» » Budaya Instant, Semua Dibeli dengan Uang

Budaya Instant, Semua Dibeli dengan Uang

Penulis By on Tuesday, April 4, 2017 | No comments




Oleh: Ani Astuti, SIP

Era perkembangan teknologi telah membuat terciptanya berbagai alat yang berfungsi mempermudah pekerjaan manusia. Sudah ada mesin foto kopi yang mempermudah manusia sehingga tak harus menulis berulang-ulang untuk memperbanyak materi yang sama, sudah ada komputer dengan kapasitas memori yang besar untuk membantu mengingat-ingat dan menyimpan semua data atau pengetahuan atau segala hal yang ingin kita ingat tanpa bersusah payah memaksa otak. Intinya sudah banyak mesin-mesin berteknologi canggih yang diciptakan dengan tujuan mempermudah pekerjaan manusia. walaupun sebenarnya bisa dikatakan pencapaian teknologi tersebut juga merupakan hasil kerja keras dalam berpikir dari orang/ilmuwan tentunya.

Manusia yang hidup di era modern ini telah dimanjakan oleh kemudahan teknologi sehingga gerak fisik maupun kerja otak dari sebagian atau mungkin banyak orang menjadi berkurang, kepayahan atau keletihan fisik yang sebenarnya mungkin baik untuk tubuh juga sudah jauh berkurang dengan bantuan teknologi. Teknologi juga membantu mencapai hasil yang secara kualitas lebih baik dan kuantitasnya jauh lebih banyak, walaupun jika dilihat secara seksama sebenarnya mungkin hanya cenderung memenuhi pola konsumtif manusia. Memang kerja manusia menjadi jauh lebih efisien.

Lalu letak permasalahannya sebenarnya dimana? Masalahnya adalah jika kemudahan itu memperngaruhi orang untuk berpikir mudah atau menggampangkan dalam segala hal apalagi yang sifatnya prinsip, maunya cepat dan enak dengan tanpa adanya upaya yang serius. Misalnya saja ingin mudah mencari uang berimbas pada meningkatnya korupsi dan juga berkembangnya riba di masyarakat. Ingin mudah dalam semua urusan, ujung-ujungnya menyuap atau menyogok contohnya ingin mudah dapat kerja, ujung-ujungnya nyari koneksi. Ingin lulus dengan nilai baik dan dapat sekolah yang baik, ujung-ujungnya sebagian orang melakukan praktek sogok-menyogok atau membeli bocoran soal. Pokoknya semua inginnya yang serba gampang tanpa harus berusaha serius. Mungkin maunya tinggal bayar saja dapat hasil baik dan memuaskan. Seolah semua bisa dicapai dengan uang. Uang seolah sudah menjadi tujuan, kerena ada anggapan dengan uang semua orang bisa membeli apapun bahkan menguasai dunia dan melupakan Sang Khaliq.

Fenomena tersebut bukan tidak mungkin merambah atau berimbas pada dunia pendidikan kita. Sekolah bisa jadi sudah dianggap sebagai sebuah mesin pembuat makanan. Tinggal masukkan tepung dan bahan-bahannya, nyalakan mesinnya, 30 menit kemudian keluarlah roti yang enak siap dimakan. Tidak ada keletihan dan kerepotan dalam proses pembuatannya. Atau sebuah juicer, tinggal masukkan buah-buahan, nyalakan mesin, tunggu sebentar sudah tampak hasilnya tanpa kita perlu susah-susah mengupas dan memarutnya. Tinggal beli alatnya saja. Lebih parah lagi jika sekolah dituntut untuk menghasilkan robot-robot yang tujuan akhirnya menjadi orang yang hanya bisa mencari kesuksesan dunia semata atau lebih sederhananya pandai mencari uang tanpa berpikir halal dan haramnya.

Sekolah dewasa ini sangat mungkin berhadapan dengan keinginan wali murid yang semacam itu. Tinggal daftarkan saja anak, suruh sekolah, kita tunggu sambil ongkang-ongkang, dan endingnya jadilah anak yang berkualitas super sesuai harga yang dibayarkan. Itulah keinginan sebagian orang. Sebagian mereka tak mau memperhatikan proses pendidikan yang berlangsung dan menyerahkan segalanya pada sekolah. Sehingga ketika hasilnya tidak sesuai keinginan mereka, pihak sekolahlah yang disalahkan dan menjadi kambing hitamnya. Padahal keberhasilan dan kesuksesan anak dibangun dengan kerjasama antara orangtua dengan unsur-unsur pendidikan yang lain seperti sekolah dan masyarakat. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan. Anak disamakan dengan benda. Sekolah disamakan dengan mesin. Bagaimana mungkin sebuah hasil yang baik dapat dicapai tanpa adanya kerjasama yang baik antara semua pihak. Hal yang mustahil bisa terjadi tanpa kesamaan langkah.

Jika sebentar saja kita mau merenung, bukanlah sebuah kepantasan dan tidak pada tempatnya jika asas yang berlaku pada teknologi yaitu “instant” itu diterapkan ketika kita ingin mendidik anak-anak menjadi orang yang berkualitas nantinya. Pendidikan adalah proses panjang yang menjadi tanggungjawab semua pihak baik orangtua, sekolah maupun masyarakat. Sudah menjadi keharusan untuk bekerja sama dan tidak saling menyalahkan dalam menjalankan proses pendidikan, buang jauh sikap tersebut, demi tujuan yang baik yaitu mencetak generasi yang unggul.

Penulis : Ani Astuti, SIP, Pendidik di SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya