» » Jangan Biasakan Manja

Jangan Biasakan Manja

Penulis By on Wednesday, January 11, 2017 | No comments




Oleh: Prof. Dr. Ir. Indorto, D.E.A.

Suatu sore pulang dari kantor, saya lihat ada seorang ibu, tetangga yang sedang mengobrol dengan istri di rumah. Sepintas saya mendengar ibu itu berkonsultasi tentang putrinya yang sedang hamil pertama, dia tidak mau makan apa-apa, lemas hanya tiduran saja.

Malam harinya saat makan bersama, saya menanyakan pada istri sebetulnya ada apa, kok diskusinya terlihat serius. Lalu dia cerita, bahwa putri tetangga tadi, saat ini sedang hamil muda, kondisi badannya sangat lemah. Semula dia tinggal di kota lain bersama suaminya, namun karena tidak ada yang mengawasi kondisi kehamilannya, lalu oleh ibu tadi dibawa pulang agar ada yang mengarahkannya.

Memang dalam kesehariannya putri ibu tadi tidak mempunyai nafsu makan sama sekali, badan terasa lemas, hanya tiduran, malas, tidak ada niat untuk melakukan aktivitas.

Ketika minta dimasakkan jenis sayur yang dia pesan, setelah dibuatkan, ternyata dia hanya makan sedikit sekali, hanya satu-dua sendok saja. Tetangga itu tanya ke istri, sebaiknya diberi obat apa. Dijawab istri, bahwa tidak ada obatnya. Kalau timbul rasa sakit atau malas itu sesuatu yang wajar karena memang ada perubahan hormon, tetapi itu semua harus dilawan, jangan dijadikan kebiasaan.

Kata istri, dalam kajian akademik tentang kehamilan, ada istilah “Psiko-ekonomi”. Untuk menjelaskan hal ini, dia memberikan contoh para wanita yang menjadi pekerja sebagai buruh bangunan. Mereka melayani para tukang secara serabutan, mengambilkan apa-apa saja yang diperlukan oleh tukang, seperti mengambilkan air, membawakan batu bata, batu kali atau peralatan pertukangan. Mereka bekerja mengandalkan otot, mengandalkan fisiknya. Nah, ketika mereka hamil, apakah lalu mereka tidak bekerja? Tidak ...!!! Mereka tetap bekerja, karena kalau tidak, maka api tungku di dapur tidak akan menyala.

Atau para wanita yang menjadi buruh gendong di pasar tradisional. Mereka membantu para ibu-ibu yang belanja di pasar, membawakan barang-barang yang sudah dibeli dengan cara digendong, karena di pasar tidak ada trolley atau kereta dorong yang biasa dipakai untuk menaruh barang belanjaan. Buruh gendong yang bawaannya cukup banyak itu berjalan mengikuti ke mana arah ibu belanja, dan lama kelamaan barang gendongannya semakin banyak, semakin berat. Pada saat buruh gendong itu hamil, apakah lantas mereka lalu tidak bekerja? Tidak...!!!. Mereka harus tetap bekerja agar keluarganya tetap bisa makan.

Apakah tidak ada perubahan hormon pada mereka ?. Pasti ada, karena mereka juga sama-sama makhluknya Allah. Tetapi mengapa mereka tidak merasakan badan lemas, mual-mual, dan nafsu makannya tetap ada. Itulah kebesaran dan keadilan Allah Ta’ala. Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuannya....    

Sebenarnya perubahan hormon, rasa lemas, mual atau ketidaknyamanan yang lain itu tetap ada, hanya saja berbagai perubahan tersebut tidak dirasakan, dapat tertutup oleh besarnya rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarganya. Sedangkan putri tetangga tadi tidak mempunyai tanggung jawab selain terhadap dirinya sendiri, dia telah terbiasakan manja oleh keadaan. Nafkah suaminya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Untungnya sang suami memahami kondisi istrinya, sehingga dia rela hidup sendiri dan pasangannya tinggal bersama kedua orangtuanya.   

Istri juga memberitahu, bahwa orang hamil itu harus tetap makan, bahkan kebutuhan gizinya juga harus tercukupi. Kondisi apapun harus dipaksa, sang ibu harus memikirkan masa depan janinnya, jangan egois. Karena asupan makan itu tidak hanya untuk ibu yang sedang hamil, namun juga untuk janin yang sedang dikandungnya. Kalau tidak ada makanan yang masuk, lalu dari mana si janin akan mendapatkan asupan gizi. Kalau asupan gizi tidak baik, maka pertumbuhan janinnya juga akan terhambat.  

Sebelum pulang, tetangga tadi bergumam, mengapa dia terlalu memanjakan anak perempuan satu-satunya itu. Untuk menebus kesalahannya dia berjanji untuk berusaha semaksimal mungkin membangkitkan semangat putrinya, sebelum terlambat, agar janinnya bisa tumbuh sehat. Dia menyadari bahwa kehamilan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, sehingga kita harus mensyukurinya. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indorto, D.E.A., Pimpinan Umum Majlaah Fahma, Guru Besar Fakultas Teknik UGM Yogyakarta
Foto : google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya