» » Anak, Anugerah dengan 1000 Tantangan

Anak, Anugerah dengan 1000 Tantangan

Penulis By on Friday, January 6, 2017 | No comments


Oleh : Imam Nawawi

Rabu, 3 Juni 2015, sejak pagi, perasaan saya memang sangat bahagia. Selain karena akan mengikuti acara Gathering Media bersama teman-teman Baitul Maal Hidayatullah (BMH), saya juga diberi kesempatan menjemput Pakar Psikologi Forensik Tanah Air, yang cukup perhatian sama saya, yaitu Mas Reza Indragiri Amriel.

Akan tetapi, saya tidak akan bercerita tentang bagaimana perjalanan saya sama Mas Reza, karena publik jauh lebih mengenal siapa itu Mas Reza. Tetapi, saya akan mengupas statement yang dilontarkan oleh artis yang digemari publik Indonesia, Dude Herlino tentang anak. Ketika ditanya tentang bagaimana tanggapan Dude terhadap anak-anak Rohingya yang akan ditampung di pesantren untuk mendapat hak pendidikannya selama setahun di Indonesia. Dengan semangat suami dari Alyssa Soebandono itu menjawab.

“Anak itu dipandang dari kaca mata apapun, tidak berdosa. Alhamdulillah, saya baru saja dianugerahi anak, baru empat bulan usianya. Sungguh luar biasa. Saya berpikir bersama istri, bagaimana mendidik anak ini. Bukan soal materi, tetapi bagaimana menghidupkan hatinya dengan agama, hingga baik masa depan dan maslahat bagi sesama,” begitu kurang lebih penyampaiannya dengan mimik sangat serius tapi tetap dengan penampilan cool layaknya ketika ia sedang akting di layar kaca.

Pernyataan Dude tersebut, mengingatkan saya pada satu diskusi dengan orangtua dari Mas Reza Amriel. Dalam kesempatan diskusi itu, penulis bertanya, “Apa yang bapak ajarkan kepada anak bapak, hingga hari ini menjadi orang yang bisa memberi manfaat bagi kehidupan?” Sang bapak tersenyum, lalu menjawab, “Tidak ada yang saya lakukan dan saya tekankan terhadap anak saya sejak kecil kecuali pendidikan agama. Itu saja,” katanya sembari tersenyum.

Beliau melanjutkan, “Apalagi ia anak saya satu-satunya. Kata orang, anak semata wayang itu kalau tidak jadi iblis, ya jadi malaikat. Alhamdulillah, atas rahmat Allah anak saya menjadi anak yang berguna,” terangnya. “Tetapi kalau saya pikir dan renungkan, sungguh saya tidak berperan apa-apa. Itu semua semata-mata rahmat Allah yang mungkin karena anak saya memang saya tempa untuk mengenal agamanya dengan baik dan mengamalkannya sejak kecil,” imbuhnya.
Jawaban yang boleh dikatakan singkat itu sungguh memberikan inspirasi penting bagi para orangtua tentang bagaimana mendidik anak. Karena yang sejatinya paling perlu dikhawatirkan orangtua terhadap masa depan anak sebenarnya bukan soal profesi dan pendapatan. Lebih dari itu adalah iman, ketakwaan dan kemanfaatan buah hati kita bagi kehidupan.

Kembali ke topik awal, saya benar-benar bahagia mendengar pernyataan Dude tersebut. Sebab, hal itu juga sudah ditekankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Bahkan seorang Nabi Ibrahim tidak pernah lelah dan berhenti mengingatkan putra-putranya tentang pentingnya tauhid.

Mengapa Agama?
Agama dalam hal ini Islam adalah pondasi penting bagi setiap Muslim. Dude mengatakan, “Zaman saya SD sangat berbeda dengan zaman anak saya SD nanti. Artinya, jika bukan agama yang diutamakan, tentu seorang Muslim akan kehilangan arah. Oleh karena itu, penanaman agama (akidah) mutlak yang utama,” ungkapnya.

Dan, dalam beberapa obrolan saya bersama para tokoh publik, rata-rata mereka mengkhawatirkan pendidikan agama putra-putrinya. “Bukan apa, ya. Kalau pendidikan umum itu kan banyak sekolahnya. Mau ke Barat juga bisa. Tetapi, mengenalkan akhirat pada anak kita, ini yang paling sulit Mas,” begitu salah satu ungkapan seorang tokoh yang terus saya ingat.

Jadi, tidak salah jika dikatakan anak adalah anugerah dengan 1000 tantangan. Itulah mengapa Islam menyebut anak sebagai amanah bahkan dalam sikon tertentu bisa meruncing menjadi fitnah. Terlebih zaman sekarang, anak-anak berada dalam kepungan bahaya moral yang luar biasa.

Pada akhirnya, kita hanya bisa berdoa, semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menjawab 1000 tantangan dalam mendidik anak. Karena anak yang sholeh adalah aset hidup yang sesungguhnya, yang melampaui ruang dan waktu alias dunia wal akhirat. Wallahu a’lam.

Penulis: Imam Nawawi, Penulis di hidayatullah.com

Foto: kompasiana.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya