» » Tak Ada Kata Menyerah

Tak Ada Kata Menyerah

Penulis By on Sunday, February 12, 2017 | No comments




Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Allah tidak akan membiarkan umatnya yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah, untuk mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi”. Begitulah kira-kira ungkapan yang pantas disampaikan kepada seseorang yang belum saya kenal sebelumnya, meninggalkan ruangan tempat saya memberi kuliah.  

Suatu pagi sekitar jam 6.30, saya sudah sampai di kampus, karena memberikan kuliah jam tujuh. Saat masuk ke gedung yang suasananya masih sepi, saya berpapasan dengan seseorang yang berpenampilan sahaja, menurut perkiraan saya dia bukan mahasiswa. Dari jalannya yang pelan dan wajah penuh keraguan, saya menebak pasti dia belum pernah masuk ke gedung ini. Agar dia tidak merasa asing, saya mengajaknya senyum, siapa tahu dia memerlukan informasi dari saya. Dia membalasnya juga, meskipun rasa keraguan di wajahnya tidak berkurang. Ternyata dia lewat begitu saja, tidak menanyakan sesuatu. Lalu saya masuk ke ruang dosen menunggu waktu kuliah.

Menjelang jam tujuh, saya pergi ke ruang tata usaha untuk mengisi daftar hadir, mengambil lembar absensi mahasiswa dan juga tas yang berisi perlengkapan sarana kuliah. Saya naik ke lantai dua, masuk ke ruang dan mulailah kegiatan perkuliahan. Setelah  berlangsung dua setengah jam, saya mengakhiri kuliah, mematikan viewer, komputer dan microphone. Lalu saya mempersilahkan mahasiswa untuk keluar terlebih dahulu, karena kalau tidak, biasanya mereka akan menunggu sampai dosennya keluar. Hal ini juga menjadi salah satu perilaku yang saya hargai, mereka masih membiasakan diri, anak muda mendahulukan yang lebih tua.

Pada saat semua mahasiswa sudah keluar, dan selagi saya sibuk membenahi sarana perkuliahan, tiba-tiba di samping saya sudah berdiri seseorang yang ternyata orang yang tadi pagi ketemu di lantai bawah. Tanpa memperkenalkan diri, dia langsung mengatakan “ Pak, saya ingin mengajukan proposal”.

“Oh...dugaan saya keliru, ternyata dia juga mahasiswa,” kata saya dalam hati, karena biasanya yang menghadap saya untuk mengajukan proposal adalah mahasiswa. “Proposal penelitian mas?”. “Bukan Pak, proposal peminjaman dana”, jawabnya pelan, hampir tidak terdengar; saya jadi heran.

Dokumen yang dia sebut sebagai proposal saya terima, saya baca. Ternyata bukan proposal, hanya surat selembar yang isinya singkat, identitas dan permohonan peminjanan sejumlah dana yang akan dipakai untuk usaha.

“Lho, kalau seperti ini ya namanya bukan proposal mas Imam (bukan nama sebenarnya). Mestinya, mas Imam juga membuat rencana usaha yang akan dilakukan dengan dana itu,” Karena saya tertarik akan keberaniannya untuk meminjan dana pada orang yang belum dikenalnya, lalu saya ajak diskusi untuk mengetahui siapa sebenarnya mas Imam.  

Memang benar dia baru pertama kali masuk ke gedung perkuliahan kami, dan dia juga bukan mahasiswa. Mas Imam menceritakan perjalanannya mengapa sampai dia memberanikan diri pagi-pagi sekali masuk ke gedung ini. Mas Imam saat itu sebetulnya sedang menjalankan kewajibannya sebagai suami untuk berupaya menghidupi keluarganya. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai tenaga pemasar sebuah produk rumah tangga di ibukota. Namun karena  produk tersebut tersaingi dengan produk impor yang lebih murah, maka produk tersebut kurang laku dan perusahaan mengurangi jumlah pegawainya, termasuk dia.

Atas kesepakatan dengan istrinya, mereka kembali ke kota asal dan membuka usaha dengan sedikit modal yang dibawa dari ibukota. Namun, keberuntungan belum memihak mereka, usahanya gagal. Untuk sementara, sambil menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, istrinya bekerja sebagai tenaga kontrak di sebuah pabrik, yang gajinya jauh di bawah UMR.   

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, baik di perkantoran, pabrik, toko, namun selalu nihil. Akhirnya dia memutuskan kembali untuk berwira usaha, namun dia sudah tidak mempunyai modal lagi, meskipun dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Untuk pinjam ke lembaga keuangan dia juga tidak mempunyai apapun sebagai tanggungannya, yang akhirnya Allah Ta’ala telah memunculkan niat dan keberaniannya untuk masuk ke gedung yang sebenarnya sangat asing baginya. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Foto : google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya