» » Rengekan Ismail dan Mujahadah Seorang Ibu

Rengekan Ismail dan Mujahadah Seorang Ibu

Penulis By on Monday, September 5, 2016 | No comments




Oleh: Mahmud Thorif

Kita begitu takjub dengan kisah perjalanan Kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam. Betapa banyak cobaan yang Allah Ta’ala timpakan kepada beliau. Di usianya yang tidak lagi muda, beliau belum dikaruniai keturunan, dan tatkala Allah ‘Azza Wa Jalla memberi keturunan, justru di situlah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diuji imannya, apakah beliau lebih mencintai anaknya dibanding cintanya kepada Allah Ta’ala?

Dan sejarah mencatat dengan tinta emas, Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam lebih mencintai Allah Ta’ala dibanding anak keturunannya. Nabi Ibrahim rela ‘meninggalkan’ istri dan keturunannya di lembah nan tandus tidak berpenghuni, lembah nan sunyi dari keramaian. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian? Jika demikian, maka Allah tidak akan menelantarkan kami.” Alangkah mulianya perkataan yang keluar dari lisan Ibunda Hajar, sebuah penerimaan yang jarang kita temukan di zaman sekarang ini. Bukan kalimat keluh kesah, bukan perkataan umpatan dan makian. Bukan. Justru yang keluar dari lisan mulia Ibunda Hajar adalah sebuah kekuatan bagi Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam untuk semakin yakin meninggalkan istri dan anak Beliau.

Kita tidak ragu dengan catatan sejarah Ibunda Hajar yang berjuang dalam kesendirian. Ketika si kecil Ismail merengek, meronta, menangis kehausan. Sementara air susunya telah kering sama sekali. Ibunda Hajar harus berdiri, menatap, dan bahkan berlari menyusuri perbukitan antara Shafa dan Marwa beberapa kali. Letih sudah tentu. Lelah sudah pasti. Tapi ratapan anaknya telah mampu menutupi itu semua, tangisan anaknya bagaikan energi yang terus memompa ke dalam tubuhnya. Sehingga ia terus berlari dan berlari hingga Allah Ta’ala menjawab segala jerih payahnya. Allah pancarkan dari hentakan kaki Ismail air zam-zam, air yang hingga detik ini masih terus dimanfaatkan oleh jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia.

Tentu tidak mudah membesarkan anak dalam kesendirian tanpa suami tercinta. Karena iman yang telah menancap kuat di dadalah, Ibunda Hajar mampu menjalaninya. Cinta yang tulus mampu menjadikan Ismail menjadi hamba yang shalih. Tentulah iman yang ditancapkan kokoh ke dalam jiwa Ibunda Hajar hasil dari didikan Nabiyullah Ibrahim ‘Alahissalam. Nabi Ibrahim telah mendidik istrinya dengan benar. Beliau telah menjadi imam bagi keluarganya dengan sempurna. Sehingga ketika guncangan-guncangan keimanan yang dirasakan oleh Ibunda Hajar mampu diatasi dan dilalui dengan baik.

Nah, apakah kita telah menjadi suami seperti Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam? Yang mampu mendidik istri menjadi wanita tangguh? Tangguh imannya? Tangguh mujahadahnya?

Sejarah juga telah mencatat, kesuksesan Ibunda Hajar mendidik putranya Ismail. Sekali lagi cinta yang tulus telah mampu menjadikan Ismail menjadi anak yang cerdas dan shalih. Dibuktikan ketika Ismail beranjak dewasa dan hendak disembelih oleh ayahnya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, bukan kalimat penolakan. Bukan. Justru kalimat yang keluar dari lisan remaja Ismail ini semakin menguatkan Nabi Ibrahim untuk menunaikan perintah Allah Ta’ala.

“Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Begitulah kalimat dahsyat yang keluar dari lisan seorang anak kecil bernama Ismail. Kalau bukan didikan wanita nan tangguh, Ibunda Hajar, siapa lagi?

Wahai para istri, bermujahadahlah, bersungguh-sungguhlah mendidikan anak-anakmu, karena kelak anak-anakmulah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini. Bagaimana akan menjadi baik negeri ini, jika anak-anak kita sekarang dididik bukan dengan ketaatan kepada Allah, bukan menuju ketakwaan.

Jangan sekedar mendidik anak-anak kita pintar matematika, pandai berbahasa. Jangan. Namun didiklah anak-anak kita mengenal Rabbnya, mengenal agamanya, mengenal nabinya sehingga kelak ia bisa mengenal dirinya untuk apa ia diciptakan.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail ‘Alahumassalam dan Ibunda Hajar. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis: Mahmud Thorif, Redaktur Majalah Fahma
Foto: google, jamaah haji sai
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya