» » Pintu Hilangnya Kenikmatan

Pintu Hilangnya Kenikmatan

Penulis By on Thursday, July 28, 2016 | No comments




Oleh: R. Bagus Priyosembodo

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta mereka (yang dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (An-Nisa : 5)

Allah melarang menyerahkan harta kekayaan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, sebab mereka akan membelanjakannya bukan pada tempatnya. Terpahamilah bahwa membelanjakan harta kekayaan yang menyelisihi petunjuk syar’i merupakan perkara yang dilarang. Hal ini mengandung madharat bagi kita. Berupa merusak hal yang bisa digunakan untuk menegakkan mashlahat kehidupan.

Demikian juga Allah memberi bimbingan, ‘Dan janganlah kamu melakukan tabdzir. Sesungguhnya orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudara-saudara setan (Al-Isra : 26-27)

Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, tabzir itu membelanjakan harta di jalan selain yang haq atau selain yang Allah perbolehkan.

Imam Mujahid menjelaskan, tabdzir adalah membelanjakan harta di jalan yang maksiat atau di jalan selain yang haq atau untuk kerusakan.

Imam Qotadah menjelaskan, “Seandainya manusia/ hamba membelanjakan semua hartanya dalam haq maka itu bukan mubadzir, namun seandainya seorang hamba membelanjakan hartanya fiighoiri haq meskipun hanya 1 mud, maka itulah tabdzir”.

Allah mencegah kita dari menjadi mubazir. Betapa penting kita simak pula nasihat Syaikh bin Baz dalam masalah ini. Sungguh, banyak sekali manusia saat ini yang diberi cobaan, yaitu berlebih-lebihan di dalam hal makanan dan minuman, terutama ketika mengadakan pesta dan resepsi pernikahan, mereka tidak puas dengan sekedar kebutuhan yang diperlukan, bahkan banyak sekali di antara mereka yang membuang makanan yang tersisa dari makanan yang telah dimakan orang lain, dibuang di dalam tong sampah dan di jalan-jalan. Ini merupakan kufur nikmat dan merupakan faktor penyebab hilangnya kenikmatan.

Orang yang berakal adalah orang yang mampu menimbang semua perkara dengan timbangan kebutuhan, maka apabila ada sedikit kelebihan makanan dari yang dibutuhkan, ia segera mencari orang yang membutuhkannya, dan jika ia tidak mendapatkannya, maka ia tempatkan sisa tersebut jauh dari tempat yang menghinakan, agar dimakan oleh binatang melata atau siapa saja yang Allah kehendaki, dan supaya terhindar dari penghinaan. Maka wajib atas setiap muslim berupaya semaksimal mungkin menghindari larangan Allah Ta’ala dan menjadi orang yang bijak di dalam segala tindakannya seraya mengharap keridhaan Allah, mensyukuri karunia-Nya, agar tidak meremehkan atau menggunakannya bukan pada tempat yang tepat.

Dan ingatlah, tatkala Allah Ta’ala memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih (Ibrahim : 7). Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kamu mengingkari (Al-Baqarah : 152)

Mubazir adalah pintu hilangnya kenikmatan. Maka agar terhindar dari perilaku mubazir, kuncinya harus banyak bersyukur. Bersyukur kepada Allah itu dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan. Barangsiapa yang bersyukur kepadaNya dalam bentuk ucapan dan amal perbuatan, niscaya Allah tambahkan kepadanya sebagian dari karunia-Nya dan memberinya kesudahan (nasib) yang baik, dan barangsiapa yang mengingkari nikmat Allah dan tidak menggunakannya pada yang benar, maka ia berada dalam posisi bahaya yang sangat besar, karena Allah Ta’ala telah mengancamnya dengan adzab yang sangat pedih.

Semoga Allah berkenan memperbaiki kondisi kaum muslimin dan membimbing kita serta mereka untuk bisa bersyukur kepadaNya dan mempergunakan semua karunia dan nikmat-Nya untuk ketaatan kepada-Nya dan kebaikan bagi hamba-hambaNya. Hanya Dia-lah yang Maha Kuasa melakukan itu semua. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Penulis : Ustadz R Bagus Priyosembodo, Seorang Ustadz, Penulis Kajian Utama
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya