» » Melatih Produktif, Menghindari Konsumtif

Melatih Produktif, Menghindari Konsumtif

Penulis By on Tuesday, May 10, 2016 | No comments


Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Ketika masih balita dan SD dianggap belum perlu, setelah sekolah menengah sering dilupakan, padahal penting. Apakah itu? Yaitu keterampilan mengelola barang-barang miliknya, termasuk uang. Keterampilan ini meliputi cara mendapatkan dan cara menggunakannya. Suatu keterampilan pasti membutuhkan latihan dan pembiasaan. Tidak cukup dengan informasi dan pemahaman.

Keterampilan menggunakan sesuatu jauh lebih mudah daripada mendapatkan sesuatu. Karena usaha mendapatkan itu mempunyai resiko dan tantangan yang lebih besar daripada usaha menggunakan sesuatu. Bahkan kata usaha ini terlalu berat di depan kata menggunakan.

Nah, karena orangtua “sayang” dengan anaknya, maka ia tidak mau memberikan sesuatu yang memberatkan anaknya. Tidak boleh anaknya menghadapi resiko dan tantangan. Sehingga orangtua lebih banyak membiasakan bagaimana menggunakan, dan kurang sekali membiasakan untuk bagaimana mendapatkan.

Ada beberapa momen yang bisa kita gunakan untuk menekankan betapa pentingnya berjuang untuk mendapatkan sesuatu daripada enaknya menggunakan sesuatu.

Pertama, ketika menyiapkan sarapan. Di pagi yang sibuk orangtua harus menyiapkan makanan. Sebaiknya orangtua bersibuk ria memasak sarapannya sendiri. Anak bisa dilibatkan, minimal memperlihatkan usaha untuk mendapatkan sarapan yang bergizi dari bahan-bahan yang diproduksi oleh petani. Sayang  kalau dilewatkan hanya karena ingin praktis; untuk sarapan tunggu aja tukang bubur lewat.

Kedua, ketika membekali makanan anak ke sekolah, libatkan anak, minimal memperlihatkan usaha membuat bekal makanan yang lezat, bergizi dan murah. Ini bukti kalau orangtua memang harus terampil. Kita memberi pesan kepada anak; ini lebih irit dan sehat, karena uang tidak didapatkan dengan mudah. Jangan memberi pesan dengan kesan; ini lebih praktis, bawalah uang ini untuk beli jajan di sekolah.

Ketiga, ketika ada alat sekolah yang rusak, misalnya buku atau tas yang robek, segera periksa buku atau tas yang robek. Libatkan anak, minimal memperlihatkan apakah benda itu masih bisa diperbaiki. Usahakan untuk memperbaiki sambil menanamkan pemahaman tidak boros. Allah Ta’ala tidak menilai seseorang dari penampilannya melainkan hati dan perbuatannya.

Keempat, ketika hari libur. ini adalah kesempatan orangtua memberikan banyak pengalaman dan keterampilan. Banyak tema yang bisa dipilih orangtua. Misalnya mengisi liburan dengan tema alat transportasi. Ajaklah anak ke bengkel kendaraan atau produsen mobil-mobilan. Jangan hanya diajak memilih aneka produk mobil mainan di mall. Ada juga alternatif mengisi liburan dengan tema kuliner. Ajaklah anak berpengalaman untuk menikmati suatu hidangan setelah terlebih dahulu berusaha mewujudkannya. Misalnya di pemancingan. Ada pengalaman menangkap dan memanggang ikan. Memang lebih praktis dan kelihatan lebih bergengsi jika kulinernya di rumah makan cepat saji ternama.

Kelima, ketika membekali anak uang untuk antisipasi jika ada peralatan sekolah yang hilang atau rusak, misalnya pensil hilang atau patah sehingga anak perlu beli. Saat memberikan uang, jangan hanya disampaikan uang ini untuk apa tetapi juga disampaikan uang ini dari mana? Misalnya, uang ini dari upah Bapak yang bekerja bulan kemarin boleh kamu gunakan untuk beli pensil.

Peran yang bisa dilakukan guru di sekolah dalam menanamkan produktivitas dan menghindari konsumtivisme antara lain;

Pertama, adanya aturan tentang pemilikan barang, seperti apa saja barang yang boleh dan tidak boleh dibawa, uang yang boleh dibawa, barang hilang, merawat barang, pinjam-meminjam barang, jika menemukan barang, jika kehilangan barang, dan sebagainya.

Kedua, adanya latihan khusus dalam merawat dan menggunakan barang terutama alat tulis. Ini dilakukan diawal anak masuk sebagai murid baru pada tiga bulan pertama masuk sekolah.

Ketiga, diadakan praktek jual beli antar anak dalam sekolah dengan tujuan memberi pengalaman transaksi jual beli yang benar, pengalaman merencanakan dan melakukan jual beli, pengalaman menghitung keuntungan atau kerugian.

Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman

Admin: Mahmud Thorif
Foto: http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/913076/big/020633600_1435564577-164199-850x563r1-girl-doing-dishes.jpg
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya