» » Memberi Pengalaman Belajar

Memberi Pengalaman Belajar

Penulis By on Sunday, March 5, 2017 | No comments




Oleh : Mahmud Thorif

Sejumlah anak-anak di pagi buta, sekitar pukul 03.00 dinihari, setelah melakukan beberapa rakaat shalat tahajud, dibariskan lalu ada seorang guru yang melepas satu persatu anak-anak tadi dengan jarak kurang lebih 3-5 menit setiap peserta untuk menembus dinginnya udara dinihari. Ternyata anak-anak tersebut tidak hanya berjalan sendiri menyusuri malam, mereka diarahkan ke sebuah pekuburan dan di kuburan tersebut mereka harus menguji keberanian mereka dengan membubuhkan tanda tangan di atas batu nisan sebuah kuburan yang hanya diterangi cahaya lilin. Tidak sedikit dari puluhan anak-anak tersebut ada yang ketakutan ketika berjalan sendirian dalam gelapnya malam dan memasuki arena kuburan sehingga ada yang berlari ketakutan. Namun, banyak pula anak-anak yang dengan berani mereka mengerjakan dengan sempurna.

Cerita di atas adalah sebuah gambaran seorang guru memberikan ‘pengalaman belajar’ kepada anak didiknya. Memberi pengalaman belajar kepada anak didik banyak macamnya. Misalnya seperti cerita di atas, atau bisa juga dengan memberikan pekerjaan rumah, memberikan soal-soal, kunjungan belajar, outbound. Bahkan ketika sedang pembelajaran di kelas pun bisa mendapat pengalaman belajar, misalnya dibuat belajar kelompok, ketika belajar meja dan kursinya dirubah dari yang biasanya. Pengalaman belajar juga bisa diberikan kepada anak-anak dengan belajar di berbagai wahana. Misalnya misalnya dengan wahana air, api, batu, udara, dan lain sebagainya.

Sesuatu yang dirasakan ketika anak-anak belajar itulah yang akan melekat dalam ingatan mereka dan diharapkan sesuatu yang dirasakan itulah, suatu kebaikan yang akan dijadikan pengalaman berharga bagi anak didik kita dan lebih jauh dengan pengalaman tersebut mereka bisa mengambil sikap yang tepat akan suatu persoalan.

“Pengalaman adalah guru yang paling baik”, begitu sebuah kata pepatah yang sering kita dengar. Maka tidaklah heran, pengalaman mendapat nilai tersendiri dalam sebuah rekrutmen pegawai di sebuah perusahaan. Pun demikian dengan dunia sekolah, khususnya anak-anak sebagai murid. Semakin banyak guru memberikan pengalaman belajar kepada anak didiknya, maka semakin berkembang pola pikir para murid.

Yang perlu diperhatikan bagi seorang guru adalah nilai-nilai yang harus disampaikan kepada anak didik mereka ketika melakukan sebuah pengalaman belajar. Berjalan sendiri di tengah dinginnya malam harus disampaikan maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut, berjalan memasuki sebuah kuburan tidak hilang begitu saja ketika anak-anak selesai mengerjakannya, dan lain sebagainya.

Nah, pengalaman belajar dan nilai-nilai yang bisa diajarkan kepada anak didik ini harus dirancang dengan matang. Kalau seorang guru, ia harus membuat RPP, yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. RPP ini diharapkan guru siap dan menguasai materi yang akan diajarkan kepada anak didik mereka, sehingga ketika guru ini mengajar ia sudah menyiapkan jurus-jurus cerdasnya dalam menyampaikan sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan.

Laiknya seorang khatib yang berkhutbah, seorang guru harus belajar dan menguasai materi yang akan disampaikan  dengan merancang RPP sebelum pembelajaran di mulai. RPP inilah yang akan mengarahkan pembelajaran dalam sebuah kelas. Tidak heran, jika seorang guru yang mengajar tanpa membuat RPP ia bisa kehabisan materi sebelum jam pelajaran dikelasnya selesai. Akibatnya apa? Sangat banyak kemungkinan, anak didik menjadi ramai/gaduh, bosan, bahkan mereka bisa adu fisik sesama teman-temannya. Jika ini terjadi dalam sebuah sekolah, maka nama baik sekolah jadi taruhannya. Orangtua/wali murid sedikit demi sedikit hilang kepercayaan kepada guru bahkan sekolah tersebut.

Mari berikanlah sebanyak mungkin pengalaman belajar kepada anak didik kita agar kelak mereka siap menjadikan pengalaman belajar tersebut menjadi bekal hidup mereka untuk menentukan sikap dan tanggungjawab mereka sebagai seorang hamba. Selamat bekerja dan berkarya wahai para guru Indonesia. Wallahu A’lam bishawab.

*) Mahmud Thorif, Redaktur Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya