Perilaku dan Karakteristik Anak Berdasarkan Pola Asuh


Oleh: Meifi Andriyani, S.Pd.

Memiliki anak adalah tujuan utama sebuah pernikahan. Sejak usia balita anak-anak dibimbing dan diarahkan pada hal-hal positif, terutama mengenai kesantunan dan budi pekerti. Ini dimaksudkan supaya anak terbiasa dan mampu menerapkan hal-hal positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Secara psikis, perilaku yang tampak pada anak adalah cerminan kebiasaan yang ia lihat berdasarkan yang dicontohkan dan diajarkan oleh orangtuanya. Anak akan merekam dan menyimpan apa yang pernah orangtua ucapkan dan lakukan. Kemudian anak akan menirunya. Proses ini berlangsung lama sejalan dengan perkembangan fisik dan psikis anak.

Saat usia remaja sering terjadi perubahan tingkah laku pada anak. Hal ini bisa disebabkan karena pergaulan anak. Perubahan yang kami maksud di sini adalah perubahan ke arah yang negatif. Misal, anak sudah mengenal rokok. Walaupun orangtua sering mengingatkan, anak bisa saja merokok di tempat-tempat yang ia yakin orangtuanya tidak akan mengetahui keberadaannya. Orangtua mungkin merasa sudah cukup keras dalam mendidik anak. Tapi mengapa pelanggaran itu masih terjadi? Apa lagi kalau anak sudah terjerumus pada permasalahan yang bakal memalukan keluarga. Contohnya mencuri, menggunakan narkoba, atau bahkan mengenal seks bebas. Semua itu terjadi akibat anak salah dalam memilih teman. Sesungguhnya pengaruh teman sangat besar. Perbuatan, perkataan, dan tingkah laku anak sebagian besar dipengaruhi oleh teman-temannya. Orang tua hendaknya harus lebih cerdas lagi dalam menyeleksi teman yang baik untuk anak-anaknya dan mengarahkan untuk tidak bergaul dengan anak-anak yang kurang layak dijadikan teman.

Membimbing dan mengarahkan anak sangat berkaitan dengan pola asuh yang diterapkan oleh  orangtua di rumah. Sebagai orangtua, tentunya kita harus memahami pola asuh yang bagaimana telah kita terapkan pada anak. Dalam mengasuh anak, orangtua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. Ada tiga macam pola asuh, yaitu: demokratis, otoriter, dan permisif.    

Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, tetapi tidak ragu dalam mengendalikan mereka. Orangtua dengan perilaku ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan melampaui kemampuan anak dan memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan.

Ada pula pola asuh otoriter. Pada pola asuh ini, anak adalah objek yang harus dibentuk, orang tua merasa lebih tahu yang terbaik untuk anaknya. Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, memaksa, memerintah, dan menghukum. Orangtua tipe ini juga tidak megenal kompromi dan dalam berkomunikasi bersifat satu arah. 

Selain itu, dikenal juga pola asuh permisif. Orangtua yang menerapkan pola asuh ini hanya tidak ingin konflik dengan anaknya. Pola asuh ini memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung tidak menegur/memperingatkan anak. Bimbingan yang diberikan sangat sedikit, karena itu sering kali disukai oleh anak.

Dari ketiga pola asuh di atas, para orangtua dapat memahami pola asuh yang bagaimana telah diterapkan selama ini. Pola asuh juga berkaitan erat dengan karakteristik anak. Dengan kata lain, karakteristik anak merupakan hasil dari penerapan pola asuh. Karakteristik anak dalam kaitannya dengan pola asuh adalah sebagai berikut:

Pertama, pola asuh demokratis akan menghasikan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan kooperatif terhadap orang lain. Kedua, pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri. Ketiga, pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, dan kurang percaya diri.

Semoga kita sebagai orangtua mampu mengarahkan, membimbing, dan menemani anak-anak kita ke arah yang lebih baik.

Penulis: Meifi Andriyani, S.Pd., Guru SMPN 6 Kota Bengkulu

Foto: google

Mengelola Shalat di Masjid Sekolah


Oleh : Salim Abu Hanan

Usia pra sekolah dan Sekolah Dasar adalah usia bermain. Bermain adalah dunianya. Apapun yang ada di sekitarnya alkan menjadi mainan. Kebalikannya adalah saat sholat. Sholat adalah saatnya konsentrasi. Saatnya khusuk. Bermain berarti batal sholatnya. Menjadi sangat menarik ketika memadukan keduanya.

Karena bermain adalah tabiatnya - terutama anak-anak TK dan SD kelas bawah- maka kita tidak mungkin menghilangkannya. Yang bisa dilakukan adalah menunda saat bermain. Sedangkan untuk SD kelas atas sudah bisa diajak mengendalikan untuk tidak bermain.

Bagaimana mengelolanya? Yang pertama harus ada adalah tekad bersama. Yaitu tekad bersama seluruh guru dan pegawai untuk menjadikan sholat jamaah di sekolah adalah kegiatan prioritas yang harus tegak. Tanpa ini sulit diujudkan sholat jamaah yang tertib dan tenang di sekolah.

Kedua, paling tidak ada dua tempat sholat. Bisa di musholla dan di kelas atau perpustakaan. Di musholla atau masjid adalah jamaah utama. Terdiri dari semua murid kelas 3 hingga kelas 6, serta ibu dan bapak guru.  Sedangkan jamaah sholat yang dipisah adalah kelas satu dan dua, yang diawasi dan dibimbing oleh beberapa guru secara terjadwal. Guru yang membinbing adalah guru yang hafal dan fasih dalam melafazkan bacaan sholat.

Jamah sholat di masjid adalah menjadi sarana utama dalam membangun karakter anak. Semua guru dan pegawai harus berperan dalam menegakkannya. Jenjang kemampuannya adalah; kelas tiga harus mampu melakukan gerakan sholat dengan baik dan benar. Kelas empat harus sudah hafal dan fasih seluruh bacaan sholat, dan kelas lima harus sudah menguasai makna bacaan sholat.

Kelas tiga dan empat harus membiasakan melakukan adab di masjid sedangkan kelas lima dan enam harus sudah bisa menjadi contoh dalam pelaksanaan adab di masjid. Dan semu guru harus ikut mengawasi. Jika ada anak yang ribut bergurau waktu sholat atau melanggar adab di masjid harus di tegur dan bisa mendapat hukuman.

Hukuman dari pelanggar adab adalah dia harus sholat jamaah bersama kelas satu dan dua (adik kelas). Bisa selama 1, 2, atau 3 hari. Tergantung pelanggarannya.  Karena dianggap harus masih belajar sholat lagi bersama adik-adik kelasnya.

Tempat sholat kelas satu dan dua adalah tempat anak masih belajar sholat. Pelaksanaannya, anak diawasi satu per satu gerakan sholatnya. Bacaan sholatnya dijaharkan, sehingga waktu pelaksanaannya lebih lama dibanding yang sholat di masjid. Ini dimaksudkan agar anak yang melanggar adab di masjid tidak suka kalau “dihukum” dengan menjalankan sholat bersama kelas satu dan dua. Agar bacaan sholatnya terbimbing, salah satu guru harus membaca bacaan sholat dengan keras, agar diikuti oleh anak-anak.

Adab di masjid yang bisa dijalankan antara lain; (1) membaca doa masuk masjid, (2) masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan, (3) melaksanakan sholat sunah dua rokaat sebelum duduk, (4) duduk iktikaf menghadap kiblat, dengan duduk mulai dari shof terdepan (5) menunggu komat dengan membaca atau menghafal Al Quran, berdoa, berzikir, atau membaca sholawat, (6) tidak mengganggu jamaah lain, (7) tidak bermain atau tidak bicara keras-keras, (8) keluar masjid dengan membaca doa keluar masjid, (9) kelusr masjid dengan mendahulukan kaki kiri.

Kegiatan lain yang dilakukan di masjid adalah:
  1. Sholat sunah qobliyah dan ba’diyah zuhur
  2. Muroja’ah atau mengulang bacaan surat-surat yang sudah dihafalkan. Dipimpin satu atau dua orang nurid maju kedepan yang fasih bacaannya. Di depan membaca mushaf.
  3. Kelas atas bergilir (terjadwal) pidato singkat (kultum) dihadapan guru dan teman-temannya.
  4. Pengarahan dari guru terutama dalam membangun karakter

 
Penulis : Salim Abu Hanan, Pimpinan Madin Saqura (Sahabat Al Qur’an) Sleman

Foto: google

Kelola Sampah untuk Jaga Kebersihan


Oleh : Junni Prasetya

Sampah merupakan suatu barang yang menurut kita, tidak kita butuhkan lagi. Sampah selalu hadir dalam aktivitas sehari-hari, sejalan dengan kebutuhan kita yang semakin meningkat. Ketika kita berada di luar, di jalan atau di tempat wisata, maka kita akan menemui banyak hal yang dapat kita lihat termasuk sampah. Begitu juga ketika kita berada di rumah, di sekolah, di rumah sakit, di masjid atau di tempat kerja, maka kita juga akan temui berbagai jenis sampah, mulai dari jenis plastik, kertas, kaleng, kaca, sterofoam dan sebagainya.

Berdasarkan realita tersebut, setiap manusia tidak bisa dipisahkan dari adanya sampah. Karena sampah merupakan sisa dari kebutuhan manusia yang sudah tidak terpakai lagi. Coba deh kita renungkan, dari waktu ke waktu kebutuhan manusia akan semakin bertambah. Dampaknya, sampah pasti juga akan bertambah. Belum lagi, di masa kecanggihan ini banyak bermunculan produk-produk baru, yang menimbulkan pula produk sampah baru. Benar kan?

Kita sebagai kaum dewasa harus segera bergerak mengatasi masalah sampah. Sampah harus dikelola dengan baik, sehingga tidak menimbulkan berbagai bencana yang membahayakan diri dan keluarga kita. Caranya cukup mudah, dengan kita memulai dari keluarga kita, mengajarkan kepada keluarga kita, termasuk anak-anak kita untuk mengelola sampah dengan baik. Kenapa harus anak-anak? Karena anak-anak belum tahu menahu mengenai norma atau nilai yang berlaku di masyarakat. Realitanya, banyak anak-anak yang menghabiskan jajanannya kemudian dibuang sembarangan bungkusnya. Padahal aturan yang berlaku di masyarakat atau di tempat umum tidak menghendaki demikian. Dalam posisi seperti ini, sangat disayangkan jika kita justeru menyalahkan anak.

Kita sebagai kaum dewasa atau orangtua harus bergerak untuk mengajarkan anak mengenai cinta lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dalam hal ini Rasulullah bersabda; “Semua amalan umatku ditampakkan kepadaku baik dan buruknya. Aku dapatkan di antara amal kebajikan adalah menghilangkan bahaya dari jalanan dan aku temukan di antara amalan yang buruk adalah membuang ingus di masjid dan tidak dibersihkan”. (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Semua berawal dari orangtua ke anak. Jika sejak dini anak diajarkan menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, maka ketika anak tumbuh remaja dan dewasa, sikap cinta kebersihan akan tetap membekas di dalam jiwa dan pikirannya. Hasilnya, ia akan merasa bersalah jika ia hendak membuang sampah tidak pada tempatnya. Intinya, orangtua memang memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Orangtua punya amanah dan tanggung jawab mendidik, membimbing, melatih dan mengajarkan kepada anak norma atau nilai yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, orangtua sangat berjasa dalam mengasuh anak, dan bagi anak seharusnya menghargai dan menghormati orang tuanya yang telah mendidik dan membesarkannya.

Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan untuk mengajari anak mengelola sampah dan menjaga lingkungan. Pertama, beri contoh kepada anak untuk cinta kebersihan. Dalam hal ini, orangtua harus menasihati anaknya untuk buang sampah pada tempatnya dan memberi contoh secara langsung kepada anak.  Kedua, mengajak anak untuk gotong royong atau kerja bakti di rumah. Anak perlu dibiasakan setelah diberi contoh. Dalam hal ini, orangtua bisa mengajak anak untuk membersihkan kotoran-kotoran di rumah dengan bekerja sama dan dengan rasa gotong royong. Jiwa anak akan terbentuk cinta kebersihan, bahkan terbentuk pula rasa kebersamaan, baik dengan lingkungan atau dengan keluarga.

Ketiga, mengajari anak untuk mendaur ulang sampah. Setelah dibiasakan, ajarkan anak untuk mengembangkan keterampilan dan kreativitasnya dengan mendaur ulang sampah. Dari barang yang tidak terpakai menjadi terpakai. Dengan catatan, barang bekas yang sekiranya mudah untuk didaur ulang dan tidak menyulitkan anak. Misalnya, botol air mineral bekas yang sebelumnya tidak terpakai, dirubah menjadi tempat pensil, tempat tanaman, atau tempat lampu. Dalam kegiatan ini, anak akan lebih menghargai barang-barang bekas yang dipandang sudah tidak terpakai lagi. Semoga bermanfaat.

Penulis : Junni Prasetya, Pembelajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Foto : google

Syukur dan Sabar


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Suatu malam ketika sedang makan berdua dengan istri, saya menerima tulisan dari group whatsapp AlFawaaid, seperti ini “Tidaklah ada manusia melainkan : diuji dengan keselamatan agar diketahui bagaimana syukurnya atau sebuah bencana agar diketahui bagaimana sabarnya”.

Tulisan tersebut saya tunjukkan pada istri, dia berkomentar “Syukur dan sabar, dua kata singkat, namun sangat sulit untuk mengimplementasikannya”. Saya katakan pada istri, bahwa saya sangat setuju dengan pendapatnya, karena sehari sebelumnya dalam sebuah rapat, kami membicarakan seorang mahasiswa, yang terpaksa diberi sanksi karena melakukan kebohongan.

Saya cerita pada istri bahwa beberapa hari sebelumnya, saya mendapat undangan dari komite akademik pasca sarjana. Kami tidak tahu secara rinci agenda rapat pada hari itu, dalam pikiran kami paling seperti biasanya, yaitu sekitar evaluasi masa studi bagi para peserta program pasca sarjana. Terutama program doktor, karena permasalahannya lebih komplek dibanding program magister.

Ternyata agenda pertama yang didiskusikan adalah penentuan bentuk sanksi yang akan diberikan kepada seorang mahasiswa peserta program magister, S2. Mahasiswa tersebut telah melakukan pemalsuan sebuah surat keterangan yang diperlukan sebagai salah satu syarat untuk proses wisuda. Informasi yang diterima oleh pengelola program, bahwa tindakan pemalsuan itu dilakukan karena masalah keuangan, yaitu dana yang dipunyai mahasiswa sudah menipis. Tetapi ketika dikonfirmasikan ke yang lain, alasan tersebut tidak seratus persen benar.

Mendengar permasalahan itu, kami sebagai pendidik prihatin, sangat menyesalkan, apapun alasannya, tindakan itu tidak dibenarkan. Memang sangat konyol, sebenarnya dia telah berhasil menyelesaikan semua, bahkan sudah ujian pendadaran. Dia telah mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan lain sebagai syarat wisuda, kecuali satu kegiatan yang terkait dengan surat keterangan tersebut. Untuk mendapatkan surat itu, memang dia perlu hadir beberapa kali dalam pertemuan dan ada evaluasinya. Namun nampaknya dia kurang sabar, dia memilih “potong kompas” daripada mengikuti prosedur sebenarnya. Dia melakukan tindakan yang tidak dibenarkan, memalsukan surat keterangan tersebut.

Mungkin seseorang akan mengatakan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang serius, karena untuk kejadian yang sama di tempat lain, sanksi terhadap pelaku hanya disuruh meminta maaf. Namun kami berpikir lain, sanksi terhadap tindakan pemalsuan atau kebohongan yang dilakukan oleh peserta didik harus tegas, yang kira-kira bisa memberikan efek jera, agar dia tidak mengulang lagi. Akhirnya dia diberi sanksi penundaan wisuda selama enam bulan setelah yang bersangkutan berhasil mendapatkan surat keterangan tersebut, bukannya dimulai saat itu. Berarti upaya untuk mempercepat, justru yang didapat adalah waktu tunggu wisuda yang semakin lama, dan beban moral yang tidak bisa dihapus dengan begitu saja.   

Saya berkata pada istri “Mungkin mahasiswa tadi kurang rasa syukurnya”. Padahal dia telah berhasil menyelesaikan ujian semua matakuliah di program magister dengan baik. Dia sudah berhasil menyusun rencana penelitian, dan dapat lolos dalam ujian proposal. Penelitiannya sudah dapat dilakukan dengan lancar, dan hasilnya juga telah dituliskan dalam naskah tesisnya dengan baik. Bahkan sudah berhasil dipertahankan dalam sidang pendadaran, lulus hanya dengan perbaikan minor, yang dapat langsung diperbaiki dalam hitungan hari, bukan hitungan bulan. Nampaknya dia tidak berusaha merasakan kenikmatan itu semua. Nikmat bisa menjalankan semua kewajiban sebagai mahasiswa dengan lancar dan baik.

Seandainya dia telah banyak bersyukur atas berbagai keberhasilannya, maka dia tidak akan berani melakukan tindakan gegabah tersebut. Dengan bersyukur, maka secara tidak langsung dia telah mengakui ketidak berdayaannya dihadapan Sang Pencipta. Dengan begitu, dia akan merasakan kemurahan Allah Ta’Ala yang telah memberikan rezeki berupa kemudahan dalam menempuh program itu.

Istri saya berguman “Itulah akibat kurang bersyukur sehingga tidak bisa sabar”. Wallahu A’lam Bishawab.
  

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Fakultas Teknik Mesi UGM, PU Majalah Fahma
Foto: http://www.ummi-online.com

Pemimpin Mengayomi, Bukan Membuat Rakyat Tersisih



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Al-Walid bin Hisyam berkata, ”Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin." Maka baik tidaknya pemimpin akan sangat menentukan seperti apa rakyat ini akan berubah; kepada yang lebih baik ataukah menuju pada keburukan dan kerusakan. Pemimpin yang baik, amanah dan akhlaknya mulia dapat menjadi cerminan bagi anak-anak yang sedang bertumbuh berkembang membentuk dirinya. Mereka menemukan sosok yang layak dianut.

Siapakah pemimpin yang baik itu? Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan kepada Al-Mughirah bin Syu'bah bin Abi Amir ats-Tsaqafi tatkala mengangkatnya sebagai gubernur Kufah, “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu.”

Inilah ukuran minimal seorang pemimpin yang baik; pemimpin yang amanah. Jika sebuah negeri di bawah pengelolaan pemimpin yang baik, maka orang-orang jahat akan mencegah dirinya dari melakukan kejahatan besar, terlebih secara terbuka. Mereka jauh lebih berhati-hati karena takut terhadap ketegasan pemimpin dalam menegakkan hukum dan kegesitannya dalam mengurai persoalan. Sementara orang-orang baik akan bergembira dengan hadirnya pemimpin yang amanah karena wilayah itu akan lebih mudah menghidupkan kebaikan dan kesantunan. Akhlaqul karimah lebih hidup di masyarakat.

Apa yang akan terjadi jika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang buruk akhlak dan fazhzhan (buruk perkataan kotor ucapan)? Pertikaian mudah merebak dan permusuhan antar sesama banyak terjadi. Terlebih jika keduanya diiringi dengan kezaliman yang menandakan hilangnya keadilan, culasnya hakim dan bermunculannya ulama su'.

Ingatlah perkataan 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, ’Seorang yang amanah tak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanah, maka wajarlah jika ia berkhianat’.”

Akan tiba suatu masa ketika amanah hilang dan muncullah para penjilat yang mengumbar pujian kepada seorang pemimpin padahal tidak ada kepatutan padanya, bahkan sangat jauh dari keimanan. Mereka berlomba mendekat, berlomba memuji untuk mengambil hati dan mendapatkan dunia yang hanya setetes ini. 

Mereka menjilat dengan kalimat pujian:
مَا أَجْلَدَهُ! مَا أَظْرَفَهُ! مَا أَعْقَلَهُ! وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.

‘Sungguh kuat! Sungguh cerdas! Dan sungguh cerdik!" Sementara tidak ada keimanan seberat biji sawi pun. (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah masa yang perlu kita khawatiri. Semoga keadaan itu belum ada di zaman kita sekarang. Inilah masa ketika banyak musibah yang datang slih berganti. Dan di saat itu, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah munculnya imam yang menyesatkan; karena kebodohannya sehingga tidak dapat memberikan petunjuk yang benar, karena keruhnya akal mereka sehingga mengingkari ilmunya demi memenangkan hawa nafsunya, atau karena mereka telah berlumur syubhat.

Dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Inilah masa ketika berbagai keburukan bertemu; zalimnya penguasa, buruknya sebagian ulama dan merajalelanya kemasiatan.

Jika keburukan semakin meluas, kerusakannya kian sempurna dan para ulama pun banyak yang larut dalam kemungkaran itu, maka Allah Ta'ala akan halalkan bencana buat mereka.

Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.” (HR, Al-Bukhari).

Semoga masa ini belum tiba. Dan sekiranya kita menjumpai masa semacam ini, semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari ikut terjatuh pada kemungkaran yang sangat besar. Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari fitnah-fitnah yang mencekam.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, penulis buku dan pakar parenting 
Foto: google

Karbit untuk Membangun Karakter Anak di Sekolah




Oleh : Salim Abu Hanan

Mungkin istilahnya saja yang belum akrab. Tetapi karena cara ini cukup efektif dalam mendukung terbangunnya karakter pada anak, maka perlu kita paparkan. “Karbit” adalah istilah untuk “Lingkar Bimbingan Tauhid”.

Pada dasarnya konsep Islam tentang pendidikan, bertujuan untuk memelihara fitrah manusia, mewariskan nilai-nilai, dan pembentukan manusia seutuhnya insān kāmil yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan hadits. Untuk itulah manusia dibekali dengan akal pikiran agar dapat menciptakan metode pendidikan yang dinamis, efektif dan dapat mengantarkan pada kebahagiaan hidup dunia-akhirat.

Tujuan Karbit adalah untuk menanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak didik. Bukankah di kelas regular sudah ada pelajaran Tauhid atau Keimanan? Benar. Tetapi dalam Karbit, tauhid tidak disajikan sebagai bahan ajar formal. Tauhid bukan untuk didalami materinya melainkan untuk dijiwai agar menjadi dasar aktifitas atau kegiatan hidup sehari-hari.

Karbit bukan diorientasikan untuk transfer of knowledge melainkan lebih dititik beratkan sebagai pendukung character building. Karena pada prinsipnya ada tiga hal yang penting dalam membangun karakter, yaitu (1) pembiasaan atau pengulangan, (2) keteladanan, dan (3) keyakinan. Pada sisi keyakinan inilah Karbit diperankan. Yaitu untuk mendasari dan sekaligus mengikat karakter yang sedang dibentuk. Dengan adanya dasar dan ikatan ini, maka karakter yang telah dibangun di sekolah tidak mudah luntur ketika menghadapi benturan nilai di luar sekolah, atau pada sekolah yang baru.

Karbit dilaksanakan dengan tidak mengambil jam pelajaran. Misalnya 10 menit menjelang jam pertama, atau 15 menit sehabis anak melaksanakan dzuhur berjamaah. Setiap kelompok Karbit terdiri seorang guru dan beberapa murid. Maksimal 10 murid. Murid duduk melingkar di  hadapan guru.

Jumlah murid harus dibatasi dengan maksud; lingkaran duduknya kecil sehingga guru tidak perlu berbicara keras, komunikasi lebih intensif, sikap murid mudah dikontrol, lebih mudah menselaraskan hati, dan dalam sebuah masjid bisa dipakai beberapa kelompok Karbit. Guru tidak perlu berbicara keras atau menekan, melainkan bisa berbicara dari hati ke hati. Menyentuh hati murid sehingga murid terlibat secara mental.

Materi yang disajikan bisa mengambil materi PAI berdasarkan kurikulum yang digunakan, tetapi bisa juga materi lain, misalnya hadits-hadits pilihan, kisah nabi, para sahabat nabi, dan  para pejuang  Islam.

Sebenarnya Karbit bukan merupakan hal yang baru. Sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam telah dikembangkan dalam mendidik dan mengkader para shahabatnya. Demikian juga di tanah air yang kemudian berkembang menjadi majelis taklim. Terbukti cara ini cukup efektif dalam membangun masyarakat.

Di sekolah? Sekolah terlalu padat materi. Serba formalitas sehingga sulit untuk menembus hati. Anak menguasai materi sampai pemahaman, tidak mudah hingga tingkat internaisasi. Di sinilah pentingnya Karbit dikembangkan di sekolah.

Sistem halaqah tidak hanya dilaksanakan pada zaman Nabi. Tetapi sejarah membuktikan efektifnya cara ini yang dikembangkan oleh para ulama dan habaib oleh masyarakat Betawi di Jakarta. Halaqah dan majelis taklim telah menjadi dasar yang tak lapuk oleh zaman dalam mempertahankan eksistensi agama Islam di tengah masyarakat Betawi.

Christiaan Snouck Hurgrounje, yang pernah disebut-sebut sebagai orientalis paling berhasil di dunia, mencatat, masyarakat Betawi adalah penduduk pribumi yang paling lama dan paling erat berinteraksi dengan bangsa Eropa.

Lebih jauh Snouck mengatakan, tidak ada satu kampung pun di Jawa yang lebih taat beragama Islam dalam setiap tingkah lakunya daripada Betawi, dan agama Islam di Betawi lebih maju dari daerah lain. Dalam makalahnya, Khazanah Jakarta Menghadapi Tantangan Zaman, K.H. Saifuddin Amsir menguraikan, gambaran Snouck ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat mengerti kultur masyarakat di Indonesia dan bahwa kultur keagamaan di Betawi sudah begitu kuat sejak zaman penjajahan dulu.

Penulis: Salim Abu Hanan, Pimpinan Madin Saqura (Sahabat Al Qur’an) Sleman
Foto: google

Mahkota Emas




Oleh : Dra. Asnurul Hidayati

Kaum muslimin menemukan sebuah mahkota terbuat dari emas bertatahkan intan permata dalam ukiran yang indah, di antara barang-barang ghanimah. Amir Yazid mengacungkan mahkota itu tinggi-tinggi agar semua bisa melihat, lalu berkata : “Adakah kalian melihat orang yang tak menginginkan benda ini?” Mereka berkata: “Semoga Allah memperbagus keadaan Amir. Siapa pula yang akan menolak barang itu?”

Yazid berkata: “Kalian akan melihat bahwa di antara umat Muhammad Shallallahu ’alaihi wasalam senantiasa ada yang tidak menginginkan harta ini ataupun yang semacam dengan ini yang ada di atas bumi.” Kemudian beliau memanggil pembantunya dan berkata: “Carilah Muhammad bin Waasi’!”

Utusan itu mendapatkan syaikh tua itu di suatu tempat yang sunyi, sedang beristighfar, bersyukur dan berdoa. Utusan itu berkata, “Amir Yazid memanggil Anda sekarang juga.” Beliau berdiri dan mengikuti utusan itu menghadap amir Yazid. Beliau memberi salam lalu duduk di dekat amir. Amir menjawab salam dengan yang lebih baik, lalu mengambil mahkota dan berkata, Yazid: “Wahai Abu Abdillah, pasukan muslimin telah menemukan mahkota yang sangat berharga ini. Aku melihat Andalah yang layak untuknya, sehingga kujadikan ia (mahkota) sebagai bagianmu dan orang-orang telah setuju.”

Muhammad : “Anda menjadikan ini sebagai bagianku wahai Amir?”

Yazid : “Benar, ini bagianmu.”

Muhammad : “Aku tidak memerlukannya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan mereka.”

Yazid : “Aku telah bersumpah bahwa engkaulah yang harus mengambil ini.”

Dengan terpaksa Muhammad bin Waasi’ menerimanya dikarenakan sumpah amirnya. Setelah itu beliau mohon diri sambil membawa mahkota tersebut. Orang-orang yang tak mengenalnya berkata sinis : “Nyatanya dia bawa juga harta itu.”

Sementara itu Yazid memerintahkan seseorang menguntit syaikh itu dengan diam-diam untuk melihat apa yang hendak dilakukannya terhadap benda itu, lalu memberitahukan kabar tentangnya. Maka pergilah seseorang mengikuti beliau tanpa sepengetahuannya.

Muhammad bin Waasi’ berjalan menenteng harta tersebut di tangannya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan seorang asing yang kusut masai dan compang camping meminta-minta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah. Syaikh itu segera menoleh ke kanan ke kiri dan ke belakang. Setelah yakin tidak ada yang melihat, maka diberikannya mahkota itu kepada orang tersebut. Orang itu pergi dengan suka cita. Seakan-akan beban yang dipikulnya telah terangkat dari punggungnya.

Utusan Yazid bin Muhallab memegang tangannya dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadian itu. Mahkota itu kemudian diambil lagi oleh amir dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya.

Yazid berkata kepada pasukannya: “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa di antara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya.”

Masya Allah. Semoga Allah merahmati Muhammad bin Waasi’, orang sholih yang tulus ikhlas dalam berjuang dan zuhud terhadap dunia. Orang yang berjiwa luhur, yang keberadaannya senantiasa disenangi umat.

Pembaca Fahma yang budiman, hikmah kisah Muhammad bin Waasi’ ini di antaranya adalah pentingnya membangun  akhlak mulia  yang diawali dengan menumbuhkan niat ikhlas dalam diri anak. Sehingga sifat ikhlas itu akan menjadikan karakter mulia  pada pribadi seseorang. Niat ikhlas yang senantiasa melandasi pribadi seseorang merupakan kekuatan luar biasa dalam membentengi seseorang dari  perilaku tercela dan perbuatan buruk. Semoga kita dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang berakhlak mulia. Aamiin.||

Sumber :Mereka adalah Para Tabi’in. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.     

Penulis: Dra. Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul
Foto: google