» » Agar Anak Tetap Berhasil Menahan Diri

Agar Anak Tetap Berhasil Menahan Diri

Penulis By on Thursday, July 28, 2016 | No comments




Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Pelajaran besar dari ibadah puasa adalah menahan diri. Keberhasilan besar bagi orangtua dalam mengajarkan anak-anak berpuasa selama bulan Ramadhan adalah kemampuan anak dalam menahan diri. Indikasi dari kemampuan menahan diri antara lain adalah menghindari hal-hal yang mubazir.

Dunia kesukaan anak adalah main dan makan kita sebut M2K (makan-main kesukaannya). Maka aneka mainan dan makanan kesukaan anak selalu diciptakan dan ditawarkan untuk memenuhi selera anak. Ini yang dimanfaatkan oleh dunia bisnis. Dengan menciptakan keasyikan-keasyikan baru. Dunia  bisnis tidak selalu sejalan dengan dunia pendidikan, atau ekstrimnya ; dunia bisnis selalu tidak sejalan dengan dunia pendidikan. Pada tingkat mana M2K yang dihadapi putra-putri Anda, kita harus pandai mengelolanya.

Kita sebagai orangtua tidak bisa menghilangkannya, karena itu bagian dari dunianya. Orangtua justru harus mampu memanfaatkan M2K dalam  dunia pendidikan. Dalam arti untuk mendukung pembelajaran. Baik sebagai media maupun motivasi belajar. Jangan sekali-kali menghalangi M2K. karena justru akan berdampak negative pada belajarnya.

Berilah mereka kesempatan menikmati keinginan M2K maka mereka akan dengan senang hati menikmati keinginan kita (untuk belajar). Praktisnya, jika kita melarang anak bermain maka anak akan dendam dengan menolak ketika diminta belajar.

Tentu saja kita setuju, kita pasti akan memberi kesempatan anak bermain, memiliki mainan dan menikmati makanan yang disukai. Tetapi yang kita harus tidak setuju, kita tolak adalah kepentingan hingga persaingan bisnis semata yang menunggangi M2K. Itulah tantangan orangtua.

Maka di awal tulisan ini kita katakan, keberhasilan besar bagi orangtua dalam mengajarkan anak-anak berpuasa selama bulan Ramadhan adalah kemampuan anak dalam menahan diri. Dan saatnya kini orangtua memelihara buah manis Ramadhan itu. Terutama di saat lebaran Idul Fitri. Ini menjadi ujian pertama keberhasilan puasa Ramadhan.

Budaya kita saat Idul Fitri sering disalahgunakan atau kebablasan. Disalahgunakan sebagai balas dendam. Selama Ramadhan menahan makan apa saja, dibayar dengan saatnya apa saja dimakan. Selama Ramadhan mengurung hati di masjid, dibayar dengan mengurung masjid dari hati hingga shalatnya berantakan.

Sebenarnya budaya kita adalah silaturahmi. Menyiapkan hidangan untuk menghormati tamu yang datang, menyiapkan waktu untuk mengunjungi tetangga, famili dan teman. Di situ ada saling mendoakan dan mengingatkan. Sehingga buah manis Ramadhan akan tersimpan dalam amalan.

Itu yang perlu ditanamkan dan diingatkan bagi anak-anak. Bahwa puasa Ramadhan bukan semata menahan dan mengekang diri untuk sementara, melainkan mengharap ridho Allah dengan menjalankan perintahnya sehingga tidak dibatasi bulan Ramadhan.

Di saat Idul Fitri biasanya anak pegang uang dan banyak kesempatan, karena sekolah libur. Demikian juga para pedagang banyak memanfaatkan momen ini. Maka ditawarkan aneka mainan, aneka jajanan, dan aneka tontonan. Makanan yang di rumah tidak lagi menarik.

Upaya yang kita lakukan antara lain: Pertama,  membuat rencana keluarga selama lebaran. Anak diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya. Kedua, memberi pengertian tentang kemubaziran dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan. Anak boleh menjajakan apa yang dibutuhkan, bukan menjajakan apa yang diinginkan. Itulah arti menahan diri. Tidak terjerumus untuk melakukan atau membeli sesuatu yang mubazir karena yang mubazir itu temannya para syaitan. Termasuk mubazir dalam memanfaatkan waktu.

Penulis : Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Madrasah Diniyah Sahabat Al-Qur’an (SAQURA) Sleman
Foto: google

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya