» » “Aku Sudah Tidak Kuat!”

“Aku Sudah Tidak Kuat!”

Penulis By on Tuesday, February 21, 2017 | No comments





Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

“Aku sudah tidak kuat lagi.... aku ingin mati!”. Kalimat tersebut ditulis dalam WhatsApp (WA) oleh seorang anak, pelajar SMP yang tinggal sendiri di sebuah kota bersama dua pembantu, terpisah dengan orangtuanya yang hidup di kota lain.

Di suatu pagi, tiba-tiba putri dari seorang teman menangis, lari tergopoh-gopoh turun dari lantai dua sambil memegang hp. “Ma ini teman adik, si Nuri (bukan nama sebenarnya) bagaimana?  Katanya dia ingin mati, dia sudah minum obat banyak.” Tanpa berpikir panjang, teman tadi langsung meninggalkan dapur walau kebetulan saat itu dia sedang menyiapkan sarapan buat suami dan anaknya. Mengapa dia tadi langsung bergegas pergi bersama anaknya ke rumah Nuri, karena mereka tahu bahwa beberapa hari sebelumnya Nuri memang sering mengeluh pada putrinya, bahwa orangtuanya jarang sekali menelepon, apalagi menengoknya. Dia merasakan tidak ada perhatian dari orangtuanya, tidak seperti teman-temannya yang lain.

Benar, sampai di tempat tinggal Nuri, dia sudah dalam kondisi yang sangat lemah. Kedua pembantu tidak tahu apa yang dilakukan oleh putri majikannya, karena memang mereka tinggal di belakang, terpisah dengan rumah induk yang cukup besar. Nuri langsung dibawa ke rumah sakit, dan untung obat-obatan yang telah ditelan bukan termasuk obat keras, hanya jumlahnya banyak, jauh melebihi dosis normal. Kata dokter yang menangani, seandainya tadi tidak segera dibawa ke rumah sakit, akibatnya akan menjadi serius juga.

Mengetahui berita tersebut, saya dan istri betul-betul heran, tidak bisa memahami jalan pikiran orangtuanya. Bagaimana mereka sampai hati menitipkan anaknya pada orang lain, yang sebetulnya masih sangat perlu kasih sayang dan perhatian dari orangtua. Apakah mereka tidak ingin menyaksikan anaknya berangkat sekolah dengan wajah berseri. Apakah ibu itu juga tidak punya keinginan untuk menyambut putrinya saat pulang sekolah dengan wajah cemberut, karena diganggu oleh temannya di sekolah, dan cemberut akan sirna ketika dia mendengar bisikan ibunya. “Enggak apa-apa nak, sebenarnya temanmu tadi hanya ingin menggoda karena kamu cantik.

Ternyata, si anak itu telah putus asa, karena tidak ada orang lain yang dapat memberikan nasehat atau saran-saran atas masalah-masalah yang dia alami di sekolah. Memang dalam beberapa waktu sebelumnya Nuri telah melakukan beberapa pelanggaran terhadap peraturan sekolah. Pernah suatu saat, anak tadi tanpa sengaja, hp-nya terbawa ke dalam kelas, dia lupa menaruhnya dalam mobil. Dia mendapat teguran agak keras dari gurunya karena pelanggaran aturan ini bukan yang pertama kali.

Kemudian setelah itu, si anak mendapatkan peringatan lagi, karena saat akan ujian, ditemukan catatan pelajaran yang akan diujikan terletak di atas mejanya. Dia dituduh merencanakan untuk berbuat curang, padahal menurut pengakuannya, dia samasekali tidak ingin melakukan hal itu. Sebenarnya dia hanya memanfaatkan waktu untuk membaca catatan sebelum ujian dimulai, karena dia merasa belum siap berhubung beberapa hari sebelumnya dia sakit.

Dengan bertubi-tubinya persoalan yang dihadapi dan tidak ada seorangpun yang bisa diajak berbagi, rasa frustasi menghinggapi Nuri. Sebagai anak kecil, jelas sekali dia tidak mampu menyampaikan semua persoalan kepada orangtuanya yang hanya lewat telpon, dia ingin lebih dari itu. Dia ingin menangis di pangkuan ibunya sambil meceritakan semua persoalan yang dihadapi. Akhirnya anak kecil itu tidak mampu berpikir lebih jauh lagi, jalan pintas telah menjadi pilihannya.

Seharusnya pelanggaran tersebut bisa dihindari seandainya sang ibu setiap pagi sebelum buah hatinya berangkat sekolah, mengingatkan agar menaruh hp-nya di mobil. Daya tahan putrinya juga akan semakin baik, manakala si ibu dapat menyiapkan makan pagi dengan baik. Si putripun juga tidak harus memanfaaatkan waktu sempit untuk membaca sebelum ujian, seandainya sang bapak selalu mengingatkan untuk belajar sehabis sholat maghrib dan mengaji.

Pelajaran yang sangat berharga buat kita semua, semoga kita selalu mempunyai waktu untuk anak-anak kita, demi masa depan mereka. Wallahu a’lam bish showab.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya