» » Kolom Prof In : “Saya Masak Sendiri, Pak”

Kolom Prof In : “Saya Masak Sendiri, Pak”

Penulis By on Monday, May 9, 2016 | No comments


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

“Permisi pak, apakah bapak bersedia memberi surat rekomendasi untuk saya ?”.
“Akan dipakai untuk apa?”.
“Untuk memenuhi salah satu syarat pengajuan beasiswa pak”.
“Baik, kalau begitu tolong berikan ke saya transkrip nilai dan kurikulum vitae saudara”.

Percakapan tersebut mengawali komunikasi saya dengan seorang mahasiswa yang mencegat saya saat akan keluar dari gedung perkuliahan. Memang saat itu sedang ada tawaran beasiswa dari sebuah yayasan milik perusahaan nasional yang bergerak di bidang agro industri. Syarat pokok untuk pengajuannya adalah indeks prestasi minimal tiga koma sekian.

Selain transkrip dan surat pengalaman, saya masih perlu mewawancari dia untuk mendapatkan tambahan informasi. Saya tanyakan latar belakang keluarganya yang tinggal di kota lain, dan juga kehidupan dia selama di Yogya. Ternyata pekerjaan salah satu orangtuanya  adalah pendidik.

Yang menarik dalam kehidupan sehari-hari dari mahasiswa tersebut adalah, terutama kebutuhan makan, dia tidak makan seperti kebanyakan teman-temannya di warung-warung. Namun, juga tidak ikut makan bersama ibu kos, dia masak sendiri. Saya tertarik dengan pengakuan tersebut. Karena selama ini, setiap saya bertanya kepada mahasiswa yang saya kenal, baik bimbingan akademik, skripsi maupun yang lain, jawaban mereka hampir selalu sama, makan di luar. Ketika saya tanya mengapa tidak masak sendiri, ada yang menjawab karena di tempat kos tidak ada dapur, tidak bisa memasak, terlalu ribet atau tidak ada waktu.

Sebenarnya makan di luar, terutama di warung-warung kaki lima pinggir jalan, dapat berkibat buruk bagi kesehatan. Dalam proses pencucian peralatan yang kotor, seperti piring, gelas, sendok, jarang sekali mereka menggunakan air yang mengalir. Sehingga bakteri, virus atau sumber-sumber penyakit yang lain, yang berasal dari orang-orang yang makan sebelumnya, masih bisa menempel di peralatan yang dicuci. Mungkin ini penyebab beberapa waktu yang lalu banyak mahasiswa yang diopname di rumah sakit karena tertular penyakit hepatitis dan tipes. Bahkan pernah dalam sebuah recruitment lulusan baru, hampir setengah pesertanya gagal di tes kesehatan, padahal mereka sudah lolos dari beberapa tahap seleksi sebelumnya.   

Selain tingkat kebersihan yang rendah, juga minyak goreng yang dipakai sering sudah berwarna hitam karena telah dipakai terus menerus pada temperatur tinggi, yang betul-betul sudah sangat tidak sehat. Hal ini memungkinkan minyak tersebut mengandung karsinogen yang memacu timbulnya sel kanker.

Jadi ketika saya mendengar bahwa mahasiswa tadi sehari-harinya masak sendiri, saya langsung berkomentar “Bagus, kebiasaan yang sangat baik dan bermanfaat”. Sesuai pengalamannya, biaya yang dikeluarkan untuk makan selama sebulan bisa dihemat hampir setengahnya, apalagi kalau dapat kiriman rendang dari orangtuanya.  

Dia juga termasuk yang “setia” terhadap masakannya. Ketika dia diajak temannya untuk makan di luar, demi kebersamaan dia tidak menolak, namun dia hanya pesan minuman. Siapapun yang mendengar hal ini, pasti akan mengajukan pertanyaan ”Mengapa tidak ikut makan?”, dan jawabannya juga cukup menarik. “Karena kalau saya makan di luar, masakan yang sudah saya siapkan di kos tidak termakan, dan kesokannya bisa basi, kasihan”. Hebat, dia konsisten dengan apa yang sudah dia putuskan.

Sebetulnya, secara tidak langsung dia telah melatih dirinya untuk melakukan hal-hal penting lainnya di samping belajar. Dia akan terbiasa dengan situasi, di mana pada saat yang sama dia harus menyelesaikan banyak hal, dia akan terbiasa kerja paralel. Untuk itu, dia harus pandai mengatur waktu kapan dia harus belajar, mengerjakan tugas kuliah, belanja kebutuhan makan, memasak, mencuci piring, ikut kegiatan kemahasiswaan, dan sebagainya. Belum termasuk kegiatan sosial di masyarakat yang kebetulan dia aktif juga.

Kebiasaan ini akan bermanfaat nantinya setelah dia bekerja. Begitu diterima kerja di industri, dia sudah mempunyai pengalaman kerja paralel, sedangkan pelamar yang lain sebagai kompetitor belum siap. Kalau diibaratkan sebuah lomba balap mobil, dia sudah berhasil mencuri start tanpa mengalami diskualifikasi. Wallahu a’lam bishawab.


Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar UGM | Pimpinan Umum Majalah Fahma
Admin: Mahmud Thorif
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya