» » Pembinaan Ibadah kepada Anak

Pembinaan Ibadah kepada Anak

Penulis By on Friday, January 6, 2017 | No comments


Oleh : Warsito
           
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaaha : 132)

Tidak sedikit anak usia SD yang shalatnya belum sempurna lima waktu dengan berbagai alasan yang dia ungkapkan.

Bangunnya jam enam, jadi tidak sholat subuh!”
Saya lupa sholat Isya, karena habis belajar terus tidur!”
Saya lupa sholat Ashar, karena main!”

Itulah beberapa ungkapan anak-anak ketika ditanya tentang shalatnya. Masa anak-anak bukan merupakan suatu masa pembebanan atau pemberian kewajiban. Akan tetapi merupakan masa persiapan, latihan, dan pembiasaan untuk menyambut masa pembebanan kewajiban (taklif) ketika ia telah baligh nantinya. Dengan demikian, pelaksanaan kewajiban nantinya akan terasa mudah dan ringan. Di samping juga sudah memiliki kesiapan yang matang dalam mengarungi kehidupan dengan penuh keyakinan.

Banyak manfaat dari melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Ibadah akan menjadikannya selalu merasa berhubungan dengan Allah Ta’ala. Ibadah akan banyak meredam gejolak kejiwaan dan mengendalikan hawa nafsu. Hatinya akan senantiasa tenang terutama ketika membaca atau mendengarkan Al Qur’an, mengerjakan shalat, ataupun di kala mendengarkan adzan. Hal ini semua dapat diawali dengan pendidikan yang Islami.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. memberikan kabar gembira yang besar kepada anak-anak yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah. Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidaklah seorang anak yang tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemputnya, melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya setara dengan 99 pahala shidiq (orang yang benar/jujur)” 

Berikut tahapan-tahapan dalam membimbing anak untuk beribadah sholat:
(1) Tahap memerintahkan shalat. Kedua orangtua bisa mulai membimbing anaknya untuk melakukan shalat dengan cara mengajaknya untuk melakukan shalat di sampingnya. Hal ini dimulai ketika sang anak sudah mulai bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri.  Abu Dawud meriwayatkan dari Muadz bin Abdullah bin Habib Al Juhani bahwa ia meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya kapan anak itu mulai diajak melakukan shalat, maka beliau pun menjawab, “Jika ia telah mengenal tangan kanan dan kirinya, maka perintahkan untuk menunaikan shalat.”

(2) Tahap pengajaran shalat. Pada periode ini, anak mulai diajarkan rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajiban dalam menunaikan shalat beserta hal-hal yang bisa membatalkan shalat. Nabi telah menetapkan usia tujuh tahun merupakan awal periode pengajaran. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan “Ajarilah anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah ia jika telah mencapai sepuluh tahun ia mengabaikannya.

(3) Tahap memerintahkan shalat dan pukul jika enggan. Periode ini dimulai ketika anak sudah berusia 10 tahun. Jika ia mengabaikan shalat atau bermalas-malasan dalam menunaikannya, maka kedua  orangtua boleh memukulnya sebagai sebuah pelajaran baginya atas pengabaian tersebut, dan juga atas kezalimannya mengikuti jalan syaitan. Hal ini tidaklah mengapa dilakukan jika disertai dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang kenapa ia mesti dipukul. Di samping juga membacakan hadits nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  kepadanya tentang masalah ini.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Bin Ash ra, bahwa ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Suruhlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika mengabaikannya ketika berusia sepuluh tahun serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Abu Dawud dan Hakim)

Jadi, orangtua memiliki peran besar dalam menamkan kebiasaan ibadah anaknya. Mengingatkan, menyuruh, dan mengajak anak beribadah merupakan kewajiban orangtua. Semoga anak-anak kita termasuk anak sholeh yang selalu melaksanakan pembiasaan hidup Islami.

Penulis: Warsito, Pendidik di SDIT Salsabila Banguntapan Yogyakarta

Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya