Ketika Dakwah Ditinggalkan


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
Apakah peristiwa yang menakutkan itu? Jika majelis-majelis ceramah masih ada, tetapi dakwah telah menghilang. Inilah masa yang mendebarkan. Inilah masa yang amat mengkhawatirkan. Jika pengajian ada dimana-mana, tetapi tidaklah seseorang berdiri menyampaikan kecuali apa yang menyenangkan pendengar saja, itulah musibah.

Apakah hal terpenting dari dakwah? Memberi kabar gembira dan peringatan; menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Seruan tersebut beriring dengan mengajarkan ilmu sehingga semangat beragama itu berlandaskan tuntunan yang jelas, berpijak pada dasar yang kokoh. Jadi bukan asal bersemangat belaka. Dan inilah yang mengantarkan musliimin terdahulu sebagai ummat terbaik. Ini pula yang akan dapat mengantarkan muslimin untuk jadi terbaik.

Allah Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron, 3: 110).

Apa syarat untuk menjadi ummat terbaik itu? Berkumpulnya tiga perkara: tegaknya amru bil ma'ruf, kokohnya nahy munkar dan iman kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semua itu berlandaskan ilmu di atas dasar yang shahih.

Sesungguhnya jatuhnya Islam bukan ketika jumlahnya sedikit. Runtuhnya kejayaan juga bukan ketika muslimin miskin. Tapi ketika dakwah ini terhenti.

Tengoklah sejarah apa sebabnya ahlus sunnah runtuh di Persia? Bukan karena jumlah kita sedikit saat itu. Bukan. Tetapi bermula dari terhentinya dakwah sehingga besar jumlah tak menjadikan kita berdaya. Mudah runtuh oleh pukulan yang kecil. Sedangkan tanpa itu pun kita telah lemah.

Berapa jumlah kita di negeri ini? Sangat banyak. Terbanyak, bahkan. Tetapi apakah dengan jumlah kita yang mayoritas menjadikan diam kita disegani dan suara kita didengarkan? Tidak. Apa sebabnya? Renungilah dalam-dalam. Renungi dengan hati bersih dan pikiran jernih.

Sungguh, jika ceramah agama telah berubah menjadi hanya sejenis hiburan, majelis ilmu ditinggalkan, maka umat ini hanya menjadi bilangan angka tanpa 'izzah. Tanpa kehormatan, tanpa wibawa.
Jadi, apa yang membuat kita lemah dan runtuh? Sekali lagi, terhentinya dakwah. Sementara peringatan kita sampaikan dengan tajam hanya untuk membela kelompok. Lisan tajam kepada sesama muslim bukan karena menegakkan dakwah, tetapi menyuburkan perselisihan disebabkan ashabiyah (fanatisme golongan).

Ada masa ketika do'a tak dikabulkan bukan karena tak khusyu, tapi karena dakwah ditinggalkan. Ada saat ketika munajat kita tak berjawab. Inilah masa yang mendebarkan. Inilah masa ketika azab dapat sewaktu-waktu ditimpakan, berupa bencana alam yang mendera atau berupa sulitnya kehidupan yang merebak.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
"Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar. Atau jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdo'a tidak dikabulkan-Nya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).




Ambillah mushhafmu. Bacalah Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 102 hingga ayat-ayat berikutnya. Pelajari tafsirnya. Ada pelajaran besar di sana jika mau berpikir.

Ketika Cerita Lebih Berbicara




Sebuah cerita akan mampu berbicara lebih banyak dibandingkan nasihat bertubi-tubi
Mohammad Fauzil Adhim, dalam buku Positive Perenting
Foto: google

Sejauh-jauh Perjalanan, Rumah Juga yang Dirindukan


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sejauh-jauh perjalanan, rumah juga yang dirindukan. Inilah tempat untuk melabuhkan rindu, meneduhkan hati dan menyejukkan pikiran. Bukan sekedar tempat untuk mengistirahatkan badan yang letih.

Sejuknya rumah bagi hati bukan karena meja kursi yang tersusun rapi. Bukan pula karena aroma mewangi ruangan yang lembut mengesankan. Aroma mewangi bahkan tak penting adanya. Rumah terasa menyejukkan dan senantiasa membangkitkan kerinduan untuk segera pulang justru oleh keriuhan anak-anak yang sedang tumbuh. Pertanyaan mereka yang polos, sapa mereka yang hangat, dan terlebih ketika anak-anak itu menunjukkan perhatian dan kepedulian.

"Bapak capek? Mau kuinjak-injak?" sapa anak saya yang ketujuh: Sakinah. Masih TK dia. Karena belum bisa memijat, ia biasa menawarkan menginjak-injak punggung saya dengan kaki mungilnya bila ia melihat saya sedang capek. Sebuah hadiah istimewa yang lahir dari empati.

Anak saya nomor 6, Nida, yang sekarang kelas 3 SD biasanya paling ringan hati mengambilkan air putih, apalagi kalau saya sedang sakit. Hal sederhana, tetapi ini menunjukkan perhatian dan empati. Sementara anak nomor 5 yang bersemangat dalam pelajaran Al-Qur'an di sekolahnya, Navies, biasanya antusias menanyakan koran atau majalah. Saat ini, tinggal mereka bertiga yang masih di rumah. Sementara kakak-kakaknya belajar di pesantren.

Umur semakin tua dan anak-anak tumbuh semakin besar. Di perjalanan aku tersentak, betapa cepatnya waktu berlalu. Alangkah sedikit yang sudah kulakukan untuk mereka.

Terdiam di sini. Menempuh perjalanan pulang. Sejauh-jauh kaki melangkah, rumah juga tempat yang paling dirindui. Begitulah seharusnya, kecuali mereka yang tidak menemukan kesejukan hati di rumahnya sendiri. Na'udzubillahi minta dzaalik.

Semoga Allah Ta'ala jadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata di dunia dan akhirat. Qurrata a'yun.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Admin: Mahmud Thorif


Makanan Cerdas : Ikan Patin


Oleh : Ana Noorina

Ikan patin adalah ikan jenis air tawar yang sering ditemukan di sungai-sungai. Biasanya di desa tertentu yang masih memiliki air sungai bersih dan sehat menjadi tempat tinggal para ikan patin. Mungkin sebagian dari Anda belum banyak yang telah mengoknsumsi ikan patin ini.

Ikan patin memiliki kandungan kolesterol yang rendah membuat ikan ini layak untuk dikonsumsi bagi Anda yang memiliki penyakit koelsterol apalagi iakn patin bagus dikonsumsi bagi Anda yang sedang menerapkan diet sehat.

Ikan patin juga salah satu ikan yang memiliki kandungan lemak omega 3 yang menjaga kesehatan jantung, menjaga detak jantung dan membuat jantung lebih sehat serta mendukung kesembuhan para penderita penyakit jantung koroner. Oleh karena itulah disarankan untuk banyak mengkonsumsi ikan patin bagi Anda yang ingin terbebas dari penyakit jantung koroner.
Meskipun ikan patin adalah ikan air tawar namun nutrisi yang cukup tinggi ini membuat banyak diharuskan untuk mencoba masakan ikan patin. Kandungan protein yang cukup tinggi sangat bermanfaat bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Ikan patin juga bermanfaat untuk ibu hamil. Karena memiliki banyak protein dan nutrisi yang aman untuk janin, ikan patin direkomendasikan untuk menjadi asupan nutrisi bagi ibu hamil. Selain membantu perkembangan otak janin, ikan patin juga turut mendukung pertumbuhan fisik janin yang masih dalam kandungan. Apalagi adanya DHA membuat perkembangan otak janin berjalan dengan sangat sempurna.

Kandungan protein dalam ikan patin yang cukup tinggi membuat ikan patin ini bagus untuk perkembangan otot anak-anak. Apalagi ikan patin mendukung pertumbuhan dan pembentukan otot.

Adanya kalsium dan fosfor menjadikan ikan patin baik dikonsumsi untuk mendukung pertumbuhan tulang. Fosfor dan kalisum dalam ikan patin benar-benar bagus dan bisa membuat anak-anak mengalami masa pertumbuhan yang sempurna.

Penulis : Ana Noorina, Pemerhati gizi

Admin: Mahmud Thorif
Foto: infopeternakan.com

“Ayah..., Mengapa Bapak Itu Jalannya Pakai Tongkat?”


Oleh: Suhartono

Seringkali ketika tak sengaja ketika si kecil dipertemukan atau bertemu dengan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, mereka akan memberikan respon yang spontan dengan memberikan opini yang mengejutkan. Terkadang opini ini dilontarkan dengan nada lantang dan blak-blakan yang membuat kita sebagai orangtuanya merasa tak enak hati dengan orang tersebut. Kepolosan mereka sewaktu mendapatkan sesuatu hal yang baru, termasuk saat mereka menjumpai orang-orang yang memiliki perbedaan fisik dengan mereka, membuat mereka spontan memberikan respon yang tanpa beban dengan tanpa mempertimbangkan apa yang mereka ucapkan.

Umumnya, perbedaan ini akan mulai ditangkap oleh anak-anak dari usia 4 tahun ke atas. Di usia ini, anak-anak sudah bisa memahami kondisi dirinya dengan orang lain. Selain itu, akan tumbuh sikap baru dalam diri anak-anak yakni kemampuan untuk mulai membandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain. Di mana ketika mereka mendapati hal yang dimiliki orang lain tidak sama dengan apa yang ia ketahui, maka dengan otomatis mereka akan bertanya pada kita orang dewasa, begitupun saat anak-anak menyaksikan perbedaan fisik yang dimiliki oleh orang lain.

Hal ini tentunya wajar, jika mengingat pengetahuan anak-anak yang masih begitu terbatas. Selain itu, anak-anak belum mampu mempertimbangkan perbuatan dan perkataannya sebagai hal yang buruk dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Untuk itulah, peran orangtua akan dibutuhkan disini.

Sebagai orangtua, sudah tugas kita untuk bisa mendidik dan me-manage sikap anak-anak agar ketika mereka dihadapkan di lingkungannya, anak-anak bisa memilah mana yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

Ketika Anda membawa anak-anak ke tempat umum dan anak melontarkan pertanyaan "Ayah, kenapa bapak itu pakai tongkat?", "Bunda, kenapa ibu itu duduk di kursi dorong?" dan lain sebagainya. Maka, sudah saatnya, Anda sebagai orangtua harus dapat menjelaskan kepada anak mengenai perbedaan tersebut dan melatih mereka untuk bisa menghargai perbedaan yang dimiliki setiap orang.

Mengajarkan anak tentang bagaimana menghargai orang lain, mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit. Selain itu, tantangan dan halangan akan mungkin anda dapatkan. Seperti misalkan ada begitu banyaknya pertanyaan dari si kecil, kesulitan si anak untuk menyerap alasan dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika anda bersabar dna terus berusaha mengajarkan hal ini pada si kecil, maka perlahan namun pasti mereka akan dapat mengerti.

Tips mengajarkan anak untuk mengharai perbedaan fisik orang lain
·       Tanamkan sejak dini tentang keagungan Allah
Mengenal keagungan Allah adalah pelajaran yang penting yang harus senantiasa dilakukan sejak mereka masih berusia dini. Begitupun ketika anak-anak mulai memahami dan membandingkan perbedaan fisik yang mereka lihat.  Jelaskan pada anak, bahwa Tuhan yang Maha Agung telah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Beritahukan pula pada anak, bahwa setiap manusia diberikan kekurangannya masing-masing serta diberkahi dengan kelebihan dalam hidupnya. Di mana kekurangan tersebut haruslah disyukuri dan menerima kelebihan sebagai sebuah karunia dari Allah Yang Maha Esa.

·      Biasakan anak bersyukur
Hikmah lain yang juga bisa diajarkan pada anak-anak sewaktu mereka melihat sendiri kondisi perbedaan fisik orang lain adalah dengan mengajarkan anak bersyukur dengan kondisi yang ia miliki. Buat anak memahami bahwa ia masih jauh lebih beruntung diberikan kesempurnaan oleh Tuhan dan diberikan kemampuan untuk melakukan segalanya dengan tubuh yang utuh. Untuk itulah, mereka harus senantiasa dapat menjaganya dengan baik dan melakukannya dijalan yang benar dengan membantu oranglain yang tidak mampu. Dengan begini anak akan memiliki rasa empati untuk bisa saling membantu dengan orang lain.

·      Asah empati anak
Menjelaskan teori menghargai oranglain saja, tidak akan cukup membuat anak merasakan betapa sulitnya menjadi seseorang yang memiliki keterbatasan fisik. Untuk itulah, orangtua perlu mengajarkan anak dan mengajak mereka melakukan permainan empati. Dalam hal ini anda bisa berperan sebagai orang biasa sementara anak menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik. Buat mereka mengerti bagaimana rasanya dan susahnya hidup dengan keterbatasan. Dengan begini mereka akan paham betul bagaimana menghargai.

Penulis : Suhartono, Pemerhati dunia anak
Admin: Mahmud Thorif
Foto: google

Jawaban untuk Duhqan


Oleh : Dra. Asnurul Hidayati

Pasa masa khalifah Umar bin Abdul Aziz di Bashrah, tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni. Orang-orang pun berdatangan kepada putra Al Muzanni dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji, dan ada pula yang hendak berdebat kusir.

Di antara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya. Ia bertanya,

Duhqan : “Wahai Abu Wa’ilah  (Iyas)! Bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”
Iyas : “Haram!”

Duhqan : “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal ?”
Iyas : “Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan? Ataukah masih ada yang hendak kau utarakan ?”

Duhqan : “Sudah, silakan bicara!”
Iyas : “Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa kesakitan ?’

Duhqan : “Tidak!”
Iyas : “Jika kuambil segenggam pasir dan kulempar kepadamu, apakah merasa sakit?”
Duhqan : “Tidak!”

Iyas : “Jika aku mengambil segenggam semen dan kulempar kepadamu, apakah merasa sakit ?”
Duhqan : “Tidak!”

Iyas : “Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air di atasnya  dan kuaduk, lalu aku jemur hingga kering. Setelah itu  kupukulkan ke kepalamu. Apakah  engkau merasa sakit ?”

Duhqan : “Benar, bahkan bisa membunuhku.”
Iyas : “Begitulah halnya dengan khamr. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”
Subhanallah, begitu sederhana cara berpikir Duhqan sehingga membuatnya ragu pada ajaran agama yang menghukumi khamr itu haram. Nampaknya benar apa yang ia pikirkan dan ia yakini. Tetapi bagaimanakah Iyas menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau? Masya Allah. Jawaban Iyas sungguh sangat logis dan mudah untuk direnungkan. Sehingga menjadikan orang yang masih ragu atas haramnya khamr menjadi  paham dan yakin. Yah, khamr itu haram . 

Sesungguhnya segala sesuatu yang diharamkan dalam agama Islam itu mendatangkan kemadharatan. Itulah kehendak baik Allah yang diberikan kepada hamba-hamba Nya yang beriman dan taat. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang kokoh keyakinannya,  dan kuat pula ketaatannya menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Sumber : Mereka adalah Para Tabi’in, DR. Abdurrahman Ra’fat Basya.
Penulis: Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul

Admin: Mahmud Thorif
Foto: google

Gangguan Pencernaan Pada Anak (bagian II)


Oleh: Arhie Lestari

Baca : Gangguan Pencernaan Pada Anak Bagian 1 

Gangguan pencernaan pada anak bermacam-macam. Pertama, Gangguan seluruh fungsi sistem pencernaan. Gangguan yang berhubungan dengan sistem pencernaan anak atau irritable bowel syndrome sehingga menyebabkan sembelit, sakit perut, ataupun diare. Gejala yang dihadapi umumnya buang air besar yang berubah. Anak dapat menjadi lebih sering diare atau lebih sering sembelit. Cara mengatasi anak yang mengalami irritable bowel syndrome yaitu dengan memberhentikan makanan dan minuman yang memicu diare/sembelit pada anak. Beberapa makanan yang harus dihentikan adalah makanan yang terlalu banyak mengandung bumbu, terlalu asin, asam atau juga manis.

Kedua, hipertroli pilorus stenosis. Anak yang mengalami hipertroli pilorus stenosis akan mengalami penyempitan saluran usus 12 jari yang disebabkan karena adanya penebalan otot dinding usus. Hal ini yang seringkali terjadi pada anak, yaitu muntah ketika sedang mendapatkan ASI. Gejala spesifik pada gangguan medis ini adalah muntah yang terjadi pada anak usia 2-12 minggu.Adapun tindakan medis yang dilakukan apabila sudah dipastikan mengalami gangguan kesehatan tersebut yaitu dengan melakukan penyayatan akan tetapi tidak memotong otot pilorus dengan tujuan melebarkan saluran.

Ketiga, sakit perut berulang. Anak seringkali mengalami sakit perut yang berulang bahkan seringkali dijumpai pada anak yang berusia 3 tahun. Penyebabnya bermacam-macam dapat diakibatkan karena sosial, psikologis, dan sesuatu yang memicu stres pada anak. Gejala yang dihadapi anak adalah sakit perut yang berulang, bahkan nyeri tiga kali atau lebih selama tiga bulan dan mengalami ganguan aktivitas anak. Cara mengatasinya dengan mengetahui penyebab utama pada anak dan kemudian berkonsultasi dengan psikolog anak.

Keempat, pendarahan saluran cerna atas. Apabila anak yang muntah disertai dengan bercak darah segar atau kehitaman akibat mengalami denaturasi asam lambung. Penyebabnya anak mengalami luka pada tukak dan duodenum atau varises pada kerongkongan pecah. Gejala yang dialami anak mengalami muntah darah dan buang feses berwarna hitam.

Selain itu masih banyak gangguan pencernaan lain yang dialami oleh anak seperti refluks, diare karena infeki, kolik, sembelit, kembung atau intoleransi bakteri. Cara mengatasi gangguan pencernaan terebut dengan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang sesuai dengan kondisi anak.Hal ini disebabkan tidak dapat didiagnosa hanya dari satu gejala melainkan harus melakukan pemeriksaan medis untuk membantu memulihkan kembali kondisi kesehatan pencernaan anak.

Penulis: Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak
Admin: Mahmud Thorif
Foto: google

Tetap Bertakwa dalam Mendapatkan dan Membelanjakan


Oleh: R. Bagus Priyosembodo

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya [Ath-Thalaaq : 2-3]

Oleh karena itu, seorang muslim harus menempuh jalan yang dibolehkan dalam hidup dan berusaha. Dan hendaklah dia menghindari harta benda yang haram, serta cara-cara yang dilarang. Jika Allah telah mengetahui kesungguhan niat seorang hamba dan kegigihannya untuk mengikuti syariat-Nya serta berpetunjuk pada Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Dia akan memudahkan jalan baginya serta akan melimpahkan rizki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Penulis: R. Bagus Priyosembodo
Admin: Mahmud Thorif

Inilah Hak Anak yang Harus Diketahui Para (Calon) Suami


Oleh: Imam Nawawi

Dr Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqh At-Ta’amul Ma’a An-Nas mengatakan, di antara hak seorang anak atas ayahnya adalah bagaimana seorang ayah bisa memilihkan ibu yang baik baginya. Karena pada perjalanan rumah tangga nanti, mental dan sikap anak akan banyak dibentuk oleh watak dan kepribadian sang ibu.

Ayah yang baik memilih istri yang sholehah dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Seorang anak punya hak untuk memiliki ibu yang sholehah, yang bisa membina akhlak mereka, menjaga kekuatan iman di hati mereka, membangkitka takwa kepada Allah, serta menjaga dan memperhatikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.

Maka dalam konteks ini, DR. Abdul Aziz Al-Fauzan mengambil ilustrasi yang Allah tegaskan di dalam firman-Nya, “Dan tanah yang baik; tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan sizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana (QS. 7: 58).

Karena itu, wajib hukumnya bagi seorang pria untuk memilih calon istri yang sholehah. Karena itu sama dengan tanah yang subur yang sangat kita butuhkan untuk masa depan, iman dan ketakwaan keturunan kita sendiiri.

Dalam perkara ini, patut kita belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Abu Aswad Ad-Du’ali, seorang alim yang juga berkontribusi merumuskan kaidah ilmu nahwu. Ia berkata kepada anak laki-lakinya, “Wahai anak-anakku, aku telah berlaku baik terhadap kalian pada saat kalian masih kecil sampai besar, bahkan sebelum kalian dilahirkan”.

Anak-anaknya pun berkata, “Bagaimana ayah berbuat baik sebelum kami lahir? Ad-Duali menjawab, “Aku telah mencarikan untukmu sosok seorang wanita yang dapat merawat, menjaga dan tidak membuat kesulitan bagimu”.

Oleh karena itu, Rasulullah mewasiatkan agar setiap Muslim memilih Muslimah Shalehah yang sepadan, cerdas, dan berakhlak, berasal dari keluarga yang terpuji, keturunan yang baik dan berakhlak mulia. Karena semua itu akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seorang anak dalam segala hal. Termasuk keistiqomahan dalam agama, mulianya etika dan akhlak.

Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Pilihlah wanita yang tepat untuk menanm benihmu, maka nikahilah wanita-wanita yang sepadan dan hendaklah kalian menikahkan mereka” (HR. Abu Daud).

Jadi betapa sangat pentingnya seorang Muslim menikah dengan Muslimah Sholehah. Orang berkata, “Ibu adalah ibarat sekolah, apabila engkau ersiapkan dengan baik, maka ia akan mencetak murid-murid yang teladan dan baik perangainya”.

Dalam kitab Tanbih Al-Ghafilin dikisahkan. Suatu saat, datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab. Orang itu mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Umar pun langsung menghadirkan anak dimaksud dan memperingatkan bahwa dia telah durhaka terhadap ayahnya.

Tapi kemudian si anak berkata, “Wahai amirul mu’minin, bukankah seorang anak memiliki hak atas ayahnya?” Umar menjawab, “Benar”. Anak itu lalu berkata, “Hak apakah itu, wahai amirul mu’minin?” Umar menjawab, “Ia harus mencarikan seorang ibu yang shalehah untuknya, memberikan nama yang bagus dan mengajarkannya Al-Qur’an”.

Anak lelaki itu berkata lagi, “Wahai amirul mu’minin, sesungguhnya ayahku tidak pernah mengerjakan satu pun dari hal-hal yang engkau sebutkan tadi. Ibuku adalah seorang keturunan Afrika yang beragama Majusi, dia memberiku satu nama yang buruk, dia juga tidak pernah mengajarkan Al-Qur’an walau satu huruf”.

Umar pun berpaling kepada sang ayah dan berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku mengadukan anakmu yang durhaka, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu, engkau telah berbuat keburukan keapdanya sebelum dia melakukan keburukan itu kepadamu”.

Seorang anak, selain berhak mendapat ibu yang sholehah, ia juga berhak atas nama yang bagus. Setelah memberi nama yang baik, hak berikutnya adalah menyembelih hewan aqiqah. Dua kambing untuk anak lelaki dan satu kambing untuk anak perempuan. Hukum aqiqah ini, menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Kemudian, memberikan nafkah yang halal dan baik, memberikan pendidikan, berlaku adil terhadap anak-anaknya, dan terakhir menikahkannya. Jadi, bagi para suami atau calon suami, hendaknya benar-benar memperhatikan siapa yang akan menjadi ibu dari anak-anak Anda. Karena ibu adalah madrasah pertama anak-anak.

Penulis: Imam Nawawi, Penulis di hidayatullah.com
Admin: Mahmud Thorif
Foto: google

Dampak dan Solusi Televisi Terhadap Anak


Oleh: Juni Prasetya

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang menaruh banyak perhatian kepada anak-anaknya. Orangtua yang mampu memberikan lebih banyak waktu kepada anaknya daripada kepada pekerjaannya. Banyak kejadian ataupun peristiwa, di mana anak menjadi korban dari keteledoran orangtua karena sibuk dengan urusan pekerjaannya ataupun urusan pribadinya.

Perhatian dan kepedulian terhadap anak merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal itu menjadi hak sang anak untuk mendapatkan kasih sayang dan kepedulian dari orangtuanya. Perhatian itu pula, menjadi sesuatu yang diharapkan dari sang anak untuk merasakan dekapan dan kasih sayang dari orangtua.

Saat ini, kita dihadapkan pada era globalisasi atau era modernisasi terutama pada perkembangan teknologi komunikasi. Perkembangan tersebut selain membawa manfaat, juga membawa kemudharatan. Tidak hanya orangtua dan orang dewasa, melainkan juga pada anak-anak.

Salah satu produk teknologi yang sering menjadi konsumsi anak adalah televisi. Pada era modern ini, berbagai stasiun televisi menyajikanyangan seperti  film kartun, sinetron, drama, big movies dan sebagainya. Kemajuan teknologi yang diringi dengan majunya siaran televisi yang semakin menarik tersebut, memiliki dampak yang sangat negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Dampak-dampak tersebut tidak jauh beda dengan dampak penggunaan gadget pada anak.

