Mengasuh Tanpa Mengasihi



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kemajuan teknologi membantu para orangtua dalam mengasuh anak tanpa mengasihi. Anak-anak tenang sehingga orangtua dapat semakin tenggelam dalam kesibukan yang seolah-olah sangat penting bagi kehidupan masyarakat.

Sibling rivalry atau perseteruan antar saudara lebih mudah dihindari dengan memanfaatkan teknologi canggih. Mudah, sederhana dan melalaikan. Mau tahu caranya? Dua anak yang nyaris sebaya tak perlu ribut bertengkar karena berebut roti tawar. Dua HP cukup untuk membuat mereka tenang, asyik dengan gadget, meski tak ada makanan yang disiapkan buat mereka. Berbekal gadget untuk masing-masing anak, mereka tidak perlu ribut satu sama lain. Tetapi mereka tidak pula bermain bersama.

Inilah paradoks teknologi informasi dan komunikasi (ICT: Information and Communication Technology). Makin canggih alat komunikasi, makin menjauhkan manusia dari komunikasi berkualitas. Makin bergeser pula fungsi informasinya ke arah hiburan semata. Kian banyak yang kecanduan gadget dari usia dini. Kasus anak kecanduan gadget bahkan telah menimpa semenjak anak usia 3 tahun sebagaimana terjadi di Korea Selatan tahun 2012. Kasus ini masih merebak hingga kini.

Bersebab kecanduan piranti digital, anak-anak tak lagi mengenal permainan yang menggalang kebersamaan dan kerjasama sekaligus mengasah empati semacam petak umpet atau gobag sodor. Ketika anak usia 3 tahun pun dapat terjangkiti digital addiction (kecanduan peranti digital), akan sulit bagi mereka untuk melakukan permainan alami. Anak-anak itu pun bahkan mengalami kesulitan untuk melakukan kontak sosial dan tatap muka dengan baik. Handicapped.

Maka, anak-anak yang tidak memiliki riwayat genetis maupun terpapar sebab-sebab fisik pencetus autisme, dapat mengalami gejala autisme. Mirip, tapi sama sekali berbeda. Muncul istilah autisme sosial (social autism), meskipun sebenarnya tak dikenal dalam kajian autisme. Sebab sesungguhnya mereka tidak autis. Jadi, autisme sosial sama sekali bukanlah istilah yang berhubungan dengan autisme. Tetapi ini lebih berkait akibat kecanduan gadget. Secara pribadi, saya lebih suka menggunakan istilah kecanduan gadget atau keterasingan diri, bukan autisme sosial, meskipun dampak kecanduan gadget memang luas.

Apa yang harus kita lakukan jika anak sudah kecanduan gadget? Ups…. Periksa dulu, jangan-jangan kita yang perlu terapi terlebih dulu. Apa yang kita kerjakan pertama kali saat hadapi hidangan di resto? Jangan-jangan belum mencicipi sudah sebar foto.

Apa yang dapat kita lakukan? Beragam, sesuai kondisi anak. Tapi kunci pentingnya adalah kesediaan meluangkan waktu untuk anak kita. Sengaja meluangkan waktu akan menjadi saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya berbincang dan berbagi cerita dengan mereka. Semoga anak-anak kita merasakan betapa berharga kesempatan berjumpa, berbincang dan bercanda dengan kita. Mereka senantiasa merindui itu. 

Gadget bukan terlarang. Tapi kita perlu menyiapkan mereka dan kita sendiri agar kehadirannya menjadi jalan kebaikan. Gadget benar-benar berfungsi sebagai teknologi informasi dan komunikasi.

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Praktisi kepengasuhan, Penulis buku best seller ‘Segenggam Iman Anak Kita’

Foto : google

Anak Mogok Makan, Apa Penyebabnya?


oleh : Arhie Lestari

Melihat anak makan dengan lahap, pasti kita akan sanga senang melihatnya. Namun ada suatu kondisi di mana anak tidak mau makan. Bahkan ketika dipaksa pun, anak malah tutup mulut, atau bahkan memuntahkan makanannya. Apa saja penyebab anak mogok makan?

Pertama, karena sakit.Kondisi tenggorokannya yang radang, atau pilek yang bikin balita susah bernapas pastinya bikin napsu makan menurun. Tidak heran kalau menu apapun akan ditolak anak Anda. Selain gejala flu, masalah pencernaan seperti sembelit dan asam lambung juga sering bikin anak menolak makan. Saat terserang sakit maag, perut anak sakit, kembung, dan lambungnya jadi sesak.

Kedua, bosan dengan menu makanan. Walaupun balita Anda penggemar mi atau sop, tapi bukan berarti dia mau makan menu yang sama berulang terus untuk sarapan setiap pagi. Ingat juga kalau jumlah yang akan dimakan balita setiap kali tidak akan selalu sama. Dan ingat, reaksi Anda yang panik menghadapi perilaku balita justru akan membuat balita ingin segera menyudahi acara makannya.

Ketiga, cara makan yang tidak tepat. Tidak ada yang salah dengan menu yang Anda masak, balita Anda pun tidak sakit, lalu kenapa dia terlihat enggan makan? Coba teliti bisa jadi anak Anda punya kebiasaan yang tidak benar saat makan. Misalnya dalam mengunyah atau menelan makanan ia terburu-buru. Akibatnya balita sering tersedak atau muntah saat makan. Nah, acara makan pun jadi tidak menyenangkan lagi buat balita. Mengunyah makanan yang dianjurkan adalah sebanyak 33 kali, tapi jika balita belum mahir berhitung, ingatkan untuk mengunyah sampai makanan hancur benar. Proses ini tak hanya supaya makanan mudah ditelan, karena air liur juga  akan memecah partikel makanan dan melembutkannya, sehingga mudah dicerna.

Keempat, variasi makanan. Kenapa balita kelihatan tidak tertarik mencoba menu baru yang Anda sajikan? Ingat Bunda, usianya yang masih kecil. Bisa jadi ia asing melihat bentuk brokoli atau belum pernah melihat warna kuning pucat kentang seumur hidupnya. Menurut Ellen O'Leary, Assistant  Director of Nutrition & Food Services at WellStar Kennestone Hospital, respon penolakan sangatlah wajar. Jangan dulu putus asa. Ingat, kan balita adalah peniru ulung? Coba contohkan kalau Anda makan makanan baru tersebut dengan riang gembira. Anak pasti akan meniru dan mau mencoba. Dan ingat, ia tak akan langsung suka dan menghabiskan porsi yang Anda sajikan.

Penulis: Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak
Foto: google

Cintai Anakmu untuk Selamanya




Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi… Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini.

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat menyewa pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya.

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta’ala berfirman:
“والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين”
“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta’ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita
Foto: google

Metode Penerapan Aturan


Oleh : Nur Muthmainnah

Anak-anak memiliki tingkat rasa ingin tahu yang tinggi. Ia ingin selalu mencoba sesuatu yang baru. Dalam hal bermain pun anak-anak terlihat cepat bosan. Sebentar-sebentar berganti mainan. Terkadang kebiasaan ini membuat anak menjadi lupa untuk membereskan mainan-mainan yang telah dimainkan sebelumnya. Rumah menjadi tampak berantakan, karena mainan berserakan di mana-mana.

Memang hal ini masih wajar dilakukan anak. Namun bila hal ini didiamkan, tentu akan memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak. Anak-anak menjadi terkesan semaunya sendiri.

Agar anak-anak bisa lebih tertib dalam hal menjaga kebersihan dan kerapian rumah, tentu dibutuhkan aturan. Aturan bisa memberikan pelajaran kepada anak tentang arti tanggung jawab. Namun tentu saja aturan juga tidak boleh terlalu memberatkan anak. Tujuan utama dibuat aturan adalah agar anak bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bukan untuk mengekang anak. Agar anak tidak terkekang dan bisa menimbulkan efek yang tidak baik bagi anak, misalnya anak menjadi tress.

Aturan itu dibutuhkan dalam keluarga agar semua merasa nyaman dan segala sesuatu yang dilakukan mengandung peran dan tanggung jawab. Begitu juga dengan anak-anak kita, walaupun mereka masih kecil tapi tetap harus mengikuti aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Tentunya orang tua sangat senang melihat anaknya bisa mengikuti juga mematuhi segala perintah dan aturan yang sudah ditetapkan bersama.

Tips menerapkan aturan pada anak

Berdiskusi dengan Anak dalam Membuat Aturan
Agar tercipta suatu mufakat bulat, maka orang tua perlu berdiskusi bersama anak. Orang tua tidak boleh membuat aturan secara sepihak. Diskusikan kepada anak tentang aturan yang disepakati. Biarkan anak yang memutuskan konsekuensi dari aturan yang dibuat. Selain itu, orang tua juga perlu menjadi contoh yang baik. Dalam hal ini, orangtua juga harus mematuhi aturan yang telah disepakati. Konsekuensi yang disepakati haruslah memiliki tujuan untuk memperbaiki kepribadian anak.

Berikan Konsekuensi Saat Anak dalam Keadaan Tenang
Saat anak berbuat kesalahan, tentu saja orang tua perlu menegur anak. Namun terkadang teguran kepada anak, membuat anak menjadi sedih atau marah. Terkadang ekspresi kesedihan dan kemarahan terungkap secara verbal. Dalam keadaan ini, orang tua perlu menenangkan anak terlebih dahulu. Bila perlu, berikan waktu sejenak kepada anak untuk menenangkan diri atau melakukan instrospeksi diri, hingga dia menyadari kesalahannya. Bila anak ingin melakukan pembelaan, tentu saja orang tua perlu mendengarkan anak dengan dengan penuh kesabaran.

Perlunya Ketegasan dalam Memberikan Konsekuensi
Bila anak benar-benar telah melakukan kesalahan, konsekuensi harus tetap dilaksanakan. Hal ini bisa menumbuhkan tanggung jawab pada anak. Konsekuensi juga tidak perlu hal-hal yang berat. Contoh konsekuensi yang bisa diberikan kepada anak adalah tidak boleh bermain video game dalam jangka waktu tertentu atau mengurangi uang jajan.

Perlunya Pujian dan Penghargaan kepada Anak
Anak-anak tidak hanya membutuhkan konsekuensi, namun mereka juga membutuhkan pujian dan penghargaan. Saat mereka melakukan sesuatu yang baik, orang tua bisa memberikan pujian atau penghargaan kepada anak. Ucapkan pujian dengan hati yang tulus. Bila perlu, berikan penghargaan juga kepada anak, agar anak semakin terpacu untuk mematuhi aturan.

Perlunya Rekonsiliasi antara Orangtua dan Anak
Setelah anak melakukan kesalahan dan mendapatkan konsekuensi, biasanya anak akan merasa bersalah (bila ia benar-benar bersalah). Dalam hal ini, rekonsiliasi sangatlah penting. Orang tua perlu melakukan pendekatan kembali kepada anak. Ungkapkan apa ketidaksukaan Anda dari apa yang telah dilakukan anak, sehingga anak akan paham akan kesalahannya dan memiliki niat untuk memperbaiki. Bila perlu, Anda bisa memulainya dengan meminta maaf bila ada kata-kata tindakan anda yang salah.

Penulis: Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak

Foto: google

Memikiri Kisah


Oleh: R. Bagus Priyosembodo
“… maka kisahkanlah berbagai kisah agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raf 176)

Allah memerintahkan agar Rasul, dan para pewaris tugas memperbaiki umat ini, menyampaikan kisah dengan benar dalam mendidik. Sungguh di dalam kisah terdapat faedah. Semoga mereka berpikir dalam mengambil pelajaran berharga dari kisah itu. Jika mereka berpikir maka mengetahui. Jika mereka mengetahui maka mereka akan beramal. Kisah itu hanya bermanfaat jika diperhatikan dan dipikiri.

Penulis: R. Bagus Priyosembodo, Seorang Ustadz

Foto: google

Ikan Kakap




Oleh: Ana Noorina

Ikan kakap adalah ikan laut dasaran yang hidup secara berkelompok di dasar-dasar karang atau terumbu karang. Mempunya ciri tubuh yang bulat pipih dengan sirip memanjang sepanjang punggung. Jenis ikan kakap yang banyak ditemui di Indonesia adalah jenis Kakap merah (L. campechanus) beberapa jenis yang lain yang juga banyak di temui adalah Kakap kuning, Kakap hitam dan lain-lain

Seekor ikan kakap merah dengan berat 100-gram mengandung hampir 70 persen dari jumlah kandungan selenium.Selenium dapat mendukung fungsi sel darah putih dan diperlukan untuk kelenjar tiroid agar dapat berfungsi dengan benar. Selenium merupakan antioksidan yang dapat mencegah senyawa radikal bebas menyebabkan kerusakan DNA yang dapat menyebabkan penyakit rheumatoid arthritis, kanker dan penyakit jantung. Kekuatan antioksidan selenium ini ditingkatkan ketika dikombinasikan dengan sumber vitamin E. Sajikan ikan kaya selenium seperti kakap merah dengan makanan tinggi vitamin E seperti asparagus, kentang manis atau gelap, sayuran hijau seperti bayam, bit hijau atau kale.

Setiap 3 ons sajian ikan kakap merah yang dimasak memberikan 14 persen vitamin A dari kebutuhan yang direkomendasikan untuk wanita dewasa dan 10,8 persen bagi seorang pria. Vitamin A penting untuk sistem kekebalan tubuh, juga untuk produksi dan pemeliharaan tulang dan kesehatan kulit dan mata, vitamin A juga berperan dalam sel reproduksi dan diferensiasi. Mengkonsumsi Vitamin A dalam jumlah yang cukup setiap hari bisa menurunkan risiko terkena gangguan mata seperti katarak atau degenerasi makula terkait usia. Vitamin A adalah nutrisi yang larut dalam lemak dan membutuhkan sumber lemak makanan untuk diserap oleh usus.

Ikan kakap merah mengandung 444 miligram, atau 9,4 persen dari kebutuhan harian akan kalium dengan porsi 3 ons daging kakap merah yang dimasak. Kalium merupakan zat yang dapat berguna sebagai mineral dan elektrolit. Hal ini diperlukan oleh tubuh untuk memicu enzim yang dibutuhkan dalam metabolisme energi dan untuk kesehatan jantung dan rangka otot untuk berkontraksi dengan baik. Diet yang tidak memiliki kadar kalium yang memadai dapat meningkatkan resiko terkena stroke, tekanan darah tinggi, osteoporosis dan batu ginjal. Seseorang juga bisa menjadi kekurangan kalium jika terlalu sering mengkonsumsi natrium dalam jumlah yang besar. Konsultasikan dengan dokter Anda tentang cara-cara untuk mengurangi asupan natrium Anda dan meningkatkan kadar kalium Anda dengan aman agar system tubuh anda dapat berjalan dengan baik.

Ikan kakap merah mengandung 0.31 gram omega-3 asam lemak dalam setiap porsi 100 gram. Konsentrasi asam lemak omega-3 kurang lebih sama dengan jumlah yang disediakan dengan porsi 3-ons udang, lele, kepiting atau kerang.

Penulis: Ana Noorina, Pemerhati gizi anak
Foto: google

Kisah yang Menghidupkan Akal


Oleh: Galih Setiawan

Sejak dulu hingga sekarang, anak-anak banyak mengenal sosok fiktif yang dipresentasikan secara intens melalui film-film. Para orangtua mungkin tidak menyadari bahwa apa yang masuk dalam otak anak-anak sejak kecil akan tersimpan kuat dalam akal mereka.

Karena itu, alangkah lebih baik jika yang anak-anak kita kenal adalah sosok para nabi, rasul atau pahlawan-pahlawan Islam yang telah mengubah zaman. Terlebih kisah yang nyata kebenarannya, kisah yang mengisnpirasi, kisah jauh lebih menghidupkan akal dan mampu membentuk karakter anak dibanding sosok fiktif yang kadang tidak masuk akal.

Betapa lengkap teladan kebaikan yang ada dalam kisah rasul dan para sahabatnya. Berbagai karakter ada di situ. Ada kisah tentang jiwa ksatria Umar bin Khotthob, jiwa pengusaha Abdurrahman bin Auf. Banyak contohnya dan itu nyata, bukan dongeng! Bahkan sebagian isi Al-Quran pun berupa kisah. Sayangnya, kisah para rasul dan para sahabat ini saat ini sudah jarang disampaikan para orangtua pada anak. Anak lebih mengenal tokoh-tokoh di sinetron dan film yang mereka saksikan ketimbang mengenal rasul dan para sahabat.

Salah satu yang mungkin menjadi penyebab banyak orangtua yang kurang meminati penyampaian kisah dalam metode mendidik anak adalah karena efeknya yan bersifat jangka panjang pada pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter anak tidak bisa dicapai dengan instan. Kisah yang terus disampaikan kepada anak akan mengendap ke dalam pikiran mereka. Nah, kalau ceritanya yang baik-baik, maka yang masuk ke pikiran mereka tentu yang baik-baik pula. Kalau yang diceritakan orangtua kisah-kisah kepahlawanan, kebaikan, persahabatan, maka akan seperti itulah sifat anak nantinya. Bayangkan saja kalau yang dikonsumsi anak justru tayangan atau materi yang penuh kekerasan, maka akhlak atau karakter anak seperti apa yang akan tercipta kemudian? 

Maka tak salah rasanya jika Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam bukunya “Cara Nabi Mendidik Anak” mengatakan bahwa kisah menempati peringkat pertama sebagai landasan asasi (membentuk) metode pemikiran yang memberikan dampak positif pada akal anak.

Lalu, bagaimana cara mengarahkan putra-putrinya dalam memiliki karakter positif yang Allah dan Rasul-Nya tekankan? Hal pertama yang harus diperhatikan orangtua, pahami dan sadarilah bahwa semua kisah yang ada di dalam Al-Qur’an adalah diceritakan sendiri oleh Allah dan itu adalah kenyataan. Bukan fiktif atau dongeng.

Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada rasul yang mulia. Tetapi, kebanyakan manusia sedikit sekali yang mengimaninya dan sedikit sekali yang mengambil pelajaran.

Dengan kata lain, mendidik anak-anak dengan kisah para nabi dan rasul tidak semata akan menjadikan anak-anak kita terbentuk dan terbangun karakter positifnya, tetapi di sisi lain juga akan meneguhkan keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an, sekaligus kita menjadi orang yang paling mungkin mengambil manfaat besar dari Al-Qur’an, karena selalu berpikir bagaimana mengambil pelajaran dari kitabullah.

Dengan demikian, insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi tangguh, sabar, ulet dan istiqamah dalam memegang kebenaran Islam, yang semua itu tidak mungkin didapat dari kisah-kisah fiktif, baik dalam bentuk cerita ataupun film-film

Kalau anak kita sekarang hanya menonton Doraemon dengan pintu ke mana sajanya, kenapa kita tidak memaparkan bagaimana kisah para sahabat dan ulama zaman dulu yang menempuh ribuan kilo untuk memastikan satu hadits yang tidak ia ketahui? Seperti Imam Ahmad yang menempuh ribuan kilo dari Baghdad ke Spanyol untuk mengejar Hadits. Kalau saat ini anak-anak kita hanya menonton Princess Shofia, kenapa tidak kita sampaikan saja kisah Khotijah yang teguh dan setia membersamai perjuangan dakwah Rasulullah?

Belum lagi kalau kita mendengar kesungguhan Ali bin Abi Thalib berwakaf dengan hasil kebunnya di Yarmuk yang jika kita nilai dengan kurs rupiah bisa bernilai 8 milyar. Padahal waktu itu kondisi Ali dalam keadaan lapar dengan perut diganjal batu.

Penting rasanya kita belajar kembali sejarah, agar dapat menemukan sosok teladan nyata yang mampu menjadi inspirasi dalam setiap persoalan. Bukan hanya tokoh film yang fiktif dan penuh rekaan.

Penulis: Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma

Foto: Kak Bimo memotivasi melalui cerita

Peran Kisah dalam Pembentukan Karakter


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Orangtua dan guru yang baik harusnya pandai bercerita. Saya punya banyak kesan dari guru-guru SD karena ceritanya. Ketika guru berkata bahwa ia mau cerita, dengan sigap para murid mengatur diri dengan sikap duduk sempurna, memasang telinga, siap melibatkan emosinya. Inilah sikap mental terbaik untuk belajar. Jangan lewatkan kesempatan yang baik untuk memasukkan nilai dalam jiwa anak.

Banyak kebaikan dari bercerita sebagai salah satu metode dalam belajar. Bercerita dapat membangkitkan minat anak. Jika dijadwal pelajarannya nanti bakal bertemu dengan guru pencerita, ia sudah senang ketika mau berangkat belajar. Menjadi antusias dalam menyambut pelajaran. Melalui bercerita, guru dapat menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak. Anak akan menangkap cerita guru dengan melibatkan emosinya sehingga guru dapat menanamkan nilai-nilai moral.

Cerita yang baik dan disampaikan dengan baik akan menjadi pintu inspirasi bagi anak sehingga dapat menumbuhkan imajinasi. Hal ini sangat penting karena menjadi dasar kreativitas. Dengan mengetahui besarnya manfaat cerita, maka orangtua dan guru harus memilih cerita yang baik. Banyak cerita yang bisa  dipilih, baik fiksi maupun non fiksi.

Agar cerita yang kita berikan ini menjadi pintu inspirasi dan penanaman nilai-nilai moral sebagaimana yang kita harapkan, maka harus dipilih cerita yang dapat memenuhi keduanya. Pilihlah kisah-kisah teladan dengan basis akidah Islam. Kisah-kisah kepahlawanan Islam baik dengan latar perjuangan para nabi, para sahabat, para tabiin, maupun pejuang tanah air. Bukan sekedar pahlawan fiksi yang lebih menonjolkan efek menghibur.

Di samping penanaman nilai moral bercerita mempunyai kebaikan yang lain. Antara lain dapat melatih konsentrasi dan pendengaran. Cerita yang baik membuat anak tidak mau ketinggalan sekejap pun. Anak harus konsentrasi dan mendengar dengan baik. Ketika mendengar cerita anak pasti bisa berkonsentrasi lebih lama dibandingkan ketika mendengarkan ceramah tentang pendidikan moral.

Dengan mendengarkan cerita anak akan menyimpan kosa kata lebih banyak. Anak akan menyimak kata per kata dengan baik. Maka gunakanlah kosa kata yang dipahami anak dan tambahkan dengan kosa kata yang bervariasi dengan memahamkan maknanya.

Ketika mendengar cerita, apa lagi yang disampaikan dengan penuh penjiwaan anak pun akan melibatkan emosinya. Maka cerita pun dapat menjadi sarana berlatih mengendalikan emosi. Anak akan menghayati tokoh-tokoh dalam cerita, baik tokoh yang protagonis maupun  yang antagonis.

Tetapi bukan berarti bercerita adalah metode terbaik tanpa kurang. Terutama di sekolah/madrasah. Sebagai metode pembelajaran bercerita juga mempunyai kekurangan. Antara lain dapat menyebabkan anak pasif dalam belajar. Anak cukup pasang telinga dan mengunci mulut. Tidak perlu melakukan kegiatan fisik lainnya. Anak cenderung pasif fisiknya.

Saat cerita berjalan tidak ada yang mau diganggu, baik pendengar maupun penceritanya. Sehingga bagi anak yang sebenarnya punya pendapat ia harus menahan diri karena akan mengganggu jalannya cerita. Guru harus peka tentang ini agar tidak mematikan pendapat anak. Caranya bisa dengan membuat jeda, memberi kesempatan kepada anak yang ingin berpendapat. Atau langsung memberi kesempatan ketika guru melihat ada gelagat anak yang mau berpendapat. Guru menahan cerita dan memberi kesempatan kepada anak untuk berpendapat.

Agar anak dapat terlibat secara emosi dalam mendengarkan cerita, pencerita harus bisa ber-acting. Baik melalui suara, gerak maupun mimik wajah. Bagi guru yang tidak bisa berakting dapat diatasi dengan menggunakan alat peraga. Sehingga perhatian anak tidak lagi kepadanya melainkan akan tertuju kepada alat peraga. Repotnya jika alat peraganya tidak menarik, maka anak menjadi kurang perhatian. Pada bagian akhir cerita, harus ada yang diendapkan. Terutama adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Bisa berupa beberapa pertanyaan.

Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Cebongan Sleman

Foto: Kak Bimo bersama anak-anak Palestina (Sahabat Al-Aqsha)

Kisah dan Penanaman Akhlakul Karimah



Oleh: R. Bagus Priyoembodo

Di dalam penyampaian kisah terdapat manfaat yang besar. Terutama kisah-kisah Qur’ani. Manakala kita mempelajari kisah Qur’ani maka kita kan dapati keunggulannya. Kisah-kisah Qur`ani adalah kisah yang paling benar/jujur, “Dan siapakah yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.” (An-Nisa`: 87)

Hal itu karena kesesuaiannya yang sempurna dengan kenyataan yang ada. Tidak ada perkataan yang lebih jujur dan benar daripada firman Allah.

Kisah-kisah Qur`ani adalah kisah yang paling baik. “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur`an ini kepadamu.” (Yusuf: 3)

Karena cakupannya terhadap kesempurnaan paling tinggi dalam balaghah (keindahan bahasa) dan keagungan makna. Bahkan kisah-kisah dalam Al-Qur`an merupakan kisah yang paling bermanfaat, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Karena kuatnya pengaruh kisah tersebut terhadap upaya perbaikan hati, akhlak, dan perbuatan. Jadi, kisah-kisah Qur`ani adalah kisah yang paling indah kalimat dan paling indah pula maknanya.

Berbagai faedah utama kita dapati dalam kisah Qur’ani. Begitu besar manfaatnya untuk membentuk pribadi yang gemilang. Sebagaimana sejarah telah membuktikan.

Kisah itu meneguhkan hati Rasulullah  dan hati umat beliau di atas ajaran (dien) Allah, mengokohkan kepercayaan kaum mukminin akan kemenangan al-haq dan tentaranya serta terhinanya kebatilan dan para pembelanya. “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Kisah itu merupakan sebagian contoh tentang adab yang harus diperhatikan dan pelajaran-pelajarannya tertanam kuat di dalam jiwa. “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Menerangkan keadilan Allah dengan adanya hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan kebenaran. Menerangkan karunia Allah dengan menyebutkan pahala yang dilimpahkan kepada orang yang baik. Allah selamatkan mereka sebagai nikmat dariNya. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Kisah itu membangkitkan rasa antusias kaum mukminin terhadap keimanan dengan mendorong mereka agar teguh di atasnya serta meningkatkannya ketika mengetahui keberhasilan orang-orang beriman terdahulu serta kemenangan mereka. “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya`: 88)

Kisah itu memperingatkan orang-orang buruk agar tidak terus-menerus tenggelam dalam keburukannya, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (Muhammad: 10)

Dalam penggalian pemahaman kisah quran untuk membentuk akhlak adab yang mulia maka kita dapati simpulan juga :

Pertama, nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kisah Al Qur’an sangat sempurna dan amat penting untuk diimplementasikan, seperti nilai keimanan, kasih sayang, lemah lembut, sopan-santun, mawas diri, teguh pendirian, tanggung jawab, sabar, tawaḍu’, sederhana, bersyukur/berterima kasih, tawakkal, keterbukaan, takwa, kreatif, disiplin diri, berani, logis-kritis, rasional, kerja keras, visioner, rasa peduli, optimis, pemaaf, rasa ingin tahu, hati-hati, memahami perbedaan pendapat, berjiwa besar, rendah hati, kepekaan sosial, kuat jasmani, dan tegas.

Kedua, wawasan metode pendidikan akhlak adab dalam kisah Al Qur’an, seperti metode mau’iẓah, metode emosional, metode perumpamaan, metode amar ma’ruf nahi munkar, metode pembiasaan, metode dialog, metode keteladanan, metode ‘ibrah, metode rasional, metode dialog, metode hujjah, metode pemberian ancaman, metode perumpamaan, metode hukuman, metode pemberian peringatan, metode motivasi, metode husnudhan, metode pemberian penghargaan dan hukuman, metode istighfār, metode nasehat, metode problem solving, metode belajar tuntas, dan metode musabaqah.

Hal tersebut amatlah membantu upaya proses pendidikan akhlak adab manakala  dilakukan secara kontinyu, sejak anak usia dini, serta dilaksanakan secara integratif oleh semua komponen pendidik, untuk mewujudkan anak yang berakhlak baik dan kuat.

Penulis : R. Bagus Priyosembodo, Penulis Senior Majalah Fahma

Foto: google

Hiasan Ahli Ibadah




Oleh : Asnurul Hidayati

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah cicit Rasulullah. Beliau diberi  julukan Zainul Abidin, yaitu hiasan para ahli ibadah.  Pribadinya sangat  bertakwa, rajin  ibadah,  serta  dihiasi dengan akhlaknya yang terpuji. Kesolihannya sangat menonjol di kalangan kaumnya.  

Suatu hari Thawus bin Kaisan  melihat Ali bin Husain berdiri di bawah bayang-bayang Ka'bah.  Ia menangis tersedu dalam munajatnya,  dan berdoa terus-menerus seperti orang yang sedang terdesak kebutuhan yang sangat. Setelah Ali bin Husain selesai berdoa, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata: "Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut.” "Apakah itu wahai Thawus?" Ali bin Husan balik bertanya.
"Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah. Kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari kakek Anda.  Ketiga, rahmat Allah bagi Anda," iawab Thawus.

"Wahai Thawus, garis keturunanku dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjamin keamananku,  setelah kudengar firman Allah:’...kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu...’(QS Al Kahfi 99-red). Adapun tentang syafaat kakekku, Allah telah menurunkan firman-Nya: ‘Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.’  (QS Al-Anbiya': 28 -red). Sedangkan mengenai rahmat Allah,  firman Nya:’Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik’." (QS Al-A'raf: 56 -red) ujar Ali bin Husain.

Alin bin Husain atau Zainul Abidin  juga dikenal karena kebijakan, kedermawanan, sifat sabar dan kelapangan dadanya.  Diceritakan dari Hasan bin Hasan bin Ali: Pernah terjadi perselisihan antara aku dengan putra pamanku, Zainul Abidin. Kudatangi dia tatkala berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya.  Aku memakinya habis-habisan, tapi dia hanya diam membisu sampai aku pulang.

Malam harinya ada orang mengetuk pintu rumahku. Aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata Zainul Abidin. Tak aku sangsikan lagi, dia pasti akan membalas perlakuanku tadi siang. Namun ternyata dia hanya bicara: "Wahai saudaraku, bila apa yang engkau katakan tadi benar, semoga Allah mengampuniku. Dan jika yang Engkau katakan tidak benar, semoga Dia mengampunimu..." Kemudian beliau berlalu setelah mengucapkan salam.

Mendengar perkataan Zainul Abidin, aku merasa bersalah.  Aku pun mengejarnya dan berkata: "Sungguh, aku tak akan mengulangi kata-kata yang tidak Anda sukai!"

Beliau berkata: "Saya telah memaafkan Anda."

Masya Allah, kesholihan Zainul Abidin telah menghiasi pribadinya menjadi pribadi yang mulia dan mengagumkan. Akhlak yang bagus menjadikannya mudah memaafkan. Saat  berhadapan dengan perkara yang tidak menyenangkan. Ia pun dengan mudah menghadapi dan menyelesaikannya. Akhirnya hubungan dengan orang lain pun semakin baik keadaannya. Akhlak ‘memaafkan’, yang telah menghiasi pribadi Zainul Abidin menjadikan pribadi nya semakin mulia. Bukan sebaliknya. Orang merasa turun derajatnya jika ia harus bermurah hati memaafkan orang lain yang telah menyakitinya.

Semoga anak-anak kita mampu meneladani akhlak mulia dalam memaafkan orang lain. Baik orang lain itu tidak sengaja atau dengan sengaja telah menyakitinya. Baik orang itu yang memulai minta maaf, maupun orang itu tidak minta maaf. Barakallahufikum.

Sumber : Mereka Adalah Para Tabi’in.DR. Abdurrahman Ra’fat Basya.

Penulis: Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul.
Foto: google