» » Mulia dengan Mengendalikan Marah

Mulia dengan Mengendalikan Marah

Penulis By on Thursday, June 16, 2016 | No comments


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

"Amat menakjubkan keadaan orang mukmin itu, sesungguhnya semua keadaannya adalah kebaikan baginya.  Kebaikan yang sedemikian itu tidak ada pada seorangpun melainkan hanya untuk orang mukmin itu. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran  bencana- ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya."  Kebaikan itu senantiasa mengiringi sabar dan syukur.

Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi,  "Berilah wasiat padaku." Beliau memberi wejangan padanya "Jangan marah." Orang itu menyampaikan berkali-kali tetapi beliau tetap bersabda, "Janganlah marah." Wasiat jangan marah itu amat penting dan ia butuhkan. Untuk itu beliau mengulang-ulanginya.

Kemampuan mengendalikan diri merupakan kekuatan sebenarnya. Melampiaskan adalah lebih mudah daripada mengendalikan diri. Untuk itu, Rasulullah menjelaskan, "Bukanlah orang yang kuat itu sekedar dengan kemampuan membanting lawan hingga tak berkutik. Orang kuat sebenarnya ialah orang yang dapat menguasai dirinya di kala sedang marah."

Mengendalikan diri di kala marah dan tidak sembarangan melampiaskannya membutuhkan energi yang besar. Penghargaan pasti akan diberikan kepada yang terampil menahan marahnya. Karena ini adalah prestasi. Amal baik yang sering tidak mudah dilakukan. Nabi bersabda, "Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia kuasa untuk melampiaskannya, maka Allah Ta'ala mengundangnya di hadapan dan disaksikan sekalian makhluk pada hari kiamat, sehingga dipersilakan orang itu memilih bidadari-bidadari bermata indah sesuka hatinya.”

Dalam kisah lain, disebutkan ada seorang  Arab dari daerah pedalaman  kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi bersabda, "Biarkanlah orang itu.  Sesudah itu siramkan saja setimba penuh air atau segayung air di atas kencingnya. Karena sesungguhnya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kemudahan dan bukannya itu dibangkitkan untuk memberikan kesukaran."

Banyak orang bodoh yang menimbulkan masalah. Apabila kita tidak bijaksana maka mudah marah dan panik karena berbagai hal yang diperbuat oleh si bodoh malah akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

'Uyainah bin Hishn datang -ke Madinah dan singgah sebagai tamu sepupunya, yaitu Alhur bin Qais. Alhur adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang dekat Umar. Ia menjadi salah satu orang kepercayaan dan sering diajak bermusyawarah. Para ahli al-Quran menjadi sahabat-sahabat yang menetap di majelis Umar serta diajak bermusyawarah olehnya, baik orang-orang tua maupun yang masih muda-muda usianya. 'Uyainah berkata kepada sepupunya, "Hai anak saudaraku, engkau mempunyai kedudukan di sisi Amirul Mu'minin ini. Cobalah meminta izin padanya supaya aku dapat menemuinya. Saudaranya itu memintakan izin untuk 'Uyainah lalu Umar pun mengizinkannya. Setelah 'Uyainah masuk, lalu ia berkata: "Hati-hatilah, hai putera Al Khaththab,  demi Allah, tuan tidak memberikan banyak pemberian -kelapangan hidup- pada kita dan tidak pula tuan memerintah di kalangan kita dengan keadilan." Umar marah sehingga hampir-hampir saja akan menjatuhkan hukuman padanya. Alhur kemudian berkata: "Ya Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada NabiNya "Berilah maaf, perintahlah kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Dan 'Uyainah ini adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh. Demi Allah, seolah Umar tidak pernah melalui ayat itu di waktu Alhur membacakan. Padahal Umar adalah seorang yang banyak berhenti untuk menyeksamai isi Kitabullah Ta'ala.

Marah memang harus direda. Sulaiman bin Shurad duduk bersama Nabi  dan di situ ada dua orang yang saling memaki dengan kawannya. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya. Kemudian Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang dirasakannya. Andaikata ia mengucapkan: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim," tentulah lenyap apa yang ditemuinya itu. Orang-orang lalu menyampaikan padanya, Sesungguhnya Nabi bersabda, "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."


Penulis: R. Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya