» » Mesin itu Bernama Otak

Mesin itu Bernama Otak

Penulis By on Thursday, June 30, 2016 | No comments


Oleh: Adam El Ghifary

Secara garis besar, seorang bayi yang baru lahir, terdiri dari miliaran sel otak (neuron), setiap sel, terdiri dari ratusan bahkan ribuan tentakel, yang berbentuk mirip gurita berukuran sangat kecil. Masing-masing tentakel tersebut, terdiri dari spina dendrit, yang mengandung zat kimia. Inilah yang membawa seluruh informasi dalam pikiran kita, baik hafalan, pemahaman, pengalaman, atau segala macam hal yang pernah kita dengar.

Sebagai contoh, saat seseorang sedang berpikir, terjadilah sebuah kontraksi gelombang bernama elektromagnetik, yang bergerak menuju cabang sel otak, sehingga memicu terjadinya zat kimia pada salah satu spina dendrit. Secara cepat, antara spina dendrit satu, dengan yang lain, terjadi sebuah kontraksi hebat, sehingga hal tersebut memicu terjadinya sebuah respon elektromagnetik menuju sel otak.

Ini hanya sekelumit dari proses seseorang dalam berpikir, menghafal, memahami, atau mendengar sesuatu dalam sekejap. Bukankan dalam satu hari, otak kita dapat bekerja lebih dari 16 jam?.Jika kita mengilustrasikan hal di atas dalam sebuah tulisan, akan terbentang sebuah tulisan tersebut sejauh lebih dari 11 juta km, Subhanallah....

Para pakar neurologi dan neurosains mengemukakan, bahwa kebanyakan manusia, hanya menggunakan berkisar 10% saja dari kapasitas otaknya. Jadi, 90% dari sisanya, hanya sebatas kita bawa ke alam dunia, lalu terkubur begitu saja ke alam baqa. Bisa kita bayangkan, bagaimana seorang ilmuwan Islam sekelas Imam Syafi’i, yang mampu menghafal dalam satu kali membaca atau mendengar, atau Imam Bukhori yang hafal ratusan ribu hadits beserta sanadnya, pun berarti mereka hanya menggunakan maksimal 10% dari kemampuan berpikirnya. Lalu bagimana dengan kita, yang hanya sebatas orang biasa, bisa jadi kita hanya menggunakan tidak lebih dari 5% dari kemampuan berpikir kita.

Lalu pertanyaannya, bukankan binatang juga memiliki otak? Ya, binatang juga memiliki otak. Namun tentunya tidak sama seperti manusia. Karena di samping memiliki otak, manusia juga memiliki perasaan, naluri, dan intuisi, yang bisa merasakan sedih, bahagia, cemas, ragu-ragu, dan lain sebagainya. Otak manusia juga memiliki memori yang dapat mengingat berbagai hal. Berbeda dengan binatang yang hanya memiliki naluri dan intuisi saja.

Naluri dan intuisi yang dimiliki oleh manusia juga tidak sama dengan binatang. Intuisi manusia, biasanya memiliki kecenderuang seseorang dalam membaca situasi, perasaan, atau pikiran orang lain.

Pada hakikatnya, naluri berbeda dengan intuisi. Namun secara garis besar, antara keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, saat kita melihat seorang nenek memakai tongkat sedang berusaha menyeberang jalan raya dalam keadaan payah, apakah hati kita akan berpaling begitu saja? Tentunya tidak bukan? Setidaknya kita menolong dia untuk menyeberangi jalan. Sekalipun tidak, namun hati kita pasti akan merasa iba kepadanya. Itulah yang dinamakan naluri manusia, terkadang ia datang secara tiba-tiba tanpa perlu dilatih.

Kembali pada pembahasan otak. Jika dibandingkan dengan manusia, binatang hanya memiliki kurang dari satu juta sel otak. Bandingkan dengan manusia, yang memiliki lebih dari satu milyar sel otak. Walau demikian, dengan memiliki kurang dari satu juta sel otak, binatang mampu melakukan berbagai aktivitas yang telah tersetting oleh Sang Khaliq, melalui sebuah naluri dan intuisi.

Seperti seekor lebah, coba kita bayangkan, dengan tubuh berukuran kecil, mereka mampu untuk mencium, mengecap, meraba, mendengar, terbang, membangun rumah, melindungi diri, bernavigasi, berlari, mengingat, mengasuh, bekerjasama, baik secara konstruktif, maupun kooperatif dalam sebuah kelompok.

Yang lebih mengagumkan, sebagaimana kita ketahui, manusia adalah seorang khalifah di muka bumi. Dia juga sebuah karya agung, yang tercipta dari Dzat yang Maha Agung, tidak akan ada seorangpun yang mampu menyamai ciptaanNya, sekalipun dengan menggunakan teknologi secanggih apapun. Bahkan bisa dikatakan, bahwa manusia adalah refleksi dari macrocosmos alam semesta, dan cocreator Allah di muka bumi. Sehingga dengan itu semua, manusia dapat menciptakan sebuah realitas apapun yang mereka inginkan, tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Tentungan dengan syarat, selalu mengasah potensi diri hari demi hari, karena pada dasarnya, kita adalah pedang tertajam, yang tertutupi oleh karat.

Penulis: Adam El Ghifary, Pendidik di SDIT Salsabila Banguntapan
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya