» » Peran Kisah dalam Pembentukan Karakter

Peran Kisah dalam Pembentukan Karakter

Penulis By on Tuesday, December 13, 2016 | No comments


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Orangtua dan guru yang baik harusnya pandai bercerita. Saya punya banyak kesan dari guru-guru SD karena ceritanya. Ketika guru berkata bahwa ia mau cerita, dengan sigap para murid mengatur diri dengan sikap duduk sempurna, memasang telinga, siap melibatkan emosinya. Inilah sikap mental terbaik untuk belajar. Jangan lewatkan kesempatan yang baik untuk memasukkan nilai dalam jiwa anak.

Banyak kebaikan dari bercerita sebagai salah satu metode dalam belajar. Bercerita dapat membangkitkan minat anak. Jika dijadwal pelajarannya nanti bakal bertemu dengan guru pencerita, ia sudah senang ketika mau berangkat belajar. Menjadi antusias dalam menyambut pelajaran. Melalui bercerita, guru dapat menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak. Anak akan menangkap cerita guru dengan melibatkan emosinya sehingga guru dapat menanamkan nilai-nilai moral.

Cerita yang baik dan disampaikan dengan baik akan menjadi pintu inspirasi bagi anak sehingga dapat menumbuhkan imajinasi. Hal ini sangat penting karena menjadi dasar kreativitas. Dengan mengetahui besarnya manfaat cerita, maka orangtua dan guru harus memilih cerita yang baik. Banyak cerita yang bisa  dipilih, baik fiksi maupun non fiksi.

Agar cerita yang kita berikan ini menjadi pintu inspirasi dan penanaman nilai-nilai moral sebagaimana yang kita harapkan, maka harus dipilih cerita yang dapat memenuhi keduanya. Pilihlah kisah-kisah teladan dengan basis akidah Islam. Kisah-kisah kepahlawanan Islam baik dengan latar perjuangan para nabi, para sahabat, para tabiin, maupun pejuang tanah air. Bukan sekedar pahlawan fiksi yang lebih menonjolkan efek menghibur.

Di samping penanaman nilai moral bercerita mempunyai kebaikan yang lain. Antara lain dapat melatih konsentrasi dan pendengaran. Cerita yang baik membuat anak tidak mau ketinggalan sekejap pun. Anak harus konsentrasi dan mendengar dengan baik. Ketika mendengar cerita anak pasti bisa berkonsentrasi lebih lama dibandingkan ketika mendengarkan ceramah tentang pendidikan moral.

Dengan mendengarkan cerita anak akan menyimpan kosa kata lebih banyak. Anak akan menyimak kata per kata dengan baik. Maka gunakanlah kosa kata yang dipahami anak dan tambahkan dengan kosa kata yang bervariasi dengan memahamkan maknanya.

Ketika mendengar cerita, apa lagi yang disampaikan dengan penuh penjiwaan anak pun akan melibatkan emosinya. Maka cerita pun dapat menjadi sarana berlatih mengendalikan emosi. Anak akan menghayati tokoh-tokoh dalam cerita, baik tokoh yang protagonis maupun  yang antagonis.

Tetapi bukan berarti bercerita adalah metode terbaik tanpa kurang. Terutama di sekolah/madrasah. Sebagai metode pembelajaran bercerita juga mempunyai kekurangan. Antara lain dapat menyebabkan anak pasif dalam belajar. Anak cukup pasang telinga dan mengunci mulut. Tidak perlu melakukan kegiatan fisik lainnya. Anak cenderung pasif fisiknya.

Saat cerita berjalan tidak ada yang mau diganggu, baik pendengar maupun penceritanya. Sehingga bagi anak yang sebenarnya punya pendapat ia harus menahan diri karena akan mengganggu jalannya cerita. Guru harus peka tentang ini agar tidak mematikan pendapat anak. Caranya bisa dengan membuat jeda, memberi kesempatan kepada anak yang ingin berpendapat. Atau langsung memberi kesempatan ketika guru melihat ada gelagat anak yang mau berpendapat. Guru menahan cerita dan memberi kesempatan kepada anak untuk berpendapat.

Agar anak dapat terlibat secara emosi dalam mendengarkan cerita, pencerita harus bisa ber-acting. Baik melalui suara, gerak maupun mimik wajah. Bagi guru yang tidak bisa berakting dapat diatasi dengan menggunakan alat peraga. Sehingga perhatian anak tidak lagi kepadanya melainkan akan tertuju kepada alat peraga. Repotnya jika alat peraganya tidak menarik, maka anak menjadi kurang perhatian. Pada bagian akhir cerita, harus ada yang diendapkan. Terutama adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Bisa berupa beberapa pertanyaan.

Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Cebongan Sleman

Foto: Kak Bimo bersama anak-anak Palestina (Sahabat Al-Aqsha)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya