» » Belajar Bertauhid dari Ustadz Zaenal Fanani

Belajar Bertauhid dari Ustadz Zaenal Fanani

Penulis By on Wednesday, August 3, 2016 | No comments


RUA Zainal Fanani, dalam sebuah aksi panggungnya

Oleh : Agus Setiawan

Jum’at, 22 April 2016 adalah hari di mana saya dan kawan-kawan  sesama pendidik di SDIT Salsabila melaksanakan Pelatihan Dasar Guru Tangguh di Desa Wisata Brayut, Pandowoharjo yang diselenggarakan oleh LPI Salsabila.

Dalam acara tersebut, ada salah satu kalimat yang begitu singkat dan sederhana tetapi sangat menggugah jiwa dan jika ditafsirkan lebih dalam mengandung ketauhidan yang luar biasa, Sebuah kalimat motivasi yang diucapkan oleh Ustadz Zaenal Fanani. Ketika beliau memberikan contoh dengan mengucapkan’’Mujahid pendidikan, Saya, insya Allah’’ dan kami diminta untuk mengucapkan kalimat yang kedua tersebut sebagaimana beliau mengucapkan. Di situ tergambar jelas jiwa tauhid yang begitu dalam.

Beliau sangat yakin sekali ketika mengucapkan’’saya’’ dan tanpa sedikitpun keraguan beliau menambahkan dengan kata’’Insya Allah’’. Dari kata ‘’saya’’ yang diucapkan beliau terkandung makna kita harus berikhtiar dengan totalitas kemampuan kita. Jangan hanya setengah-setengah. Tetapi jangan berhenti di situ, harus ditambahkan dengan kata’’Insya Allah’’. Apapun yang kita lakukan, seberapapun kemampuan kita, tujuan itu tidak akan terwujud  tanpa izin Allah. Karena itu, setiap ikhtiar harus dibarengi dengan doa yang sungguh-sungguh pula. Meminjam ungkapan dari KH.Abdullah Gymnastiar ‘’usaha itu harus 100% dan tawakal pun harus 100%”.

Ibnu Athoillah pernah menulis dalam kitab Al-Hikam “sawabiqul himami latakhriqu aswarol aqdari Kehadapanan/keterdahuluan aspirasi-aspirasi tidak akan dapat mencarikkan tembok-tembok kota takdir,yang dapat dikorelasikan dengan kata hikmah“Arih nafsaka minadtadbiri fama qoma bihi ghoiruka ‘anka la takum bihi linafsik”  Rehatkanlah dirimu dari pada mentadbir (yakni bersusah-payah dan merasa risau di dalam mengatur keperluan-keperluan hidup). Apabila sudah ada yang lain dari padamu yang mendirikannya bagimu (yakni ia sebenarnya telah pun diaturkan oleh Allah Ta‘ala), janganlah engkau mendirikannya pula untuk dirimu sendiri.

Ketika kita berikhtiar, jangan pernah risau dengan hasil yang akan kita dapatkan. Hasil adalah ranah Allah. Namun bukan berarti kita boleh bebas dari usaha, karena usaha tetaplah sebuah kewajiban yang harus kita laksanakan sebagai hamba Allah. Yang tidak diperbolehkan adalah memastikan sesuatu. Karena itu adalah wilayah Allah. Allah menempatkan kita pada satu tempat pasti karena ada kewajiban yang harus kita lakukan. Jika kita saat ini ditakdirkan oleh Allah sebagai seorang guru, berarti di situ ada tugas kita mendidik murid kita dengan sungguh-sungguh, memahami materi, menyampaikan dengan metode sebaik mungkin dan pasrahkan semua hasilnya kepada Allah lewat lantunan doa dan niatkan dalam hati untuk melaksanakan perintah Allah, bukan untuk mencari rizki karena rizki sudahpun dijamin oleh Allah.

Penulis: Agus Setiawan, Pendidik di SDIT Salsabila Jetis
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya