yang senang dengan aktifitas fisik maka ada baiknya anda mengarahkannya ke arah kegiatan yang baik dan sesuai dengan perkembangan usianya di saat itu.

Kebiasaan bergerak aktif yang diajarkan dan ditanamkan sejak masa kecil dapat melekat di dalam diri anak anda dan bisa terbawa hingga ia dewasa. Dengan rajin aktif bergerak dan berolahraga tentunya tubuh yang segar dan fit bisa didapatkan oleh seluruh anggota keluarga. Meskipun demikian terkadang kesulitan untuk memulai kebiasaan baik ini selalu muncul. Oleh karena itu berikut ini ada beberapa saran dan tips yang bisa anda lakukan untuk mulai mengajak anak anda bergerak dan melakukan aktifitas fisik yang menyehatkan.

Tips mengajak anak melakukan kegiatan fisik:

Rancang Kegiatan Outdoor Keluarga
Sebagai sebuah keluarga tidak ada salahnya Anda mengajak anak-anak berlibur dan berwisata. Kegiatan berlibur sebenarnya tidaklah harus mahal dan jauh. Momen liburan merupakan salah satu kesempatan bagi anda merancang sebuah kegiaatan luar rumah yang menyenangkan. Jika anda seringkali menghabiskan waktu hanya dengan jalan-jalan di pusat perbelanjaan, mungkin sesekali anda melakukan kegiatan berenang sekeluarga, bersepeda, jalan, santai, hiking, bermain bola di taman dan berbagai jenis kegiatan fisik yang sebenarnya sederhana dan jarang dilakukan, namun memiliki manfaat yang sangat besar.

Olahraga Bersama Keluarga
Kegiatan olahraga merupakan sebuah kegiatan penting yang sebaiknya dilakukan setiap keluarga. Akan sangat baik ketika anda berolahraga bersama. Tips yang bisa anda lakukan ialah dengan mencanangkan hari olahraga keluarga. Setiap anggota keluarga bisa bebas memilih olahraga apa yang mereka sukai setiap pergantian minggunya, sehingga tidak menimbulkan rasa bosan. Tidak perlu terlalu sering, dengan hanya 1 hari setiap minggunya sudah cukup bagi anda untuk melakukan kegiatan olahraga bersama dan melakukan aktifitas bersama secara mengasyikan.

Kegiatan Membersihkan Rumah Bersama
Melakukan aktifitas fisik tidaklah melulu harus di luar rumah, kegiatan rumah pun sebenarnya bisa dilakukan untuk menggerakan badan anda. Salah satunya ialah dengan melakukan kegiatan bersih-bersih rumah secara bersama-sama. Dengan melakukan kegiatan tersebut anda tidak hanya berkeringat dan menggerakan badan, namun di sisi lain anda juga sekaligus mengerjakan tugas rumah. Gotong royong membersihkan rumah juga merupakan sebuah langkah yang bisa anda gunakan untuk mempererat hubungan antara anda dengan anggota keluarga lainnya. Lakukan kegiatan tersebut dengan sukarela dan ciptakan suasana yang mengasyikan tanpa tekanan dan aksi marah-marah.

Merancang Permainan Seru
Salah satu faktor yang banyak membuat anak malas untuk bergerak dan lebih memilih gadget serta tenggelam di dalam game karena biasanya orangtua tidak memiliki agenda menarik ketika sedang melakuakn aktivitas bersama. Oleh karena itu cobalah untuk merancang dan merencanakan kegiatan keluarga anda secara lebih baik. Anda bisa mencoba melakukan sebuah permainan baru yang mungkin sebelumnya belum pernah sama sekali dicoba oleh anak anda. Ada baiknya anda sebelumnya mengetahui atau mencari tahu apa sebenarnya hal yang sdang benar-benar disukai anak anda dan jadikan pula hal tersebut sebagai pancingan, atau anda bisa merancang sebuah permainan yang disukainya dengan berbalut aktifitas fisik baik outdoor atau indoor.

*) Muhammad Irfan, Pemerhati dunia anak

Admin @emthorif
Foto http://4.bp.blogspot.com/-ByPeUTgB9oQ/T1OaJRdiw-I/AAAAAAAAAHs/-4Mhx4h8zHw/s1600/12998374961235667075.jpg

Anak Sehat : Gangguan Pencernaan Pada Anak (bagian 1)


Oleh : Arhie Lestari
  
Gangguan pencernaan disebut dispepsia yaitu kondisi ketidaknyamanan pada bagian perut. Meskipun gangguan pencernaan termasuk umum dialami oleh anak atau orang dewasa akan tetapi gejala harus tetap diwaspadai. Anak yang mengalami gangguan pencernaan akan menghambat tumbuh kembang anak. Kondisi ini dikarenakan pencernaan berfungsi sebagai pembentukan daya tahan tubuh, proses penyerapan nutrisi dan mengganggu kecerdasan anak apabila terjadi ketidakseimbangan gizi karena terhambatnya penyerapan nutrisi pada proses pencernaan.

Gangguan pencernaan pada anak disebabkan karena sistem pencernaan yang belum sempurna atau konsumsi makanan dan minuman yang memicu terjadinya ganguan pencernaan. Oleh sebab itulah anak anak membutuhkan waktu penyesuain untuk dapat beradaptasi dengan makanan yang dikonsumsinya. Gangguan pencernaan tidak dapat dianggap sepele dikarenakan akan berlangsung terus menerus dan memerlukan perawatan medis untuk menghindari gangguan kesehatan lainnya.

Pencernaan pada anak memiliki peran penting yaitu untuk membentuk daya tahan tubuh. Anak yang memiliki pencernaan yang sehat maka akan mempengaruhi pada kesehatan anak. Dengan memiliki kesehatan yang sehat maka tumbuh kembang anak akan optimal. Selain itu anak yang memiliki pencernaan yang sehat akan mempengaruhi kebutuhan nutrisi yang optimal.

Sistem pencernaan sangat mempengaruhi nutrisi yang dibutuhkan oleh anak, pada sistem pencernaan anak yang sehat maka  akan mampu menyerap gizi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh anak apabila mengalami gangguan maka kebutuhan nutrisi terhambat apalagi diusia anak 0-5 tahun yang termasuk masa emas anak.

Pencernaan juga berperan penting dalam kecerdasaan anak, faktor ini dihubungkan dengan penyerapan gizi yang tidak seimbang sehingga dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Terganggunya tumbuh kembang pada anak akan berdampak pada kecerdasan anak. Pengembangan saat ini adalah anak yang cerdas mampu memiliki komunikasi dua arah yang mampu didukung oleh kemampuan otak anda.  Dengan saluran cerna yang sehat maka membuat kerja maksimal dan juga nutrisi yang dibutuhkan tubuh anak terserap optimal.

Sambungan : Gangguan Pencernaan Pada Anak Bagian II

*) Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak
Admin @emthorif
Foto http://www.solusisehatku.com/wp-content/uploads/2016/01/gangguan-pencernaan-pada-anak-730x430.png

Teknologi Tepat Guna untuk Pembelajaran di Sekolah


Oleh : Rizki Farani, S.Pd., M.Pd.

Perkembangan teknologi memberi dampak pada proses pembelajaran baik proses pembelajaran di institusi pendidikan ataupun pendidikan di masyarakat. Dampak tersebut terlihat pada beberapa aspek, misalnya media pembelajaran dan metode pembelajaran. Media pembelajaran berkembang mulai dari  media cetak, media audio-visual, media komputer sampai dengan multimedia. Variasi media ini mempengaruhi metode pembelajaran yang awalnya hanya terfokus pada pembelajaran satu arah (dari penyampai pesan ke penerima pesan) menjadi pembelajaran interaktif yang menuntut pembelajaran untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Contoh perkembangan proses pembelajaran karena penggunaan teknologi adalah berkembangnya pembelajaran jarak jauh atau yang dikenal dengan online learning yang memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk berinteraksi dan melaksanakan proses pembelajaran meskipun tidak berada dalam satu lokasi yang sama.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat membantu dalam banyak hal, misalnya meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, menjelaskan konsep-konsep abstrak yang tidak berwujud, menjelaskan objek-objek yang terlalu kecil (misalnya: bakteri dan atom, besar (misalnya: gunung berapi dan bumi) atau jauh (misalnya: bintang dan bulan), membantu siswa memahami dan mengingat materi dengan mudah dan mewakili semua kondisi kognitif, motorik dan afektif siswa (Arsyad, 2011: 17); namun teknologi belum tentu dapat memberikan manfaat dalam pembelajaran apabila teknologi yang dipilih tidak dikelola dan dikontrol sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakter kognitif siswa.

Contoh kasusnya adalah penggunaan internet untuk pembelajaran bahasa Inggris.  Terdapat banyak sekali situs yang tersedia di internet untuk belajar bahasa Inggris namun siswa belum tentu dapat memilih situs yang tepat sesuai dengan level pembelajaran bahasa Inggris mereka mulai dari pre-elementary, elementary, pre-intermediate, intermediate atau advance.  Ketika siswa tidak bisa memilih sumber belajar yang tepat, maka motivasi belajar mereka mungkin saja berkurang dan mengakibatkan fokus belajar teralihkan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan materi, misalnya membuka situs untuk permainan atau jejaring sosial. Dalam kondisi seperti ini, guru perlu memberikan deskripsi fokus materi sebelum pembelajaran dimulai agar siswa memahami instruksi-instruksi yang harus mereka lakukan dalam mencapai kompetensi yang diharapkan.

Secara khusus, proses penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat terdiri dari hal-hal sebagai berikut; a) mengetahui karakter umum siswa, misalnya tingkat homogenitas dan heterogenitas dalam gender, agama, budaya dan lingkungan tempat tinggal, b) mengetahui tingkat kognitif siswa, misalnya pemahaman awal siswa tentang materi dan penguasaan siswa terhadap alat-alat teknologi dan c) mengetahui gaya belajar siswa, mulai dari audio, visual dan kinestetik (Smaldino, 2005: 49-51).

Semua data tentang siswa yang tersebut di atas dapat dianalisis oleh guru sebelum proses pembelajaran berlangsung dengan mengadakan observasi, tes awal dan wawancara singkat tentang apa yang disukai oleh siswa. Data juga dapat diambil dari data yng dimiliki oleh pihak sekolah. Implikasi dari pemilihan teknologi yan tepat guna adalah: a) guru dapat memilih sumber belajar yang Islami dan efektik sehingga pembelajaran tidak hanya melbatkan kemampuan kognitif tetapi juga motorik dan afektif; b) guru dapat menciptakan pembelajaran yang bersifat student-centered, artinya desain pembelajaran benar-benar dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa; c) guru dapat meningkatkan komunikasi dengan siswa agar dapat membantu siswa dalam memahami materi dengan mudah dan mencapai kompetensi yang diharapkan dalam situasi belajar yang menyenangkan. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam belajar.


*) Rizki Farani, S.Pd., M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Admin @emthorif
Foto https://motivatorkreatif.files.wordpress.com/2014/01/img03232-20131024-10171.jpg

Sebaik-baik Calon Suami


Oleh : Mohammad Fauzl Adhim

Termangu aku merenungi hadis Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Seolah-olah baru pagi ini aku menjumpainya, seraya bertanya-tanya tentang diriku sendiri, adakah kelembutan melekat padaku meski sangat sedikit, ataukah ia terjauhkan dariku sejauh-jauhnya? Alangkah rugi, alangkah rugi orang yang terjauhkan darinya sifat lemah-lembut.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ
“Barangsiapa yang diharamkan baginya sifat lemah lembut (terjauhkan dari sifat lemah lembut), maka ia terhalangi dari kebaikan semuanya.“ (HR. Muslim).

Sesungguhnya lemah-lembut merupakan salah satu takaran baiknya akhlak seseorang. Lemah-lembut bukanlah hilangnya ketegasan. Bukan. Lemah-lembut lebih kepada terjauhkannya seseorang dari sifat kasar dan empati. Tidak adanya kelembutan pada diri seseorang, menjauhkan dia dari akhlak yang baik, jauh pula dari segala kebaikan. Maka ketika Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengingatkan agar tidak menampik pinangan orang yang baik agama dan akhlaknya, kelembutan inilah salah satu takarannya. Meski demikian, sangat perlu kita bedakan antara gaya ungkap pikiran maupun perasaan yang ada pada satu suku dengan sifat lembut maupun kasar. Seseorang dapat memiliki sifat yang sangat kasar, meskipun tutur katanya halus mendayu. Sebaliknya, kelembutan pun dapat melekat pada orang-orang yang tumbuh dalam budaya terbuka, blak-blakan, apa adanya.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bahkan memperingatkan tentang betapa besar bahaya kerusakan yang akan terjadi dari menolak pinangan orang yang baik agama dan akhlaknya. Ini bukan berarti pembenaran bagi sebagian orang untuk memaksakan kehendak dengan alasan ia bagus agama dan akhlaknya, tetapi hendaknya tidak terjadi seseorang menolak orang yang baik agama dan akhlaknya disebabkan lebih memilih orang lain karena dunia yang ada padanya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Apabila ada orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, yang meminang putri kalian, nikahkan dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jika bagusnya agama berada pada diri seseorang, menyatu dengan bagusnya akhlak, maka lebih terbentang jalan baginya untuk menjadi sebaik-baik suami, sebaik-baik kepala keluarga. Bukankah orang yang paling baik adalah yang terbaik terhadap keluarganya? Ia lembut pada istrinya, ringan hati mengulurkan bantuan, baik pula kepada anak-anaknya. Ia tidak menjadi raja yang siap membelalakkan mata kepada anak istrinya.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Diam-diam aku termangu. Adakah itu semua pada diriku.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Admin @emthorif