Dalam buku Membentuk Karakter Anak dari Rumah, yang ditulis oleh Bunda Enni K. Hairuddin, disimpulkan bahwa anak-anak cenderung bersikap semaunya kepada orang yang lebih tua. Seakan-akan orang yang lebih tua sama kedudukannya dengan teman-teman sejawatnya. Sikap tersebut muncul ketika anak melihat sinetron yang berbau aksi, film remaja atau film-film luar yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi. Dengan banyak menonton televisi, otak akan kurang mendapat stimulasi untuk aktif. Inilah salah satu penyebab kenapa anak menjadi malas untuk belajar, untuk membantu orangtua, untuk beribadah, atau untuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Siaran televisi juga dapat mempengaruhi anak menjadi agresif.

Suatu peristiwa yang sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan adalah ketika dulu pernah ada seorang anak secara tidak sengaja membunuh temannya sendiri. Hal itu terjadi ketika mereka asyik bermain di kelas dengan meniru acara di salah satu stasiun TV yang menayangkan gulat. Selain itu, acara-acara televisi lain yang dapat mempengaruhi anak untuk agresif adalah acara-acara yang berbau percintaan. Acara tersebut dapat ditiru oleh anak untuk berkeinginan pacaran kepada lawan jenis di usia dini, sehingga tidak heran kalau banyak kejadian anak usia dini hamil di luar nikah.

Apa yang disampaikan di atas merupakan sebagian contoh dampak negatif dari tayangan televisi terhadap anak. Tentunya masih banyak dampak-dampak negatif lain yang ditimbulkan oleh tayangan televisi. Namun bukan berarti penulis tidak memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Solusi yang ditawarkan oleh penulis, antara lain: 1) Batasi jam/hari bagi anak untuk menonton tv (maksimal 2 jam/hari). 2) Diskusikan dengan anak, acara apa yang boleh mereka tonton. 3) Jadikan nonton tv sebagai reward. Misalnya, “kalau PR kakak selesai, kakak boleh nonton mickey mouse, dehh....”. 4) Dampingi anak saat menonton. Jelaskan bahwa efek di film (kartun) hanya rekaan belaka, bukan kejadian nyata. Misalnya, saat Grufi ketabrak mobil, badannya menjadi gepeng, tapi kemudian bisa kembali normal lagi. Ini tidak akan terjadi pada dunia nyata. 6) Jangan menjadikan televisi sebagai babysitter bagi anak. 7) Jangan meletakkan pesawat televisi di kamar anak. 8) Sebaiknya setiap rumah hanya memiliki satu televisi. 

Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting dan tidak akan tergantikan. Yakni perhatian Anda sebagai orangtua kepada anak, serta tidak kenal lelah untuk menjaganya.  Sesibuk apapun, jangan lupakan anak sebagai permata istana kita karena baik tidaknya permata itu tergantung di tangan kita.

Penulis: Juni Prasetya, Mahasiswa FAI PAI UMY

Admin: Mahmud Thorif
Foto: http://cdn-2.tstatic.net/makassar/foto/bank/images/anak-nonton-tv.jpg

Pendidikan Karakter Yang Berkualitas


Oleh: Warsito

Silih bergantinya kurikulum di tingkat dunia pendidikan bisa dikatakan sebagian besar untuk perbaikan pendidikan berkarakter dalam rangka mempersiapkan manusia yang lebih baik. Bahkan setiap materi ajar harus dilengkapi dengan nilai karakter yang menjadi fokus utama yang hendak diinternalisasikan kepada siswa.

Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang.

Menurut Helen Keller, manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904, “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”. (Karakter tidak dapat berkembang dalam jiwa yang tentram. Hanya melalui pengalaman dan penderitaan bisa menjadikan jiwa yang kuat, visi yang jelas, cita-cita yang menginspirasi, dan pencapaian yang sukses)

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang diindentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Pendidikan yang berkarakter sangatlah penting bagi perkembangan individu. Pendidikan yang berkarakter adalah pendidikan yang mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai karakter dalam kehidupan, sepeti karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong, gotong royong / kerjasama dan lain-lain.  Karakter tersebut tidak hanya pada tahap pengenalan dan pemahaman saja, namun menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktikkan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.

Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter.

Ingat, pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktikkan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.

Penulis: Warsito, Pendidik di SDIT Salsabila Banguntapan
Admin: Mahmud Thorif
Foto: islamidia.com