Guru Hebat, Pencetak Generasi Emas Anak Bangsa

Oleh : Wiwiek Afifah

Wacana pendidikan khususnya tentang penguatan kompetensi guru dan revitalisasinya di masyarakat tidak pernah berhenti diperbincangkan. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru guna berkontribusi nyata untuk kehidupan juga selalu diangkat. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa pada dasarnya guru sebagai pioner pendidikan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Michael Kelly mengatakan bahwa “Education must provide the next generation of citizen with the knowledge, skill, and values they will require to confront the challenges of the future.” Sudah semestinya pendidikan berperan membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang akan mereka gunakan untuk masa depan mereka. Hal ini karena pada dasarnya hakekat pembelajaran dalam pendidikan adalah membentuk anak didik agar menjadi diri mereka sendiri secara utuh dan bahkan mendukung process of becoming whole people.

Guna memperkuat eksistensi pendidikan, diperlukan guru-guru yang hebat, cerdas, dan multitalenta. Guru cerdas, hebat, dan multitalenta, itulah guru masa depan. Guru masa depan itu sendiri digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya dapat mengajarkan materi kepada anak didiknya saja namun juga memiliki kemampuan dan semangat juang untuk membantu tunas bangsa menjadi manusia sejati. Once again, guru masa depan adalah merekalah yang komunikatif, humanis, senantiasa berfikir kritis, bertindak, dan selalu berusaha mencari berbagai macam solusi untuk menyelesaikan tumpang-tindih permasalahan yang kelak akan muncul dalam lingkungan mereka. Hal ini sejalan dengan hakikat dan peran guru itu sendiri yakni sebagai sumber pemberi keteladanan, inspirasi, motivasi, dan tentunya ujung tombak pencetak generasi unggul anak bangsa.

Guru yang dibutuhkan bangsa Indonesia untuk mencetak generasi emas adalah merekalah yang memiliki kemampuan lebih yakni cerdas, hebat, komunikatif, agamis, dan multitalenta. Mereka yang secara sadar serta memiliki berbagai cara dalam menemukan bakat dan minat yang belum terasah dalam diri anak didiknya, itulah guru hebat idaman bangsa. Guru hebat akan selalu dikenang sepanjang masa karena ia mampu mengakomodasi seluruh potensi dan kemampuan anak didiknya menjadi lebih maksimal. Kemampuan utama guru hebat adalah ia memilii kepekaan dan tentunya mampu menginspirasi semua orang-orang di sekitarnya. Kiprahnya mampu melahirkan generasi unggul, tangguh, inovatif, kreatif dan tampil sempurna di masa depan.


Penulis : Wiwiek Afifah, Dosen STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta
Foto : google

Lembut Itu Mampu Menahan Diri

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Suatu ketika Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, cucu dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, masuk ke dalam masjid. Ketika masjid dalam keadaan gelap gulita. Tak sengaja, rupanya beliau menginjak seorang laki-laki yang sedang tidur di masjid itu. Seketika lelaki itu berdiri dan berkata, “Apakah kamu sudah gila?”

Mendengar perkataan lancang tersebut, pengawal ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz segera bertindak, hendak memukul. Tetapi ‘Umar mencegahnya seraya berkata, “Jangan! Dia tadi hanya bertanya kepadaku, ‘Apakah aku sudah gila?’ Dan aku menjawab, ‘Tidak.’”

Ada pelajaran sangat berharga tentang al-hilm (الحلم) di dalam kisah ini. Satu peristiwa yang memberikan dua gambaran sekaligus, yakni tentang seseorang yang kehilangan sifat hilm alias lembut sekaligus tidak ada sifat 'anah pada dirinya, sehingga bereaksi dengan melontarkan perkataan yang kasar. Pada saat yang sama ada pelajaran tentang bagaimana al-hilm itu menjadi pintu kebaikan sehingga dengannya tak perlu terlontar kalimat yang kasar maupun ucapan yang buruk.

Apa yang dimaksud dengan al-hilm? Secara sederhana kelembutan yang terangkum dalam kata al-hilm lebih banyak terkait dengan kemampuan menahan diri, terlebih saat marah. Ahnaf bin Qais mengatakan bahwa al-hilm atau kelembutan-ketenangan adalah, “Engkau bersabar terhadap apa yang engkau benci.” Karena kita mampu bersabar terhadap apa yang tidak kita sukai, semisal sikap anak, maka tindakan kita terukur, sikap kita terjaga, sehingga tidak gegabah dalam bertindak, tidak pula melampaui batas.

Saat anak melakukan perbuatan buruk, yang perlu kita perbaiki adalah kesalahan. Tampaknya sederhana dan tak perlu kita diskusikan lagi. Tetapi jika tidak ada al-hilm dalam diri kita sehingga tidak dapat mengendalikan diri, alih-alih memperbaiki kesalahan, justru kita terjatuh pada tindakan menghancurkan harga diri anak. Bukannya mengoreksi kesalahan, kita malah menjadikan anak seolah-olah buruk secara keseluruhan. Akibatnya, alih-alih berusaha menjadikan anak menyadari kesalahannya, yang terjadi justru anak merasa dirinya buruk sepenuhnya tanpa ada kebaikan.

Jika kelembutan dalam bentuk ar-rifq membawa kita untuk mengambil yang mudah dan lurus sehingga tetap dapat menunjukkan keramahan saat bersikap, maka lembut dalam makna al-hilm membawa kita pada sikap hati-hati, tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak pula lamban, serta tidak teralihkan oleh hal-hal yang tidak perlu. Al-hilm pada diri kita ditunjukkan dengan tenangnya hati yang membuat kita tidak mudah terpancing emosi, tidak tersulut amarah karena ucapan yang buruk. Dan ini juga berlaku dalam mendidik anak. Bahkan inilah yang sangat kita perlukan ketika menghadapi anak yang sedang marah, sebagaimana kita juga memerlukannya saat mengajari mereka agar tidak tersulut emosi saat mereka tak mampu segera berubah sesuai yang kita harapkan.

Al-hilm sangat dekat dengan al-‘anah, yakni kemampuan untuk berhati-hati, tidak mengambil tindakan kecuali setelah betul-betul jelas duduk perkaranya. Keduanya merupakan sifat yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Insya Allah kita akan berbincang secara lebih khusus tentang al’anah pada kesempatan berikutnya. Kali ini kita akan memusatkan pembahasan kita tentang kelembutan yang terangkum dalam al-hilm. Semoga Allah Ta’ala karuniakan sifat ini kepada kita dalam upaya mendidik dan mengasuh anak-anak kita.

Mengenai kemuliaan al-hilm dan al-‘anah, mari kita ingat sejenak ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asyajj Abdul Qais:
إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم والأناة
“Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah, yaitu al-hilm dan al-anah (kehati-hatian).” (HR Muslim).

Tetaplah Fokus, Kendalikan Nada Suara
Salah satu tantangan saat kita sedang menghadapi anak, semisal ketika anak marah tak terkendali, mengamuk, merengek atau menangis keras secara demonstratif adalah bagaimana menjaga ucapan maupun tindakan kita agar tetap tenang. Jangan sebaliknya, tak kuat menghadapi kemarahan anak, kita justru marah meledak-ledak melebihi anak. Tak mampu menghadapi anak yang mengamuk, malah anak lain yang terkena getahnya karena kita amuk mereka. Tak sanggup menghadapi anak yang merengek, kita pun akhirnya merengek kepada anak; merayu-rayu, menawarkan imbalan, melakukan negosiasi yang berakibat anak merasa mendapatkan hadiah dari tindakannya merengek.

Lalu apa yang kita perlukan di saat seperti itu? Al-hilm. Kelembutan. Bagaimana bentuknya? Berusaha tetap tenang, mengendalikan nada suara kita agar tetap berbicara dengan intonasi yang normal, tawajjuh (menghadapkan wajah kita kepada wajah anak) dengan tenang seraya menyampaikan pesan-pesan kepada mereka. Jika anak itu mengamuk, kita sampaikan apa yang perlu dia lakukan, apa keburukan dari mengamuk serta konsekuensi dari perbuatan semacam itu. Kita sampaikan dengan intonasi yang tenang dan pilihan kata yang baik, sehingga anak menangkap alasan yang jernih dari kita.

Cara ini belum manjur? Kita dekatkan lagi anak itu kepada kita. Jika ia tak mau mendekat, kitalah yang mendekat. Khusus yang disebut terakhir ini, kendala terbesarnya adalah ego kita. Maka perlu kebesaran jiwa untuk melakukannya. Al-hilm memang memerlukan dua hal penting, yakni keluasan pikiran dan kebesaran jiwa. Jika kita hanya berpikir untuk kepentingan sesaat, berat sekali rasanya untuk melonggarkan hati. Lebih berat lagi mengucapkan terima kasih tatkala anak telah melakukan perbaikan, sesudah ia melakukan kesalahan.

Adakalanya kita dapat menyampaikan dengan nada yang terdengar keras. Tetapi jika ada ar-rifq, anak akan merasakan cinta dalam ucapan kita. Meskipun keras langgam kita, tetapi anak merasakannya sebagai ketegasan dan konsistensi. Nah, dalam keadaan seperti itu, al-hilm sangat kita perlukan agar tidaklah kita mengucapkan kalimat, kecuali kalimat-kalimat yang baik dan membangun jiwanya.

Kita misalnya dapat mengatakan, “Nak, apa yang membuatmu merasa lemah?! Padahal Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Perkasa. Tegakkan kepalamu. Pandang ke depan. Di sini ada orangtuamu yang siap hadir untukmu.”

Kadang anak memancing kemarahan kita dengan bantahan-bantahan yang bahkan boleh jadi disertai sumpah serapah. Ini memang sangat tidak menyenangkan. Tetapi justru dalam keadaan seperti itulah perlu al-hilm (kelembutan), sehingga kita tetap fokus pada apa yang menjadi pokok masalah. Tidak terusik oleh ucapan buruknya, tidak terpancing emosi kita oleh serangan. Ini merupakan jalan untuk mengoreksi sehingga anak akan luluh. Dalam hal ini, kelembutan dalam bentuk al-hilm itu menjaga agar fokus tidak melebar kemana-mana sehingga yang terjadi hanyalah saling melontarkan kemarahan maupun serangan terhadap pribadi.

Bagaimana jika suami atau istri melakukan kesalahan saat menghadapi anak? Sama halnya saat kita menangani anak, tetaplah menjaga fokus. Kesalahan cara istri dalam menghadapi anak dapat diluruskan sesudah masalah selesai. Jangan menyalahkannya di depan anak, sehingga rasa hormat anak kepada orangtua akan jatuh. Sementara masalah yang hendak diperbaiki justru mengambang.

Meraih Al-Hilm
Lembut tanpa ilmu adalah kelemahan. Sementara belajar tentang kelembutan, tidak serta merta menjadikan kita lembut. Dalam hal ini, ada pelajaran yang sangat menarik dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ
”Ilmu itu diperoleh hanya dengan belajar dan sifat al-hilm hanya diperoleh didapatkan dengan cara melatihnya dan barangsiapa bersungguh-sungguh mengerjakan kebaikan niscaya akan diberi.” (HR. Ath-Thabarani).

Apa pelajaran pentingnya? Ilmunya perlu kita pelajari dengan sungguh-sungguh. Sementara untuk menumbuhkan al-hilm dalam diri kita, perlu upaya secara sengaja untuk melatihnya. Ini berarti, kelembutan tidaklah terbentuk dengan tiba-tiba, seketika. Jika awalnya kita orang yang cenderung kasar, bersabarlah dalam berlatih. Kesalahan mungkin masih akan sering terjadi. Tetapi kesungguhan itu akan mengantarkan kita mampu memiliki kelembutan. Insya Allah.

*) Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi. Penulis Buku-buku Parenting
Foto : google

Menurunkan Beban dari Punggung Binatang

Dari Anas bin Malik, ia berkata,
 “Kami pernah ketika singgah di suatu tempat, kami tidak bertasbih -yaitu tidak melaksanakan shalat sunnah terlebih dulu- sehingga kami menurunkan beban-beban dari punggung binatang tunggangan.” (HR. Abu Daud no. 2551 dan Ahmad 3: 29. 

Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Imam Nawawi menjelaskan hadits ini dalam Riyadhus Sholihin bahwa meskipun para sahabat begitu semangat untuk melaksanakan shalat sunnah, mereka tetap mendahulukan barang dari punggung hewan tunggangan dan mengistirahatkan hewan tersebut.


Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat baik pada hewan ternak. Hendaklah manusia memperlakukan hewan ternak dengan cara yang baik. Jangan bebani hewan tersebut pada sesuatu yang ia tidak mampu. Jangan pula mengurangi makan dan minumnya.” 

Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 593-594.

Asyiknya Berkisah



Oleh : Suhartono

Berkisah memiliki begitu banyak manfaat untuk tumbuh kembang anak. Walaupun orangtua sibuk dan kelelahan karena tekanan pekerjaan demi kebutuhan hidup, sebaiknya tetap harus menyisihkan waktu untuk membacakan kisah bagi buah hati tercinta. Berkisah adalah salah satu cara mendapatkan waktu santai bersama antara orangtua dan anak.

Anak yang sering dibacakan cerita oleh orangtuanya akan dengan mudah tumbuh menjadi individu yang gemar membaca, hal yang sangat dibutuhkan untuk menjadi manusia yang sukses. Knowledge is power, dan membaca adalah salah satu cara hebat untuk menambah pengetahuan.
 
Membacakan buku tidak sama dengan mendongeng, walaupun seringkali pada pelaksanaannya mirip jika orangtua sudah cukup ahli membaca cerita dengan gaya pengkisah. Membacakan cerita dengan bahasa buku dapat memperkaya kemampuan verbal anak, seperti menyusun kata dalam kalimat, memperkaya perbendaharaan kata dan terbiasa mendengar susunan kalimat yang terstruktur) dibanding bahasa sehari-hari.

Sebelum membacakan cerita untuk anak, orangtua harus mencarikan buku yang baik, yaitu yang mengandung pengetahuan dan sarat pesan moral. Pilih buku sesuai usia anak. Libatkan anak saat membeli atau memilih buku yang ingin dibaca.

Jangan mematahkan pertanyaan anak ketika kita membacakan cerita, bahkan kita harus menstimulasi anak untuk bertanya. Ini merupakan cara melatih anak berpikir kritis dan analitis, kebiasaan bepikir saat dibacakan cerita disebut ‘think aloud’. Dengan selalu menjawab pertanyaan anak saat dibacakan cerita dan memuaskan rasa ingin tahu mereka akan membangun persepsi buku adalah sumber pengetahuan, tempat menemukan hal baru yang belum mereka tahu. Untuk itu biasakan melakukan pra baca, sebelum membacakan buku apapun untuk mengantisipasi kemungkinan pertanyaan dan mencari celah untuk melontarkan stimulasi.

Jangan berkecil hati dan merasa dinilai anak jika orangtua belum mampu membaca cerita dengan gaya pengkisah profesional. Anak akan lebih menghargai waktu anda yang mereka terima, setelah seharian sibuk bekerja mencari nafkah.

Kebersamaan yang menyenangkan saat orangtua membacakan cerita akan membangun asosiasi di pikiran anak bahwa membaca itu menyenangkan. Banyak hal baru yang mereka temukan sehingga terbentuk satu rasa dari buku diperoleh hal indah dan menyenangkan sehingga tumbuh rasa cinta pada buku. Anak memperoleh ‘reading role model’ dari orangtuanya sendiri. 

 Tips membacakan kisah pada anak

  • Bacakan dengan artikulasi yang jelas dan suara lantang. Karena selain mendengarkan cerita, si anak juga bisa sambil belajar mengucapkan kata-kata yang benar dan bisa menangkap makna cerita dengan tepat.
  • Intonasi yang tepat, bacakan cerita menggunakan nada bicara yang benar. Misalnya saja, saat sampai di adegan si tokoh dalam buku sedang berteriak, ucapkan dengan nada tinggi, jangan dengan nada datar.
  • Ekspresi yang sesuai. Pasang mimik wajah senang jika si tokoh di dalam buku sedang bahagia, atau wajah sedih, marah, kecewa, kesal sesuai adegan cerita.
  • Dramatisasi, anda boleh berakting dan menyelipkan sebuah drama saat membacakan buku cerita agar anak lebih bersemangat mendengarkan.
  • Beri kesempatan si anak bertanya. Jangan kesal saat si anak memotong cerita yang Anda bacakan untuk bertanya. Hal ini justru bagus, karena berarti si anak menyimak dengan baik jalan cerita. Menanyakan sesuatu tentang isi buku, adalah tanda bahwa si anak sedang mencoba menginterpretasikan cerita dalam imajinasinya.
  • Menjelang tidur adalah waktu paling tepat untuk membacakan cerita. Karena tubuh dan pikiran anak maupun orangtua sama-sama rileks. Atau, Anda bisa membacakan cerita di mobil saat mengantar sekolah 

 Penulis : Suhartono, Pemerhati dunia anak
 Foto : Sahabat Al-Aqsha

Buka Pikiran Niscaya Datang Kebenaran



Oleh : Imam Nawawi

Di sela-sela diskusi yang cukup intens saya dengan para senior di Puncak, ada kisah menarik yang dipaparkan oleh seorang sahabat perihal bagaimana Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, dan Amru bin Ash yang begitu benci dengan Nabi Muhammad tiba-tiba mendapat hidayah dan menjadi Muslim sejati.

Sahabat saya menjelaskan bagaimana Muhammad Izzat Darwajah, seorang ahli Al-Qur’an yang juga sangat memahami sejarah menganalisa bagaimana keduanya bisa masuk Islam.

Dalam sebuah ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mengunci mati hati orang-orang kafir, lantas bagaimana orang kafir semacam Khalid dan Amru bisa masuk Islam?

Ternyata keduanya melakukan apa yang harus diamalkan oleh akal dan hati nurani yakni berpikir dan merenungkan hakikat kehidupan. Begitu seseorang mau berpikir dan merenung, maka ia telah merobek dinding kebodohan, kesombongan sekaligus kebutaan mata hati yang bersarang di dalam hatinya.

Salah satu dari keduanya itu mengatakan, “Aku merenungkan dan membandingkan agama berhala dan agama yang dibawa Muhammad. Kesimpulannya, agama Islam yang dibawa Muhammad benar-benar sebuah ajaran yang tepat untuk manusia,” demikian papar sahabatku menjelaskan bagaimana Khalid dan Amru bisa membuka hatinya menerima cahaya Islam.

Artinya, ketika kita ingin menjadi Muslim, terlebih Muslim yang taat, maka buang jauh kesombongan, permusuhan, dan kebodohan diri dengan berpikir dan merenung. Insya Allah hati kita akan terbuka dengan kebenaran.

Sesi singkat dialog di atas, ketika kita ingin tarik dalam kehidupan pribadi kita sendiri maka langkahnya pun harus sama.

Ketika kita membenci seseorang tanpa alasan karena Allah, sesungguhnya kita berada dalam kondisi akal dan hati yang tertutup dari mengenali masalah yang sesungguhnya, sehingga akal tidak mampu bekerja dan kebencian itu pun kian kuat, karena sikap kita sendiri.

Tanpa dituntutn orang yang hatinya dipenuhi kebencian tanpa alasan yang jelas, akan suka kepada berita-berita yang menyudutkan orang yang dibencinya. Sebaliknya, akan sangat terluka ketika yang dibencinya dinilai mendapatkan kebahagiaan.

Hidup tidak bisa dengan bekal katanya-katanya. Kita sendiri yang dianugerahi akal untuk berpikir, wajib untuk berpikir. Melihat segala sesuatu secara objektif dan adil.

Mari kita lihat, mengapa Nabi Yusuf bisa memaafkan saudara yang sangat membenci dan menghendaki kebinasaannya?

Karena Nabi Yusuf sadar, sikap memusuhi saudara-saudaranya yang tidak berpikir itu sama dengan menjerumuskan diri dan semua keluarganya dalam perangkap setan. Maka, ego diri secara hewani tidak mampu mendominasi pribadi putra Nabi Ya’kub yang cerdas lagi rupawan tersebut.

Prinsipnya, mari kita buka pikiran kita untuk terhindar dari bisikan-bisikan buruk yang membuat kita semakin jauh dari kebenaran. Sebab, hanya dengan diri mau membuka pikiran, insya Allah akan ada secercah cahaya yang menyinari hati kita untuk kemudian hidup sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita yang sudah pasti tidak akan 100% murni dari prasangka dan pretensi.

Penulis : Imam Nawawi, Pimpinan Redaksi Majalah Mulia
Foto : https://id.theasianparent.com/

Metode Tanya Jawab dalam Pembelajaran



Oleh : Salim Abu Hanan

Dalam kegiatan belajar-mengajar, tanya jawab adalah metode yang banyak dilakukan dan disukai oleh guru terutama untuk materi ajar yang bersifat abstrak. Karena metode ini mempunyai beberapa kelebihan. Yang pertama, menuntut semua murid aktif berproses. Yang kedua, hasilnya atau  tingkat pemahaman murid terhadap materi ajar langsung dapat diketahui dan dikontrol. Yang ketiga, prosesnya sederhana. Tetapi kelebihan yang ketiga ini sering disalah artikan. Karena sederhana sehingga dianggap gampang padahal tidak segampang anggapannya.

Dalam tulisan ini hanya membicarakan salah satu sudut kecil dari metode tanya jawab, yaitu bagaimana merespon jawaban murid dari pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan. Kita punya harapan bagaimana harusnya murid menjawab, tetapi bisa juga kita mendapat jawaban diluar dugaan atau harapan.

Bila murid menjawab pertanyaan dengan cepat , tepat, dan mantap maka atas jawaban ini harus diberi pengakuan berupa pujian. Tidak perlu pujian yang berlebihan. Jawaban yang cepat dan tepat biasanya berasal dari murid yang kita anggap murid “kelompok atas”. Bagi murid ini pujian berupa gerakan tangan atau anggukan – sebagai bentuk pengakuan- sudah cukup. Tetapi jika jawaban ini berasal dari murid “kelompok menengah” pantas kita berikan pujian yang lebih. Lebih dari sekedar anggukan, perlu pujian verbal yang memberikan kebanggakan. “Ini jawaban yang saya tunggu”, “hebat”, misalnya seperti itu.

Bila seorang murid menjawab pertanyaan dengan benar tetapi ragu-ragu, maka penting kepada murid ini kita beri umpan-balik positif. Umpan balik yang lebih eksplisit. Ini penting untuk membantu murid memperkuat pendapatnya. Bahwa ia sudah bisa menjawab dengan benar. Dengan harapan jika pertanyaan semacam kembali dilontarkan maka ia akan menjawab dengan tidak ragu-ragu lagi. Boleh juga dengan mempertanyakan, mengapa ia menjawab dengan ragu? Jika kita dapati murid belum paham betul atau  ragu dengan apa yang ia fahami, maka dapat dilakunan pembelajaran ulang tentang materi tersebut.

Apa yang harus kita lakukan jika murid menjawab pertanyaan dengan keliru? Ingat, ada dua tipe jawaban keliru. Ada jawaban keliru karena murid kurang usaha sehingga muncul jawaban asal-asalan, dan ada jawaban keliru karena murid memang kurang paham. Terhadap dua tipe jawaban ini kita harus menanggapi segera. Memberitahukan bahwa jawaban mereka masih salah. Dengan tanggapan yang tidak merendahkan secara personal.

Untuk menanggapi jawaban yang asal-asalan memang kadang agak sulit. Karena kritik secara personal lebih cenderung merugikan dalam pendidikan. Murid yang merasa disudutkan bisa berakibat tidak menyukai terhadap guru dan mengurangi kegigihan dalam berusaha. Setelah guru memberitahukan bahwa jawabannya belum benar maka harus segera berpindah kepada murid berikutnya. Tidak memberikan pujian merupakan tanggapan yang terbaik.

Tanggapan terhadap murid yang menjawab keliru karena belum paham diberikan dengan strategi yang berbeda. Yaitu dengan melontarkan pertanyaan yang lebih sederhana. Atau dengan memberikan pancingan agar murid mengingat sesuatu untuk mengarahkan pada jawaban yang benar. Kalau belum juga murid terpancing maka sebaiknya kita beralih kepada murid berikutnya untuk membetulkan jawaban yang diberikan oleh temannya.

Berapa lama sebaiknya guru menunggu jawaban murid? Ini hal yang penting. Untuk memastikan bahwa kegiatan belajar berlangsung dengan baik. Menunggu terlalu lama bararti banyak waktu yang terbuang dan menjadi kelas lengang. Waktu yang terlalu pendek dalam menunggu jawaban berarti tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi murid untuk memikirkan jawaban.

Waktu tunggu harus disesuaikan dengan tipe pertanyaan. Untuk pertanyaan tertutup dan membutuhkan ingatan faktual sederhana, waktu tunggu yang optimal adalah tiga detik atau sedikit ditambah. Untuk pertanyaan terbuka dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi membutuhkan waktu tunggu yang lebih lama, bisa sampai 15 detik. Menunggu yang terlalu lama, lebih lama dari 15 detik akan membuat murid mulai gelisah. Ketika waktu tunggu sudah habis maka guru segera menyederhanakan pertanyaan.

Penulis : Salim Abu Hanan, Pimpinan Madin Saqura Sleman