Taqarrub




Oleh: R. Bagus Priyosembodo

Keimanan dan taqarrub dengan infaq sabilillah adalah jalan mendapat rahmatullah. Ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul.

Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah benar benar suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penulis : R. Bagus Priyosembodo, Guru Ngaji
Foto: google

Anak Kurang Suka Sayuran? Ini Solusinya




Oleh: Arhie Lestari

Pada masa pertumbuhan, sudah seharusnya kita sebagai orangtua lebih memperhatikan asupan makanan bergisi bagi anak . Makanan bergisi ini sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak. Namun ada kalanya dalam suatu periode anak tiba tiba sulit sekali untuk makan makanan yang disajikan. Salah satu akanan yang seringkali kurang disukai anak adalah sayuran.

Karena itu, perlu tips khusus agar anak tetap mau mengkonsumsi sayuran, meski ia kurang menyukainya. Hidangkan sayur dalam bentuk lain, misalnya diblender dan dicampurkan dalam adonan tepung dan telur atau campuran ikan. Sayuran bisa sawi, bayam, wortel atau brokoli hijau.

Sajikan dalm bentuk lain, contohnya bayam merah. Pilih yang lembarannya cukup besar, lumuri dengan tepung beras dan dibumbui lalu digoreng. Bila tak ada bayam merah bisa bayam hijau. Jadikan camilan anak sambil bermain. Jadilah contoh yang baik. Nah ini sering kali kita lupakan. Sejak dini ketika anak diperkenalkan dengan makanan tambahan, orangtua harus memberi contoh untuk tidak memilih makanan tertentu. Tunjukkan pada anak bahwa orangtua juga menyukai sayuran dan lauk pauk.

Bila perlu sering-sering memperlihatkan pada anak sejak dini bagaimana menyenangkannya makan sayuran dan lauk. Jangan membuat anak trauma dan merasa tertekan setiap kali makan. Misalnya membentak anak atau memukul anak. Jadikan pengalaman makan sayur dan lauk pauk menjadi sebuah pengalamn menyenangkan. Jangan putus asa, baca tentang makanan alternatif pengganti selain yang sehari hari kita hidangkan tapi tetap punya nilai gisi. misalnya anak bosan nasi, ganti dengan kentang goreng atau umbi lain yang sejenis, buat nasi kuning rasa gurih, bubur ketan atau beras merah.

Penulis: Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak
Foto: google

Mengelola Pertanyaan




Oleh : Dr. Ali Mahmudi

Bertanya merupakan aktivitas penting yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Bahkan bertanya merupakan inti dari proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang tidak melibatkan aktivitas bertanya merupakan pembelajaran yang gersang, tidak hidup.

Terdapat beragam tujuan bertanya, di antaranya adalah untuk memotivasi, memicu dan membing proses diskusi dan berpikir, mengarahkan perhatian, dan mengevaluasi kemampuan siswa. Dari beragam tujuan tersebut, memicu dan membimbing proses berpikir siswa merupakan tujuan yang paling penting. Dalam skala lebih luas, suatu bidang ilmu hanya akan tumbuh dan berkembang jika tetap ada ilmuwan-ilmuwan yang secara kritis mengajukan berbagai pertanyaan cerdas untuk mengeksplorasi bidang ilmu tersebut. Pertanyaan-pertanyaan cerdas itulah yang akan memicu proses berpikir para ilmuwan dalam komunitas bidang ilmu itu yang berimplikasi pada tumbuhnya berbabai inovasi. Dengan proses itu, suatu ilmu akan tetap hidup dan berkembang. Di sisi lain, karena bertanya mengindikasikan proses berpikir dan salah satu tujuan penting kegiatan pembelajaran adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, maka meminta siswa untuk menuliskan sebanyak mungkin pertanyaan terkait suatu topik tertentu dapat menjadi alternatif bentuk evaluasi hasil belajar siswa.

Bertanya tidak hanya penting diajukan dan dikelola oleh guru, melainkan juga penting agar juga diajukan oleh siswa. Bertanya dapat mengindikasikan aktivitas berpikir. Sayangnya, hal demikian tidak mudah ditemukan di kelas. Apabila mereka bertanya, tak jarang mereka mengajukan pertanyaan yang kurang berkualitas, seperti, “Apakah ini akan keluar di ujian?” Pertanyaan demikian perlu diwaspadai karena dapat mengindikasikan ketidakseriusan berpikir. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya anak-anak yang bertanya yang benar-benar berpikir dan belajar. Tidak bertanya identik dengan tidak ada pemahaman dan pertanyaan yang baik identik dengan pemahaman yang baik.

Secara berkelanjutan, guru perlu mengkondisikan agar siswa aktif bertanya. Namun, siswa hanya akan bertanya dengan baik apabila guru memberikan teladan yang baik dalam bertanya. Misalnya, guru perlu memberikan teladan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi yang dapat mendorong proses berpikir siswa, bukan pertanyaan tingkat rendah yang hanya dimaksudkan untuk meningat fakta-fakta. Pertanyaan seperti, “Apakah kalian mendengarkan?” untuk memastikan siswa memperhatikan atau pertanyaan, “Apakah kalian dapat mengikuti pelajaran?”, dipandang kurang efektif. Bagaimanapun juga, siswa akan menjawab, “Ya, saya mendengarkan” atau “Ya, saya paham”. Jawaban ini kurang memberikan informasi mengenai pemahaman siswa. Tentu lebih baik mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bersifat terbuka, seperti, “Bagaimana kamu memahami seperti itu?”.

Mengajukan dan mengelola pertanyaan tidak hanya terkait dengan pemilihan tipe pertanyaan, melainkan juga berkaitan dengan waktu  dan kejelasan pertanyaan. Menjawab pertanyaan memerlukan waktu untuk berpikir dan oleh karena itu perlu untuk memberikan waktu tunggu yang mencukupi kepada siswa untuk menjawab. Jika siswa tidak mampu menjawab suatu pertanyaan, guru perlu memeriksa kembali apakah pertanyaan cukup jelas. Guru mungkin guru perlu mengkalimatkan ulang pertanyaan. Jika pertanyaan terlalu sulit bagi siswa karena belum cukupnya pengetahuan awal siswa, guru dapat mengajukan berbagai pertanyaan faktual yang mengarah pada diperolehnya informasi atau jawaban yang dikehendaki. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengelola pertanyaan adalah memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa terlebih dahulu sebelum menunjuk salah satu siswa untuk menjawab, memberikan respon sesegera mungkin terhadap jawaban siswa, dan membimbing siswa sampai mereka menemukan sendiri jawabannya. Beberapa kriteria tersebut perlu diperhatikan agar pertanyaan dapat dikelola dengan baik sehingga tercipta situasi pembelajaran yang lebih hidup.

Penulis: Dr. Ali Mahmudi, Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta
Foto : google

Sinergi Harmonis Guru dan Orangtua




Oleh: Eko Sutrisno

Dalam dunia pendidikan kita, sejauh ini kerjasama antara guru dan orangtua belum berjalan secara efektif. Orangtua kurang intens berkomunikasi dengan guru, bahkan ketika diundang ke sekolah banyak orangtua yang merespon negatif. Anggapan bahwa undangan ke sekolah identik dengan penarikan iuran dan pembayaran masih melekat di sebagian wali murid. Kesenjangan psikologis antara orangtua dan guru harus direduksi karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Orangtua dan guru memiliki kedudukan strategis dalam pendidikan. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, dan guru adalah penerus pendidikan di luar lingkungan keluarga. Orangtua yang perhatian terhadap anak dalam belajar di rumah akan memudahkan kerja guru di sekolah, begitu juga sebaliknya. Kejelasan dalam penyampaian materi di sekolah akan memudahkan bagi orangtua dalam membina anak di rumah. Karena itu, diperlukan sinergi yang harmonis antara guru dan orangtua.

Substansi sinergi antara orangtua dan guru adalah bekerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pengetahuan, keterampilan, dan karakter anak didik. Untuk menghasilkan kualitas sinergi yang baik  diperlukan suatu perilaku kerjasama yang merupakan konsekuensi dari semangat berkelompok atau kebersamaan yang kohesif.Sinergi orangtua dan guru akan bermakna creative cooperation jika dalam kerjasama keduanya dibarengi dengan gagasan yang inovatif. Guru tentu memiliki banyak inovasi agar sekolahnya memiliki keunggulan baik keunggulan kompetitif maupun komparatif. Sebaliknya orangtua juga mengharapkan anaknya memperoleh pendidikan yang baik sehingga memiliki daya saing yang tinggi sekaligus mampu membangun jaringan yang baik.

Dari kedua harapan yang datang dari pihak orangtua dan guru maka ada titik temu di mana keduanya akan membangun budaya berprestasi dan budaya unggul. Dengan persamaan persepsi ini maka orangtua dan sekolah secara tidak langsung sudah membangun kesepakatan bagaimana memajukan sekolah. Kesepakatan bersama merupakan suatu bentuk saling percaya yang merupakan variabel utama dalam bekerja sama, bahkan rasa saling percaya itu ekivalen dengan perilaku kerjasama. Dengan kerjasama berlandaskan rasa saling  percaya orangtua dapat berperan dalam berbagai kegiatan untuk memajukan sekolah, orangtua dapat menjadi expertis ketika sekolah membutuhkan resources yang sesuai dengan keahliannya.

Sinergi orangtua dan guru diera digital seperti saat ini tentu memiliki pola hubungan yang berbeda dibanding zaman dahulu. Sinergi orangtua dan guru sudah saatnya berbasis teknologi komunikasi. Guru dan pihak sekolah dapat menyediakan ruang informasi yang dapat diakses orangtua masing-masing siswa secara mendetail dan orangtua dapat share informasi, keluhan, dan konsultasi kepada guru atau kepala sekolah melalui internet.

Jika pola hubungan di atas terbangun dengan baik maka orangtua dapat mengontrol anaknya di sekolah, memantau kualitas akademik sekolah, dan sekaligus dapat memberi input kepada sekolah agar lebih progesif dan memiliki nilai lebih. Di era pendidikan modern, sinergi yang berkualitas antara orangtua dan guru adalah kata kunci kesuksesan anak didik.

Sebenarnya sekolah sebagai sebuah institusi punya kewajiban yang besar terhadap orangtua, sebaliknya juga orangtua juga punya kewajiban yang tak kalah banyak nya kepada sekolah. Apabila kewajiban dan tanggung jawab itu dapat berlangsung dengaan baik maka sekolah akan makin maju karena mempunyai orangtua yang selalu mendukung dan memberikan empati terhadap apa yang institusi sekolah lakukan bagi pendidikan putra putrinya. Banyak riset yang membuktikan bahwa keterlibatan orangtua yang banyak dalam proses pendidikan anak nya terbukti membawa pengaruh yang baik dalam kehidupan akademis nya. Dengan demikan sebuh pola hubungan yang harmonis antar orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dibina.

Penulis: Eko Sutrisno, Pemerhati dunia anak
Foto: google

Pemimpin Nan Bijaksana




Oleh: Dra. Asnurul Hidayati
 
Umar radhiyallahu’anhu  menuju Syam hingga sampailah Beliau di kota Sargh. Umar ditemui komandan pasukannya, Abu Ubaidah bin Jarroh  dan beberapa sahabat. Mereka memberitahu bahwa di Syam sedang dilanda wabah kolera yang ganas.

Umar ra berkata, “Panggillah kaum Muhajirin .”
Maka diundanglah kaum Muhajirin awal, lalu Umar ra  bermusyawarah dengan mereka. Dibeberkanlah dalam forum tersebut bahwa di Syam sedang terjadi wabah kolera yang mengganas. Namun mereka berselisih pendapat ketika menyikapi masalah tersebut. Sebagian mereka berkata, “Engkau telah jauh-jauh menempuh perjalanan, tampaknya kami berpendapat tidak ada alasan bagi Anda untuk kembali.”

Sebagian yang lain berkata, “Bersama Anda ada orang dan beberapa sahabat Rasulullah. Kami tidak setuju jika anda menjerumuskan mereka dalam wabah penyakit ini." Kemudian Umar  berkata, “Sudah, bubarlah kalian dari hadapanku. Sekarang , panggillah untukku kaum Anshor!”

Maka dipanggillah orang-orang Anshor. Umar juga bermusyawarah dengan mereka. Namun apa yang terjadi pada kaum Muhajirin juga terjadi pada kaum Anshor.

Umar berkata kepada mereka, “Sudahlah kalian boleh bubar.”
Kemudian Umar berkata, “Panggilkan untukku siapa saja yang ada di sini dari orang-orang Quraisy yang turut hijrah dan juga turut serta dalam penaklukan kota Mekah. Maka dikumpulkanlah mereka untuk mengadakan sidang musyawarah. Pada kesempataan ini  di antara mereka tidak berselisih dalam masalah ini meskipun hanya dua lelaki saja .”

Mereka berkata, “Kami berpendapat sebaiknya Anda kembali saja bersama rombongan orang-orang itu dan janganlah Anda menjerumuskan mereka dalam wabah penyakit itu.”

Maka berkatalah Umar dengan keras di hadapan orang-orang, “Besok aku akan kembali ( ke Madinah ). Maka bersiap-siaplah kalian untuk kembali pada esok hari.”

Namun, terhadap keputusan Umar ini, Abu Ubaidah berkata, “Apa itu artinya Anda lari dari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Andai yang berkata itu bukan engkau, wahai Abu Ubaidah, niscaya akan aku katakan, iya benar. Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu, jika engkau memiliki unta yang engkau gembalakan, sedangkan di sana ada dua lembah, yang satu subur dan yang satu gersang. Kemudian apabila engkau menggembalakan untamu di lembah yang gersang, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah?  Ketika engkau menggembalakan untamu itu di lembah yang subur engkau juga menggembalakannya dengan takdir Allah juga?”

Maka  Abdurrahman bin Auf datang,  yang saat itu tidak muncul karena ada suatu kepentingan.  Dia berkata, “Sungguh pada diriku dalam masalah ini tidak ada pengetahuan. Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian mendengar wabah penyakit sedang melanda di suatu negeri, maka janganlah kalian mencoba untuk pergi ke negeri tersebut. Namun jika kalian terlanjur berada di negeri (yang terjangkit wabah tersebut), maka janganlah kalian mencoba-coba keluar dari negeri tersebut.”

Maka Umar  pun memuji Allah kemudian pergi.
Begitulah seorang pemimpin yang adil dan tegas dalam memutuskan. Sangat berhati-hati dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Pemimpin yang baik itu juga bermusyawarah dan bersikap terbuka mendengar pendapat rakyatnya. Pembaca yang budiman, semoga kita dan anak-anak kita pun bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut.  Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar menjadi pemimpin yang baik dan sholih. Aamiin.

Sumber : Ensiklopedi Akhir Zaman. Dr.Muhammad Ahmad Mubayyadh.

Penulis: Dra. Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul
Foto ilustrasi: google