» » Doa Kuli Pengangkut Air

Doa Kuli Pengangkut Air

Penulis By on Sunday, November 20, 2016 | No comments




Oleh: Nur Fitriyana

Terdapatlah seorang kuli pengangkut air yang sehari-harinya senantiasa mengucapkan tahmid dan istighfar. Melihat hal tersebut, Hasan Al Bashri pun penasaran. Ia pun menanyakan hal tersebut pada kuli pengangkut air yang pada waktu itu kebetulan sedang singgah di rumahnya.

“Kalau boleh tahu sejak kapan engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.

“Sudah lama”, jawab sang kuli pengangkut air.

“Kenapa engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.

“Karena kita selalu berada dalam dua keadaan, kala kita mendapatkan nikmat, seperti nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan. Kita harus bersyukur kepada Allah namun kala kita berada dalam kondisi lalai, banyak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kemudharatan, kita harus meminta ampun kepada-Nya,” jawab sang kuli.

“Apa manfaatnya jika engkau mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri lagi.

“Doa-doaku selalu dikabulkan. Hanya saja ada satu doaku yang belum Allah kabulkan,” katanya.

“Boleh aku tahu doa apa itu?”

“Allah belum mengabulkan doaku untuk bertemu dengan ulama yang sangat kukagumi.”

“Siapakah ulama itu?”

“Hasan Al-Basri”

Hasan Al-Basri kemudian memeluk sang kuli  dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu, akulah Hasan Al-Basri itu.”

Sang kuli pun terkejut dan tidak berhenti mengucap puji syukur karena Allah telah mengabulkan doanya

Para orangtua, pendidik dan pengasuh yang dirahmati Allah, kisah Hasan AL Bashri dan kuli pengangkut air ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa mawas diri, baik dalam niat, perkataan dan perbuatan.  Semoga kita dan anak-anak kita termasuk golongan yang selalu berucap syukur ketika menerima rizki. Begitupun saat menyadari ada jeda waktu kita yang terlalaikan maka kalimat istighfar hendaklah tak surut bergumam di bibir ini dan membenarkannya dalam hati. Wallahu a’lam Bish showab.

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Abdurrahman Rif’at Basya
Penulis: Nur Fitriyana, Pemerhati dunia anak
Foto ilustrasi: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya