» » Pujian yang Tidak Mendidik

Pujian yang Tidak Mendidik

Penulis By on Tuesday, February 14, 2017 | No comments




Oleh : M. Abdurrahman

Orangtua pastinya akan  melakukan banyak hal untuk bisa membangun semangat anak dalam belajar. Salah satunya adalah dengan seringkali memberikan pujian sebagai penghargaan atas pencapaian yang dilakukan oleh anak-anak. Dengan diberikan pujian, seolah memberikan semangat dan motivasi baru pada anak agar mereka berusaha lebih keras dan menikngkatkan kemampuannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, meskipun pujian terkadang memang diperlukan dalam rangka membangun semangat pada diri anak. Ternyata, terlalu banyak memberikan dan mengobral pujian pada mereka juga berdampak tidak baik. Mengapa demikian? Ketika anda seringkali memuji anak atau bahkan nada pujian ini seolah bernada memuja anak-anak dengan mematikan oranglain yang notabene adalah kompetitornya, akan dapat berdampak tidak baik pada mental si anak.

Keseringan memuji anak dengan nada yang berlebihan akan membangun mental pada anak yang mana mereka cenderung lebih berpikir hanya dirinya yang terbaik dan mengganggap oranglain berada dibawahnya. Nah, ketika mental seperti ini terbangun dalam diri anak, maka yang terjadi adalah kekhawatiran kita sebagai orangtua.

Sewaktu harapan anak yang menganggap dirinya adalah yang terbaik dan orang lain tidak akan bisa menandingi kemampuan, namun hal ini tidak berbanding lurus dengan kenyataan sebenarnya. Maka bisa jadi tekanan yang hebat dan kecewa yang mendalam menerpanya. Alhasil, depresi dan bahkan frustasi adalah hal yang akan dihadapinya dengan susah payah.

Ada beberapa pujian yang sebaiknya tidak dikatakan pada anak. Pertama, “Kamulah yang terbaik di kelas”. Biasanya perkataan ini diucapkan orangtua ketika anak memperoleh nilai ulangan terbaik di kelas. Atau mendapat peringkat pertama di rapot, Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Sudah tentu orangtua akan memuji anak atas capaiannya tersebut. Namun, jika tidak hati-hati dalam memuji, justru bisa melemahkan mental anak.  Memuji anak dengan menyatakan bahwa mereka adalah yang terbaik di kelas secara tidak langsung membentuk pola pikir baru pada anak yang mana mereka beranggapan bahwa pencapaian mereka adalah sesuatu yang hebat, namun dengan membuat mereka berpikiran jika teman-teman yang lainnya tidak akan mampu lebih hebat dari kemampuannya.

Nah, jika hal ini terjadi pada anak anda, maka tebak hal apa yang akan terjadi dengannya? Ya, karakter arogan dan merasa dirinya paling hebat akan secara otomatis tertanam dalam diri anak. Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Untuk itulah, ketika anda hendak menyampaikan pujian pada anak-anak atas pencapaiannya di sekolah. Maka sebaiknya, perhatikan kalimat yang akan anda sampaikan. Sampaikan pada anak dengan lembut dan upayakan maksud anda tersampaikan dengan baik yang akan membuat mereka termotivasi untuk lebih baik.

Kedua, kamu hebat! Memberikan pujian dengan mengatakan “kamu anak hebat” memang boleh-boleh saja disampaikan pada si buah hati. Akan tetapi, anda juga harus piawai membaca situasi, apakah anak anda benar-benar layak diberikan pujian hebat atau tidak. Jika ia hanya berhasil merapikan kamar tidurnya atau mempersiapkan buku pelajaran untuk dipelajari esok hari di sekolahnya, apakah anda tidak berpikiran jika memberikan pujian ini terlalu berlebihan? Sebaiknya, jangan mencipatakan kesan bahawa anak tidak perlu berjuang keras dan mengupayakan segala hal pun mereka akan meajadi seseorang yang hebat.

Nah untuk itulah, sebaiknya perhatikan sewaktu ibu memberikan predikat ini pada si kecil. Daripada menghujani si kecil dengan pujian yang demikian, sebaiknya ijinkan anak untuk mengerjakan pekerjaan yang terkesan lebih sulit dan sedikit menantang di usianya. Seperti memberikan support agar anak ikut lomba MIPA atau lomba pelajaran lain yang sedikit menguras otaknya. Nah, pada waktu inilah anda bisa memberikan predikat 'anak hebat' pada si kecil. Dengan begini mereka akan mampu berpikir bahwa untuk menjadi anak yang hebat mereka perlu menaklukan dan melalui tantangan yang cukup sulit untuknya.

Ketiga, “Kamu paling berani, yang lain penakut.” Sewaktu anak diikut sertakan dalam sebuah tantangan seperti mengikuti lomba, anak berhasil melewati tantangan lomba dengan sangat baik. Tidak seperti anak lain yang terlihat rewel atau takut. Pada situasi ini, memang tidak salah memberikan pujian pada anak atas keberaniannya dalam menaklukan tantangan tersebut. Namun, anda juga perlu mengingat bahwa pujian tersebut tidak boleh disertai dengan nada merendahkan oranglain, apalagi membandingkan bahwa oranglain penakut dengan menyebutkan anak anda paling berani. Memberikan pujian seperti, "Kamu berhasil menaklukan tantangan itu, sayang. Mama sangat bangga padamu", saja cukup membuat kerja keras anak dihargai dengan baik.

Selain itu, agaknya akan lebih baik jika anda mempercayakannya pada kemampuan anak anda dibandingkan dengan terus-menerus memuji anak dengan seolah menaikan derajat mereka lebih tinggi dari anak-anak lainnya. Percayalah, hal ini malah akan semakin membuat harapan anak akan kemenangan semakin besar, sementara ketika harapannya ini tidak sebanding dengan kenyataan, maka yang akan mereka dapatkan adalah kekecewaan. Nah, ketika anak sudah kecewa, hal yang paling ditakutkan terjadi pada mereka adalah keengganan dan rasa percaya diri mereka yang lenyap dan enggan mencoba kembali.

Penulis : M. Abdurrahman, Pengamat Dunia Anak
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya