» » Mendidik dengan Profesional

Mendidik dengan Profesional

Penulis By on Tuesday, June 7, 2016 | No comments


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

“Aku tidak mau sekolah! Pokoknya nggak mau, pokoknya nggak sekolah.” Dua kalimat ini mengawali cerita seorang ibu muda, teman istri yang kebetulan silaturahmi ke rumah, menyampaikan pengalamannya ketika putrinya yang duduk di sekolah dasar mengalami stres.

Ibu tadi sempat bingung ketika suatu hari, saat membangunkan anaknya untuk persiapan ke sekolah, dia tidak mau beranjak dari tempat tidur, dan bahkan tidak mau sekolah. Bagaimana tidak bingung, karena selama ini anaknya termasuk penurut saat pagi hari akan berangkat sekolah. Akhirnya setelah dirayu, putrinya mau berangkat juga meskipun dengan wajah tegang. Ibunya bersyukur ketika keesokan harinya peristiwa itu tidak terulang.

Namun, selisih dua hari berikutnya, peristiwa itu terjadi lagi dan bahkan ditambah badannya demam, kepalanya pusing dan muntah-muntah. Perilaku ini terjadi beberapa kali. Sebagai orangtua yang masih muda, mereka tidak tahu pasti apa penyebabnya. Atas kesepakatan dengan sang suami, ibu tadi membawa putrinya ke seorang psikolog, untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan anaknya.

Sang ibu diberi penjelasan tentang beberapa penyebabnya, dan ada kemungkinan putrinya mengalami stres.Selain itu, ibunya juga diminta datang ke sekolah, dan putrinya dibawa ke seorang dokter spesialis, untuk mengetahui apakah persoalan itu terjadi karena masalah psikis atau fisik. Sang ibu diminta ke sekolah untuk mencari tahu, apakah telah terjadi suatu perubahan di kelasnya, karena sebelumnya si anak tidak mengalami hal itu.

Dengan sangat hati-hati ibu tadi mencari informasi ke sekolah, sebetulnya apa yang terjadi. Dan betul, telah ada pergantian guru mata pelajaran di sekolah. Guru yang lama pindah ke luar kota dan digantikan dengan guru yang lain. Ternyata ada juga temannya yang mengalami hal yang sama, meskipun lebih ringan.

Guru pengganti itu mengampu mata pelajaran yang banyak hafalannya. Sedangkan si anak, memang termasuk yang tidak senang pelajaran yang banyak hafalannya. Dia sangat senang pelajaran berhitung.Selain itu, ternyata guru tadi juga menerapkan sistem hukuman. Ketika seorang anak tidak bisa mengungkapkan hafalannya dengan baik, si anak mendapatkan hukuman tambahan hafalan, sehingga semakin banyak beban hafalannya, dan mungkin inilah yang menyebabkan anak mengalami stres.Terlepas dari senang atau tidaksenangnya anak terhadap pelajaran-pelajaran tertentu, namun kenyataannya pada saat pelajaran itu masih dipegang oleh guru yang lama,tidak ada anak yang mengalami stres.

Atas saran psikolognya juga, si ibu diminta membawa anaknya ke seorang dokter spesialis anak, dia menyebut sebuah nama,dokter senior. Kata para orangtua, terutama ibu-ibu yang anaknya sudah menjadi pasiennya, pak dokteritu selalu membatasi jumlah pasien sehingga mereka mempunyai cukup waktu untuk berdiskusi.

Apa yang ibu dengar tentang dokter itu,telah dilihatnya sendiri ketika datang pertama kali. Ibu itu sangat terkesan dengan cara dokter, yang dengan profesional menangani permasalahan anaknya. Setiap kali ibu dan anaknya datang ke dokter, yang disapa terlebih dahulu adalah si anak. Dia diajak ngobrol dengan santainya, si anak merasa seakan sedang ngobrol dengan temannya sekelas, bukan dengan pak dokter yang sering ditakuti anak. Untuk membesarkan hati, dokter mengatakan pada si anak, bahwa anak itu hebat sekali, pandai menghafal, padahal perawat-perawat yang di ruang itu, yang seusia ibunya, mereka tidak bisa menghafal. Dengan perlakuan dari sang dokter yang selalu memotivasi, akhirnya mulai timbul kepercayaan diri pada si anak.Dia mulai punya kebiasaan, menjelang pulang minta tanda tangan pak dokter di bukunya, yang kemudian dengan “pe-de”nya dibawa ke sekolah. Bahkan setiap jadwal ke dokter, yang mengingatkan justru anaknya. Pernah suatu saat ibunya tidak tahu kalau dokternya di hari itu tidak praktek karena ke luar kota, yang tahu justru putrinya.

Seandainya guru pengganti itu mampu bersikap lebih profesional, maka anak-anak di kelas itu pasti akan selalu merindukan gurunya sebelum ketemu di esok harinya. Sudahkah kita sebagai pendidik bersikap seperti pak dokter itu?

Wallahu a’lam Bish-shawab.


Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar Universitas Gajah Mada, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Foto: goole
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya