Trik Mengkritik Anak




Oleh : Norhikmah, S.Tp.
 
Jika anak melakukan kesalahan, biasanya secara spontan guru akan terdorong untuk menegur agar anak segera memperbaiki serta tidak mengulangi perbuatannya. Namun kadang sulit bagi kita untuk menyampaikan kritik kepada anak, karena tanggapan anak seringkali di luar dugaan. Ada anak yang langsung menurut dan segera mengubah perilakunya. Namun ada yang melakukan pemberontakan dan ada pula yang tersinggung lalu menarik diri atau melancarkan aksi perang dingin. Tanggapan yang terakhir ini paling banyak dilakukan anak apabila dikritik oleh guru atau orangtuanya. 

Mengkritik atau menunjukkan kesalahan anak memang bukan hal yang mudah. Pesan utama dari penyampaian kritik adalah agar anak menyadari kesalahan dan memperbaikinya, sehingga ketika dikritik anak tetap merasa nyaman, tidak perlu merasa bersalah berkepanjangan dan tidak memberi orang yang mengkritiknya karena tersudutkan. 

Untuk bisa mengkritik anak dengan baik, hal-hal yang perlu diperlihatkan adalah:
1.  Terlebih dahulu bisa membedakan antara perilaku dan pelaku.
“Pelaku” adalah individu anak yang sedang melakukan sesuatu. Sedang “perilaku” adalah kegiatan yang sedang dilakukannya. Misalnya Umar memukul kucing. Umar adalah pelaku sedang memukul kucing adalah perilaku anak.

2.  Antara pelaku dan perilaku tidak selalu mempunyai konotasi yang sama.
Memukul kucing memang merupakan tindakan yang buruk tapi bukan berarti Umar adalah anak buruk. Anak tetap anak, sekalipun perilakunya buruk. Yang buruk adalah perilakunya, sementara pelakunya, yakni si anak sendiri adalah anak-anak yang baik yang berhak untuk di sayang dan dicintai.

3.  Spesifik, bukan label
Kadang kita sulit membedakan antara memberi tahu tentang perilaku yang salah dengan memberi label tentang karakter kepribadiannya. Ketika di kelas anak terlihat malas mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mungkin kita akan segera mengingatkan atau mengkritiknya. “Dari tadi kok belum selesai sih? Kamu memang pemalas!” Pada saat itu anak mungkin memang sedang malas, tapi kita tidak berhak memberinya label sebagai anak malas atau pemalas. Bisa jadi, label tersebut diartikan oleh anak sebagai anggapan bahwa ia selalu malas, dan tidak pernah rajin sama sekali. Label negatif yang diberikan guru kepada anak tersebut, bukan tidak mungkin akan membuat anak tersinggung dan sakit hati. Akibatnya tujuan kita mengkritik akan sulit terwujud. Sebaliknya jika kita mengatakan “Sudah cukup lama kamu mengerjakan ini, tapi belum selesai juga. Mengapa kamu hari ini terlihat malas? Bu guru yakin, Mbak bisa bekerja lebih cepat lagi.” Jadi selain kita beritahu secara spesifik tentang kesalahannya, kita juga perlu memotivasi agar ia bisa memperbaikinya.

4.  Memantau progresnya.
Seringkali guru mengomentari perilaku anak didiknya hanya bila mereka melakukan kesalahan sementara jika mereka berbuat kebaikan jarang diakui dan diberi pujian. Ketika anak melakukan kesalahan, kita perlu menegurnya secara spesifik dan sesegera mungkin. Dengan demikian anak mengetahui dia pernah melakukan kesalahan dan juga pernah diakui bahwa ia pernah melakukan hal-hal yang baik. “Wah, bu guru senang, hari ini Mbak bersemangat belajarnya. Pasti tugasnya jadi cepat selesai.”

5.  Lakukan kritik dengan metode “Teguran Satu Menit”
-    Setengah menit pertama : Tegur perilakunya.
Ketika seorang anak berbuat kesalahan, kita harus menegur “perilaku” tersebut, tanpa mencela “pelaku”nya. Anak harus mengerti letak kesalahannya dan mengetahui bahwa kita benar-benar marah, kecewa dan membenci perilaku yang baru saja dilakukannya, sebaiknya pada saat itu dengan sejelas-jelasnya.

-    Jangan diulang, diamkan beberapa detik.
Teguran cukup dilakukan sekali saja. Insya-Allah anak sudah bisa memahami perasaan kita. Kalau hal ini diulang-ulang justru akan menimbulkan kebosanan dan anak merasa di gurui. Dengan didiamkan beberapa detik, diharapkan dalam diri anak sendiri akan timbul perasaan yang tidak enak menghadapi “kemarahan” gurunya.

-    Setengah menit kedua : Hargai Pelakunya.

Menjadi orang yang dikritik bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Oleh sebab itu pastikan anak masih tetap merasa nyaman berada di dekat kita meskipun dia pernah berbuat salah. Yakinkan kepadanya bahwa kita hanya tidak menyukai perilaku tertentunya bukan pribadinya. Yakinlah bahwa kita tetap menyayanginya karena mereka pada dasarnya adalah anak-anak yang sholih dan sholihah yang patut dipuji dan dihargai.

Norhikmah, S.Tp., Guru SDIT Hidayatullah, Sleman Yogyakarta
Foto: http://www.dailymoslem.com

Abu Bakar Ash Shiddiq RA Tentang Sebuah Cinta

 
Oleh: Albar Rahman

Adakah cinta seorang insan akan agamanya yang begitu kuat betapa Allah puncak cintanya...
Bagaimanakah mencitai Rasulillah dalam arti kesetiaan...
Saat tepat semacam apakah membuktikan semua cinta ini... 

Hebat memang hebat insan itu hadir dengan nalar sehat betapa Allah adalah pencipta segalanya....
Insan itu hadir membenarkan RasulNya tatkala keramaian mendustakan...
Demi Allah dan RasulNya inilah gambaran cinta Abu Bakar RA yang abadi dan menyejarah...

Sebuah teladan Indah dalam gayyah akan arti sebuah tujuan karena Ilahi...
Menjadi pandangan kesempurnaan cinta untuk penerus yang memilih jalan cinta dalam arti setia pada kebenaran...
 
Sungguh diri berharap mampu menempuh jalan cinta ini walau liku dan terjal harus dilewati...
 
Albar Rahman, Santri dan Mahasiswa S1 Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia
Foto: google

Tuntunan Berdoa di Sekolah




Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Hal yang paling berbeda dalam berdoa di sekolah, dibanding di tempat lain adalah tujuannya. Tujuan berdoa di sekolah adalah untuk pendidikan. Praktek berdoa untuk membiasakan. Namun karena pentingnya doa, karena keutamaan doa sebagai salah satu ibadah, hendaklah di sekolah pun kita tetap berdoa sebagaimana seharusnya. Tetapi kerena dilaksanakan di dalam lingkungan pendidikan, maka tetap ada pemakluman .

Beberapa hal yang terkait dengan tata cara berdoa adalah; (1) Dilakukan dengan niat semata-mata untuk mencari ridho Allah. (2)  Berdoa dengan sikap; - tadlarru’, yaitu merasa rendah hati dihadapan Allah ta’ala dan khiifah, yaitu perasaan takut kepada Allah Ta’ala. (3) Tidak mengeraskan suara, sebagaimana firman Allah pada surat Al A’raf ayat 205. (4) Menggunakan lafaz doa  sebagaimana dicontohkan dalam Al Quran dan Al Hadits. (5) Berusaha konsentrasi dengan  menghilangkan segala macam gangguan.

Berdoa untuk membiasakan atau pendidikan tetap menjadi salah satu tujun berdoa di sekolah. Sedangkan lima hal diatas tetap harus dilakukan. Tentu ada hal-hal yang harus dimaklumi dalam pelaksanaannya di sekolah.

Pertama, niat berdoa. Ini harus menjadi kompetensi dasar dalam pembelajaran. Anak harus tahu bahwa doa bertujuan untuk mendapatkan ridla Allah. Di tingkat TK/RA dan SD/MI kelas bawah masih sulit pelaksanaannya namun harus tetap disampaikan. Dan harus ditekankan lagi di SD/MI kelas atas (kelas 4, 5, dan 6).

Kedua, berdoa dengan sikap tadharru’ dan khiifah (rendah hati dan takut di hadapan Allah Ta’ala). Ini hal yang paling sulit pelaksanaannya di sekolah. Satu sisi guru tidak mungkin menilai sikap hati anak, dan di sisi lain anak usia TK/SD adalah dalam masa bermain. Jika anak berkumpul maka apapun akan menjadi mainan. Guru tidak akan menyerah dengan keadaan. Sikap hati cukup dilihat indikatornya, yaitu sikap yang tenang dan khusu’.

Termasuk guru yang menyerah. Jika ia menjadikan waktu berdoa sebagai teknik untuk menenangkan murid. Misalnya guru sudah mau menyapa tetapi murid belum tenang maka guru menyeru untuk membaca doa sebelum belajar. Otomatis murid akan terkondisi dengan mengucapkan doa secara serentak.

Sebelum berdoa kondisikan dulu. Agar anak tenang, duduk dengan baik. Tidak ada apapun di tangannya. Tercipta kondisi dan sikap yang menggambarkan tadharru’ dan khiifah . Barulah dengan tenang guru menyampaikan maksud doa yang akan dibaca dan mulai berdoa.

Ketiga, tidak mengeraskan suara. Agaknya inilah yang perlu pemakluman. Karena bertujuan untuk pendidikan maka dalam beberapa hal perlu dikeraskan sampai batas tertentu. Batas kemanfaatannya. Terutama untuk tingkat TK dan SD kelas bawah. Mengapa perlu dikeraskan? Pertama, guru akan lebih mudah mengontrol bacaannya. Kedua, lebih efektif untuk menghafal selalu mendengarnya. Ketiga, mudah berimbas. Anak yang belum hafal akan langsung mengikuti temannya yang sudah hafal. Tidak perlu diajari secara khusus, dan keempat sebagai pendorong anak terus bersemangat meskipun diulang-ulang.

Tetapi untuk SD kelas atas, di mana anak sudah teruji hafal dan benar ucapan doanya maka sudah tidak perlu dikeraskan lagi. Karena akan mengurangi sikap tenang dan khusuk jika harus membaca beramai-ramai.

Keempat, Menggunakan lafaz-lafaz doa  sebagaimana dicontohkan dalam Al Quran dan Al Hadits. Allah Ta’ala Maha Mendengar yang mengetahui semua doa dengan segala bahasa. Tetapi karena doa adalah ibadah khusus yang dicontohkan maka sebaiknya juga menggunakan kata dan kalimat yang dicontohkan dalam Al Quran dan Hadits. Apalagi di sekolah yang berciri khusus agama Islam. Allah dan Rasul-Nya telah banyak memberi contoh doa-doa dalam berbagai hal. Cukuplah dengan itu.

Kelima. Berusaha konsentrasi dengan  menghilangkan segala macam gangguan. Di luar sekolah kita dapat mencari waktu khusus dan tempat yang khusus untuk berdoa. Sehingga bisa konsentrasi. Tidak demikian halnya dengan sekolah. Sekolah adalah tempat berbagai kegiatan belajar. Karena berdoa adalah salah satu kegiatan belajar yang penting maka harus diupayakan anak bisa konsentrasi ketika berdoa. Terutama untuk tingkat SD kelas atas.

Terakhir, jangan sampai kegiatan“berdoa” jatuh menjadi kegiatan formalitas yang rutin, sambil, dan dilakukan seadanya. Misalnya doa membuka dan mengakhiri pelajaran, doa saat upacara, doa sebelum dan sesudah makan dan sebagainya, ketika menjadi formalitas dilakukan sambil lalu saja. Sangat disayangkan.

Penulis : Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al Kautsar Sleman
Foto: google

Tidak Mau Berdoa Kepada Allah Ta’ala itu Menyombongkan Diri




Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Berdoa kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah (HR At Tirmidzi, HR Abu Dawud, HR Ahmad, HR An Nasa’i, HR Ibnu Majah, HR Ath Thabari, HR Ibnu Jarir) dan Allah Ta’ala memerintahkan/menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya (QS Ghafir [40]:60). Sebagaimana orang yang mengerjakan shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji dengan ikhlas karena Allah Ta’ala dan mengikuti kaidah syar’iyyah semuanya itu mendapatkan pahala atas amalannya, maka demikian juga dengan orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala berhak mendapatkan pahala atas doa yang dipanjatkan, baik doa tersebut dikabulkan maupun ditunda pengabulannya (Syaikh Musthafa bin Al-Adawy, 2015).

Berdoa kepada Allah Ta’ala merupakan bentuk sikap berserah diri, tunduk, dan butuh seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Ketika seseorang berdoa kepada Rabbnya, berarti ia telah mengakui bahwa Allah Ta’ala-lah yang Maha Sempurna, yang akan mengabulkan doanya, dan hanya Allah Ta’ala yang berkuasa atas segala sesuatu. Ketika ia berdoa, “Wahai Rabb, ampunilah aku, wahai Rabb, rahmati aku, wahai Rabb, berilah aku rezeki, wahai Rabb, berilah aku petunjuk,” maka semua doa tersebut termasuk ibadah karena berisi harapan kepada Allah Ta’ala, pengakuan akan keutamaan-Nya, dan dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 2015).

Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh manusia dalam keadaan miskin dan sangat membutuhkan Allah Ta’ala (QS Fathir[34]:15). Seluruh makhluk miskin dan mereka semua membutuhkan Allah Ta’ala dalam segala hal. Pertama, dari sisi penciptaan, kalaulah Allah Ta’ala tidak menciptakan mereka, niscaya mereka tidak akan pernah ada. Kedua, dari sisi kekuatan dan anggota badan. Ketiga, dari sisi rezeki dan macam-macam kenikmatan, baik yang lahir maupun batin. Keempat, dari sisi memperoleh manfaat dan menghindari bencana. Kelima, dari sisi kebutuhan ilmu dan pengetahuan. Keenam, dari sisi kebutuhan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seandainya Allah tidak memberi taufik kepada mereka, niscaya mereka binasa dan tanpa taufik dari Allah Ta’ala mereka tidak akan baik. Allah AzzawaJalla-lah Mahakaya yang sempurna, tidak membutuhkan apa pun yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya karena kesempurnaan asma dan sifat-Nya.

Berdoa kepada Allah Ta’ala merupakan sarana yang paling tepat untuk mendapatkan manfaat, menggapai harapan yang diinginkan, menolak/berlindung dari yang dibenci, atau menyingkirkan/menolak bahaya. Berdoa sebagai senjata orang beriman akan bermanfaat sesuai dengan kondisi naik-turun keimanannya, sesuai kadar kuatnya keyakinan kepada Allah Ta’ala, keistiqamahan dalam menjalankan perintah-perintahAllah  Ta’ala dan kesungguhan menjunjung kalimat-kalimat-Nya. Bahkan saat doa seseorang ditunda pengabulannya oleh Allah Ta’ala, hal tersebut bisa jadi karena Allah Ta’ala menghendaki yang bersangkutan untuk lebih memperbanyak tangisan dan merendahkandiri di hadapan-Nya (Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri, 2015).

Artinya, barangsiapa tidak mau berdoa kepada Allah Ta’ala atau dia berdoa kepada selain Allah Ta’ala untuk meminta sesuatu yang tidak seorang pun sanggup melakukannya kecuali Allah Ta’ala, maka dia adalah seorang yang sombong dalam peribadatan kepada-Nya. Orang yang tidak mau berdoa tidak akan merasakan manisnya bermunajat kepada Allah Ta’ala, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan kelezatan kepasrahan memohon kepada Rabb-nya (Fuad bin Abdil Aziz AsySyalhub, 2016). Doa menunjukkan kebutuhan dan hajat hamba yang butuh dan lemah, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudharat pada dirinya sendiri. Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mau berdoa dengan seburuk-buruk celaan, menganggapnya sebagai orang yang sombong kepada-Nya, dan memberinya banyak peringatan yang paling keras (Ahmad Farid, 2016).

Kesimpulan orang yang tidak mau berdoa sebagai orang yang sombong didukung oleh penjelasan dalam Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, 2015) bahwa yang dimaksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku” (QS Ghafir[40]:60) yakni orang-orang yang tidak mau berdoa dan mengesakan-Ku. Sufyan Ats Tsauri dan Ibnu Abi Hatim (Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, 2015) menjelaskan bahwa Allah Ta’ala lebih mencintai hamba-hamba-Nya yang meminta dan memperbanyak permintaan kepada-Nya. Sebaliknya Allah Ta’ala lebih membenci hamba-hamba-Nya yang tidak meminta/meninggalkan permohonan kepada-Nya. Doa merupakan perwujudan tauhid seseorang kepada Allah Ta’ala—sebab keselamatan dan keberuntungan seoranghamba.

Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan para hamba-Nya untuk meminta segala sesuatu, baik kebaikan dunia maupun akhirat, karena Allah Ta’ala Mahakaya, tempat penyimpanannya penuh dengan segala sesuatu dan tidak berkurang sedikit pun apa-apa yang telah Dia berikan dari tempat penyimpanan-Nya tersebut (Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri, 2014). Allah Ta’alaberfirman, Mahasuci Dia, Dialah Yang Mahakaya; milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”  (QS Yunus [10]:68).

Jadi, mari senantiasa bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari semua akhlak, perbuatan, dan keinginan yang tercela.

Penulis : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Pemimpin Redaksi Majalah Fahma, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Foto: google

Lebih Mustajab dengan Adab



Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan shalat dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.” Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdoa. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdoa, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah.”

Kemudian datang orang lain, setelah melakukan shalat dia berdoa dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai orang yang tengah berdoa, berdoalah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan doamu.”

Rasulullah menegur dan memberi petunjuk kepada orang itu. Isi doanya bagus tapi caranya berdoa kurang baik. Tampaklah, adab berdoa penting untuk diperhatikan sebagaimana isi doa yang dipanjatkan. Dengan menerapkan adab maka ijabah doa tercapai lebih mudah. Antara lain mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdoa dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya doa.” Kita harus merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan kemurahan-Nya dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang berdoa kepada-Nya. Apabila dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-benarnya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa.” [Al-Baqarah/2: 186]

Allah dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya), pengawasan-Nya dan penjagaan-Nya

“Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka kabulkanlah do’aku ini,’ karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.”

Maksud dari bersungguh-sungguh dalam berdoa adalah terus-menerus dalam meminta dan memohon kepada Allah. Mengulang doa sebanyak tiga kali juga merupakan cara berdoa Rasulullah. Sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata, “Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan suaranya, kemudian mendoakan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon, diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy..., Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy. Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy.’

Berdoa dengan lafaz yang singkat dan padat namun maknanya luas. Yaitu dengan perkataan ringkas dan bermanfaat yang menunjukkan pada makna yang luas dengan lafaz yang pendek dan sampai kepada maksud yang diminta dengan menggunakan susunan kata yang bersahaja, tidak bersajak-sajak. Ibunda ‘Aisyah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdoa dengan doa-doa yang singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdoa dengan yang selain itu.

Demikian juga memanfaatkan waktu mustajab.  Memilih berdoa di waktu yang mustajab akan terharapkan terkabulkan, di antaranya adalah:
a. Pada waktu tengah malam
b. Di antara adzan dan iqamah
c. Di saat dalam sujud
d. Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at
e. Ketika hari ‘Arafah
f. Ketika turun hujan
g. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar).

Penulis : R. Bagus Priyosembodo, Sorang Ustadz
Foto: google

Mengapa Pesawat Bisa Terbang?


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Saat kita mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sering melupakan bahwa semua fenomena di alam ini ada yang mengatur, ada yang menggerakkan. Seperti yang Allah Ta'ala firmankan "... bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadaNya." (Al-Baqarah: 116).

Kita sebagai guru tidak hanya bertugas melaksanakan transfer of knowledge, namun juga berkewajiban untuk membentuk siswa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang selalu menyadari bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah, Dzat penguasa alam. Untuk itu, saat penyampaian materi kuliah kepada mahasiswapun, kami juga berusaha untuk mengkaitkannya dengan Sang Pencipta. Terutama yang terkait dengan materi pembelajaran tentang fenomena alam misal perilaku aliran udara.

Biasanya saya mulai dengan pertanyaan “Mengapa pesawat udara bisa terbang, tidak jatuh ke bawah meskipun beratnya berpuluh ton”. Secara spontan, hampir semua mahasiswa akan menjawab, karena mempunyai sayap.

“Betul - setuju”, “Namun mengapa dengan adanya sayap, pesawat itu bisa tidak jatuh”. Mereka baru mulai berpikir, tidak langsung menjawab, beberapa mulai saling berbisik, berdiskusi.  Biasanya ada satu, dua mahasiswa yang menjawab “Karena bentuk sayapnya seperti sayap burung”.

“Ya saya setuju, sayapnya seperti sayap burung, namun kenapa bentuk seperti itu lalu pesawat bisa terbang? Silahkan diberi penjelasan”. Mereka mulai saling berbisik lagi, ada yang menjawab, “Kalau tidak salah bisa dijelaskan dengan konsep kontinuitas aliran dan Bernoulli Pak.” Salah satu dari mereka ada yang bilang bahwa sewaktu dia naik pesawat pertama kali, sempat mengamati bentuk sayap yang ternyata agak melengkung. Permukaan yang bagian atas lebih melengkung dibanding yang bawah. Biasanya sampai di sini mereka berhenti, tidak bisa menjelaskan lebih lanjut.

Atas ijin Allah Ta’ala, ilmuwan yang bernama Bernoulli telah mengungkapkan adanya kekekalan energi dari suatu zat yang mengalir. Dalam kondisi ideal, energi karena kecepatan (energi kinetik), dan energi karena ketinggian (energi potensial) serta energi karena tekanan, bila ketiganya dijumlahkan maka besarnya konstan. Jadi kalau ketinggiannya tidak berubah, namun alirannya semakin cepat, maka tekanannya akan berkurang. Begitu pula sebaliknya, bila kecepatannya berkurang, maka tekanannya bertambah besar.

Permukaan sayap bagian atas lebih melengkung dibanding yang bawah, maka udara yang melewati atas sayap akan menempuh jarak yang lebih panjang, dibanding udara yang melintas di bagian bawah sayap. Sehingga kalau udara ini diibaratkan sebagai orang yang berlari, maka udara yang melewati bagian atas ini tahu diri, sehingga dia akan berlari lebih cepat agar dia sampai ke ujung belakang sayap bisa bersamaan dengan udara yang mengalir lewat bawah sayap.

Karena kecepatan udara yang lewat atas sayap lebih besar, maka berdasarkan konsepnya Pak Bernoulli tersebut, maka tekanannya akan turun. Sedangkan kecepatan udara yang ada di bagian bawah sayap lebih kecil, maka tekanannya lebih besar, sehingga sayap akan terangkat ke atas, itulah mengapa pesawat bisa terbang.

Setelah menjelaskan hal tersebut, lalu saya tanya ke mahasiswa, mengapa udara yang berada di atas sayap mengalir lebih cepat dibandingkan yang di bawah. Padahal udara adalah benda mati, tidak bisa diperintah seperti halnya manusia. Udara di atas sayap telah mempercepat alirannya, sedangkan yang di bawah tidak. Siapa yang membuat udara ini berperilaku seolah-olah dia bisa diperintah untuk mengalir lebih cepat.

Biasanya mahasiswa akan terdiam, saling memandang, ragu-ragu untuk menjawabnya. Yang mereka pahami mengapa udara di atas sayap bergerak lebih cepat dibanding yang di bawah, sehingga tekanan di bawah sayap lebih besar itu sesuai dengan konsep kontinyuitas dan Bernoulli. Setelah saya tunggu sesaat tidak ada yang berkomentar, akhirnya saya katakan “Allah-lah yang memerintahkan udara di atas sayap tersebut untuk bergerak lebih cepat, seperti dalam firman-Nya.... apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya”. Atas kuasaNYA pesawat tidak jatuh. Wallahu A’lam Bishawab.


Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar Fakultas Teknik UGM dan Pimpinan Umum Majalah Fahma
Foto: google

Nyanyian Darah dan Airmata


Oleh: Albar Rahman

Adik kecilku terdzhalimi.
Adik kecilku teraniaya.


Mereka insan tak berdosa dan suci.
Tapi mengapa tangan kotor Basar Asad tetap menyiksa.


Kediktatoran penguasa tanpa henti.
Demi kepentingan kekuasaannya.


Para sekutu yang tak berhati nurani.
Turut membantai demi hawa nafsunya.


Duhai lirih hati yang tak bertepi.
Ampuni diri yang terbatas geraknya.


Maafkan diri dengan keterbatasan dana pula.
Maklumkan jikalau rintihan doa yang mampu tuk dikirimi.


Relakan diri yang masih lemah dan dari kejauhan hanya menyaksikan dan berdoa.



Penulis : Albar Rahman, Penikmat Sejarah, Mahasiswa Jurusan PAI Universitas Islam Indonesia

Kyai


Oleh: Salim Afillah

Adalah Imam Asy Syafi’i tak pernah berani duduk pada tempat Muslim ibn Khalid ataupun Sufyan ibn ‘Uyainah di Makkah, juga kursi Imam Malik di Madinah dan Muhammad ibn Hasan di Baghdad, meski para guru itu telah meridhainya berfatwa, dan khalayak mengakui bahwa dialah yang paling tinggi ilmunya.

Bagi seorang santri kendil seperti saya, Kyai adalah keramat yang harus dijunjung mulia. Kami takkan menyengaja berjalan di hadapannya. Kami terbiasa melakukan lampah dhodhok, berjalan jongkok kala berada di sekitar duduknya. Kami berrebut membalik sandalnya jika beliau sudah masuk Masjid ataupun tedhak nDalem. Kami berrebut meletakkan sajadah atau surban kami sebagai alas mengaji bandungannya, juga menabur parfum di mejanya. Kami memijat kakinya seusai mengaji sorogan tanpa pernah berani menatap wajahnya. Dan di sela itu semua, diberi kesempatan mencium tangan apalagi menghabiskan minumnya adalah kehormatan tiada tara.

Perintah Kyai adalah amanat yang kokoh bagi santri.

Tersebut riwayat tentang seorang santri dari Mbah Mad Watucongol, Magelang, rahimahullah, yang telah bertahun-tahun mondok berkhidmah dan tiba waktu untuk pulang ke kampung halaman. Maka kepadanya Mbah Mad berpesan, “Nanti kalau sudah berada di rumah, lanjutkanlah pekerjaan Ayahmu.”

Santri ini rupanya sudah ditinggal wafat Ayahnya semenjak kecil. Maka bertanyalah dia kepada Ibunya, apa kiranya pekerjaan sang ayah. Bukannya menjawab, sang Ibu justru menangis tersedu-sedu. Hingga tiga hari berturut-turut, begitu yang terjadi. Ibunya terisak-isak, hingga akhirnya berkata, “Ayahmu dulu… Seorang pencuri…” Deg.

Perintah guru adalah jimat terpundi, tapi haruskah dia menjadi pencuri?

Maka diapun mencoba mencari-cari, siapakah gerangan di desanya yang rumahnya layak dicuri. Didapatinya seorang saudagar kaya, yang terkenal agak kikir dan jarang berbagi pada tetangga. Maka suatu malam seusai tahajjud memohon petunjuk Rabbnya, dia mencungkil jendela dan memasuki kantor tempat sang saudagar biasa mengadministrasi kekayaannya. Berbagai dokumen dia keluarkan, lalu dengan bantuan lampu senter kecil, mulailah dia menghitung zakat aneka usaha dari pertanian, peternakan, hingga perdagangan sang juragan.

Dan ceklak, lampu pun menyala. Dia tertangkap basah oleh tuan rumah.

“Siapa kamu?”

Dia sebutkan nama lengkap beserta nasab dan alamat rinci.

“Mau apa di sini?”

“Mencuri, Ndara.”

“Kenapa mencuri?”

“Atas perintah Kyai saya agar saya melanjutkan pekerjaan bapak saya.”

“Lha kok nggak ambil apa-apa malah hitung-hitungan?”

“Sedang saya hitung semua zakat Ndara, hanya itu yang akan saya ambil untuk saya bagi-bagikan.”

“Wah, menarik ini.”

Singkat cerita, obrolan jelang Shubuh itu telah membuat sang juragan begitu terpesona akan pemahaman keislaman sang santri dan baktinya kepada sang Ibu serta sang guru. Tanpa ragu, dia meminta pemuda itu sudi menikahi putri semata wayangnya, dan menjadi pewaris yang melanjutkan usahanya.

Yang ekstrim begini memang langka, tapi yakin, berbakti pada perintah Kyai, bagi kami santri kendil pastilah sesuatu yang indah ujungnya. “Jangan ganggu Kyaiku. Jangan sakiti ‘ulama kami”, adalah syiar harga mati.

Ini juga salah satu Kyai kami, Imam Muhammad Awod Joban di Masjid Ar Rahmah, Seattle, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Kiprah dahsyatnya? Google akan menjawab untuk Anda.

Penulis: Salim Afillah, Penulis Buku