» » Memaksa Anak Tanpa Harus Memaksa

Memaksa Anak Tanpa Harus Memaksa

Penulis By on Monday, August 1, 2016 | No comments




Oleh : Adam Al Ghifary

Esensi keturunan dalam sebuah rumah tangga, tentunya tidak sekedar berniat memiliki generasi penerus, tetapi juga sebuah amanah, yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Kelak pada waktunya, akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka emban.

Namun sungguh sangat disayangkan, banyak orangtua di zaman modern ini, yang masih minim pengetahuan akan pentingnya sebuah amanah. Sekalipun mereka telah memahaminya, untuk berusaha menunaikan pun serasa duri mengitari langkah kakinya. Bagaimana tidak? Gempuran moral yang tidak patut dicontoh, justru mengintai mereka, kapanpun dan di manapun. Ironisnya, terkadang orangtua ikut andil dalam merusak moral si buah hati. Mereka tidak sadar bahwa tindakan dan ucapannya terkadang dapat merusak kepribadian sang anak, baik dengan doktrinasi budaya konsumif, hingga meninggalkan syariat-syariat Islam. Na’udzubillah.

Kita bisa melihat sendiri realita yang ada di masyarakat, betapa banyak anak-anak negeri ini, ketika diminta untuk meneruskan sebuah lirik lagu, dengan tepatnya, ia segera meneruskan lirik tersebut, tanpa berkurang satu hurufpun. Namun bila diminta untuk meneruskan sebuah ayat Al-Qur’an, atau hadits nabi, seakan ia membisu seribu bahasa.

Alhasil, ketika mereka tumbuh dewasa, apa yang telah dibawa oleh orangtua semasa kecil, berupa sikap dan tutur kata, telah menjadi sebuah karakter bagi sang anak. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh pepatah, bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Realita dan polemik di atas bukan tanpa sebab. Terkadang sebagai orangtua, mereka terlalu memaksakan kehendaknya sendiri, tanpa berpikir ulang, bahwa keputusan yang diambil oleh sang anak, bisa jadi justru hal yang tepat.

Salah satu langkan yang tepat dalam mengarahkan si buah hati, yaitu dengan cara “memaksa mereka tanpa harus memaksa”. Lalu bagaimana caranya? Bukankah memaksa anak identik dengan sifat egoisme, dan subyektivitas orangtua?. Memang benar, memaksa anak akan suatu hal, dapat tergolong pada kategori tersebut. Namun yang dimaksud memaksa dalam hal ini adalah yang bersifat subyektif, bukan obyektif. Seperti memaksa anak untuk mengambil sebuah pilihan, yang sebenarnya sang anak tidak menghendaki pilihan tersebut. Padalah kita tahu, bahwa pilihan sang anak bisa saja akan menjadi sebuah hal yang lebih baik dari pada pilihannya.

Adapun bentuk paksaan yang bersifat obyektif, seperti memaksa sang anak yang telah aqil baligh, untuk menunaikan sholat 5 waktu. Karena hal tersebut adalah tanggungjawab orangtua yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Kuasa.

Berbicara lebih lanjut tentang bentuk paksaan orangtua terhadap sang anak tanpa harus memaksa, langkah yang perlu ditempuh orangtua adalah mengarahkan sang anak untuk tetap mengambil keputusan yang sebelumnya telah ia pilih. Jika hal tersebut telah dilakukan oleh para orangtua, kelak sang anak akan lebih memiliki sifat percaya diri dan tidak takut akan keputusan yang telah ia tentukan sendiri. Sekalipun pada akhirnya, keputusan tersebut kurang mendapatkan respon, ia bisa mengambil alternatif dari keputusannya tersebut.

Namun yang disayangkan justru sebaliknya, banyak dari orangtua yang bersikap otoriter terhadap buah hatinya sendiri, sehingga pada akhirnya, anak tersebut tidak memiliki rasa percaya diri. Kasus seperti ini mungkin banyak terjadi di kalangan keluarga, ketika sang anak merasa yakin akan sebuah keputusan yang telah ia pilih, sang orangtua justru bersikap egois akan pendapatnya sendiri. Sehingga, ketika sang anak telah tumbuh dewasa, ia menjalani hidup apa adanya, bahkan merasa penuh akan tekanan dari berbagai pihak, baik di tempat kerja, organisasi, ataupun di lingkungan keluarga sendiri.

Kuncinya adalah selalu bersikap objektif terhadap sang anak, tidak lantas selalu kekeh akan pendapatnya sendiri. Karena sesuatu yang kita anggap baik, bisa jadi tidak demikian bagi orang lain, dan sesuatu yang kita anggap tidak baik, bisa jadi hal tersebut justru menjadi ladang kebaikan bagi orang lain.

Penulis: Adam Al Ghifary, Pendidik di SDIT Salsabila Banguntapan
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya